Satu Minggu telah berlalu, kejadian dimana Henry mengenalkan diri kepada Ana benar-benar menjadi berita heboh di Mension Ethan. Banyak berita simpang siur mengenai Ana dan Henry, dan tentunya mereka menjadi topik gosip hangat diantara pelayan.
Ana baru saja keluar dari lift lantai satu mension, berjalan santai dengan balutan kemeja dan celana dasar yang dia gunakan. Jika itu soal penampilan maka keahlian Ana sebagai Vio jangan diragukan lagi, dia sangat tahu bagaimana caranya memadu padankan style agar tampak modis.
"Ehemm," Ana bedehem setelah lebih dekat dengan para pelayan yang lagi-lagi sedang kepergok menggosipkan dirinya. Terkadang Ana bingung dibuatnya, apa para pelayan ini tidak mempunyai pekerjaan lain selain menggosip.
"Kalian bertiga dipanggil pak Han, sepertinya." Lanjut Ana lagi sembari memberikan senyuman terbaik miliknya.
Ketiga pelayan itu kaget dan segera menundukan kepala. lagi-lagi mereka ketahuan sedang menggosipkan nona muda mereka. Senyum Ana yang diperlihatkannya dengan semanis mungkin malah terlihat mengerikan dimata mereka.
Mereka tahu betul apa yang akan kepala pelayan Han berikan jika mereka mengatakan Ana menyuruh mereka menemui pak Han. Laki-laki lapuk itu akan memberikan tugas membersihkan gudang belakang yang sangat berdebu, kemudian pria tua itu akan berceloteh bagaimana mereka dituntut untuk menulikan telinga dan membutakan mata selama bekerja di mension ini. Apa pun yang dilakukan oleh majikan mereka, mereka dilarang bertanya, mencari tahu, apa lagi berdiskusi alias bergosip seperti sekarang ini.
"Haaa, aku sayang kalian bertiga banyak-banyak. Tapi sayang sekali kalian lagi-lagi dipanggil pak han deh." Celoteh Ana kepada ketiga pelayan itu. memandang mereka satu persatu kemudian memasang ekspresi seperti mengiba kepada ketiga pelayan dihadapannya ini.
"Bye-bye." Ana melambaikan tangannya setelah ketiga pelayan tersebut berlalu. Dia menghela napas pelan, sebenarnya jangankan para pelayan, dirinya saja sangat tidak percaya. Bisa-bisanya dia melupakan wajah Henry dan membawanya ke mension Ethan.
Ana berjalan kemeja makan dan memakan sarapannya. Tidak berselang lama tampak Ethan berjalan mendekati Ana dan mencium pucuk kepalanya.
"Ke butik lagi hemm..?" Ana hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu.
"Eth, Ana ke butiknya bareng Ethan yah. Malas nyetir mobil," ucap Ana dengan senyum andalannya.
"Iya, nanti Ethan antar" jawab Ethan sembari memasukkan potongan roti bakarnya ke mulut.
"Na, Ethan punya kabar gembira." Lanjutnya lagi.
"Apa? Apa Ethan sudah punya pacar?" Tebak Ana dengan mata yang berbinar.
Ethan tersenyum, memandang Ana dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebelumnya Ana selalu berhasil membaca ekspresi seseorang meski dia memiliki mimik muka datar sekalipun, seperti Henry contohnya. Tapi Ethan, Ana sama sekali tidak bisa menebak ekspresi Pria ini.
"Bukan, Ayo tebak lagi." Ana berdecak kesal, menatap malas pria didepannya ini.
"Kau menang give away sultan?" Ethan menggeleng.
"Tebak lagi, tebak lagi."
"Hadehh, terserah deh. Ana menyerah." Pasrah Ana sembari meneguk s**u strawberry kesukaannya.
"Ethan berhasil mengakusisi cabang perusahan kakek yang di Bandung." Senyum manis Ethan mengembang, Dia sangat yakin bahwa Ana akan sangat bahagia mendengarnya.
Sedangkan Ana sendiri malah kebingungan, "Uang dari mana?" Tanya Ana menuntut.
Bukan tampa alasan Ana mempertanyakan itu. pasalnya, selama ini jika ingin mengakusisi salah satu cabang perusahaan tersebut mereka harus benar-benar berkerja keras untuk mendapatkan uang, bekerja lembur dari pagi sampai malam.
Tapi apa sekarang, pria ini dengan mudahnya mengatakan di telah mengakusisi perusahaan cabang bandung. Dilihat dari sisi mana pun ana mencurigai ini.
"Menggunakan black card milik kamu dari Henry." Jawab Ethan enteng.
"Oh my Goddess. Ethan, itu punya Henry bukan punya nya Ana." Baiklah Ana mulai panik sekarang. Bukan karena takut mengembalikan uangnya bukan, tapi Ana takut diintrogasi oleh pria itu dan berakhir dengan pukul-pukulan nantinya.
Ana menghela napas pasrah, "jika nanti Ana diinterogasi Henry, Ana pastikan Ethan yang akan dimutilasi." Ucapan Ana berhasil membuat Ethan bergidik ngeri membayangkan dirinya dimutilasi oleh Henry.
Setelah sarapan yang penuh drama itu selesai. Ethan mengantarkan Ana ke butik, tidak lupa pria itu memastikan gadis itu membawa bekalnya.
Keputusan Ana beberapa waktu lalu untuk tinggal bersamanya Sangat membuat Ethan senang. Pria itu memperlakukan Ana layaknya tuan putri atau lebih tepatnya putri kecil miliknya.
Semua keperluan Ana, Ethan yang mengurusnya dimulai dari apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, jam tidur siang, izin keluar mension, bahkan temannya pun Ethan yang atur. Terkadang Ana cukup merasa jengah dengan sifat overprotektif Ethan, tapi sedetik kemudian Ana kembali menyukainya.
"Jangan lupa nanti bekalnya dimakan, pulang nanti telpon Ethan. Ethan akan jemput ke butik ngerti." Ana menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, kemudian menuruni mobil dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati mengemudinya, Eth." Ana memperingatankan pria itu sekali lagi tentang keselamatan mengemudi. Lama-lama dia bisa berubah menjadi Mala karena terlalu cerewet seperti ini.
Mengingat tentang Mala, Ana jadi rindu, sedang apa gadis itu yah sekarang. Ana mulai melangkahkan kaki memasuki gedung berlantai lima itu, tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya.
Ana mencoba menghubungi Mala, Ana benar-benar merindukan gadis cerewet satu itu, "Hello, siapa yah?" Ucap Ana setelah panggilan itu tersambung.
"........."
"Heheh kan biar keren gitu beb, serasa artis kan lo, gue teleponin mulu." Ana mendudukkan bokongnya di kursi tunggu depan resepsionis.
"........."
"Yee, masih mending gue nelpon, itu berarti gue inget lo markonah,"
".........."
"Lah si Zubaidah, sombong amat."
"......"
"Iya, iya sayangku. I miss you too and ILY." Ana terus berceloteh dengan telponnya, bahkan dia tidak menyadari jika sudah ada pria yang duduk disebelah nya saat ini.
"............"
"Yes honey, bye-bye." Ucap ana mengakhiri sambungan telponnya.
Tepat setelah telpon itu dimatikan suara berat dan tegas berhasil mengagetkan Ana, "Siapa?" Ana menoleh, ternyata Henry sudah berada disampingnya. Sejak kapan?
"Eh si om, sejak kapan disini?" Tanya Ana kikuk. Dia tidak tau harus bagaimana sekarang? Henry benar-benar sesuatu menurut Ana, selain dingin Henry juga bisa menjadi cenayang, see bukankah tiba-tiba Henry sudah berada disebelahnya. itu cukup untuk membuktikan bahwa Henry ada keturunan makhluk halusnya.
"Saya tanya, telpon siapa kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Ana, Henry malah balik bertanya kepada Ana.
"Temen om, iya temen. Nah om sendiri sekarang sedang apa di butik saya yang tidak seberapa ini," Ana tersenyum manis kepada Henry.
"Sa.. saya hanya kebetulan lewat dan ingin berkunjung," jawab Henry gugup, pasalnya senyum Ana terlihat sangat manis sekali sekarang.
"Hummm iyakah, kok Ana mencium bau-bau kebohongan disini." Ucap Ana menunjuk curiga kepada Henry, "tapi terserah om sih mau ngapain, saya mau kerja dulu. Bye om."
Ucap Ana sembari beranjak meninggalkan Henry di ruang tunggu.
"Tunggu," teriak Henry, Ana menulikan pendengarannya, berpura-pura tuli agar terlepas dari om-om mata keranjang satu ini, sepertinya ide yang cemerlang.
"Ana saya bilang stop di sana."Ujar Henry tegas. Langkah Ana terhenti, dengan gerakan kepala patah-patah Ana menoleh lagi kebelakang. Disana terlihat Henry yang berdiri tidak jauh darinya sedang menatap Ana dingin.
"Duhh horor banget lagi, mati aku" gumam Ana kepada dirinya sendiri.
"Kamu menghindari saya?"
Iya, Kenapa? Jauh-jauh sana hush hush. Batin Ana.
"Iya, ehhh... enggak Om. Aduh, enggak om. Mana mungkin saya menghindari Om, Ana kan mencintai Om," Ana yang mendengar ucapan Henry dengan cepat menggeleng, menyangkal apa yang dikatakan Henry. Tapi sedetik kemudian Ana sadar dengan apa yang diucapkannya barusan segera menutup mulut.
"Ma... Maksud saya enggak gitu om. Duh gimana yah? Ehh iya itu karena saya sedang banyak pekerjaan makanya buru-buru pergi," ucap ana lagi mencari alasan.
"Benarkah?" Mata Henry memicing, dia tidak percaya dengan gadisnya ini. Kebohongannya terlalu terlihat jelas, bahkan sangat jelas. Kenapa gadis itu menghindari nya akhir-akhir ini, bahkan dia tidak kembali ke apartemen dan tinggal bersama Ethan.
Apa gadis itu benar sudah tidak mencintai dirinya lagi, sama seperti dengan apa yang Ethan bilang. Jika itu benar, maka itu tidak boleh terjadi sama sekali. Ana, gadis itu tidak boleh berhenti mencintai dirinya.
"Kalo begitu saya akan menemani kamu bekerja." ucap Henry lagi, yang membuat Ana menganga tidak percaya.
"Saya tidak suka ditolak, dan juga sepertinya saya harus bertanya kemana larinya uang milyaran yang baru saja kamu gunakan, Ana."
Ana tidak menjawab, dia hanya menghembuskan napas panjang dengan pelan. Lihat, Henry benar-benar akan menginterogasi nya. Sekarang ana harus jawab apa, apa yang akan dia katakan. Tidak mungkin dia mengatakan membeli sebuah perusahaan kan.
Dengan raut muka yang sudah ditekuk, Ana mempersilahkan Henry untuk mengikutinya. Mereka memasuki lift khusus, yang langsung menuju ke lantai lima.
"Duduklah, apa om mau minum?" Tawar Ana.
"Tidak. Ana, bisakah kamu berhenti memanggil saya Om. Umur saya masih 29 tahun, gunakan panggilan lama mu untuk saya!" Protes Henry pada Ana.
"Lah si om lupa yah, umur saya masih 20 tahun om. Itu artinya panggilan saya benar."
"Sayang." Ana yang baru saja mendudukan diri di kursi kerjanya tersentak kaget. Pria itu bicara apa barusan, sayang. Telinga Ana tidak lagi salah dengar kan? Itu nyatakan.
"Panggil saya sayang, seperti biasanya." Ucap Henry lagi, terdengar seperti perintah.
"Tidak, saya tidak mau." Tolak Ana tegas. Ada apa dengan pria dihadapannya ini sekarang, bukankah selama ini Henry tidak pernah suka dipanggil sayang? Bahkan semenjak Vio menempati raga Ana, baru satu kali bertemu itu pun dalam keadaan Ana tidak mengenali Henry.
"Saya tidak suka penolakan Ana," jawab Henry tegas.
"Hahaha, Kenapa?" Ana tertawa sinis menatap Henry, "bukankah selama ini kamu tidak merespon saya, tuan. Apa karena panggilan itu? Jika soal itu saya bisa merubahnya dengan panggilan formal, tuan Henry." Lanjut Ana lagi.
Henry menatap Ana tajam, kakinya mulai melangkah mendekati Ana. Gadis ini benar-benar berubah terlalu banyak, selain penampilan dewasa dan aura mendominasi nya yang berubah. Sepertinya keberanian nya juga meningkat, Henry tidak akan membiarkan itu. Ana adalah gadisnya, dia tidak mengizinkan Ana lepas dari kendalinya.
Ana menegang, meneguk salivanya kasar,"a... Apa?" Ucap Ana dengan nada terbata karena gugup, "menjauhlah sedikit, kita bicarakan ini baik-baik oke." Lanjutnya lagi. Posisi Henry yang berada tepat di depannya ini, membuat Ana panik setengah mati.
Tapi Henry tidak bergeming, bukannya menjauh Henry malah semakin mendekat kepada Ana. Wajahnya yang berjarak kurang dari lima senti dari wajah Ana, membuat jantungnya berdegup kencang.
"Panggil saya dengan panggilan yang saya mau, maka saya akan membiarkan kamu bekerja. Saya tidak suka penolakan baby, jadi kamu tau harus apa. atau, kamu bisa tetap diam hingga aku selesai mencium bibirmu." Meski Ana sudah memiliki keberanian nya sendiri, tapi tetap saja Henry lebih mendominasi.
"I.. iya, sa.. sayang. Menjauhlah sedikit, saya harus menyelesaikan pekerjaan ini segera." Ucap Ana terbata-bata saking paniknya.
Mendengar itu Henry sangat puas, dia menjauhkan wajahnya kemudian mengelus gemas surai gadis itu,"oke, bekerjalah. Saya akan menunggu." Ucap Henry dengan senyum tipis.
Ana yang baru saja mengalami gangguan jantung karena pria itu mengumpat di dalam hati. Berbagai sumpah serapah dia lontarkan, ini semua karena Ethan. Jika saja pria itu tidak menggunakan uang dari kartu yang diberikan Henry hal ini tidak akan terjadi. Awas saja nanti, Ana benar-benar akan memutilasi kakak sepupunya itu.
-continue-