Sontak saja aku terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Vina. Embun pergi? Maksudnya pergi bagaimana? Ke warung atau ke mana?
"Vin, Embun pergi ke mana? Dia ke warung, atau ke mana?" tanyaku tanpa rasa khawatir sama sekali, karena ku pikir Embun tak mungkin pergi meninggalkan rumah dan anak-anak kami. Sama sekali, aku tidak berpikiran jauh tentang kata pergi yang dimaksud oleh Vina.
"Mas yang usir dia tadi. Ya jadinya dia pergi. Dia pergi bawa kopernya juga. Dia bilang sama aku, titip Alif sama Aisha. Sumpah ya, Mbak Embun itu istri dan ibu yang nggak bertanggungjawab!" jelas Vina dengan menggerutu.
"Dia pake bilang gini ... kalau Mas dan kita, nggak bakal tahan ngurusin Alif sama Aisha. Cih! Nyebelin!"
Sedangkan aku, aku terdiam mendengar kata-kata Vina. Benarkah Embun pergi dari rumah ini dan tega meninggalkan ku juga anak-anak kami? Pergi dengan membawa koper? Artinya, apa embun pergi jauh?
"Vin! Yang bener kamu kalau ngomong. Embun kemana? Nggak mungkin dia ninggalin Mas dan anak-anak," kataku lagi pada Vina dengan tegas. Ku rasa, mungkin Vina cuma bercanda saja mengatakan Embun pergi sambil membawa koper.
"Beneran Mas. Tanya aja Aisha, tadi dia lihat Mbak Embun bawa koper gede kok!" ujar Vina tegas. Ku lihat ke dalam matanya, tak ada kebohongan sedikitpun di sana. Vina berkata jujur.
Hatiku tidak nyaman dan jantungku seakan diremas saat tahu Embun benar-benar pergi dari rumah. Aku jadi berpikir, apa karena perkataan ku tadi? Tidak, aku berkata seperti itu karena marah, bukan karena aku benar-benar ingin mengusirnya dari sini.
Aku merasa tidak bersalah di sini, malahan istriku yang salah. Sebagai seorang suami aku hanya mencoba mendidik istriku dengan menegurnya. Tapi mentalnya tidak kuat, dia malah pergi meninggalkan rumah ini dan meninggalkan anak-anak juga. Apa Dia tidak punya otak? Seenaknya saja, dia meninggalkan anak-anak kami. Apa dia tidak kasihan pada Alif yang masih harus menyusui? Embun, benar-benar keterlaluan.
"Udah lah Mas, nggak usah susul mbak Embun. Biarin aja dia pergi, biar gak ada yang ngerusuh lagi di rumah ini."
"Oke, Mas bisa gak susulin istri Mas. Tapi apa kamu mau ngurusin Aisha sama Alif, Vin?" Aku sungguh tidak keberatan, apabila Embun memang benar-benar pergi meninggalkan rumah ini. Tapi yang aku pikirkan adalah kedua anakku, bagaimana jadinya bila mereka tanpa Embun. Sedangkan selama ini, Embun lah yang selalu bersama mereka.
Vina langsung terlihat bingung saat mendengar pertanyaanku. Tampaknya dia juga tidak mau kesulitan untuk mengurus Aisha dan Alif. Hingga beberapa saat kemudian, Vina pun berbicara kepadaku.
"Aku bakal bantuin Mas, buat ngurus Aisha sama Alif. Tapi kakak tahu kan, kalau aku butuh—"
Vina menjeda kalimatnya di sana dan aku sudah tahu apa yang dia maksud. "Tenang aja Vin, Mas ngerti kok apa yang kamu mau. Mas juga nggak mungkin, biarin kamu ngurus anak-anak Mas tanpa dikasih apa-apa." Ku katakan itu pada adikku. Kulihat senyuman lebar langsung terbit di bibirnya. Sedangkan untuk Embun, aku tidak mau peduli lagi padanya. Istri yang memiliki mental tahu, tak pantas untuk bersama denganku.
Bukannya menyadari kesalahannya, Embun malah pergi meninggalkan rumah. Dasar istri yang tidak bertanggung jawab!
***
Selama satu hari, Mawar di rawat di rumah sakit. Aku yang menjemputnya pulang dan untungnya Mawar tidak mengalami luka yang serius. Wanita itu bahkan begitu baik, dia menuntut Embun atas apa yang dilakukan oleh istriku itu kepadanya.
"Kamu yakin, nggak perlu membawa masalah ini karena hukum, Mawar?" tanyaku pada Mawar, dengan kedua tanganku yang masih memegang setir kemudi.
"Enggak usah, Rud. Lagian aku cuma luka kecil doang. Kasihan Aisha sama Alif, kalau ibunya masuk penjara. Apa lagi Alif masih membutuhkan asi," kata Mawar dengan lembut. Sungguh mulia hati wanita ini dan aku mulai berandai-andai, andaikan saja Mawar yang menjadi istriku. Pasti aku akan menjadi pria paling bahagia.
Astaghfirullah! Sadar Rud! Sadar! Kamu masih berstatus suami orang. Begitulah ucapku dalam hati, yang menyadarkan posisiku sebagai pria yang sudah beristri.
"Kamu sangat baik, Mawar. Maafin istriku ya."
"Nggak apa-apa, Rud." Mawar tersenyum, senyumnya sangat manis dan membuat hatiku berdebar. Oh Tuhan! Tolong! Ada apa denganku? Tidak seharusnya aku merasakan perasaan seperti ini pada Mawar.
Begitu kami sampai di depan rumah, aku membantu Mawar untuk melepaskan sabuk pengamannya. Tiba-tiba saja tubuhku bergetar, seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi, saat aku merasakan bibir Mawar yang tanpa sengaja menempel di leherku.
"Maaf, Rud. Aku nggak sengaja." Ku lihat Mawar langsung menundukkan kepalanya, setelah dia mengucapkan maaf padaku.
Aku pun langsung menjauh, setelah berhasil melepaskan sabuk pengaman Mawar. Namun, netra kami malah saling bertatapan dengan dalam. Sungguh, degup jantungku terasa tidak karuan saat ini. Aku menelan ludahku sendiri, saat melihat wajah cantik Mawar yang berjarak hanya beberapa cm dariku.
Tanpa ku sadari, sesuatu di dalam diriku bergejolak dan membuatku tidak bisa menahan diri. Aku mendekati Mawar, ku lihat bibir Mawar yang tipis dan indah itu. Tanganku mengusap leher Mawar dengan lembut.
Saat bibir kami hampir bersentuhan, kedua mataku langsung terbelalak, saat aku melihat wajah Embun terlintas di kepalaku. Tuhan, ini tidak boleh, ini tidak benar.
"Maaf Mawar. Ki-kita turun yuk!" ajakku dengan suara gugup, seraya memalingkan wajahku dari Mawar.
Kami turun dari mobil bersamaan, tapi saat masuk ke dalam rumah, aku berjalan lebih dahulu dari Mawar yang berada tepat di belakangku. Setelah apa yang hampir terjadi pada kami di dalam mobil, aku jadi gugup.
Baru saja pulang ke rumah, aku disambut dengan suara tangisan Aisha dan Alif. Aku berjalan menuju ke dalam kamar, di mana suara kedua anakku itu terdengar. Ku lihat kunci tergantung di pintu dan kubuka pintu tersebut dengan kuncinya, karena pintunya terkunci dari luar.
Bisa-bisanya, Alif dan Aisha dikunci di kamar. Begitu pintu itu terbuka, kulihat kedua anakku itu sedang duduk di atas lantai dengan mainan dan makanan yang berantakan di sekitar mereka. Wajah Aisha dan Alif terlihat kotor, seperti belum mandi. Sedangkan Vina dan ibu, tak terlihat di sana.
"Aisha! Alif! Kalian kenapa nangis?" tanyaku pada kedua anakku itu.
"Ate Vina ... kunci, ate Vina kunciin aku cama Alif."
"Tante Vina, kunciin kalian?" tanyaku lagi pada perkataan Aisha yang kurang jelas. Aisha menganggukkan kepalanya, masih bisa kulihat bulir-bulir air mata membasahi pipinya. Alif juga sama, bahkan anak itu histeris sambil memanggil mama mama. Aku tau, mama itu ditujukan untuk istriku.
Ku gendong Alif dan ku tuntun tangan Aisha, setelah aku berhasil sedikit menenangkan mereka. Di belakangku, Mawar menawarkan diri untuk menggendong Alif. Tapi Alif tidak menyukai Mawar dan menangis ketika akan digendong olehnya.
Aku marah, kepada Vina dan Ibu yang tidak bisa mengurus anak-anakku dan menguncinya di dalam kamar. Anak usia 4 tahun dan 2 tahun ditinggalkan di dalam kamar, berduaan saja? Bagaimana bila terjadi sesuatu kepada mereka?
"IBU! VINA! IBU ... VINA!" teriakku murka, sambil mencari-cari keberadaan Vina dan Ibuku. Aku tak menemukan ibuku, tapi aku menemukan Vina sedang berada di halaman belakang dengan earphone yang terpasang di telinganya. Adikku itu terlihat santai sambil bergerak-gerak, seperti sedang berjoget. Rahangku mengeras melihat Vina yang bersantai-santai, sedangkan rumah berantakan, kedua keponakannya juga ditelantarkan.
"VINA!"
Ku lepaskan earphone yang melekat di kepalanya dan membuat Vina sampai beranjak dari tempat duduknya.
"Apaan sih, Mas? Pake teriak-teriak segala," ucap Vina dengan santainya.
"Kamu ... kenapa kamu kunciin Alif sama Aisha di kamar? Kamu tinggalin mereka berdua di sana! Keterlaluan kamu, Vin!" Bentakku pada Vina, agar dia sadar akan kesalahannya. Belum sehari setelah istriku pergi, keadaan sudah sekacau ini.
TBC...