Keluarga Toxic

1202 Kata
Suatu hari saat aku tengah membantu pekerjaan ibu menyetrika pakaian tetangga, tiba-tiba kulihat ayah tiri pulang dengan membawa sahabatnya ke rumah. Lelaki yang tampak berusia sekitar 45 tahun itu terus menatapku dengan tatapan aneh. "Herman, kamu ternyata punya anak gadis yang cantik," ucapnya sambil terus menatapku tanpa berkedip. "Iya, anak tiri," sahutnya. "Nikahkan saja dia denganku, maka kuanggap lunas semua hutangmu." "Istighfar, Kang, dia masih kecil, baru berusia 15 tahun. Kamu terlalu tua untuknya." Tiba-tiba ibu keluar dari dapur lalu menyuruhku berhenti menyetrika dan masuk kamar. "Usia 15 tahun itu sudah cukup untuk berumah tangga, kalau dia menikah dengan Kang Karim, hidupnya tak akan kekurangan," ujar ayah tiri hingga membuat dadaku terasa sesak. "Cukup! Jangan bicara lagi atau kujahit mulut kalian!" Untuk pertama kalinya ibu melantangkan suara di hadapan suaminya, aku sangat bersyukur karena akhirnya ibu berani melawan ucapan ayah tiri, padahal biasanya ia selalu diam. Plaaaak! Lagi-lagi kulihat ayah tiri menampar ibu hingga tubuhnya jatuh terjerembab. Aku langsung berlari menuju rumah nenek dan kakek yang jaraknya lumayan jauh, sekitar 5 KM dari rumahku. "Wilda, kamu mau kemana?" tanya Farhan sambil mengerem motornya secara mendadak di hadapanku. "Mau ke rumah nenek dan kakek." "Ayo aku antar." Aku mengangguk, lalu duduk di belakangnya. Setelah itu ia melajukan motornya. "Wilda, kamu mau masuk ke SMA mana?" tanyanya saat di perjalanan. "Aku gak melanjutkan SMA, aku disuruh ke kota untuk mencari uang." Tiba-tiba ia mengerem mendadak hingga membuatku terkejut lalu spontan memeluknya karena takut jatuh. "Wilda, ada yang ingin aku bicarakan." "Tapi ada hal penting yang harus aku katakan pada nenek dan kakekku." "Baiklah, nanti saja aku bicara padamu," ujarnya sembari kembali melajukan motornya. Setibanya di rumah kakek dan nenek, aku langsung menceritakan tentang sikap kasar ayah tiri bahkan niatnya yang ingin menikahkanku dengan sahabatnya yang sudah pasti terlalu tua untukku. "Itulah akibatnya karena melawan orangtua, seharusnya dulu ibumu pergi ke Arab Saudi, bukan malah menikah dengan lelaki kere kayak si Herman," ucap nenek yang membuatku mengernyitkan dahi. "Si Diah memang berbeda dengan si Maryam anak Bu Sukaesih, si Maryam itu berbakti pada orangtuanya, setiap bulan dia mengirimkan uang dari Arab." Ucapan kakek dan nenek membutku mengusap d**a, pantas saja selama ini ibu bertahan dengan sikap kasar suaminya, karena mengadu pada orangtua pun tak ada gunanya. Sekarang aku mengerti, mengapa ibu memaksaku untuk mencari uang ke kota, padahal usiaku masih kecil, karena di tempat kami, seorang anak perempuan yang belum menikah sudah diharuskan mencari nafkah untuk kedua orangtuanya. Bahkan nenek dan kakek berharap agar ibu banting tulang di luar negri seperti tetangga yang lain. "Bagaimana ini, Pak, kita datangi rumah si Diah?" tanya nenek. "Tak perlu, biarkan saja, kalau gak kuat dia pasti minta cerai. Suruh siapa memilih menikah dengan si Herman, andai saja dulu dia menuruti ucapan kita untuk ke Arab, mungkin sekarang dia sudah hidup berkecukupan." Mendengar semua itu aku langsung berlari meninggalkan mereka. Seketika air mataku berjatuhan saat mengingat sikap semua anggota keluargaku yang benar-benar membuat miris. Tak heran jika ibu memperlakukanku dengan kasar tanpa pernah mengerti peraaaanku, karena dia pun diperlakukan seperti itu oleh kedua orangtuanya. "Sudah?" tanya Farhan yang sejak tadi menungguku. Aku mengangguk lalu duduk di belakangnya. "Wilda, kita main dulu ke bendungan, ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya. "Iya, tapi jangan lama, aku takut Ibu marah." "Oke," sahutnya sambil melajukan motornya menuju bendungan yang biasa didatangi orang-orang untuk pacaran. Farhan menghentikan motornya di sebuah taman, dari taman itu kami bisa melihat bendungan yang tampak sangat indah. "Wilda, duduklah." Aku mengangguk, lalu duduk di sebelahnya. "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" "Sebenarnya aku menyukaimu dari sejak kelas 1 SMP." Aku sangat terkejut saat mendengar penuturannya, karena saat itu aku merasa masih terlalu dini untuk memikirkan percintaan. "Farhan, aku menyukaimu sebagai teman. Jujur saja aku belum memikirkan masalah percintaan." "Kita sudah lulus SMP, jadi wajar saja jika kita memiliki perasaan lebih dari teman," ujarnya. "Tapi aku..." "Apa jangan-jangan kamu menyukai lelaki lain?" "Enggak, aku gak pernah menyukai siapapun." Tiba-tiba ia meraih jemariku lalu meremasnya. "Apa yang kamu rasakan?" Aku langsung melepaskan genggamannya. "A..aku merasa tak nyaman." "Kamu tidak suka jika aku memegangi tanganmu?" "Aku tak tahu, tapi rasanya dadaku berdegup lebih kencang, lututku terasa lemas, selain itu pipiku terasa panas." "Itu tandanya kamu menyukaiku." "Tapi aku merasa tak nyaman saat berdua denganmu seperti ini. Aku ingin pulang." "Baiklah, tapi sebelum aku mengantarmu pulang, aku mau kamu menerima ini." Ia langsung meraih kantung celananya, lalu mengeluarkan sebuah ponsel. Saat itu benda tersebut termasuk benda mewah, meski hanya bisa telpon dan SMS tanpa memiliki kamera. "Farhan, aku tak bisa menerimanya, ini pasti mahal." "Aku mohon terima saja, agar kita bisa tetap berkomunikasi." Akhirnya aku mengangguk lalu menerima pemberiannya. Farhan mengajariku bagaimana mengirim pesan dan melakukan panggilan, lalu setelah itu ia mengantarku pulang. Setibanya di depan rumah sederhana yang dikelilingi kebun pisang, ia langsung menghentikan motornya. "Terimakasih, ya." Ia mengangguk lalu melambaikan tangan. Ada getaran aneh dalam d**a saat melihat senyumnya, lalu aku segera bergegas masuk karena semakin salah tingkah. Kulihat ibu tengah menyetrika bersama kedua adik yang tengah anteng dengan perabotan yang berserakan sementara ayah tiri tak terlihat batang hidungnya. "Kamu dari mana saja?" tanya ibu sambil membulatkan matanya. "Aku dari rumah kakek dan nenek. Aku tak bisa membiarkan Ibu terus diperlakukan kasar oleh Ayah." "Percuma, mereka tak akan membela ibu. Yang mereka inginkan adalah ibu pergi ke Arab agar bisa menyetor uang setiap bulannya." Aku hanya menghela napas, karena apa yang ibu ucapkan sama persis seperti yang nenek dan kakek ucapkan. "Wilda, besok kamu ikut Bi Tuti ke Jakarta, ya, jika kamu ada di rumah, maka Ayah akan memaksamu untuk menikah dengan sahabatnya." "Iya, Bu." Akhirnya aku menyanggupi saran ibu, karena aku tak memiliki pilihan lain. Saat malam tiba, benda berbentuk pipih itu bergetar, lalu kulihat ada sebuah pesan masuk. "Wilda, kamu sudah tidur?" Dadaku tiba-tiba terasa bergetar saat membaca pesan dari Farhan, padahal biasanya aku dan Farhan sering jalan berdua, belajar bersama dan berbincang-bincang tanpa ada rasa apapun. Entah mengapa ada rasa yang berbeda dari biasanya. "Lagi beres-beres pakaian, besok aku berangkat ke Jakarta." Aku membalas. "Bu! Teteh punya HP!" Tiba-tiba Asyla masuk kamar dan langsung berteriak saat melihat benda pipih yang sejak tadi kumainkan. Aku langsung membekap mulutnya hingga ia tak bisa mengeluarkan suara. "Wilda, kamu punya HP darimana?" tanya ibu. "Dari Farhan," jawabku. "Ibuuu aku mau HP itu." Asyla merengek. "Wilda, berikan HP itu untuk Asyla." Seperti biasa ibu akan menyuruhku memberikan apa yang kumiliki untuk anak kesayangannya itu. "Tidak, Bu, aku tidak akan memberikan HP ini, meski Ibu mengusirku dari rumah ini." "Memangnya kamu mau tinggal dimana kalau ibu mengusirmu?" "Aku bisa tinggal bersama nenek dan kakek." "Silahkan jika kamu mau diberangkatkan ke Arab Saudi." "Lalu apa bedanya dengan Ibu? Toh, besok aku akan ke Jakarta untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga, padahal usiaku belum genap 16 tahun." Mendengar itu Ibu langsung terdiam, untuk yang pertama kalinya akhirnya aku bisa mengeluarkan unek-unek yang selama ini tertahan di hati. "Ooh, rupanya sudah mulai suka dengan barang mewah? Kalau kamu menikah dengan Kang Karim, mungkin kamu akan dibelikan motor." Tiba-tiba ayah tiri ikut menyahuti obrolan kami. Tanpa menjawab ucapannya aku langsung mendorong adikku keluar dari kamar, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Aku sudah muak dengan mereka semua, ingin rasanya cepat-cepat ke Jakarta, agar aku bisa terlepas dari cengkraman mereka. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN