bc

Cinta Terlarang di Tanah Jajahan

book_age18+
4
IKUTI
1K
BACA
dark
forbidden
BE
family
fated
badboy
blue collar
tragedy
sweet
bxg
bold
soldier
campus
small town
enimies to lovers
war
love at the first sight
wild
like
intro-logo
Uraian

“Nara-chan... kau bilang ingin melihat bunga itu mekar, bukan?”

Senara mengangguk pelan. Di tangan Renji, bunga liar Kalimantan yang ia petikkan untuknya dulu... sudah mengering.

“Bila semua ini berakhir... aku akan tanam yang baru. Untukmu.”

***

Saat penjajah Jepang menebar teror dan darah di tanah Mandor, seorang gadis relawan bernama Senara, berdarah Melayu-Dayak, secara tak sengaja menyelamatkan seorang tentara musuh. Renji Takeyama— perwira muda Jepang yang tak lagi yakin pada perang yang ia jalani.

Dari luka yang dirawat, tumbuh cinta yang tak diizinkan. Dari senyum yang dirahasiakan, tumbuh harapan yang harus disembunyikan.

Tapi ketika saudara lelaki Senara dibantai dalam tragedi Mandor, dan Renji sendiri yang dipaksa mengeksekusi, cinta mereka diuji di antara laras senapan dan darah bangsa.

Ini adalah kisah tentang keberanian mencintai musuh, pilihan-pilihan tak manusiawi, dan bagaimana sebuah kisah bisa bertahan hidup dalam kenangan cicit yang mencoba memahami masa lalu. Dari seorang wanita tua yang nyaris dilupakan sejarah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Gadis dan Tentara Dari Dua Dunia
Awal tahun 1944 – Ninti, sebuah desa di pedalaman Kalimantan Barat. Seorang gadis berlari di tengah hujan, darah di ujung jari, dan suara tembakan di kejauhan. "Nara!" Suara itu menerobos derasnya hujan. Senara menoleh cepat. Nafasnya berat, tubuhnya dingin dan basah kuyup. Jejak lumpur menodai kain bajunya yang setengah robek. Matanya menatap panik ke belakang, ke arah suara kakak lelakinya. "Jangan ke sana! Masih bahaya!" seru Muzaffar, matanya liar menyapu sekeliling, senapan kayu tergantung di bahu. "Kau bisa terbunuh!" "Masih ada yang terluka, Bang! Aku cuma mau—" "Kau sudah lihat sendiri apa yang mereka lakukan! Mereka tembak siapa saja yang mendekat!" sergah Muzaffar, menggenggam lengan adiknya erat. Tapi Senara hanya menggigit bibirnya, menunduk sebentar. "Aku janji akan hati-hati... sungguh. Aku tak bisa diam di rumah saat tahu ada orang sekarat di luar sana." Muzaffar menatap mata adiknya dalam-dalam. Ada keras kepala yang familiar seperti dia. Akhirnya ia melepaskan pegangan itu. "Kau tetap di batas sini. Jangan masuk ke jalur utama. Dengarkan aku, Nara. Aku tak akan maafkan diriku kalau kau..." Senara mengangguk cepat. Bibirnya bergetar menahan dingin. Hujan masih menari di sekeliling mereka. Dan detik berikutnya, Muzaffar kembali berlari, membawa kelompok kecil warga yang bersenjata seadanya. Senara bersembunyi di balik batang pohon besar, napasnya mengendap. Ia menunggu sampai benar-benar yakin tidak ada suara tembakan lagi. Baru setelah itu ia melangkah, diam-diam menyusuri jalur becek menuju perbatasan desa. Mayat berserakan. Suara ringkih dari para yang sekarat membuat langkahnya makin cepat. Tangan Senara gemetar ketika ia mengangkat kepala seorang lelaki tua yang berlumuran darah, memberinya air, lalu menutup matanya saat ia berhenti bernapas. Di sekelilingnya, aroma besi dan tanah basah membaur dengan darah dan kabut. Senara terus menyusuri tepian hutan. Langkahnya membawa ke rerumputan tinggi yang mengarah ke jurang kecil. Di sana, di bawah naungan pohon besar, ia melihat sosok bersandar—terluka parah, seragamnya kotor dan basah. Merah-putih dari lambang Matahari Terbit masih tergantung lemas di lengannya. Tentara Jepang. Senara membeku. Detik itu juga, ia refleks mundur. Tapi tubuh di depannya bergerak. Perlahan, kepala itu menoleh, dan mata tajam penuh kecurigaan menatapnya balik. Dalam satu gerakan pelan, Renji—tentara jepang itu—mengangkat tangannya yang bergetar. Memegang pistol kecil, lurus ke arahnya. Senara mematung. Gemetar. Ia tak bisa bersuara. Renji terlihat lemah. Nafasnya terengah, dan luka di perutnya terbuka lebar. Pistol itu tetap terangkat, tapi cengkeramannya rapuh. Lalu, sebuah jeritan pelan lolos dari bibirnya. Ia merintih, tangannya turun, dan pistol itu jatuh ke tanah. Senara tetap berdiri di tempatnya. Tapi di balik rasa gemetar, ia melihat sesuatu di mata lelaki itu. Bukan kebencian, bukan arogansi. Tapi sejenis... ketakutan? Dan wajah itu—meski tertutup kotoran dan darah—tidak menyeramkan. Ada garis rahang yang tegas, alis hitam yang basah oleh keringat, dan tatapan yang kehilangan arah. Renji memejamkan mata. Mungkin menyerah. Mungkin pasrah. Senara menelan ludah. Ia tahu, jika ini diketahui warga, ia bisa dianggap pengkhianat. Tapi hatinya terlalu keras untuk membiarkan siapa pun mati begitu saja. Bahkan musuh. Ia mendekat. "Diam saja. Aku cuma mau bantu," bisiknya pelan. "Kalau kau bersuara, mereka akan tahu. Mereka akan membunuhmu." Renji membuka mata. Terkejut. Tapi tidak melawan. Senara mengeluarkan botol kecil dari kantong bajunya, bersama kain bersih dan balutan obat sederhana. Tangannya tetap gemetar saat menyentuh kulit lelaki itu. Hangat. Lembap oleh darah dan keringat. Detak jantungnya cepat. Ia menyeka luka di pahanya lebih dulu, membersihkannya dengan hati-hati. Renji meringis, tapi tak berkata apa-apa. "Jangan bersuara. Semakin diam, semakin aman untukmu... dan aku." Tangannya bergerak ke luka di perut. Dalam sekali. Senara harus menarik napas panjang sebelum menekan pelan, membersihkan, lalu membalut. Ia tak berani memandang wajah lelaki itu, tapi sesekali ia merasa... ditatap. Dan Renji memang menatap. Gadis itu... berbeda. Kulitnya cerah manis, rambutnya menempel di pipi karena hujan, matanya besar dan tajam. Tangan-tangannya gemetar, tapi tidak goyah. Kenapa dia menolongnya? Kenapa dia tidak takut? "Kau akan mati kalau bergerak," kata Senara, pelan, nyaris tak terdengar. "Jangan ke mana-mana. Warga desa masih patroli." Ia selesai membalut. Lalu merapikan alat-alatnya, berdiri, dan menatap lelaki itu sebentar. Detik itu, mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang diam di antara mereka. Bukan kasih. Bukan kebencian. Tapi rasa aneh yang belum sempat diberi nama. "Aku akan kembali. Malam nanti. Kalau kau masih hidup." Ia berbalik. Dan berjalan cepat menjauh, tak berani melihat ke belakang. Tapi jantungnya berdetak begitu keras. Karena kini... ia menolong seseorang yang bisa saja mengakhiri hidupnya. Tapi untungnya tidak. Dan Renji, di balik rasa sakit yang menghantam seperti gelombang, hanya bisa memandangi punggung itu menghilang di balik hujan dan rerumputan tinggi. Pemuda itu memejamkan mata. Dan menyadari, ia baru saja diselamatkan oleh seorang gadis yang seharusnya membenci orang seperti dia. --- Pontianak, 2015 “Lalu? Apa yang terjadi setelah itu, Obaa-chan?” Suara Zalya memecah keheningan sore. Senara menurunkan pandangannya dari jendela. Langit di luar mulai mendung, seperti ikut membuka pintu kenangan lama. Tangannya mengusap pelan bingkai foto tua di pangkuannya. Foto hitam putih yang warnanya mulai pudar, namun tetap menyimpan sesuatu yang hangat di dalamnya. Dalam foto itu, seorang pria muda tampan berseragam tentara Jepang berdiri kaku, dengan mata teduh seakan menyimpan rahasia yang tak sempat selesai dituturkan. “Setelah itu,” gumam Senara, suaranya pelan, “aku kembali malam harinya. Seperti yang kujanjikan.” Zalya mencondongkan tubuh, mata cokelatnya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Terus… waktu Obaa-chan kembali, Ojii-chan Renji masih ada di sana kan?” Senara tidak langsung menjawab. Ia menatap cicit perempuannya lekat-lekat. Seorang gadis remaja yang sejak kecil begitu penasaran pada kisah cinta dan perang yang dulu hanya jadi bisik-bisik di dalam keluarga mereka. Bagi Zalya, lelaki dalam foto itu bukan hanya tokoh sejarah. Ia adalah Ojii-chan—panggilan Jepang yang turun dari generasi ke generasi untuk mengenang sosok kakek yang tak pernah sempat ia temui. Senara menghela napas panjang, seolah hendak menyelami kembali masa lalu yang sudah lama ia simpan rapat. Kini ia terlihat mengangguk sambil tersenyum. “Saat itu... aku tak tahu kalau hidupku akan berubah selamanya.” Langit bergemuruh. Aroma tanah basah menguar dari luar rumah. Hujan, luka, dan pandangan mata asing itu kembali berputar dalam ingatannya. Dan cerita pun dimulai lagi dari awal.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook