Dia Henry?

1635 Kata
setelah satu jam lebih menangis, sekarang tampaknya Ana sudah lebih tenang. Hidungnya memerah, matanya membengkak akibat menangis, Ana mendongak menatap dalam manik mata Ethan. Ethan yang melihat tingkah adiknya itu hanya tersenyum geli, sungguh penampakan Ana yang baru saja menangis seperti ini sangat menggemaskan dimatanya. melihat Ana yang terus menatap matanya tampa berkedip, Ethan mencubit pelan hidung Ana. "apa hemm.. ngapain liatin Ethan begitu?" Ana hanya menggeleng, mengalihkan pandangannya ke arah lain secepat kilat. Dia ganteng bangat, astaga... astaga... Mala tolong Vio, jantung Vio gak sehat. batin Ana tertekan, pemuda yang berstatus kakak sepupu Ana ini sangatlah tampan. tadi Ana menangis karena mengingat Elden sang kakak tercintanya, tapi sekarang kenapa Ethan berubah menjadi sangat tampan. Ana tidak berbohong, menurut Ana Ethan adalah sosok sempurna yang diidamkannya selama ini. Bibir tipis, hidung mancung, kulit putih, rahang yang tegas, dan pandangan mata yang hangat. andai nanti dia kembali ke tubuh aslinya, Ana sudah memutuskan untuk kembali ke sini dan mengejar Ethan. "Honey, hei.." Ana terkejut ketika Ethan memanggil nya, wajah Ana yang sangat berdekatan dengan wajah sang kakak membuat jantung nya berdegup lebih kencang, "kenapa terkejut, melamun hemm." Ana masih bungkam dan hanya membalas dengan anggukan pelan. jujur Ana sangat gugup sekarang, dia gugup karena tidak tahu harus bersikap apa. disatu sisi Ethan adalah kakak pemilik tubuh, tapi disisi lain Vio/Ana menyukai Ethan hingga membuatnya sangat gugup dan grogi tingkat tinggi. ingat dan garis bawahi menyukai belum tentu mencintai. Melihat Ana yang masih diam tampa bicara, Ethan menurunkan Ana dari pangkuannya dan memindahkan Ana ke kursi. Ana tampak terkejut karena di angkat tiba-tiba, tapi beruntung Ethan tidak menyadari itu. Ethan berdiri membuka lemari pendingin yang tidak jauh dari letak duduk mereka. haduhh gobloknya, bisa-bisanya lo gak sadar kalo lo dipangku dari tadi si Vio. ana merutuki kebodohannya sendiri, ini adalah kebiasaan buruk Vio dulu, akan hilang akal karena grogi jika berada di dekat laki-laki yang sesuai kriteria pria idaman Viona. "mau s**u coklat?" Ana yang sedari tadi memukul kepalanya pelan karena kecerobohan nya, menormalkan ekspresi secepat mungkin. dan lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai isyarat bahwa dia tidak menginginkannya. Ethan menghembuskan napas pelan, Ana sungguh aneh malam ini. datang secara tiba-tiba di malam hari, meminta maaf, dan menangis sejadi-jadinya. haaa sepertinya mulai malam ini Ethan akan benar-benar mengibarkan bendera perang kepada Henry, tidak cukup kah dia membuat Ana gadis kecilnya tergila-gila kepada baj*ingan seperti Henry dan sekarang haruskah juga dia membuat gadis kesayangan nya ini menangis. sembari membuka tutup kaleng soda yang baru saja di ambilnya, Ethan kembali mendekati Ana. mengelus pucuk kepalanya dan tersenyum. "Mau cerita?" dengan sabar Ethan bertanya kepada Ana, Ethan tahu sifat anak itu. jika dia sudah menangis itu berarti sangat melukai dirinya, terakhir Ethan melihat Ana menangis adalah ketika sang kakek dikabarkan meninggal dunia. setelah itu Ana seakan mengeraskan hatinya lebih keras lagi, tidak ada yang bisa menyentuh nya selain Ethan dan tentu saja itu sebelum si baji**an Henry datang ke kehidupan Ana. "Eth," menatap Ana yang sedang bersandar di sandaran kursi, Ethan mendekatkan diri dan memindahkan kepala itu ke bahunya. "yes honey." jawab Ethan lembut. "Ana capek, Ethan capek gak?" tanya Ana spontan. "Ana capek kenapa hemm." Ana menggeleng dengan mata terpejam, "Gak apa-apa Eth, Ana cuman lagi capek," lanjutnya lagi. "Henry mukul Ana?" tanya Ethan yang dibalas gelengan kepala oleh Ana. "Ana lihat hendry sama cewek lain," Ana masih menggeleng. "terus, apa Henry perkosa Ana? bilang sama Ethan, Ana jangan takut." Ana lagi-lagi menggeleng. "terus Ana capek kenapa? Ana tanggung jawab Eth, ingat." Ana mengangguk. "Lalu," Ethan mulai tak sabar dengan jawaban Ana. dia penasaran setengah mati sama tingkah anak satu ini, dia hanya perlu tahu ada apa dan kenapa. karena Ethan menjadi wali Ana selama gadis itu berada di Rusia. dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada gadis ini. "papa, minta Ana pulang." Ethan mengernyit, buat apa pamannya itu meminta Ana pulang. padahal selama ini jangan kan meminta Ana pulang, sekedar menanyakan kabar Ana saja mereka tidak ada menghubungi, "untuk dijodohkan." lanjut Ana lagi. Brakkkk..... Ethan menggebrak meja didepannya membuat Ana yang sedang bersandar disampingnya terlonjak kaget. "Ethan, ishh.... kaget loh." gerutu Ana tak terima. Ana menoleh ke samping, menatap Ethan lekat. tapi ekspresi Ethan tidak dapat terbaca oleh Ana. Ethan tidak tersenyum, tidak marah, bahkan tidak ada rauk kekhawatiran disana. jika saja Ana tidak sengaja melihat tangan Ethan yang mengepal tinjunya kuat sudah dipastikan Ana akan berpikir bahwa Ethan tidak peduli. "Eth, jangan digenggam tangannya. nanti sakit." ucap ana menarik tangan Ethan dan melebar kan tinjunya. Ethan melirik ke Ana, memeluk nya sebentar kemudian menatap Ana serius. "jangan coba-coba kembali ke Indonesia Ana, pria tua bangka itu tidak berhak mengatur hidup kamu. apa lagi sampai ingin menjodohkan kamu." ujarnya. "enggak kok, Ana nemuin Ethan bukan buat minta izin itu." lagi-lagi Ethan mengernyitkan dahi nya karena bingung, jika bukan karena ketakutan itu terus untuk apa lagi?. "Ana mau minta uang, buat jajan." lanjut Ana lagi sembari tersenyum lebar. "soalnya Ana habis ngeluarin banyak uang buat belanja kemarin, sebenarnya bisa aja sih diganti dengan uang dari butik. tapi kan Ethan wali Ana, sudah seharusnya Ana minta uang jajan ke Ethan kan. betul," Ethan nampak mengangguk mengiyakan. "emangnya Henry enggak ngasih Ana uang?" tanya Ethan, awas saja kalo sampai laki-laki itu tidak memberikan kompensasi kepada adiknya, Ethan akan benar-benar membangun peperangan dengan laki-laki itu. toh seperti nya Henry sudah mulai kalah sekarang, buktinya disaat seperti ini pun Ana malah mencari nya bukan Henry lagi seperti yang sudah-sudah. Ethan tertawa kecil mengingat kenyataan bahwa Henry akan kalah darinya, sedangkan ana yang melihat gelagat Ethan hanya bergidik ngeri. "Eth, Ethan gak apa-apakan? enggak lagi kesurupan kan?" tanya Ana takut-takut. "eh enak aja, enggak yah." Ethan menyentil kening Ana pelan, membuat Ana mengusap-usap keningnya pelan, "jadi Henry gak kasih Ana uang?" Ethan kembali bertanya. "Enggak, pria itu pelit. masa Ana dikasih kartu doang," Ana mengeluarkan black credit card yang diberikan Henry untuknya, " Ana enggak dikasih uang sepeser pun, huuu kalo aja Ana tahu itu lebih awal. Ana gak bakalan mau sama pria pelit kayak dia. kan kalo kayak gini gak asik ishh." lanjut Ana, yang sukses membuat Ethan emosi tingkat dewa. "Aaaaannnnnaaaaa..." teriak panjang Ethan geram, dengan muka yang sudah merah padam, Ethan merasa dipermainkan sekarang. apanya yang enggak dikasih uang. kalo Ana mau bahkan pulau pun bisa dibeli dengan kartu itu. melihat Ethan yang sepertinya akan mengamuk, Ana memutuskan untuk kabur dari ruangan itu. menarik tas selempang nya dan bergegas berlari meninggalkan Ethan yang masih merah padam karena kesal. Lah Vio salah apa elah. kan gue gak salah, yang dia tanya kan uang bukan kartu. Ana membatin sembari berlari. sedangkan dibalik pas bunga besar didekat pintu ruang kerja Ethan, terlihat seorang pria tersenyum devil "Uang hemm" Gumamnya. ~~~~~~~~~~~~~~~~~ pagi harinya Ana bangun tepat waktu, gadis itu menggeliat dibalik selimutnya. menarik ponselnya di atas nakas dan melirik sosial medianya sebentar. bibirnya tertarik menampakkan senyum termanisnya, akhirnya setelah beberapa minggu sosial medianya aktif Notifikasi centang biru terlihat juga diujung nama pengguna miliknya. Ana berinisiatif ingin olahraga hari ini, dia memutuskan untuk berlari keliling taman yang ada di mension. menghirup udara segar sembari melihat-lihat para pelayan berkerja sepertinya akan menyenangkan. setelah puas berkeliling taman, Ana kembali ke dalam mension. dari kejauhan Ana bisa melihat kedua tamunya tadi malam sedang duduk di meja makan bersama Ethan, mungkin mereka ingin sarapan pikirnya. Dengan santainya Ana yang masih menggunakan baju seragam futsal milik kakaknya itu mendekati mereka. "Hello guys, good morning." sapa ana kepada mereka yang sedang berperang dingin dimeja makan itu. Ana mengecup pipi Ethan sekilas kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas. sedangkan dimeja makan Henry menatap Ethan sengit, bagaimana bisa Ana mencium pria didepannya ini. "kenapa? Gak terima? cemburu? protes aja Sama Anaknya sana." ucap Ethan enteng, "lagian siapa suruh lo nginap sini? gue pikir Ananya gue datang sendiri taunya ama setan," ejek Ethan dengan senyum yang mengembang karena telah berhasil membuat pria yang digilai Ana ini kalah telak. Henry Hanya mengeram kesal, ingin sekali rasanya Henry menonjok muka pria menyebalkan satu ini. sepertinya dari dulu sampai sekarang pria satu ini tidak ada habis-habisnya mencari gara-gara dengan dirinya. "duh kalian kok tatap-tatapan gitu. lagi acara lomba melotot?" tanya Ana yang baru saja kembali dari dapur, menarik kursi disebelah Ethan dan di depan Doni. "Don, gue minta nomor lo dong." ucap Ana tiba-tiba, yang membuat kedua pria lainnya menatap Ana tak percaya. "Gue minta, soalnya siapa tahu lo lagi libur dan butuh teman jalan. jadi lo bisa ajak gue deh, ngajak gue jalan gak boros loh" ucap ana lagi sembari menyodorkan ponselnya ke doni, "hemm ini isi." Ana menggoyangkan ponselnya ke arah Doni. "ckk ini tu.." "maaf sepertinya kami harus berpamitan sekarang, terimakasih atas jamuannya," Henry berdiri dan menatap Doni tajam kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka. Doni meneguk Saliva nya susah, sekarang Doni hanya pasrah saja akan nasip dirinya setelah ini. haa Nona nya itu benar-benar sesuatu sekarang, karena sesuatu itu Doni akan mendapatkan inbasnya. "loh.. lohh.. ehh bentar, duhh." Ana gelagapan dibuatnya, kalo begini ceritanya hilang sudah rencananya mendapatkan teman jalan setampan Doni. meski tidak setampan Ethan kalo sama Henry siapa tahu, Ana aja lupa tampang Henry gimana. "duh kok ngamuk sih. bentar napa om, biaran Doni nyatet nomor nya sebentar yah.. yah.. yah.." Ana mengeluarkan mata puppy eyes nya, siapa tahu jika begini ini om mata keranjang mau menunggu sebentar pikir Ana. "Maaf nona kami harus pergi, dan yah saya belum sempat memperkenalkan diri tadi malam, kenalkan nama saya Henry Dexter, CEO D'Crop, permisi." Henry meninggalkan Ana yang masih mematung mendengar nama yang dia sebutkan barusan, sedangkan mobil Henry sudah meninggal kan area Mension. "tunggu... tunggu... tadi dia bilang apa? Henry Dexter? Ceo D'Crop? kalo begitu dia! oh my God.." Ana hampir pingsan dibuatnya, untung saja para bodyguard itu cepat menangkap Ana dan membawanya masuk. Sedangkan di dalam mobil, Henry tersenyum puas mengingat mimik muka terkejut yang ana lakukan tadi. -continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN