kesialan Ana

1196 Kata
Malam itu Ana merasakan bosan yang sangat-sangat bosan menerpa nya. hari sudah menunjukan pukul 19.25 p.m jam Rusia. Ana yang sedang berada di balkon kamarnya tersenyum, kepalanya mendongak menatap bintang yang berkelap-kelip di langit. Hembusan angin malam membelai lembut rambut Ana, angin seakan tau Ana merasakan sepi dan berinisiatif untuk menemani malamnya. malam yang sepi dan sunyi seperti ini sangat sempurna untuk menjadi teman dalam melepas beban pikiran seperti saat ini. Ana cukup banyak pikiran akhir-akhir ini, untuk pertama kalinya Ana menyalahkan dirinya karena sosial media yang dibuatnya. bagaimana tidak? dulu ketika Viona masih ditubuh lamanya, sosial media menjadi tempat dirinya mempublikasikan kegiatannya sehari-hari, dan tentu saja itu berpengaruh baik untuknya, serta bisnis kecantikan nya. Tapi sosial media ditubuh Ana malah membawa petaka untuknya, melihat kecantikan Ana beberapa teman bisnis ayahnya tertarik dan berbondong-bondong mengajukan lamaran kerumahnya. Jika saja Ana tidak tergila-gila dengan Henry si makhluk astral itu, pasti hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. sepertinya sekarang Ana mengerti kenapa Ana yang dulu menutup diri dari media swasta maupun media sosial, "Sial." geram Ana. belum juga selesai permasalahan satu, sudah tiba lagi satu masalah lainnya. berbicara tentang Henry sebenarnya ana cukup penasaran dengan wajah pria satu itu, Karena diingatan Ana yang asli wajah Henry tidak jelas sama sekali dan itu membuat jiwa kepo Viona bergejolak. kring...kring...kring... suara ponsel Ana berdering cukup keras, tapi Ana mengabaikan nya begitu saja. memangnya siapa yang bakal menghubunginya malam-malam seperti ini Mala? tidak mungkin, gadis itu tidak pernah mau mengganggu apa lagi diganggu jika tidak terlalu penting. Ethan? Henry? sepertinya semakin mustahil, satu-satunya kemungkinan adalah sang rubah licik Maria yang terus menghubungi nya dengan nomor yang terus berganti setiap saat, karena nomornya selalu Ana blokir. Ponsel Ana terus berdering, dengan malas akhirnya Ana mengangkat telpon itu juga. "yoboseyo," Ana sengaja menggunakan bahasa Korea di awal panggilan, karena itu terdengar estetik menurut Ana. "Na," suara seorang wanita terdengar dari seberang sana. "ck." Ana berdecak jengah, karena seperti tebakannya, yang menelponnya sekarang adalah sang ibu tiri Maria. "mau sampai kapan kamu bertahan di sana Ana? papamu sudah membekukan semua kartu ATM dan kartu kredit kamu, kamu jangan keras kepala deh Ana, kamu mau mati kelaparan di sana?" Ana mendengus tak suka dengan pembicaraan Maria, karena pada dasarnya Ana malas berbicara dengan rubah betina satu ini. "Ana kamu dengerin yah. kalo kamu tidak keras kepala dan mengikuti kemauan papa kamu. mama bisa saja ban.." "bacot banget sih lo, gak usah kebanyakan halu ngurusin hidup gue. sejak kapan lo jadi emak gue, gak usah mimpi. gue bakalan balik kalo gue udah mau meninggoy nanti, biar kalian gak dapet untungnya sama sekali. bilang tu ama laki lo," Ana menjeda ucapan nya dan menarik napas dengan rakus, teriak-teriak juga butuh energi ternyata, "kalo memang mau cepat lebih kaya, suruh aja anak lo yang nikah duluan, baru nyuruh gue. bye" kemudian mematikan sambungan telpon dengan kasar secara sepihak seperti yang biasa Ana lakukan. Apa mereka baru saja ngelawak, membekukan kartu ATM dan kredit Ana. silahkan aja, toh selama ini itu sama sekali tidak berlaku bagi Ana. Ana memiliki penghasilan yang besar dari butiknya, belum lagi tunjangan hidup dari si makhluk astral Henry, Black card tampa limit. Bukankah sebenarnya Ana hidup dengan kata mewah selama ini, tapi sekali lagi Ana tidak pandai bersyukur, yang dia inginkan hanya cinta Henry. tapi itu dulu, sekarang beda lagi ceritanya, mulai sekarang Ana akan memanfaatkan harta Henry sebaik-baiknya. peduli apa dia ama cinta Henry, toh dia bukan Ana kan tapi Viona si muka datar minim ekspresi dengan orang luar, serta si penggila uang. "hahahah uhukk uhukkk uhukkk," Ana terbatuk disela tawa devilnya, mukanya memerah tangannya meraba-raba mencari air. setelah tangannya merasakan gelas air, Ana mengangkat nya dan langsung menyasap air itu sampai tandas. "Gila sakit banget tenggorokan gue, ni tuhan gak ngizinin gue jahat apa gimana sih? gak seneng amat gue ketawa," Ana menggerutu, berjalan menutup pintu balkon dan gorden, Ana berpikir setelah menerima telpon terus menerus dari si rubah Maria. sepertinya Ana harus mengganti no kontak nya, harus! Karena bosan yang tak kunjung hilang, sepertinya Ana memiliki ide cemerlang di otaknya. dengan segera dia memasuki walk-in closet dan berganti pakaian dengan celana hotpants dan baju tie die kaos oversize miliknya, memakai jam tangan rolex mini, satu sen cincin, kalung, dan anting dari berlian yang di desain khusus sesuai keinginannya, rambut dijedai asal dan tak lupa kaca mata hitam dan sandal jepit andalannya. setelah puas dengan penampilannya, Ana turun kebawah mengambil kunci mobil di laci meja dan bergegas menuju parkiran. tujuannya malam ini adalah rumah Ethan, dia ingin berkeluh kesah kepada kakak sepupunya itu. ~~~~~~~` "Sial." amuk ana sembari memukul setir mobilnya, "s**l banget sih gue." Ana turun dari mobil dan membuka kap depan mobilnya. "uhuk uhukk," asap mengepul keluar dari tangki regulator mobilnya, ternyata airnya kosong. Ana memutari mobil dan membuka bagasi belakang, siapa tahu ada air mineral yang tertinggal ketika dia dan bi mona berbelanja kemarin, tapi hasilnya nihil. Ana menoleh ke kiri dan kanan, melihat-lihat siapa tau ada yang bisa dimintai pertolongan. tapi setelah menunggu beberapa menit pun tampaknya tidak ada satu pun yang peduli pada Ana. setelah tiga puluh menit menunggu Ana melihat satu kendaraan mendekat ke arah mobilnya, Ana menaikkan kacamatanya ke atas kepala lalu dengan sigap dia berdiri dipinggir jalan sembari merentangkan tangan kanannya kedepan dengan jempol yang mengacung. sekarang Ana akan mencari tumpangan saja, jika dia terus menunggu seseorang untuk membantunya memperbaiki mobil ini bisa sampai besok dia terjebak disini. Jika kalian pikir Ana ahli dalam mencari tumpangan, maka jawabannya adalah iya. bukan karena Ana sering mencari tumpangan, tapi karena Ana kebanyakan menonton FTV Indonesia, yang membuatnya belajar berbagai macam hal seperti mendapatkan tumpangan ini misalnya. Melihat Ana yang berada dipinggir jalan dengan tangan yang didepan, mobil tersebut berhenti kemudian sang sopir membuka kaca mobilnya, "mobilnya kenapa nona?" tanya sang sopir. "Uhmm air regulator nya habis, kabelnya ada yang kebakar sepertinya. butuh waktu cukup lama buat memperbaiki nya, Karena sudah malam saya tidak mungkin memanggil montir sekarang. apa saya boleh menumpang tuan? rumah kakak saya tidak jauh dari sini." ucap Ana menjelaskan. "ya sudah Masuklah ke mobil, saya antar." Ana mengangguk, tadinya sang sopir meminta Ana untuk duduk dibelakang saja. tapi setelah melihat pria lain yang duduk dibelakang ana mengurungkan niatnya untuk duduk dibelakang. dia memutari mobil dan berakhir di kursi depan seperti sekarang ini. "Terimakasih, maaf merepotkan Anda." ucap Ana sembari menundukkan sedikit ke depan. "kenapa ke depan Nona," tanya pria itu. "hehehe maaf, tapi saya lebih nyaman berada di kursi depan. tidak mengapa kan?" tanya Ana hati-hati sembari nyengir kuda. "iya, terserah Nona saja. asal nona nyaman," Ana mengangguk mengiyakan ,"ahh nama gue Fayana, panggil aja gue Ana. duh sorry ni jadi gak formal. tapi kek nya umur lo belum tua-tua amat kok. sebaya abang gue kek nya." ucap Ana sembari mengulurkan tangannya. "Ahh iya Gue Doni, asal Indonesia." Doni membalas jabatanan tangan Ana. "keliatan dari logat nya, gue juga asa Indonesia. makanya gue berani non formal ama lo," ana tersenyum, sedangkan doni masih fokus menyetir sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan Ana. Sedangkan seseorang yang berada di kursi belakang, sedang menahan amarahnya melihat antraksi antara Ana dan Doni. Setelah ini bonus lo gue potong, dan jatah libur lo tidak akan ada tahun ini. batinnya. -continue-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN