Kecelakaan

1154 Kata
Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara internasional di Indonesia. tempat dimana para turis dari luar negeri akan menginjakan kaki pertama kalinya di tanah pribumi. Pesawat yang ditumpangi Viona dan juga Mala baru saja mendarat dengan aman. tampak dari arah pintu keluar bandara dua gadis dengan gaya pakaian mereka yang modis, jam tangan branded, tas dan juga sepatu yang serasi dengan pakaian mereka, serta tidak lupa kaca mata hitam brand yang baru saja launching itu bertengger di hidung mereka yang mancung. dengan santai dua gadis itu mendorong troli berisikan koper-koper bawaan mereka tampa mempedulikan tatapan memuja dari kaum adam yang ada di sana. "ck duhh gue itu emang cantik, jadi gak heran sih kalo para buaya itu menatap gue memuja." Mala berbicara membanggakan diri, tatapan matanya lurus ke depan dengan badan yang berlenggak layaknya seorang model. "hemm."Viona hanya menanggapi celotehan sahabat nya itu dengan senyum tipis. "itu sopir bokap gue udah nunggu. lo mau bareng gue aja Vi?" tawar Mala. "gak usah, ntar lagi bawahan abang gue yang bawain black juga sampai. lo duluan aja, gue gak apa-apa." tolaknya, Viona mendorong pelan Mala untuk segera memasuki mobil. "kalo gitu gue duluan, hati-hati lo. jangan nyetir dulu, gue ngerti lo kangen sama black karena udah 3 tahun gak ketemu. tapi lo pasti capek, jadi lo ja.." "duh iya iya nyai, sini sungkem." Viona menarik tangan Mala dan mencium nya layaknya orang meminta restu, "Ananda akan mendengar kan nasehat nyai ratu. dahhh hati-hati pak bawak sohib saya, jangan kebut-kebut." ucap Viona lagi memotong ucapan Mala karena jengah, tangan nya terus melambai ke arah mobil Mala. "awas lo jangan batu." Ancam Mala dengan jari telunjuk nya yang mengacung ke arah Viona, dia menghembuskan napas pelan dan kemudian menepuk bahu sopir papanya itu, "jalan pak." ucapnya. sopir tersebut mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya dengan pelan meninggalkan bandara Soekarno-Hatta dan Viona yang masih menunggu bawahan kakaknya. setelah beberapa lama menunggu akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba, Viona masuk dan mengambil alih kemudi. dengan handsfree yang melekat di telinganya, Vio menjalankan black membelah jalanan jakarta. Tujuan Viona sekarang adalah mension peninggalan orang tua mereka, Viona sangat tahu mension itu pasti kosong selama ini. kakaknya tidak akan mau tinggal di rumah itu sendirian. Viona masih fokus menyetir, handphone nya berdering dan tertera nama Bang Al di sana. Viona ingin mengangkat telpon itu, tapi entah mengapa didepannya sudah ada anak kecil yang tiba-tiba menyebrang jalan. Hal itu jelas membuat Viona kaget dan membanting stir ke kanan secara tiba-tiba yang menyebabkan mobilnya menabrak pembatas jalan, Viona mengangkat kepalanya yang terbentur stir, "duhhh sakit lagi." gerutu Vio sembari mengusap keningnya. Dari arah berlawanan terlihat ada truk yang bergerak kearah mobil Vio dengan kecepatan tinggi, Viona panik wajahnya memerah tangannya berusaha membuka seat belt nya yang tiba-tiba macet, "come on, gue gak mau mati sia-sia. gue belum kawin elah." gerutu Viona, tangannya masih sibuk membuka seat belt nya dan berhasil. "gue tau tuhan sayang gue." ujar Viona, tangannya sudah beralih membuka pintu mobil, dan Vio melesat turun dari mobil. Tapi baru beberapa langkah Viona berjalan menjauhi mobilnya, truk itu sudah menabrak mobil Viona. Braakkk suaranya benturan antara mobil dan truk itu terdengar keras. Boomm.... truk itu meledak diiringi dengan ledakan mobil Viona. Viona yang masih terbilang dekat dari kedua mobil itu terkena serpihan dari ledakan itu, tubuhnya terpental ke belakang membuat Viona tidak sadarkan diri. beberapa saat kemudian orang berbondong-bondong datang, dan melarikan Viona ke rumah sakit terdekat. ~~~~~~~ "ughhh." Viona melenguh menahan sakit di kepalanya, kepala Viona terasa mau pecah saking sakitnya. Viona yang baru saja membuka matanya terpaksa kembali memejamkan mata karena tidak tahan dengan rasa sakit di kepalanya. Dengan mata yang masih terpejam Viona berusaha mengingat kecelakaan yang baru saja menimpanya, "Huftt." helaan napas panjang lolos dari bibir Viona. "gue s**l banget sih, ini pasti karena ngebangkang ucapan Mala. di doa'in sih gue, makanya kejadian." Viona menggerutu, matanya perlahan kembali terbuka. Viona mengangkat kakinya ke atas, dia sedang memastikan seluruh organ tubuh nya masih berfungsi sempurna. tangannya digerakkan secara teratur atas dan bawah layaknya burung mengepakkan sayap. cklekk.. suara pintu terbuka, "ya ampun non Ana, nona sedang apa? nona sudah sadar dari tadi yah. maaf tadi bibi buatin sup buat nona, gimana, apa kepalanya masih sakit non?" nampak seorang wanita paruh baya berjalan ke arah Viona. "iya, bibi kepala pengurus mension yang baru yah? bi Asih mana? terus bang Al kemana bi?" tanya Viona bertubi-tubi. wanita paruh baya itu mengernyit, matanya menelisik Viona dari atas ke bawah dan berakhir dengan menatap mata Viona yang sayu, "nona kenapa non, siapa bang Al? dan sejak kapan ada pengurus rumah bernama bi Asih?" tanya wanita itu bingung. Viona nampak kebingungan, matanya menelisik sekeliling kamarnya. ini bukan kamar gue di mension jelas ini lebih kecil, bukan kamar bang al, juga bukan kamar tamu, apa lagi kamar mama papa. jadi sekarang aku dimana? batin Viona bertanya-tanya. "ini dimana?" pertanyaan itu lolos dari bibir Viona. "ini di apartemen nona, nona lupa? tadi bibi menemukan non Ana di ruang tamu, kata nona kepala nona sakit. makanya saya bawa nona ke kamar!" jelas wanita paru Baya itu. "Nama bibi siapa?" tanya Viona lagi. Wanita itu makin mengernyit bingung, "nona benar-benar tidak apa-apa? apa perlu saya hubungi tuan muda?" ucapnya memberikan tawaran. "Gue gak apa-apa, please jawab aja apa yang gue tanya. nama lo siapa?" nada bicara Viona sedikit meninggi dengan bahasa yang tidak seharusnya dia gunakan ketika bicara dengan orang yang lebih tua. Tapi Viona benar-benar jengah, dia bingung dengan apa yang terjadi sekarang? dia hanya butuh jawaban, bukan basa-basi apa lagi menawarkan bantuan orang lain. dia cuman mau tau situasinya, sisanya dia akan mengurusnya sendiri. "sa.. saya Mona nona." dengan terbata-bata bi Mona menjawab pertanyaan Viona, jujur bi Mona merasa takut dengan nona nya ini sekarang. selama ini nona nya adalah orang yang baik dan lemah lembut, dia tidak pernah marah apa lagi membantah. tidak, bukan hanya kepada tuan mudanya saja, namun nona nya ini juga menurut dengan dia. Nona nya ini akan senang hati mengikuti apa yang dia ucapkan. apa lagi jika itu menyangkut hal tentang tuan mudanya, mencari perhatian kepada tuan mudanya adalah hal yang akan dengan senang hati sang nona nya lakukan. "ini dimana?" Viona kembali bertanya, membuat pikiran bi Mona yang sedang berkelana kembali. "di apartemen tuan muda nona," jawabnya gugup. "maksud gue ini di negara mana?" "ini di Rusia nona!" "Rusia?" Viona benar-benar bingung sekarang, bagaimana dia bisa berakhir di Rusia sedangkan terakhir kali dia baru saja menginjakkan kaki di Indonesia. "iya nona, kita ada di Rusia. karena nona tidak bisa menggunakan bahasa Rusia, karena itu tuan muda membawa saya kemari." jelas bibi mona, masih dengan ekspresi takut dan terkejut nya. "gue? gak bisa bahasa Rusia? jangan ngadi-ngadi, gue itu mahasiswa University Sydney, jangan kan bahasa Rusia, korea, thailand, Filipina aja gue bisa menguasainya, gua bisa menggunakan 25 bahasa negara asing loh. duh bibinya bercanda ini hahaha." ucap Viona sambil tertawa, tapi itu hanya sebentar saja karena melihat ekspresi bibi Mona yang serius seperti dia tidak berbohong. -continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN