Bab 02

1783 Kata
"Baru beberapa hari kamu bekerja di sini, tetapi kamu sudah berani terlambat. Kamu niat kerja nggak?” bentak pria yang kira-kira berumur 39 tahun itu di ruangannya. Naya tertunduk diam, sadar akan kesalahannya. Padahal ia baru tiga hari bekerja di sana tapi sudah berani datang terlambat 30 menit. “Saya minta maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Naya. Jantung Naya kini berdebar, takut kalau ia dipecat. “Tidak ada kata maaf untuk karyawan baru yang tidak disiplin seperti kamu. Detik ini juga kamu saya pecat!” tegas maneger sehingga membuat mata Naya terbelalak. “Saya mohon, Pak. Jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini,” mohon Naya. “Ada apa ini?” Tiba-tiba seorang wanita yang merupakan pemilik cafe tersebut datang membuat sang manejer langsung bangkit dari duduknya dan menunduk hormat pada pimpinannya itu. Naya sempat terpana melihat kecantikan wanita itu. Selain cantik dia juga elegan dan berkelas. Ini pertama kali Naya melihatnya. “Gadis ini baru bekerja tiga hari di sini, tetapi dia sudah berani datang telat 30 menit, Buk,” jelas Maneger. Ia tidak menyangka jika pimpinannya tiba-tiba datang ke cafe. Biasanya wanita itu jarang ke sana, hanya sekali dua kali dalam sebulan. Naya kini menunduk dalam, ia tidak berani menatap pemilik restoran tersebut. “Kenapa kamu telat?” tanya Bu Naura lembut. Walau Naya telah membuat kesalahan, tetapi wanita itu tetap bertanya secara baik-baik. Sangat terlihat jelas kalau dia adalah wanita yang sangat ramah. Di umurnya yang 45 tahun wanita itu masih terlihat sangat cantik dan awet muda. Badannya pun juga masih bugar dan langsing. “Saya ada OSPEK di kampus, Bu, dan hari ini selesainya lumayan dempet sama jadwal kerja saya,” jawab Naya jujur. Sebelumnya ia telah berminggu-minggu mencari pekerjaan di tempat lain, tetapi tidak ada yang menerimanya. Cafe ini adalah tempat terakhir ia mengajukan lamaran pekerjaan. Naya menautkan kedua telapak tangannya dan memohon pada Bu Naura. “Saya mohon, Bu, jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini agar bisa mendapatkan uang untuk membayar kuliah saya,” mohon gadis itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia takut jika dirinya benar-benar dipecat. Kemana lagi ia akan mencari pekerjaan? Orang tuanya tidak mau membiayai kuliahnya. Alasannya karena kembarannya Inaya kuliah kedokteran di universitas negeri jadi membutuhkan biaya yang banyak. Inara memang selalu diprioritaskan karena gadis itu pintar dan menjadi anak kebanggaan. Bu Naura yang pada dasarnya memiliki sifat lembut dan peduli terhadap sesama, hatinya merasa tersentuh dengan perkataan Naya. Dia salut pada gadis itu masih muda tetapi sudah bisa mencari uang untuk membiayai pendidikannya. Melihat Naya seakan mengingatkannya pada dirinya waktu muda. Dulu ia bukan orang berada, bahkan dirinya bekerja sebagai asistem rumah tangga setelah tamat SMA. “Saya tidak akan memecat kamu. Kali ini kamu saya maafkan, silahkan kembali bekerja, Tapi lain kali jangan terlambat, saya tidak bisa menolong kamu lagi karena saya jarang ke sini. Pak Andi selaku maneger lah yang bertanggung jawab penuh di cafe ini selama saya tidak ada,” ujar Bu Naura. Seketika membuat Naya menghembuskan napas lega, wajah gadis itu berbinar, ia mengucap syukur. “Terima kasih, Bu. Saya janji akan bekerja dengan baik dan tidak akan telat lagi,” ucap Naya dengan senyum lebar terpancar di wajahnya. “Sama-sama.” Bu Naura membalas senyum Naya. Entah kenapa, padahal baru pertama kali ia melihat Naya, tetapi ia menyukai kepribadian gadis itu. Ia dapat menilai kalau Naya benar-benar orang yang jujur dan mandiri. Bu Naura salut pada anak muda seperti itu. *** Naya menyajikan beberapa hidangan di hadapan Bu Naura. Gadis berusia 19 tahun itu melakukannya dengan hati-hati. Ia tidak ingin membuat kesalahan lagi. “Kamu di mana? Kenapa belum nyampe? Mama udah di cafe.” Bu Naura kini tengah berbicara lewat telepon yang Naya yakini itu adalah anaknya. Seketika Naya membayangkan pasti anak Bu Naura juga tidak kalah baiknya dengan wanita itu. Wajahnya pasti juga rupawan. “Hati-hati nyetirnya, jangan ngebut-ngebut,” pesan Bu Naura lalu memutuskan sambungan telepon. Dia lalu menatap Naya yang baru saja menyajikan beberapa menu di mejanya. “Terima kasih,” ucap Bu Naura ramah. Naya mengangguk. Nyatanya ucapan Bu Naura mampu membuat hatinya senang. Naya sungguh kagum dengan Bu Naura, selain cantik dan awet muda, wanita itu juga sukses. Naya berharap di masa depan ia bisa seperti bosnya itu. “Ngomong-ngomong kamu kuliah di mana?” tanya Bu Naura penasaran. “Universitas Tanujaya prodi Manajemen, Buk,” jawab Naya membuat Bu Naura seketika antusias mendengarnya. “Oh ya? Anak saya juga kuliah di sana, udah semester lima sekarang. Dia juga jurusan manajemen.” Naya terkejut, tidak menyangka anak Bu Naura adalah senior di kampusnya. “Nama anak ibuk siapa? Siapa tahu saya kenal?” tanya Naura, dia sangat penasaran dengan anak Bu Naura. “Nama–“ “Mama!” panggil seseorang yang membuat ucapan Bu Naura terhenti. “Nah, ini anak saya!” kata Bu Naura sambil menunjuk pada pemuda yang baru saja tiba. Seketika Naya berdiri mematung. Nampan di tangannya jatuh. Manik matanya tidak lepas dari cowok di hadapannya. Tidak pernah sama sekali terbayangkan oleh Naya kalau cowok itu adalah anak Bu Naura. Ada pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maksudnya adalah sifat, tingkah laku, dan kepribadiian seorang anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya. Kini Naya tidak mempercayai pepatah itu lagi. Bagaimana bisa Bu Naura yang memiliki hati yang lembut seperti ibu peri punya anak berhati iblis seperti Nathan. Sungguh perbandingan sifat yang sangat jauh berbeda untuk ibu dan anak itu. “Naya, kamu kenapa?” Pertanyaan Bu Naura itu membuat Naya tersadar. Ia mengambil nampan yang tidak sengaja ia jatuhkan. “Saya nggak papa, Bu,” jawab Naya gelagapan. Ia lalu kembali menoleh pada Nathan yang saat ini juga menatap tajam ke arahnya. Sepertinya cowok itu juga kaget melihat dirinya di sini. “Kamu kenal putra saya?” tanya Bu Naura. Naya mengangguk singkat. Siapa yang tidak tahu Nathan, secara cowok itu ditakuti seluruh mahasiswa kampus. “Nggak kenal,” pungkas Nathan cepat. “Jangan gitu, ah, ngomongnya.” Naura menepuk lengan Nathan karen nada bicaranya terdengar ketus. Kadang ia tidak habis pikir dengan sifat putranya itu yang terlalu jutek pada orang-orang. “Yaudah kalian kenalan dulu.” Seketika Nathan menyesal dengan jawabannya tadi. Ia mana sudi berjabat tangan dan berkenalan dengan gadis di hadapannya itu. Namun, ia juga tidak mungkin membantah perkataan wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dengan sangat terpaksa cowok itu akhirnya mengulurkan tangan. “Gue Nathan.” Naya meneguk salivanya susah payah. Entah kenapa dia merasa merinding ketika Nathan mengajaknya bersalaman, perasaan Naya tidak enak. Akan tetapi, Bu Naura kini tengah memperhatikan mereka sehingga dengan terpaksa Naya membalas uluran tangan Nathan. “Naya,” ucap gadis itu. Nathan meremas tangan Naya, membuat gadis itu susah payah menahan kesakitan. Satu fakta yang kembali Naya tahu hari ini, ternyata Bu Naura adalah istri dari Aril Cristhian Deo. Pantas saja wanita itu terlihat sangat berkelas. Naya jarang membuka sosmed atau pun membaca majalah, jadi ia tidak tahu betul tentang keluarga Cristhian. Sekarang yang Naya cemaskan adalah bagaimana ia bisa bekerja di restoran milik keluarga Nathan? Bagaimana jika cowok itu sering datang ke sini dan mengganggunya. Begitu salaman itu terlepas, Nathan diam-diam mengelap tangannya di baju. Hal itu diperhatikan oleh Naya sehingga membuatnya berpikir, apakah ia senajis itu sehingga Nathan tampat jijik padanya? “Karena kalian udah saling kenal. Saya harap kalian berdua bisa berteman di kampus. Kamu juga bisa Naya nanya-nanya materi ke Nathan karena kalian satu prodi, pasti materi yang lagi kamu pelajari udah dipelajari sama Nathan. Kamu juga Nathan, jangan pelit-pelit sama adit tingkat kamu. Sebagai kakak tingkat yang baik kamu harus bisa membantu adik tingkat kamu,” pesan Mama Naura. Dari ekspresinya, Nathan terlihat sangat ogah sekali menuruti perkataan mamanya itu. Apalagi orang yang dibantu adalah gadis yang paling ia benci. Tidak ingin lama-lama di dekat Nathan, Naya lalu pamit ke belakang. *** Pukul dua belas malam Naya baru selesai bekerja. Gadis itu pulang ke rumah dengan mengendarai ojek online. Selama di atas motor, Naya terdiam melamun. Ia masih kaget karena mengetahui dirinya bekerja di cafe milik keluarga Cristhian. Naya tak mungkin berhenti bekerja di sana. Mencari pekerjaan saat ini sangat susah. Belum lagi gaji yang dijanjikan tempat Naya bekerja saat ini lumayan besar, tidak mungkin ia lepaskan Sesampainya di rumah Naya disambut oleh pemandangan yang membuatnya iri. Di saat keluarganya sedang berkumpul hangat untuk saling bertukar cerita jam segini, Naya sendiri justru baru pulang banting tulang untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Mata Naya terasa panas, buliran bening itu tiba-tiba jatuh begitu saja tanpa diizinkan. Rasanya dunia sungguh tidak adil padanya. Di saat Inara—kembarannya—hidup dalam fasilitas mewah dari mama dan abangnya, Naya justru harus berjuang sendiri untuk dirinya. Selain memikirkan tugas kuliah, ia juga harus memikirkan sendiri biaya kuliahnya. Terkadang ia lelah dan ingin sekali mengeluh. Rumah yang diharapkan sebagai tempatnya pulang, justru malah menjadi sumber luka paling dalam. Naya dibenci oleh seluruh anggota keluarganya. Kehadirannya tidak pernah dianggap di rumah itu. Tak ingin tambah sakit lagi, Naya akhirnya memutuskan ke kamar. Namun, baru beberapa langkah berjalan tiba-tiba perkataan mamanya menghentikan langkahnya. “Pantaskah perempuan keluyuran sampai selarut ini? Jam segini baru pulang. Seperti anak tidak tahu aturan.” Sindiran dari mamanya itu benar-benar membuat hati Naya makin terluka. Bukannya kata-kata semangat yang ia dapat setelah pulang kerja, kenyataannya malah kata yang membuat mentalnya semakin down. Keluarganya mana tahu jika ia bekerja di cafe. Selama ini mereka tidak pernah peduli dengan kehidupan Naya. Gadis itu mengusap air matanya kasar. Dia berbalik badan dan menatap sang mama. “Naya nggak keluyuran. Naya habis pulang kerja, Mah. Sekarang Naya kerja part time di cafe, supaya Naya bisa bayar kuliah Naya sendiri,” balas Naya. Beberapa saat tidak ada jawaban. Naya kini tengah menunggu, berharap mamanya akan memujinya karena ia sudah mandiri dan bisa cari uang sendiri. Akan tetapi, beberapa menit berlalu mamanya tidak bereaksi apa-apa. Wanita paruh baya itu membuang muka dan hanya diam, seperti tidak peduli. Hal itu membuat d**a Naya makin terasa sesak. Ingin sekali Naya menumpahkan semua sesak di dadanya itu saat ini. Ia lahir dari rahim yang sama dengan Inara, tetapi kenapa dirinya diperlakukan seperti anak tiri. “Naya ke kamar dulu, besok Naya harus bangun subuh karena ada jadwal kuliah pagi.” Naya buru-buru ke kamarnya. Kamar itu seakan menjadi saksi betapa seringnya Naya menangis setiap malam. Naya mengambil foto keluarganya sepuluh tahun lalu yang ia simpan di laci. Dirinya lalu duduk di ranjang sembari mengusap foto tersebut. Di foto itu senyuman Naya terlihat lebar. Andai waktu bisa diulang ingin sekali rasanya Naya kembali ke masa kecilnya itu, masa di mana ia hidup dalam kasih sayang dari papa, mama, serta saudaranya. "Anda papa masih ada di sini, mungkin kehidupan Naya tidak akan seperti ini. Naya capek, Pah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN