Nara-chan

1162 Kata
Renji membuka mata, baru sadar bahwa ia mencengkeramnya. Ia melepas cepat-cepat, matanya penuh permintaan maaf. Tapi Senara tetap duduk di tempat, tak lari, tak menjauh. Ia hanya mengelus pelan punggung tangannya yang mungkin terasa sakit. “Kalau kau mati... aku akan jadi orang bodoh yang merawat musuh yang tak selamat,” gumamnya, mencoba bercanda, walau matanya tetap cemas. Renji justru tersenyum samar. “Bukan... musuh,” katanya pelan. Senara mendongak. “Apa?” Renji menatap matanya dalam-dalam. “Kau... penyelamatku.” Suasana menjadi sunyi. Hutan di sekeliling mereka hanya diisi suara serangga malam dan gemerisik dedaunan. Tapi di antara dua orang dari bangsa berbeda itu... ada sesuatu yang tumbuh diam-diam. Sebuah pengakuan tanpa suara. Senara menyodorkan makanan. “Makanlah. Kalau kau kuat... aku akan bantu cari jalan ke tempat lebih aman.” Renji mengangguk. Ia makan perlahan, hanya beberapa suap, tapi cukup untuk memberinya tenaga. Setelahnya, Senara menyandarkan tubuh ke pohon, duduk di sampingnya. Ia tahu tak mungkin kembali ke rumah malam ini tanpa menimbulkan kecurigaan. “Aku akan berjaga sebentar. Kalau ada yang datang... aku akan dengar lebih dulu.” Renji melirik pelan ke arah gadis itu. Wajahnya basah karena hujan yang belum benar-benar kering. Tapi matanya... menyala dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. “Kau... baik sekali,” gumamnya. Senara menoleh, lalu mengangkat bahu. “Kau bilang tadi... aku penyelamatmu. Mungkin itu cukup untuk satu malam ini.” Hening sebentar. Lalu Renji berkata pelan, nyaris seperti bisikan dari balik demam. “Nara-chan...” Senara menoleh cepat. “Apa tadi... kau—?” Tapi Renji sudah menutup mata. Bibirnya masih sedikit terbuka, seperti mengulang nama itu. Kali ini dengan embusan napas terakhir sebelum tertidur. Senara memandangi wajah itu cukup lama. Tak ada lagi garis kasar atau simbol tentara. Yang tersisa hanya wajah muda, damai... dan sepasang alis yang tampak sama letih dengan dirinya sendiri. Dan ia tersenyum. Tipis. “Nara-chan, ya...” gumamnya. “Kau bahkan belum tahu siapa aku...” Tapi ia tak membantahnya. Malam itu, Senara duduk diam di samping lelaki yang seharusnya ia benci. Di antara dua dunia yang saling menumpahkan darah, ada sepasang manusia muda yang mulai memahami satu sama lain. Lewat luka, keheningan, dan nama yang diucap dengan pelan. Nama yang akan tertinggal jauh di dalam hati mereka masing-masing. Ia sempat tertidur di antara gemerisik hutan dan nafas pelan Renji, lalu pulang menjelang subuh saat langit belum sepenuhnya terang. --- “Jadi... dia yang pertama memanggil Obaa-chan dengan sebutan ‘Nara-chan’?” Zalya bersandar di kursi, senyumnya nakal. Senara hanya tersenyum samar. “Bukan cuma pertama, Sayang... Tapi satu-satunya.” Zalya terdiam. Ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Antara haru, penasaran, dan rasa hangat yang perlahan menyelinap di dadanya. Ia menunduk menatap jemarinya sendiri. Lalu mendongak lagi, menatap wajah eyangnya—yang kini tampak lebih muda dalam balutan cahaya senja. “Lalu apa yang terjadi setelah itu?” tanyanya pelan. Senara tak langsung menjawab. Ia menoleh ke jendela, menatap langit Pontianak yang mulai gelap. “Kami tidak bisa tetap di sana. Ia harus berpindah. Malam berikutnya... aku membawa dia pergi dari sana.” *** Keesokan malam, dengan bantuan Senara yang setengah menyeret, setengah memapah, Renji dipindahkan ke gubuk kecil di tepi sungai. Tempat itu tersembunyi, jauh dari jalur patroli, dan cukup teduh untuk menyembunyikan jejak. Hari-hari berikutnya berlalu dalam ritme yang tak terduga. Senara datang tiap pagi, membawa air, makanan, dan bahan pembalut luka. Ia tidak banyak bicara, dan Renji pun sama. Tapi justru dalam diam itulah, mereka mulai saling membaca satu sama lain. Pada hari keempat, Renji sudah bisa duduk sendiri. Kain putih membalut perutnya, dan senyum tipis muncul untuk pertama kalinya saat Senara datang membawa ubi rebus dan dua potong ikan asap. “Kau memasak?” “Lebih tepatnya… menyelamatkan dari bau hangus,” ujar Senara datar, tapi ujung bibirnya naik sedikit. Renji tertawa kecil. “Rasanya lebih enak dari makanan markas.” “Karena dimasak oleh orang yang nyaris membunuhmu?” “Justru karena itu. Ada rasa dendam di bumbunya.” Senara ikut tertawa. Lalu diam lagi. Tapi kini keheningan di antara mereka tidak lagi kaku. Di hari keenam, Renji menatap bintang dari celah atap gubuk. Suara sungai mengalir di dekat mereka. Senara duduk di ambang pintu, menatap jauh ke arah hutan. “Apa kau punya keluarga, Nara-chan?” tanya Renji. Senara mengangguk. “Abang. Namanya Muzaffar. Dia pemimpin regu warga. Satu-satunya keluargaku yang tersisa.” “Dia benci Jepang?” “Dia benci perang.” Renji diam. Matanya tak lepas dari siluet Senara. “Kau?” tanya Senara. “Kenapa kau ikut perang ini?” Renji tak langsung menjawab. Butuh waktu lama sebelum ia berkata pelan, “Karena aku tak tahu pilihan lain. Jepang bilang aku harus. Jika tak ikut, aku tak disebut laki-laki.” Renji menatap langit. “Aku anak kedua. Kakakku sudah lebih dulu di medan perang dan Ibu menangis setiap malam... jadi aku pergi.” Senara mendengarkan. Diam. Renji melanjutkan, “Kupikir aku akan bangga. Namun begitu aku lihat mayat anak kecil... aku ingin pulang. Tapi tidak bisa.” Tangannya mengepal erat. Seolah menggenggam sesuatu di sana. Senara tak tahu harus berkata apa. Tapi tiba-tiba ia sadar... pemuda ini bukan monster. Ia hanya salah satu dari mereka yang tersesat di jalan penuh darah. “Kau bisa pulang sekarang,” gumamnya. “Lewat jalan lain.” Renji menggeleng. “Aku tidak tahu jalannya. Dan aku tak yakin... apakah aku ingin pulang.” Senara menatapnya. “Kalau begitu, kau harus tetap hidup dulu. Itu tugasmu.” Renji menoleh, menatap gadis itu dengan cara yang berbeda kali ini. Ada kekaguman yang malu-malu. Ada rasa terima kasih yang tak sempat diucapkan dengan kata-kata. “Kau masih percaya pada perang ini?” tanya Senara lagi. “Tidak tahu lagi. Tapi saat melihatmu pertama kali... semua doktrin yang pernah aku hafal jadi kosong. Kau bukan musuh. Tapi... orang yang menyelamatkanku.” Senara memejamkan mata. Dadanya sesak. Ada sesuatu dalam suara Renji malam itu yang membuat hatinya... nyeri. Pada pagi kesepuluh, saat Senara datang lebih awal, ia menemukan Renji berdiri lemah di pinggir gubuk, menatap matahari yang baru naik. “Kau membaik.” “Berkatmu.” Senara tersenyum. Tapi hatinya tak tenang. “Kau harus pergi. Mereka mulai curiga. Abangku... sudah mulai tanya-tanya kenapa aku sering pergi sendiri.” Renji menunduk. Ia tahu waktunya hampir habis. “Aku akan pergi malam ini. Tapi sebelum itu...” Ia berjalan pelan ke arah Senara. Lalu menyelipkan sesuatu di tangannya. Sebuah bunga kecil. Bunga liar Kalimantan yang tumbuh di pinggir sungai. Tangkainya masih basah. “Aku tahu kau suka bunga ini. Aku lihat kau memungutnya hari pertama kita pindah ke sini.” Senara menatap bunga itu. Lalu ke wajah Renji. Detik itu... waktu seakan berhenti. “Terima kasih… untuk segalanya.” “Kau akan kembali?” tanya Senara. Renji menatap matanya. Dalam. “Kalau aku masih hidup... aku akan kembali. Demi bunga ini. Atau demi seseorang yang menyukainya.” Wajah Senara memerah dan pipinya memanas. Kali ini, ia sampai tak berani menatap wajah tampan Renji terlalu lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN