Viona baru saja keluar dari ruang kelasnya, jari jemari lentiknya nampak sedang mengotak atik benda pipih yang selalu menjadi teman setianya itu. Sepersekian menit kemudian Viona sedikit tersenyum sembari melihat isi pesan dari balik layar handphone nya.disana terlihat pesan yang cukup membuat hatinya berbunga-bunga saking senangnya.
Viona kembali melanjutkan jalannya yang tertunda untuk menuju ke kantin terdekat setelah menyimpan handphone kedalam tas selempang nya. Cacing diperutnya sudah sangat memberontak ingin diberi makan secepat mungkin, karena sedari tadi pagi Viona belum mengisi perut nya sama sekali.
"Vionaaaaa." Terdengar suara teriakan melengking dari arah berlawanan dengan yang dituju oleh vio, Viona mendengus pasrah.
Viona sangat tahu siapa yang memanggil namanya itu tampa harus melihat. Siapa lagi kalo bukan sahabat gesrek nya Armala Syakila, Sahabat karibnya dari 5 tahun silam.
Sifat Mala yang ceria memang cukup berbanding terbalik dengan sikapnya yang terkesan acuh tak acuh terhadap sekitar.
"Apa." Viona membuka suaranya setelah dia yakin Mala sudah berada tepat dibelakangnya.
"Ishhh... Sensi amat sih lo, gak asik ahh." Mala menggerutu kesal melihat tingkah Viona yang gak ada ramah-ramah nya sama orang.
Viona tidak menggubris ucapan sahabatnya itu, karena memang dirinya merupakan orang yang tidak suka untuk berbasa-basi. Viona merupakan tipikal orang yang menyukai keterusterangan dan pembicaraan yang langsung menuju ke intinya.
Viona Zarya Slavia seorang gadis cantik asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 di salah satu University di Sydney. Dia merupakan anak yatim piatu, kedua orang tuanya sudah meninggal ketika usia Viona masih 6 tahun dan sekarang di usianya yang ke-23 dia tinggal bersama dengan kakek dan keluarga bibinya di Sydney, Australia.
Sebenarnya dia masih memiliki satu orang kakak laki-laki yang dua tahun diatas usianya, kakaknya itu sekarang sedang sibuk mengurus perusahaan peninggalan kedua orang tua mereka di Indonesia.
Setelah berjalan cukup jauh Mala kembali membuka suaranya, "Vio kek nya tadi gue lihat dimas deh sama si sarah."
"Gue lihat-lihat ni yah, makin lama itu cowok makin sok kecakepan deh. udah muka pas-pasan, sifat gak ada baik-baik nya. modal rayuan doang anjir hahaha." Mala tertawa cukup kencang diakhir kalimat nya, yang sontak membuat para penghuni kantin menoleh ke arah pintu masuk dan menatap mereka aneh.
"Pisss, sorry guys. I accidentally." Mala mengangkat tangannya dengan dua jari yang membentuk huruf V sembari meminta maaf.
Viona menarik napas lelah, "Mal, dengar yah. Berapa kali gue bilang ama lo, gue gak peduli ama buaya satu itu. Lagian bentar lagi gue bakalan lepas dari dia kok, jadi dari pada loh sibuk menggosip disini mending loh ke sana ambil makannya perut gue lapar banget sumpah."
"Ehh elahh nyuruh mulu lo, jadi curiga gue lo teman gue apa majikan gue sih." viona terkekeh geli dengan penuturan Mala.
"Mala kan sahabat terbaik Vio." ucapnya dengan senyuman manis. Mala beranjak sembari mendengus menuju ke pantry kantin dan mengambil dua piring makanan dengan lauk yang cukup menggugah selera makan mereka.
"Tapi ni ye, gue masih gak habis pikir sama jalan pikiran paman lo. Bisa-bisanya modelan kayak si dimas dijadiin calon mantu ponakan, kalo gue jadi paman lo, gue pas.." belum juga selesai Mala bicara, Viona sudah menghadiahkan satu jitakan dikening Mala.
"Ishh Vio." Mala meringis mengusap pelan keningnya yang baru saja menjadi sasaran Viona.
"Lo bukan paman gue, lagian ni yah lo kan tau sendiri kalo paman itu sangat gila harta, dia sangat tahu kalo warisan kakek itu udah atas nama gue semua. Jadi gak salah kalo dia manfaatin cowok modelan kayak Dimas." Ucap Viona santai sembari memakan makanannya.
"ohh iya Mal, Loh lihat ini deh." Viona menunjukkan isi pesan yang sedari tadi membuatnya bahagia.
sayang, sebentar lagi kamu libur musim panas kan? ke Indonesia yah, temani abang.
-Bang Al-
"uhmm jadi abang loh nyuruh balik indo Vi?" tanya Mala, yang diangguki antusias oleh Viona.
"yups, gue mau balik ke Indonesia dulu Mal, kapan perlu gue ambil cuti lah setahun. capek gue, belajar mulu." ujar Viona sembari mendesah lelah.
"lah si zubaidah, ehh kita itu tinggal 3 semester lagi. habis ujian ini, dua semester lagi. tanggung amat cuti." Mala tak setuju dengan keputusan Viona buat ambil cuti setahun, pasalnya mereka sudah hampir berada di ambang akhir buat gelar S2 tersemat.
Tapi yah Viona tetaplah Viona, dia bakalan tetap dengan pendirian nya untuk mengambil cuti selama satu tahun, hitung-hitung membantu abangnya mengurus perusahaan dan belajar untuk mengurus perusahaan yang diwariskan sang kakek tentunya.
Mala terus berceloteh tentang ketidak setujuannya dengan keputusan Viona, awal-awal nya Viona masih menanggapi sedikit-sedikit ucapan sahabatnya itu. Tapi lama-lama seperti nya Viona mulai jengah dan memutuskan untuk meninggalkan Mala yang sedang berceloteh ria itu sendiri.
Mala yang tersadar Viona sudah meninggalkan nya terlebih dahulu mendengus kesal, "Vio,, aghh gila loh main tinggal-tinggalin aja. ntar gue diculik sugar daddy gimana ogeb." setelah menarik tas nya yang ada dimeja kantin, Mala ngacir berlari mengejar Viona yang sudah jauh mendahului nya.
"Vio, ishh tunggu gue. gue mau nebeng ni!" Mala terus berteriak-teriak memanggil Viona.
"kak Mala." Mala menoleh melihat kesamping untuk mengetahui siapa kah gerangan yang berani memanggil nya, dikala dia sedang bersama sahabatnya tercinta.
"I.. itu kak. Kak Viona nya udah jalan itu." Tunjuk gadis itu bicara gugup.
Mala menoleh, dari kejauhan terlihat Viona sudah meninggal kan perkarangan kampus mereka.
"Ishhh Viona. Elo sih makai acara manggil-manggil gue segala. ditinggal kan gue." mala kesal dengan gadis disebelah nya ini, kalo bukan karena gadis ini memanggilnya dia pasti sudah duduk nyaman di kursi jok mobil Viona.
"Lah kok aku kak? Orang kak Mala sendiri yang lari-lari pakai slow motion segala, makanya sampai ditinggal kak Vio." Elak gadis itu, tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri mengisyaratkan bahwa itu bukan kesalahan nya, gadis itu tak terima dituduh yang enggak-enggak sama Mala.
"Yeee, suka-suka gue dong. Mau lari kayak mana, sewot amat." Mala meninggalkan gadis itu dengan hati dongkol karena ditinggal Viona.
~~~~~~~~~~~~~~~
Beberapa minggu berlalu, Libur musim panas pun akhirnya datang juga. Dengan semangat 45 Viona bangun pagi-pagi sekali, bersiap untuk segera ke bandara dan landing meninggalkan Australia untuk satu tahun ke depan.
Rencana nya untuk mengajukan cuti setahun akhirnya terealisasi juga. Meski harus berusaha keras berurusan dengan dosen prodi dan dekan kampus nya, serta harus berdebat panjang sama kakeknya. tapi itu tidak masalah, karena pada akhirnya Viona memenangkan perdebatan panjang itu dan akan berlibur ke Indonesia.
"Indonesia i am coming, tunggu kedatangan gadis cantik ini babe." dengan tawa devil yang menakutkan Viona berjalan memasuki kamar mandi, dan segera menjalankan ritual paginya.
setelah beberapa saat disinilah Viona berdiri sekarang, depan meja riasnya. memakai skincare dan memoleskan bedak tipis, tidak lupa Viona memakai maskara dan eyeliner tipis di ekor matanya, serta polesan terakhir ombre lipstik ala korea pada bibir mungilnya, "Sempurna." Satu kata itu lolos dari bibir Viona.
Viona berjalan menuju lift di sebelah kamarnya, dibelakangnya terlihat beberapa maid sedang membawakan koper-koper milik Viona. Barang yang dibawanya memang sedikit banyak, tas, sepatu, aksesoris rambut, gelang dan kalung, jam tangan, pakaian formal dan pakaian rumahan, tidak lupa juga alat perang kecantikan nya.
yang mana masing-masing jenis barang ditaruh dalam satu koper. Memikirkan waktu yg akan cukup lama di Indonesia membuat senyum Viona tidak pernah luntur.
"Good morning everyone." Viona mendekati sang kakek lalu mengecup pipinya kecil.
"Morning, sarapan dulu Vi." Ujar tantenya.
"Gak tante, Viona langsung berangkat aja. Kasian Mala ntar kalo kelamaan." Viona tersenyum manis kepada adik ayahnya itu.
Haaa sangat disayangkan tantenya yang baik dan lemah lembut, harus menikah dengan pamannya yang gila harta.
Kalo kalian bertanya kenapa semua aset kakeknya atas nama viona, karena memang tantenya Brisa Slavia tidak memiliki anak kandung. Brisa menikah dengan sang suami Marlow yang sudah duda anak 1, bibinya sempat mengandung tapi karena kelalaian keluarga sang suami akhirnya Brisa harus keguguran dan tidak bisa mengandung lagi.
Sejak kala itu, Brisa memutuskan untuk kembali ke Australia, memilih menjaga Viona yang kala itu masih remaja. Meninggalkan sang suami dan anak tirinya yang masih berumur 10 tahun. Tapi beberapa tahun setelah nya, Marlow datang dan mengatakan akan bersama Brisa di Australia dan meninggalkan putrinya bersama sang mantan istri.
"Hati-hati yah baby, jangan nakal, jangan telat makan, ikuti apa kata bang Al. Jangan bandel di sana, nanti kalo tante ada senggang, tante pasti nyusulin kesayangan tante ini nanti ke Indonesia." Brisa memeluk Viona erat, entah kenapa perasaan nya kacau sekarang.
Brisa sangat menyayangi Viona layaknya anak kandung sendiri, melihat Viona akan pergi untuk pertama kali dari mension keluarga Slavia. entahlah kenapa rasanya sangat berat sekali, Brisa merasa setelah ini akan ada hal buruk yang menimpa putri kecilnya.
"Iya, Viona sayang tante seperti ibu Viona sendiri. Jaga diri yah." Viona menjeda ucapannya sesaat, "Mama." Lanjutnya.
Viona menyebut sang tante dengan panggilan Mama, entah kenapa Viona merasa setelah ini mereka akan sangat lama agar bisa bertemu kembali.
Brisa menangis melepaskan pelukan sang ponakan dengan berat hati, "Hati-hati, setelah sampai di sana langsung kabarin tan.. Mama."
Dengan lambaian tangan Brisa melepas kepergian putri kecilnya, hingga mobil yang membawa Viona menghilang dari hadapan mereka.
Brisa mendorong kursi roda sang ayah, dan memasuki mension.
-continue-