Bab 09

1958 Kata
Naya membuka mata dan mengedarkan pandang. Ia melihat cahaya matahari yang menembus masuk melalui jendela kaca kamarnya. Tidak terasa ternyata hari sudah pagi. Semalam Naya ketiduran karena ketakutan. Air mata gadis itu tiba-tiba menetes mengingat kejadian semalam. Di saat ia ketakutan, ia sama sekali tidak punya seseorang untuk meminta bantuan. Sekarang Naya merasakan bagaimana rasanya hidup sebatang kara. Selama ini ia masih punya Mbok Arum, orang yang Naya anggap keluarga dan selalu menjadi temannya di kala sepi. Namun, kini ia tidak bisa bertemu Mbok Arum lagi dan meminta bantuannya. Naya benar-benar sendiri. "Naya takut, Mah," lirih gadis itu, berharap mamanya ada di sini sekarang dan menenangkannya. Selama ini tidak ada yang tahu jika Naya mendapatkan teror dari orang misterius. Gadis itu sudah mengalami hal tersebut semenjak dirinya kelas tiga SMA. Naya tidak mengerti dari mana orang misterius itu bisa mendapatkan nomornya. Padahal ia sudah sering mengganti nomor. Naya juga sering memblokir nomor orang misterius itu berkali-kali. Tapi dia selalu bisa menghubungi Naya dengan nomor baru. Tiba-tiba saja Naya teringat dengan Nathan. Semalam ia ketiduran, lalu siapa yang membukan pintu untuk cowok itu. Naya bangkit dari ranjangnya lalu mengecek keluar dan tidak menemukan mobil Nathan. Naya juga mengecek handphone, sama sekali tidak ada riwayat panggilan dari cowok itu. "Sepertinya dia tidak pulang semalam," lirih Naya. *** Naya berjalan terburu-buru karena Maudy kini sedang menunggunya di perpustakaan. Langkah gadis dengan rambut sepundak itu terpaksa berhenti karen tiga orang cewek menghadangnya. Dia adalah Bianca dan gengnya. "Buru-buru banget. Main dulu, yuk," ajak Bianca. Naya menggeleng. "Tarik dia," perintah Bianca pada Aurora dan Cindy. Naya langsung lari sebelum Aurora dan Cindy menarik tangannya. Gadis itu berlari sekencang mungkin, ia tidak akan membiarkan dirinya ditindas lagi kali ini. Namun, sialnya Bianca dan teman-temannya juga mengejar Naya. Naya berlari keluar dari fakultas ekonomi. Dia menoleh ke belakang. Bianca dan rombongannya ternyata masih mengejar Naya. Bruk! "Aduh!" Naya tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf, Kak," tutur Naya pada Sasha, orang yang ia tabrak. "Lo kenapa lari, kayak ketakutan gitu?" tanya Sasha. "Mau ke mana lo? Ikut kita!" seru Bianca yang sudah ada di dekat Naya. Ia memegang tas gadis itu. "Oh, jadi lo yang bikin dia ketakutan? Gak kapok-kapoknya ya lo buli orang!" cibir Sasha. "Gak usah ikut campur lo. Jangan mentang-mentang lo sahabatnya Nathan lalu gue takut sama lo," sahut Bianca. Gadis itu menarik Naya. Namun, Sasha memegang tangan Naya, tidak membiarkan gadis itu dibawa pergi oleh Bianca. "Mending lo lepasin dia," ancam Bianca. "Kalau gue gak mau?" Bianca mendengus kesal. Dia melepaskan Naya lalu menjambak rambut Sasha. Sasha yang tidak terima lalu membalasnya. Hingga akhirnya kedua gadis itu saling jambak-jambakan dan mengundang perhatian semua orang, mereka berkerumun dan menonton pertengkaran itu. Naya hendak membantu Sasha, tetapi Aurora dan Cindy menahannya. "Berhenti!" teriak seseorang. Bianca langsung melepas rambut Sasha saat sadar bahwa itu adalah suara Nathan. Aurora dan Cindy juga langsung melepas tangan Naya. Dan benar saja, Nathan kini tengah berdiri di sana sambil menatap nyalang pada Bianca. Di sana juga ada Kenzo, Alex, dan Devan. Nathan menatap Bianca tajam sehingga membuat gadis itu ketakutan. "Siapa yang nyuruh lo buli sahabat gue?" "Ma—maaf, Nathan," ucap Bianca terbata-bata. Nathan mendekat lalu menginjak kaki gadis itu. "Jangan pernah ganggu Sasha lagi," peringat Nathan. Bianca mengangguk lalu menunduk. Ia merasa malu pada orang-orang yang berkerumun mengelilinginya. Ini semua gara-gara Naya, andai tadi dia tidak kabur Bianca tidak perlu berurusan dengan Sasha. Lihat saja Bianca pasti akan membalas gadis itu. Sasha mendekati Naya dan bertanya, "Lo nggak pa-pa?" Naya menggeleng. "Makasih, Kak udah nolongin gue." Sasha membalas perkataan Naya dengan dehaman. Bianca dan kedua temannya lalu pergi. Nathan menarik Sasha sedikit menjauh dari Naya. Dia lalu memegang kepala sahabatnya itu. "Kepala lo nggak sakit, 'kan?" "Gue baik-baik aja Nathan," balas Sasha, sedikit sebal karena Nathan terlalu mengkhawatirkannya seolah dirinya ini anak kecil. Naya terdiam memperhatikan kedua orang itu. Entah kenapa hatinya sedikit sakit. Bukan karena ia cemburu. Dirinya teringat perkataan Nathan tadi yang hanya menyuruh Bianca untuk tidak menganggu Sasha saja, lalu bagaimana dengan dirinya. Padahal Nathan pernah berjanji jika ia menjadi babu cowok itu, dia akan menyuruh Bianca berhenti membully Naya. Sasha menoleh pada Kenzo, berharap cowok itu juga bertanya keadaannya. Namun, Kenzo malah memalingkan wajah, tak ingin menatap Sasha. Cowok itu menghampiri Naya. "Nih, minum buat lo." Kenzo memberikan air mineral untuk Naya. "Wow, ada apa, nih? Seorang Kenzo si es batu memberikan minum untuk seorang cewek." Alex tampak terkejut, tetapi Kenzo tidak peduli dengan omongannya. "Makasih, Kak." Naya tidak bisa menolak pemberian Kenzo. "Gue duluan, ada kelas." Sasha pergi meninggalkan tempat itu. Merasa ada yang aneh dengan sahabatnya, Nathan mengejarnya. Naya memandangi kepergian Nathan. Anda saja disitu tidak banyak orang, ingin sekali Naya menanyakan kemana Nathan semalan sehingga dia tidak pulang. *** Sasha kini menangis. Kenapa Kenzo tidak pernah baik padanya dan hanya baik kepada gadis lain. Hal itu membuat hati Sasha makin terluka. Cinta telah membuat gadis itu bodoh. Berulang kali Kenzo menolaknya, tetapi dia masih tetap mengejar-ngejar cowok itu. Nathan menarik tangan Sasha, membawanya ke tempat yang lebih sepi. Mereka menuju rooftop fakultas hukum. "Lo kenapa? Apa kepala lo sakit?" tanya Nathan cemas. Sasha menggeleng. "Lalu apa? Jelasin ke gue." "Gue cinta sama Kenzo," balas Sasha yang tiba-tiba membuat Nathan terdiam membeku, seolah ada yang menusuk hatinya saat ini. Selama ini tidak ada yang tahu tentang perasaan gadis itu, kecuali Kenzo. Bahkan demi Kenzo Sasha rela masuk jurusan hukum, padahal sebenarnya ia sangat tidak menyukai jurusan tersebut. Dulu mimpi gadis itu adalah menjadi seorang designer. "Sejak kapan lo suka sama Kenzo?" tanya Nathan dengan ekspresi datar. "Sejak kita SMP." Hal itu membuat Nathan makin terluka karena ia juga menyukai Sasha semenjak mereka SMP. "Lo udah ungkapin perasaan lo ke dia?" Sasha mengangguk. "Tapi dia nolak gue. Dan sekarang dia ngejauhin gue dan nggak mau ngobrol sama gue lagi. Gue harus gimana Nathan? Gimana caranya bikin dia baik lagi sama gue? Tadi lo lihat, kan, dia baik ke Naya, sedangkan ke gue natap sebentar aja dia enggan." Sasha terisak dan terlihat sangat putus asa. Tidak hanya Sasha, Nathan pun juga merasakan terluka saat ini. Selama ini diam-diam ia mencintai Sasha, tetapi sahabatnya itu tidak pernah sadar dengan perasaannya. "Lo tenang aja, nanti gue bakal bicara sama Kenzo." "Nggak!" Sasha melarang Nathan. "Nanti dia makin nggak suka sama gue karena berpikir gue memaksa lo untuk bicara ke dia. Biar gue sendiri yang selesaiin masalah gue." Nathan tidak menjawab lagi. Rasanya ia butuh sesuatu untuk meluapkan emosinya saat ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia merasakan patah hati. Gadis yang selama ini ia cinta, ternyata mencintai pria lain. *** Selesai kelas Naya menuju markas Nathan. Tadi Naya melihat Alex dan Devan berjalan menuju kantin, Nathan tidak bersama mereka. Itu artinya Nathan sedang sendiri sekarang, momen yang pas bagi Naya untuk membicarakan hal penting dengan pria yang berstatus suaminya itu. Sesampainya di markas Naya berhenti di depan pintu. Ia mendengar suara orang yang sedang berbicara di dalam. "Lo buta atau gimana, sih? Sasha suka sama lo. Dia kurang baik apa sehingga lo nolak dia!" seru Nathan. Walau sebenarnya ia cemburu, tapi ia juga tidak ingin melihat sahabatnya terluka. Baginya kebahagiaan Sasha adalah yang terpenting. "Gue nggak bisa nerima dia," jawab Kenzo dengan raut wajah terlihat tenang. "Kenapa?" "Dia manja dan bertekad untuk selalu mendapatkan apa yang dia mau. Lihat sekarang, dia pasti maksa lo untuk datang ke gue dan bujuk gue supaya nerima dia. Dia gadis bodoh yang pernah gue kenal. Bahkan, dia sampai rela mengubur mimpinya sendiri. Lo ingat saat SMA setiap mata pelajaran PPKN di selalu tidur, itu menandakan dia juga nggak suka pelajaran berbau hukum. Demi bisa mengejar-ngejar gue dia masuk jurusan ini dan melupakan mimpinya menjadi designer," pungkas Kenzo yang kelihatannya mulai emosi. Nathan terdiam, ia akui Sasha memang bodoh soal hal itu. Tapi itu tidak cocok dijadikan alasan Kenzo membenci Sasha. "Lo nggak harus lihat keburukan dia. Lihat betapa besar cintanya ke lo." "Gue nggak bisa, Nathan. Jangan paksa gue buat nerima dia. Gue juga tahu, dari cara lo memandang dan memperlakukan Sasha, itu bikin gue sadar kalau lo juga cinta sama dia. Lo lebih dulu kenal dia, jadi lo yang lebih berhak menjadi pendampingnya. Gue juga nggak mau melukai hati teman gue sendiri," balas Kenzo. "Jadi lo nolak dia karena gue? Gue nggak masalah jika lo jadian sama Sasha. Gue akan senang jika melihat sahabat gue bahagia," balas Nathan. Dia dan Kenzo, adalah dua orang yang memilih terluka demi kebahagiaan sahabat mereka. "Gue nggak bisa. Lo tahu setiap melihat dia di kelas gue selalu merasa bersalah sama diri gue sendiri, karena gue dia masuk jurusan hukum. Gue berharap dia mengejar mimpinya sendiri dan jadi apa yang dia mau. Jika bersama gue, dia akan terus membohongi dirinya sendiri," balas Kenzo, lalu memilih keluar dari ruangan itu. Cowok itu terlihat kaget ketika melihat Naya berdiri di depan pintu. Kenzo mengabaikannya dan terus melanjutkan langkahnya. "Arghh!" Naya sedikit terlonjak ketika mendengar Nathan berteriak. Naya mengerti bagaimana perasaan cowok itu sekarang, karena ia juga merasakan hal yang sama. Naya juga eprnah mencintai seseorang, tapi orang yang ia cinta menyukai kembarannya. "Sejak kapan lo berdiri di sana?" Nathan berteriak kepada Naya ketika melihat gadis itu di depan pintu. Nathan nenghampirinya dan menariknya masuk. "Lo nguping pembicaraan gue dan Kenzo?" tanya Nathan seraya melototkan mata ke arah Naya. Melihat Naya tidak bisa menjawab, membuat Nathan merasa dugaannya benar. Hal itu membuat cowok itu semakin kesal. "Bagus jika lo dengar. Biar lo tahu kalau gue nggak akan pernah mencintai lo. Pegang omongan gue," balas Nathan. Naya sama sekali tidak peduli, lagian dirinya juga tidak akan jatuh cinta pada cowok sekejam Nathan. "Gue nggak peduli. Gue ke sini cuma mau nanya, lo semalam kenapa nggak pulang?" Naya memberanikan diri untuk bertanya. Hal tersebut justru makin membuat emosi Nathan makin meledak-ledak. "Lo mau bikin orang-orang tau tentang pernikahan kita. Jangan bahas itu di sini," balas Nathan seraya meremas lengan Naya yang membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Setiap melihat wajah Naya selalu membuat Nathan kesal, itu alasannya ia tidak pulang ke rumah dan memilih tidur di apartemennya. "Ma—maaf, lepasin tangan gue," cicit Naya. Nathan melepaskan cekalannya. "Gue ke sini pengen nagih janji lo. Lo pernah bilang saat di toilet, jika gue jadi babu lo maka lo akan nyuruh Bianca untuk berhenti bully gue," ujar Naya. "Lo lupa? Lo nolak waktu itu. Jadi penawaran itu tidak berlaku lagi. Sekarang alasan lo jadi babu gue, karena lo pernah nyuri dompet gue. Jadi, gue nggak akan ikut campur urusan lo dan Bianca. Gue nggak peduli jika dia dan gengnya membully lo." Napas Naya tercekat. Nathan benar-benar keterlaluan dan tidak punya hati. Padahal Naya adalah istri cowok itu, tapi Nathan membiarkannya dibully oleh orang lain. "Gue salah apa? Kenapa lo benci banget sama gue?" tanya Naya, bersamaan dengan air matanya yang tiba-tiba luruh. "Awalnya lo gak salah apa-apa. Kembaran lo yang mulai cari masalah sama gue dan membuat gue bertekad ingin balas dendam. Gue pikir lo adalah dia, makanya lo yang gue bikin menderita. Namun, saat tahu bahwa ternyata lo punya kembaran dan gue salah sasaran, seharusnya gue bisa bebasin lo. Tapi setelah mengingat kejadian lo menampar gue di apartemen, itu bikin harga diri gue jatuh dan buat gue juga benci sama lo. Jadi, gue pastiin selama lo jadi istri gue hidup lo akan menderita. Dan satu lagi gue peringatin ke lo. Jangan pernah dekat-dekat sama semua sahabat gue, apalagi Sasha dan Kenzo," tegas Nathan. Cowok itu lalu mengusir Naya pergi dari sana. Naya menuju rooftop fakultas ekonomi, karena di sana tidak ada orang jadi gadis itu bisa meluapkan tangisnya. Kenapa selalu ia yang menderita, padahal bukan dirinya yang melakukan kesalahan. Hal ini mengingatkannya pada masa kecilnya yang penuh dengan ketidakadilan. Karena fitnah yang ia dapatkan hingga kini kekuarganya masih membencinya. Bahkan karena itu pula ia mendapat teror dari orang misterius. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN