Sia-sia harapanku, kupikir Embun akan menerima tawaranku untuk tinggal di sini bersamaku. Dia malah memberikan jawaban yang membuat hatiku menohok, sampai aku tak bisa berkata apa-apa lagi. "Kita sedang dalam proses perceraian, Mas. Nggak baik kalau aku tinggal bersama dengan kamu dan anak-anak. Kalau kamu tidak ada yang mengurus, kamu bisa sewa pembantu untuk membantu kamu di rumah." Aku pikir Embun lupa dengan niatannya bercerai dariku, rupanya dia tidak pernah lupa dengan niatnya itu. Apa aku memang sudah tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki rumah tanggaku dan Embun? "Kamu mau aku carikan asisten rumah tangga, Mas? Kebetulan aku ada kenalan yang bisa dipercaya untuk membantu kamu dan dia juga membutuhkan pekerjaan." Embun memberikan tawaran asisten rumah tangga padaku. Hal itu ma

