11. I Need You

1139 Kata
Beberapa saat lalu sebelum Elliot bertanya tentang taruhan itu, Emma mengatakan bahwa ia ingin segera pulang. "Aku ingin pulang!" Seru Emma dengan hati yang teriris. Bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi. Kenapa semua orang ingin menghancurkan hubungan mereka? Padahal seharusnya orang-orang itu tidak perlu ikut campur dengan kisah mereka. Bola mata membesar sepersekian detik. Nada dan tatapan yang diberikan kepadanya tidak seperti biasa, itu bukan Emma-nya. Sekarang terlihat sangat berbeda, apa yang tengah terjadi pada sang kekasih? Elliot memandang gadisnya dalam, menyusuri permata kehijauan itu. Ia ingin mencari tahu apa yang terjadi, seharusnya ia yang merasa kesal karena rumor-rumor itu, tetapi sekarng Emma terlihat marah kepada dirinya. Dapat Apalagi dapat dilihat kalau Emma terus berkeringat dingin. Yang lebih parah, paras muka sang kekasih teramat ketakutan sekarang. Apa gadis itu juga takut kepada dirinya? Emma, kau kenapa? "Kau takut... padaku, Emma?" Elliot kembali membelai wajah pucat kekasihnya. Napas pun tercekat ketika sang gadis kembali menyingkirkan tangannya dari wajah yang tengah ia sentuh. Emma? Batin Elliot menyebutkan nama sang gadis. "Aku ingin pulang, dan tolong kau bukakan pintunya, Elliot." Emma mengatakan hal itu dengan nada memerintah dan satu tarikan napas. Ia benar-benar jengah di tempat ini. Lelaki itu sungguh keterlaluan. Apa-apaan orang itu membawanya ke rumah menyeramkan dan saat memasuki rumah itu, mereka malah disambut oleh puluhan kepakan burung gagak. Menjijikkan dan menakutkan. "Kenapa?" tanya sang lelaki dan kini Elliot langsung mengenggam pergelangan tangan sang gadis. Ia mengerutkan alis, kemudian berkata, "Kenapa kau takut padaku?" Apa lelaki ini tidak waras? Tentu saja ia ketakutan dengan situasi ini. "Elliot, lepaskan aku!" Emma mulai berontak dari genggaman Elliot, tetapi lelaki yang mendapat julukan sang iblis itu tidak kian melepaskan genggamannya dari Emma. Genggaman yang ada di tangan sang gadis malah ia buat semakin menguat. Emma berkeringat dingin saat mengetahui bukan hanya sebelah tangan lelaki itu yang menggenggamnya kuat, tetapi tangan yang satunya lagi pun memengangi pundaknya. Emma tanpa sadar kian memberontak, menggunakan salah satu tangan untuk mendorong pelan tubuh sang lelaki, hingga akhirnya ia terlepas juga. Terdiam dan melepaskan genggaman tangan. Elliot benar-benar merasa tercekat atas apa yang telah terjadi padanya. Emma, ingin pergi dariku? Bola mata itu masih kelihatan terkejut dan tangan pucat lelaki itu menyentuh wajahnya. Emma yang melihat Elliot terdiam sejenak, lalu memanfaatkan situasi dengan menjauh dari kekasihnya. Dengan cepat ia memegang knop pintu dan mencoba menariknya. Krettt. Deritan itu menandakan bahwa pintu telah berhasil ia buka. Emma tersenyum dalam hati dan merasa lega. Membukanya semakin lebar sampai ia mendengar suara keras dan mengejutkan hingga membuatnya menutup kedua emerald-nya. Brakk. Emma dapat merasakan suara napas ditengkuknya. Napas itu terengah. Saat kembali membuka matanya, yang terlihat adalah tangan seseorang. Tangan sang lelaki yang menahan pintu yang tadi sudah dibukanya. Gadis itu juga kembali dikejutkan dengan sebuah remasan di bahu kirinya. Elliot, lelaki itu tengah ada di belakang tubuh Emma dan mengurungnya dalam rengkuhan di belakang punggung. "Kau mempermainkanku, bukan?" tanya Elliot dengan masih berada di belakang gadis itu dan jarak mereka sangat dekat, suaranya terkesan dalam dan berat. Ia lalu tersenyum tipis, dan entah apa arti dari serigainya. Gadis yang sudah tidak bisa melakukan apa pun itu karena terkunci antara pintu dan tubuh Elliot, hanya melirik dengan jantung yang berdebar kian keras. "Apa?" tanya Emma, suaranya seperti cicitan saja. "Ya, permainan menaklukkan sang iblis? Atau taruhan? Bukankah kau sama seperti gadis-gadis itu, kau sengaja mendekatiku dan memberi pelajaran untukku, hm?" Tatapan tajam itu menusuk, Emma bisa merasakannya walau ia berada dalam keadaan membelakangi sang Iblis. Elliot pun dapat merasakan tubuh kekasihnya yang bergetar. Gadis manis yang merupakan kekasinya ini benar-benar ketakutan ternyata. "Ti-tidak." Emma terbata saat mengucapkannya dan ia sangat resah karena Elliot mengetahui tentang masalah taruhan, tetapi ia benar-benar tulus mencintai kekasihnya. "Elliot, aku mencintaimu! Mengertilah... bukankan kau juga mengatakan hal yang sama waktu itu?" tanya Emma dengan air mata menggenang karena Elliot benar-benar bersikap berbeda sekarang. Aura lelaki itu membuatnya tertekan hingga membuat d**a Emma menjadi sesak. Air matanya akhirnya mengalir ke pipi, kali ini Elliot merasakan tubuh gadis itu bergetar bukan karena takut, tetapi karena tangis kesedihannya. "Aku ... mencintaimu," ucap Emma berbisik dengan isakan yang semakin mendominasi. Lelaki itu hanya terdiam mendengar pengakuan dari kekasihnya. Menatap kepala dan membayangkan wajah seperti apa yang tengah membelakangi Elliot sekarang. Beberapa saat terdiam dan hanya isak tangis dan suara napas yang terdengar di telinga mereka masing-masing. Membuat Elliot terkaku dan tak tahu apa yang harus ia katakan, Elliot merasa pikirannya langsung buntu karena mendegar pengakuan gadis itu. Ia jelas tahu apa yang tengah dibicarakan oleh orang-orang di kampusnya. Hubungannya dengan gadis ini hanyalah permainan dari taruhan yang dilakukan Emma. Ia awalnya mencoba tidak peduli, kemudian pikirannya pun berubah. Ia ingin melihat apakah gadis ini benar mencintainya atau hanya ingin mempermainkannya. Dan keadaan ini pun terjadi. Ia sengaja menunjukkan tempat tinggalnya, ingin melihat reaksi gadis itu. Tentu saja, Elliot hanya ingin menggertak. Ia sama sekali tidak ingin menyakiti orang yang ia cintai, hanya ingin melihat reaksi sang gadis. Dan lagi pula, ia memang merasa harus menunjukkan tempat tinggalnya yang tidak wajar ini. Cepat atau lambat pasti Emma akan tahu juga. Maka dari itu, ia ingin kekasihnya mengetahui tentang dirinya apa adanya. Ia ingin Emma mengerti bahwa kehidupannya seperti ini. Ia menginginkan Emma untuk merubahnya. Dan ia sangat menginginkan perhatian Emma seorang. Namun, jika dengan hanya menunjukkan tempat tinggal yang tidak wajar ini saja sang gadis sudah ketakutan dan ingin pulang, bagaimana ia bisa mengatakan kebenaran tentang dirinya? Ia benar-benar bingung. Masih saling diam, tetapi Elliot mendengar bahwa isakan Emma sudah tidak menghampiri gendang telinganya lagi. Lelaki keturunan Valley itu lalu menggerakkan kepala, ia menyandarkan wajahnya di tengkuk sang gadis. Lengan yang menahan pintu ia gerakkan untuk memeluk Emma. Ia memeluk kekasihnya itu dari belakang. Emma hanya diam dan kembali berdebar saat merasakan Elliot yang memeluknya sangat erat. Lelaki itu seperti enggan untuk melepaskan Emma. Ia bahkan dapat tahu bahwa Elliot menghirup pelan aromanya dan memberikan ciuman-ciuman kecil di sana. Mata oniks itu berubah menjadi merah karena kondisi ini. Ia kemudian berbisik kepada gadis yang masih berada di rengkuhannya itu. "Kalau begitu, tetaplah di sini." Emma menolehkan kepala. Ia melihat ke arah Elliot yang sekarang juga menatapnya. Air mata gadis itu perlahan turun lagi. Elliot lalu perlahan melepaskan pelukanya dari Emma. Ia menghadapkan sang kekasih dan menatap langsung wajah yang menunduk dan menjauhi kontak mereka. Kembali membelai wajah sang gadis dan menegadahkan wajah kekasihnya itu agar ia dapat melihat mata yang emerald. Lengan yang satu lagi ia gerakkan untuk mengusap air mata yang masih menetes di wajah Emma. "Emma," ujar Elliot. Sang gadis hanya menganggukkan kepala, lalu membiarkan sang kekasih untuk menghapus air mata yang berlinang, kemudian Emma merasakan tubuhnya kembali didekap erat oleh Elliot. Lelaki itu hanya berbisik pelan dan mengucapkan terima kasih. Elliot sama sekali tidak bisa menyembunyikan senyuman ketika sang gadis membalas pelukannya. Kau milikku. “Terima kasih karena telah mencintaiku, Emma.” Lelaki itu lalu melepaskan rengkuhan dan membawa Emma ke dalam ciuman panjang yang memabukkan. Menarik diri, sekali lagi Elliot menggumamkan maaf, sebab tidak percaya dan mendengarkan ocehan bodoh para tukang gosip di kampus mereka. Tersenyum tulus, ia pun mendekatkan dahi mereka dan memejamkan mata sejenak. . . . Besambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN