Karena terus diganggu oleh adik, maka aku bisa mengerjakan tugas sekolah setelah semua orang terlelap. Namun, alhamdulilah setelah satu jam berlalu, aku bisa menyelesaikan menulis karangan sebanyak dua lembar penuh.
Keesokan harinya aku mengumpulkan tugasku, lalu setelah beberapa waktu kemudian, guru memanggil namaku.
"Wilda Maharani, silahkan kedepan," ujar Bu Guru hingga membuatku terkejut.
Aku sangat takut mendapat nilai jelek, karena pasti Ibu akan marah dan menyiksaku.
"Sa-saya salah apa, Bu?" tanyaku dengan tubuh gemetaran.
"Dari semua murid, hanya kamu yang tulisannya paling rapi dan enak dibaca. Selain itu tulisanmu paling banyak diantara yang lainnya. Jadi, silahkan baca karanganmu."
Senyumku mengembang saat mendengar hal tersebut, lalu mulai maju ke depan. Aku langsung membaca karanganku dengan penuh perasaan. Tiba-tiba air mataku berjatuhan saat aku membaca karangan yang berjudul berlibur bersama keluarga tersebut, hingga suasana kelas yang ricuh tiba-tiba menjadi hening.
"Wilda, karangan kamu bagus, disana menceritakan tentang kehangatan keluarga yang harmonis, tapi kenapa kamu menangis saat membacanya?" tanya Bu Guru setelah aku selesai membaca karanganku tersebut.
"Karena semua yang aku tuliskan bohong. Aku tidak pernah pergi liburan bersama keluarga, selain itu aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orangtuaku. Semua yang kutuliskan hanya hayalanku, Bu."
Air mataku terus berjatuhan saat mengatakan hal tersebut, apalagi seluruh kelas tiba-tiba kembali riuh dan menyorakiku.
"Huuuuuh dasar pembohong! Bohong kan dosa!"
"Dasar pengkhayal!" sorak teman-teman hingga air mataku semakin deras mengalir.
Tiba-tiba Bu Guru memelukku dengan erat lalu menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan sapu tangannya.
"Kalian semua harus mengucapkan selamat kepada Wilda, dia anak yang berbakat dan memiliki imajinasi tinggi. Kita semua doakan semoga kelak Wilda menjadi penulis yang hebat," ujar Bu Guru hingga membuatku tiba-tiba berhenti menangis, begitu pula dengan teman-teman satu kelas yang seketika terdiam.
"Jadi kita boleh berbohong, Bu Guru?" tanya Desi sambil mengacungkan tangan.
"Berbohong memang dosa. Tapi berimajinasi dengan karangan bukanlah berbohong. Sama halnya dengan cerita dongeng yang sering kalian baca."
"Oh, jadi Wilda nanti kalau sudah besar akan menjadi penulis cerita dongeng?" tanya Desi dan yang lainnya.
"Iya, seperti itu," sahut Bu Guru.
Lalu semua orang bertepuk tangan dan menatapku dengan penuh rasa kagum. Seketika senyumku mengembang saat melihat ekspresi kekaguman tersebut, karena untuk yang pertama kalinya aku merasa dihargai.
Saat jam istirahat, tiba-tiba semua teman mengelilingiku dan menawarkan makanan. Padahal biasanya mereka semua selalu abai, karena aku tak pernah membawa uang jajan. Namun, seketika aku menjadi populer dan disukai banyak orang.
"Wilda, kalau kamu nanti jadi orang terkenal, jangan lupakan kami," ucap Desi.
"Saat nanti aku menjadi penulis hebat, maka kamu akan menjadi penyanyi terkenal," sahutku.
"Hahahha kamu memang paling bisa membuat orang senang," ucap Desi dengan wajah merah merona.
Diantara kami dia memang yang memiliki suara bagus, apalagi orangtuanya sangat mendukung semua hobbynya dengan membelikan piano karena ia suka bermain musik dan menyanyi.
"Wilda, ayo jajan bersamaku!" ajak Farhan, anak dari orang terkaya di desaku.
Seketika tatapan teman-teman wanita yang tadi mengelilingiku berubah. Semua orang ingin berteman dengan Farhan, maka mungkin saja mereka merasa iri saat Farhan dekat denganku. Farhan adalah seorang anak yang sulit bergaul, ia selalu pilih-pilih teman dan lebih suka menyendiri, padahal semua orang ingin berteman dengannya.
"Aku gak mau," sahutku sambil melirik wajah teman-teman yang mulai tak menyukaiku.
"Ini perintah!"ujarnya sambil menarik tanganku menuju taman, tak lupa ia meraih tasnya sebelum kami pergi.
"Ada apa sih?" Aku langsung menghempaskan tangannya saat tiba di sebuah bangku di bawah pohon beringin yang rindang.
"Aku cuma mau minta tolong untuk menghabiskan bekalku," ujarnya sembari mengeluarkan kotak nasi berisi nasi dan ayam goreng juga capcay.
Seketika mataku langsung membulat dengan tatapan berbinar saat melihat makanan tersebut. Ibu sangat jarang memasak ayam goreng, kecuali jika hari-hari penting dan lebaran. Bahkan lauk telur dadar saja bagiku sangatlah istimewa.
"Mau gak?" Ia kembali bertanya.
"Aku mau," sahutku sambil meraih kotak nasi miliknya.
"Kamu makan sampai habis, aku mau jajan dulu ke kantin," ujarnya sembari bergegas pergi.
Aku mengangguk, lalu mulai menghabiskan makanan tersebut.
"Ooooh, jadi cuma untuk disuruh menghabiskan bekal dia." Tiba-tiba Desi muncul hingga membuatku terkejut.
"Iya, Farhan cuma butuh aku buat menghabiskan makanannya," sahutku.
"Syukurlah kalau begitu, silahkan lanjutkan," ujarnya sambil tertawa cekikikan dan saling berbisik.
Terserah jika mereka menganggapku hina, setidaknya aku bisa kenyang sampai nanti pulang sekolah.
Adzan dzuhur berkumandang, sudah waktunya untuk pulang. Aku sudah tak sabar ingin menunjukkan nilai A+ pada karanganku pada ibu. Dengan berlari melewati pematang sawah, aku bernyanyi dan menari hingga akhirnya aku tiba di rumah.
Setibanya di rumah, kulihat wajah ibu tampak kusut. Seluruh rumah tampak berantakan, kedua adikku tampak tengah menangis kejer, sementara ibu tengah menyetrika sambil berlinang air mata.
"Assalamualaikum, Bu, aku pulang."
"Cepetan ganti pakaian dan makan siang!" bentaknya tanpa menoleh ke arahku.
Aku mengangguk, lalu segera berganti pakaian.
"Bu, Wilda gak makan siang ya, soalnya tadi habis makan bekal punya Farhan, masih kenyang."
"Apa kamu bilang? Dasar anak tidak tahu diri, bisanya cuma mempermalukan orangtua!" teriaknya sambil menampar wajahku.
Aku langsung menangis sambil berlari menuju kamar. Terkadang saat aku pulang sekolah, ibu belum sempat memasak dan aku disuruh menahan lapar hingga sore, lalu mengapa dia harus semarah itu ketika aku memakan makanan yang diberikan orang lain?
Belum hilang rasa sakit bekas tamparan ibu, tiba-tiba ibu datang sembari membawa sapu.
"Setelah ini kamu akan makan diluar lagi?" tanyanya sambil mengacungkan sapu.
"Tidak, Bu, Wilda janji."
Setelah itu ia menurunkan sapunya lalu memelukku dengan erat.
"Maafkan ibu, Nak," ucapnya sambil menangis.
Mungkin beban yang dirasakan ibu begitu banyak, sehingga ia harus selalu menyiksa lalu meminta maaf dengan wajah menyesal. Namun, aku sama sekali tak membutuhkan kata maafnya, yang kubutuhkan hanya pengertian dan kasih sayangnya. Jujur saja aku tak pernah merasa jika ibu menyayangiku.
Tidak berapa lama kemudian terdengar suara ayah tiri pulang dari sawah.
"Diaaaaaaaaaaah!" Terdengar suara teriakan yang mampu merobek telinga.
Ibu langsung bergegas menemuinya, karena penasaran aku pun mengikuti dari belakang, meski aku pasti akan menjadi sasaran kemarahannya. Aku hanya ingin tahu mengapa ia bisa semarah itu.
"Apa saja yang kamu lakukan seharian ini? Mengapa rumah berantakan! Lihat anak-anak bermain di tempat yang panas!" teriaknya.
"Aku mencuci dan menyetrika baju tetangga untuk mendapatkan tambahan penghasilan," sahut ibu.
Plaaaaaaaak! Satu tamparan mendarat di pipi ibu.
"Kamu pikir setiap hari aku menjadi kuli di sawah dan di ladang itu untuk siapa? Yang harus kamu lakukan hanya menjaga anak-anak dan membereskan rumah!" teriaknya.
"I..iya, Kang, maaf."
Ibu tampak sangat lemah jika dihadapan suaminya, sangat berbeda jika terhadapku, ibu akan menjadi sesosok monster yang sangat menyeramkan.
"Lalu kamu! Hei anak pembawa s**l! Bawa masuk adik-adikmu, tunjukan jika kamu memiliki manfaat di rumah ini!" bentaknya sambil menatapku penuh kebencian.
Aku mengangguk, lalu mengajak adik-adikku untuk masuk kamar. Di dalam kamar, air mataku tak berhenti mengalir meratapi sikap kasar ayah tiriku.
"Disuruh jagain adik-adikmu, malah nangis, hapus air matamu, anak sulung gak boleh cengeng!" bentaknya.
"Ayah, mengapa Ayah sangat jahat padaku? Salah aku apa?" Akhirnya semua unek-unek di hati ini bisa dikeluarkan.
"Apa kamu bilang? Aku jahat? Yang jahat itu ayahmu, dia meninggalkan ibumu sejak kamu berusia 2 tahun. Kamu harusnya berterima kasih karena aku telah membiayai hidupmu juga ibumu!"
____
Tujuh tahun berlalu, aku telah lulus SMP dengan nilai terbaik. Aku sangat berharap bisa melanjutkan sekolah agar bisa menggapai cita-cita untuk menjadi penulis hebat seperti yang diucapkan Bu Euis, Guru kesayanganku.
"Sekolah SMA itu butuh biaya, daftar dan SPPnya mahal, ibu gak punya uang," ucap ibu saat aku mengatakan bahwa aku ingin melanjutkan SMA.
"Tapi sekolah akan memberiku beasiawa, ibu hanya perlu membelikan seragam, sepatu, tas dan buku."
"Tidak, pokoknya kamu harus bekerja, agar bisa membantu membiayai sekolah adik-adikmu."
"Apa yang bisa aku lakukan untuk mencari uang? Aku hanyalah gadis berusia 15 tahun."
"Kamu bisa bekerja di kota sebagai pembantu rumah tangga."
Saat itu hatiku langsung hancur berantakan, aku benar-benar semakin yakin bahwa ibu tak pernah sama sekali memperdulikan perasaaanku.
Bersambung.