Bab 01
“Ada beberapa hal yang perlu lo ingat jika ingin kuliah di kampus ini dengan aman dan tenang. Lo nggak mau, kan, jadi bahan buli?”
Naya, gadis manis dengam rambut sepundak dan warna kulit kuning langsat itu langsung menggeleng-gelengkan kepala. Siapa pun tidak akan mau menjadi korban buli.
“Lo tahu Aril Cristhian, kan? Pemilik PT. Deo Tanujaya, sekaligus pendiri kampus ini. Gue denger-denger anaknya juga kuliah di sini dan udah semester lima sekarang. Namanya Nathan. Dari segi fisik dia bisa dibilang sempurna, tetapi sayangnya dia orang yang kejam dan tidak berperasaan. Semua orang dikampus ini takut sama dia. Dia tidak akan segan-segan membalas berkali-kali lipat orang yang berani mengusik hidupnya. Bahkan sampe ada mahasiswa yang berhenti kuliah karena dibuli sama dia.”
Bulu kuduk Naya tiba-tiba saja merinding mendengar cerita Maudy—sahabatnya. Apakah Nathan benar-benar sekejam itu?
“Kabar buruknya adalah Nathan satu fakultas dengan kita. Jadi lo usahain untuk jaga jarak sama dia, jangan terlalu mencolok, dan jangan pernah cari masalah sama dia.”
Mendengar itu Naya jadi tambah deg-degan. Gadis itu mengangguk, ia akan selalu mengingat perkataan Maudy. Seketika Naya penasaran dengan wajah Nathan agar ia bisa menjauhinya. “Lo punya fotonya? Supaya gue bisa tahu orangnya yang mana.”
Maudy mengangguk, semalam ia telah mencari di internet tentang keluarga Cristhian. Ia juga mendapatkan foto keluarga mereka. Disaat gadis itu akan mengambil handphone-nya di dalam tas, tiba-tiba saja pembawa acara mulai berbicara pertanda pembukaan acara OSPEK akan dimulai. Seluruh mahasiswa baru yang ada di auditorium diminta untuk menyimpan ponsel mereka dan mengikuti acara dengan hikmat.
“Nanti setelah kita keluar dari audit gue lihatin ke lo,” tutur Maudy.
Naya mengangguk lagi. Ia lalu menghembuskan napas pelan dan berusaha menenangkan dirinya yang sedang deg-degan. Ia berharap dirinya tidak pernah berurusan dengan Nathan. Ia hanya ingin merasakan kuliah dengan tenang dan lulus tepat waktu. Tujuannya memilih kuliah di Universitas Tunajaya karena kampus swasta tersebut cukup terkenal dan lulusannya banyak diterima di perusahaan-perusahaan besar. Ada yang bilang mahasiswa yang lulus di kampus tersebut jika dia beruntung maka dia bisa bekerja di perusahaan milik Keluarga Cristhian. Aril Cristhian tidak hanya terkenal sebagai pemilik PT. Deo Tanujaya, bisnis yang bergerak dibidang property mewah. Tetapi dia juga pemilik PT. Jaya Abadi, perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara yang terletak di Bandung. Saham pria itu juga ada di mana-mana. Bahkan ia dinobatkan sebagai salah satu crazy rich Indonesia.
Naya berharap setelah lulus nanti ia bisa bekerja di salah satu perusahaan milik keluarga Cristhian agar bisa membuktikan pada keluarganya kalau ia anak yang berguna, bukan pembawa sial seperti yang diucapkan keluarganya selama ini. Naya juga ingin merasakan bagaimana rasanya dipedulikan, ditanya kabarnya setiap hari, diperhatikan ketika sakit, dan diberi semangat ketika ia lelah, seperti yang dirasakan saudaranya.
***
Sebuah mobil sport berwarna merah dan mengkilat itu melaju kencang di jalanan. Namun, tiba-tiba saja pengemudi merem mobilnya secara mendadak ketika seorang gadis berhenti di depannya. Hampir saja mobil tersebut menabrak gadis itu.
“Molly, kamu gak papa, kan?” Gadis dengan celana jeans dan kaos putih ketat itu mengelus kucingnya yang hampir saja ditabrak mobil, untung ia cepat menyelamatkannya.
Dari dalam mobil Nathan mengumpat kesal. Dia memakai kaca mata hitamnya lalu turun dari mobil. “Lo mau nyari mati, hah?”
“Lo tuh yang nggak bisa nyetir. Seenaknya ngebut-ngebut, emangnya ini jalan punya nenek moyang lo. Nggak lihat apa di depan ada kucing? Lo hampir aja nabrak gue dan kucing kesayangan gue.”
“Halah, basi. Trik lo ini udah sering gue temuin. Lo sengaja kan bikin diri lo hampir ditabrak, biar bisa minta ganti rugi?”
“Lo pikir gue cewek gila yang mempertaruhkan nyawa demi uang!” Cewek berambut panjang itu terlihat tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Nathan.
“Nggak usah banyak omong lo. Sebutin aja berapa nominalnya. 100 juta? 200 juta? Jangankan buat ganti rugi, harga diri lo pun juga mampu gue beli,” ucap Nathan sombong.
Gadis itu tampak tersulut emosi mendengar harga dirinya di rendahkan, tangannya mengepal erat. Dia membuka tutup air mineralnya lalu menyiramkannya ke wajah Nathan. Mata cowok itu seketika membola, baru kali ini ada orang yang berani melawannya. Rahang Nathan seketika menegang dan tangan mengepal kuat. Gadis itu telah berani mencari masalah dengannya, maka dia harus siap menerima konsekuensi dari Nathan.
“Gue nggak butuh uang lo. Nggak usah sombong jadi orang!” bentak gadis itu. Dia lalu menendang bagian depan mobil Nathan lalu pergi.
“Jangan pergi lo. Urusan kita belum selesai!” Nathan hendak mengejar gadis itu, tetapi bunyi klakson di belakang mobilnya membuat langkahnya terhenti. Mobil Nathan berhenti di tengah jalan dan menghalangi lalu lintas.
“Lihat aja gue bakal cari lo dan beri lo pelajaran!” teriak Nathan.
***
Hari ini adalah hari kedua Naya mengikuti OSPEK di kampus. Ketika jam makan siang, Naya dan Maudy memutuskan untuk makan siang di kantin Fakultas Ekonomi yang letaknya tidak jauh dari gedung auditorium. Mereka sekalian ingin melihat-lihat gedung fakultas mereka itu. Kedua gadis itu adalah mahasiswi jurusan manajemen.
Kini Naya dan Maudy tengah menikmati makan siang mereka. Suasana kantin yang tadinya hening, tiba-tiba saja menjadi sedikit heboh ketika tiga orang cowok memasuki kantin. Mereka adalah Nathan dan kedua temannya.
“Kak Nathan makin ganteng aja.” Naya tidak sengaja mendengar perkataan seorang mahasiswi yang duduk di belakangnya. Ia lalu memperhatikan sekitar, terlihat beberapa mahasiswi lain mulai berlagak anggun dan sok cantik seperti orang yang sedang mencari perhatian. Ternyata pesona Nathan mampu membuat cowok itu jadi populer di kampus dan idolakan para gadis.
Naya akui cowok itu memang terlihat sangat tampan, badannya pun juga atletis. Terlihat saat ini cowok itu mengusir seorang mahasiswa dan mengambil alih mejanya. “Tunggu, mau ke mana lo? Pesenin makanan dulu buat gue dan teman-teman gue,” titih Nathan pada salah satu cowok berbadan gempal itu
Cowok bernama Bobby itu mengangguk ketakutan. Naya bergidik, ini pertama kalinya ia melihat Nathan secara langsung. Ternyata benar, banyak mahasiswa di kampus ini yang takut dengan cowok itu. Naya menatap Maudy dan berbisik. “Lo bener, Dy. Walau ganteng tapi dia lumayan serem, ekspresinya kayak mau nelen orang hidup-hidup,” bisik Naya.
“Buruan habisin makanan lo. Setelah itu kita pergi dari sini," titah Maudy yang tidak ingin berlama-lama ada di sana.
Naya mengangguk dan buru-buru menyantap makanannya. Disaat kedua gadis itu akan pergi meninggalkan kantin, tali sepatu Naya tiba-tiba saja terlepas. Naya akhirnya berhenti dan berjongkok untuk mengikat tali sepatunya. Sementara Maudy berjalan lebih dahulu dan tidak menyadari Naya tertinggal di belakang.
Naya mengikat tali sepatunya dengan tergesa-gesa. Disaat berdiri kembali tiba-tiba ia tidak sengaja menabrak seseorang yang lewat di depannya. Suara pecahin piring dan gelas serta dentingan sendok terdengar cukup keras sehingga mengundang seluruh perhatian orang-orang yang ada di kantin.
“Ma-maaf, gue nggak sengaja,” tutur Naya terbata-bata yang seketika gugup karena semua orang menatapnya.
Cowok yang Naya tabrak itu juga tidak kalah gugupnya. Dia meneguk ludah sembari menatap nanar makanan yang sudah terjatuh ke lantai. Dapat dipastikan dirinya tidak akan selamat kali ini. Cowok dengan tubuh gempal itu lalu memberanikan diri menatap ke arah Nathan. Jantungnya semakin berpacu kencang ketika melihat Nathan berjalan ke arahnya.
Naya mengikuti arah pandang cowok di depannya ini. Seketika tubuhnya bergetar ketakutan. Nathan kini telah berdiri di dekatnya.
“Maaf, Nathan. Bukan gue yang jatuhin makanan lo,” ucap Bobby dengan suara bergetar. Nathan tak menjawab. Ia fokus menatap wajah Naya. Cowok itu menatap sangat intens, memastikan bahwa gadis di hadapannya ini adalah gadis yang menyiramnya kemarin. Wajahnya mirip, tetapi gadis di hadapannya kini rambutnya lebih pendek. Nathan mencebik, apa gadis itu sengaja merubah penampilan untuk menghindar darinya? Ia tidak bodoh dan dengan mudah melupakan wajah orang yang telah berani mengganggu ketenangannya.
Nathan berjalan menuju meja terdekat. Ia mengambil jus yang terdapat di atas meja, tidak peduli jus siapa itu. Cowok itu lalu kembali mendekati Naya dan menyiram wajah gadis itu yang membuat seluruh penghuni kantin terkejut dengan aksinya.
“Mulai sekarang gadis dihadapan gue ini adalah target gue selanjutnya!” teriak Nathan memberi pengumuman pada semua orang. Naya tidak mengerti apa maksudnya, target apa yang cowok itu maksud.
“Lo bayar makanannya!” Nathan menyerahkan uang pada Bobby lalu memanggil kedua temannya dan pergi meninggalkan kantin, ia sudah tidak selera lagi untuk makan. Sedangkan Bobby menghembuskan napas lega karena ia selamat dari bahan amukan Nathan. Cowok berbadan gempal itu lalu pergi membayar makanan yang sudah terjatuh itu.
“Nay.” Maudy menghampiri Naya dan memberikan tisu padanya. Tadi ia kembali lagi ketika menyadari Naya tidak berjalan bersamanya. Begitu tiba di kantin ia diibuat kaget melihat Naya sudah disiram oleh Nathan. Padahal ia sudah memperingati Naya untuk jangan mencari masalah dengan cowok itu.
“Apa yang lo lakuin sampai bikin Nathan marah?” tanya Maudy pelan.
“Gue gak sengaja jatuhin makanannya.”
“Udah gue bilang jangan cari masalah sama dia,” geram Maudy.
“Gue nggak sengaja.” Naya tiba-tiba saja teringat dengan perkataan Nathan tadi sehingga membuat dirinya cemas. “Tadi dia bilang gue bakal jadi target dia yang selanjutnya, maksudnya apa?”
Maudy menghembuskan napas gusar. Disaat gadis itu baru akan menjelaskan tiba-tiba saja tiga orang gadis berpenampilan modis menghampiri Naya.
“Seret dia!” perintah gadis bernama Bianca itu pada kedua temannya. Ketiga gadis itu terkenal sebagai tukang bully di kampus tersebut. Bianca merupakan anak dari dekan fakultas ekonomi. Kekuasaan yang dimiliki oleh orang tuanya membuatnya bersikap semena-mena dan mampu membungkam mulut orang yang dia buli.
Aurora dan Cindy lalu menarik tangan Naya. Maudy hendak menolong, tapi gertakan dari Bianca membuat gadis itu takut dan tak berkutik. Pada akhirnya dia hanya bisa melihat Naya dibawa oleh ketiga gadis itu dengan perasaan bersalah.
“Lepasin gue!” Naya meronta-ronta minta dilepaskan, hal itu membuat Aurora dan Cindy semakin kasar menarik tangannya.
Ketiga gadis itu membawa Naya ke toilet. Bianca mengusir semua gadis yang ada di sana. Kini tinggal Naya, Bianca dan kedua temannya di toilet tersebut. Bianca mendorong Naya hingga gadis itu terjatuh di lantai, tas Naya juga ikut terlepas dari lengannya. Disaat Naya akan mengambil tasnya itu, Cindy malah menendang tasnya hingga terlempar ke pintu. Gadis itu lalu menginjak tangan Naya dengan sepatu kets nya.
Naya mengaduh kesakitan. Bukannya kasihan, ketiga gadis itu malah mentertawakan Naya. Bianca mengambil ember yang berisi air dan mengguyur tubuh Naya sehingga gadis itu basah kuyup. Air mata Naya seketika luruh.
“Karena ini baru permulaan, gue nggak akan nyiksa lo terlalu kejam,” ucap Bianca sembari tertawa puas. Dia lalu mengajak kedua temannya keluar dari toilet dan mengunci Naya di sana. Mereka juga membawa kunci tersebut agar tidak ada yang bisa membantu Naya.
Naya berlari menuju pintu dan menggedor-gedor pintu tersebut, tetapi tetap tidak ada yang datang membantunya. Gadis itu lalu menuju cermin dan menatap pantulan dirinya di sana. Ia terisak menatap penampilannya saat ini benar-benar berantakan. Gadis itu lalu terduduk lemas sambil meratapi nasibnya. Kenapa hidupnya selalu sial dan tidak pernah beruntung. Hari kedua dirinya berada di kampus, tetapi ia sudah dibuli.
Beberapa menit berlalu tiba-tiba pintu toilet itu terbuka. Betapa kagetnya Naya ketika melihat Nathan lah yang masuk, padahal itu adalah toilet perempuan. Gadis itu lalu menyeka air matanya.
“Ini akibatnya jika lo berani ngusik hidup gue. Ini belum seberapa, selanjutnya masih ada pelajaran yang lo dapat. Mereka gak akan berhenti membuli lo sebelum gue yang nyuruh,” tekan Nathan. Jangan Tanya kenapa ia bisa masuk? Tentu saja Bianca yang memberinya kunci. Ratu buli itu tidak akan berani mengusik mangsa Nathan jika bukan cowok itu sendiri yang memberi persetujuan.
“Tolong maafin gue. Gue janji lain kali bakal hati-hati. Gue bakal ganti makanan lo yang jatuh tadi," mohon Naya.
Nathan berjongkok di depan Naya. “Gue nggak butuh maaf atau pun pertanggung jawaban dari lo. Yang gue pengen adalah melihat lo menderita di kampus ini.”
Mendengar hal itu Naya langsung menautkan kedua telapak tangannya. “Gue mohon maafin gue. Tolong suruh mereka berhenti buli gue,” isak Naya.
Tiba-tiba Nathan tersenyum smirk. Melihat musuhnya memohon padanya membuatnya merasa senang. “Gue bakal kabulin permohonan lo dengan satu syarat."
"Apa?"
"Lo harus jadi babu gue.”
Mata Naya terbelalak mendengar syarat yang tidak masuk akal dari Nathan. Harga dirinya juga merasa di rendahkan. “Nggak, gue nggak mau.”
Mendengar penolakan dari Naya membuat rahang Nathan mengeras. Sorot matanya kembali menatap tajam seolah ingin menelan Naya hidup-hidup. “Oke, kalau begitu nantikan penindasan yang akan lo terima selanjutnya."