Tempat Teraman Di Tengah Bahaya

1179 Kata
Begitu sampai di luar, angin malam menghantam wajah mereka. Suara jangkrik menyambut dari segala arah. Renji membawa Senara menyusuri lorong kayu di belakang barak. Setiap langkah mereka seperti mencuri waktu dari maut. Sampai di kamarnya, Renji menurunkan Senara pelan. Tubuh perempuan itu mulai gemetar hebat. Tangannya menutup wajah, dan suara tangis akhirnya pecah dari sela-sela jemari. Bukan tangis kencang, tapi rapuh. Seperti tubuh yang akhirnya menyerah. Renji berlutut di depannya. Tak berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Senara pelan. Menyandarkan kepala gadis itu ke dadanya, membungkus tubuh Senara erat-erat. Mendekapnya seperti mencoba menahan dunia agar tidak runtuh. Sekaligus menahan kepingan jiwanya sendiri yang baru saja hancur di hadapan kekejaman kakaknya. Tangan Renji menyentuh rambut Senara yang kusut. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk menyatakan permintaan maaf karena telah gagal melindungi gadis itu. Malam itu, di tengah kegelapan barak militer yang sunyi, Renji seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya untuk menenangkan trauma yang baru saja menimpa mereka berdua. Malam menjadi saksi. Di mana untuk pertama kalinya, Renji benar-benar merasa kotor memakai seragam yang ia kenakan. Perlahan, isakan Senara mereda. Getaran di tubuhnya tidak lagi sekuat tadi. Ia tidak membalas pelukan Renji, namun juga tidak menolak. Hanya bersandar, seolah mencari jangkar di tengah badai yang melanda. Pelukan Renji adalah satu-satunya tempat yang tidak terasa memuakkan malam ini. Keheningan itu penuh dengan trauma, pengakuan tanpa suara, dan janji tak terucap. Senara tertidur dalam pelukan Renji, bukan karena rasa aman, melainkan karena kelelahan luar biasa yang menguras seluruh tenaganya. Renji tetap terjaga, mendekapnya, mendengarkan setiap napas Senara yang teratur, dan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh gadis ini lagi. *** Fajar menyingsing, membawa cahaya tipis yang menyusup lewat celah dinding barak. Renji terbangun lebih dulu. Ia melonggarkan pelukannya, memastikan Senara masih terlelap. Wajah gadis itu masih terlihat lelah, namun napasnya sudah tenang. Renji bangkit perlahan, melangkah tanpa suara ke sudut ruangan, mengambil handuk basah dan membersihkan wajahnya. Tugas memanggil. Ia harus pergi. Renji menatap Senara yang masih tidur. Ia tidak bisa meninggalkannya sendirian di sini terlalu lama. Risiko bahaya terlalu besar. Ia harus menemukan cara untuk membawanya keluar dari barak ini sesegera mungkin. Pemuda itu mengambil beberapa potong roti kering dan sebotol air dari ransel, meletakkannya di samping Senara. “Aku akan kembali,” bisiknya pelan, seolah berjanji pada dirinya sendiri. Renji keluar dari kamar, mengunci pintu dari luar. Ia tahu ini gila, namun tak ada pilihan lain. Di kampung, Muzaffar terbangun dengan firasat buruk. Senara tidak ada di tempat tidurnya. Ia segera berlari keluar, panik memanggil nama adiknya. Warga yang baru bangun menatapnya bingung. Kabar hilangnya Senara menyebar cepat, dan ketakutan menyelimuti kampung. Beberapa wanita muda sudah hilang dalam beberapa minggu terakhir. Muzaffar segera memimpin beberapa pemuda bersenjata seadanya. Mereka menyisir hutan, mengikuti jejak sepatu bot tentara yang samar. Kemarahan membakar d**a Muzaffar saat ia menyadari jejak itu menuju ke arah markas Jepang. Ia tahu mustahil bagi mereka, para petani dan pemburu ini, untuk menerobos sarang singa itu. Mereka mengamati perimeter markas dari jauh, menyaksikan patroli ketat dan kawat berduri. Harapan mereka menciut. Muzaffar dan para pemuda mencari selama berhari-hari, hingga kelelahan menguasai mereka. Mereka kembali ke kampung dengan tangan kosong, hati hancur. Para tetua kampung, dengan bijaksana dan penuh kepedihan, menasihati Muzaffar untuk menerima. “Zaffar, kita sudah berusaha. Kita tidak bisa mempertaruhkan nyawa seluruh kampung untuk sesuatu yang… yang mungkin sudah terlambat.” Kata-kata itu menghantam Muzaffar. Ia menolak mempercayainya, namun kenyataan pahit itu mulai merayap. Ia hanya bisa berdoa, dan berharap, keajaiban akan terjadi. Namun, di dalam hatinya, ia mulai mengubur harapan. Di barak, tekanan dari Souta memang tidak pernah mereda. Ia adalah perwira yang kejam dan licik, dan ia tidak akan pernah melepaskan apa yang ia anggap miliknya begitu saja. Bagi Souta, Senara hanyalah ‘barang’ yang bisa digunakan untuk memuaskan nafsu dan menunjukkan kekuasaan. Ancaman “mengembalikan dia kepadamu dalam bentuk yang jauh lebih rusak” bukan hanya gertakan, melainkan janji yang akan ia tepati. Souta mencurigai Renji. Ia tahu adiknya terlalu “lunak”, terlalu “manusiawi” untuk standar mereka. Ia menganggapnya sebagai tantangan, sebuah permainan kucing-kucingan. Setiap hari, Souta mengamati Renji, mencari tanda-tanda kebohongan, bahkan mengirim Kopral Tanaka untuk "memata-matai". “Bagaimana gadis itu, Shōi Renji?” Souta bertanya dengan senyum sinis saat mereka makan malam. “Sudah kau jinakkan?” Renji membalas dengan tatapan datar. “Dia… butuh waktu, Nii-san. Gadis kampung memang keras kepala.” “Aku harap kau tidak mengecewakanku, Renji. Aku tidak suka jika ‘hadiahku’ tidak dihargai.” Ada nada ancaman jelas. Renji tahu ia tidak bisa berlama-lama. Setiap hari yang dilewati Senara di dalam barak adalah risiko yang semakin besar. Souta bisa datang kapan saja untuk “memeriksa”, atau bahkan mengirim prajurit lain. Renji harus bertindak cepat. Hari-hari berikutnya terasa seperti neraka bagi Senara. Terkurung di kamar kecil Renji, ia merasa seperti burung dalam sangkar, dihantui ketakutan dan trauma. Setiap suara langkah kaki di luar membuat jantungnya berdebar kencang. Ia makan dan minum seadanya, selalu waspada. Namun, Renji selalu kembali. Di sela-sela tugas, ia membawakan makanan, air bersih, dan obat untuk luka-luka Senara. Renji tak pernah memaksanya bicara, ia hanya ada di sana, menjaga. Awalnya, Senara hanya menjawab seperlunya, dengan mata penuh kecurigaan. Seiring waktu, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Renji tak pernah menyentuhnya dengan cara tidak pantas. Ia selalu menjaga jarak, namun tatapannya penuh perhatian. Senara melihat kejujuran di mata Renji, bukan lagi perwira yang dingin, melainkan pemuda yang terluka, ingin menebus kesalahannya. Di balik seragam itu, Renji adalah manusia yang sama, yang pernah ia tolong di tepi jurang. Sedikit demi sedikit, dinding pertahanan Senara runtuh. Malam-malam Renji habiskan di kamar itu, bukan sebagai perwira, melainkan penjaga. Ia duduk di sudut ruangan, hanya ditemani cahaya lampu minyak, kadang membaca buku, kadang menatap ke luar jendela. Senara mengamati diam-diam, melihat ketenangan dan kesedihan di wajah Renji. Suatu malam, Senara memecah keheningan. “Kau... kau tidak seperti mereka.” Renji menoleh. “Siapa?” “Prajurit lain. Kakakmu.” Senara bergidik. “Kenapa kau berbeda?” Renji menghela napas. “Tidak semua orang lahir untuk menjadi monster, Nara-chan. Beberapa dari kami... kami hanya prajurit. Bukan pembantai.” Suaranya getir. “Kami di sini untuk tugas. Bukan untuk kebiadaban.” “Tapi kau juga bagian dari mereka.” “Aku tahu. Dan itu beban yang harus kubawa.” Renji menatap tangannya. “Aku tidak bangga dengan banyak hal yang terjadi di sini. Tapi aku punya tugas, dan… aku harus bertahan.” Keheningan kembali menyelimuti, kini diisi pemahaman yang lebih dalam. Senara mulai melihat Renji sebagai individu, manusia yang juga terperangkap dalam kekejaman perang. Ada rasa kasihan, bercampur kekaguman akan keberanian Renji. Senara bergumam pelan. “Bang Zaffar... dia pasti mencariku. Dia pasti tahu aku diculik.” “Aku tahu. Aku melihat beberapa patroli warga di dekat perimeter. Mereka masih mencari. Tapi mereka tidak bisa mendekat ke barak.” Senara menggigit bibir. Air menggenang di pelupuk matanya. Renji menghela napas. “Aku tidak bisa menahanmu di sini selamanya. Terlalu berbahaya.” “Lalu?” “Aku sedang mencari cara. Aku akan membawamu keluar dari sini. Kembali ke tempatmu.” Senara menatapnya. “Bagaimana caranya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN