Bab 03

1645 Kata
"Nathan, buruan turun kita sarapan bareng!" teriak Mama Naura dari Meja makan. Selain wanita itu, di meja makan kini sudah ada Papa Aril dan Rava–adik Nathan. "Nathan sarapan di kampus aja, Mah. Udah hampir telat." Nathan menuju meja makan dan mengambil sebuah roti tawar lalu mengoleskan selai coklat di atasnya. "Telat apa? Ini masih setengah tujuh, kelas kamu dimulai pukul tujuh. Gak usah bohongin mama," cerocos Mama Naura. "Mama kamu benar, Nathan. Kamu ini jarang banget makan di rumah," ujar Papa Aril yang ikut menasehati putranya. "Iya, tuh. Bang Nathan kek orang sibuk mulu." Rava ikut menimpali. "Nggak usah ikut-ikutan kamu!" Nathan melototkan mata menatap ke cowok berusia 13 tahun tersebut. "Kamu ini udah dewasa masih aja sering diingetin. Teman-teman seumuran kamu beberapa udah berumah tangga. Sedangkan kamu sarapan aja masih disuruh. Kapan dewasanya coba?" cerocos Mama Naura. Nathan menghembuskan napas gusar, pagi-pagi telinganya sudah terasa panas mendengar mamanya mengomel. Ini yang membuatnya jarang di rumah dan lebih sering tidur di apartemennya. "Malam ini Nathan nginap di apartemen," ucap Nathan sembari menggigit rotinya lalu berjalan ke luar rumah. Mama Naura menarik napas panjang sembari mengurut dadanya sabar. "Lama-lama itu anak Mama nikahin sama anak teman mama. Biar dia ngerasain gimana rasanya jadi orang tua," kesal Mama Naura. "Udah, Sayang. Nggak usah marah-marah. Namanya juga anak muda," ucap Papa Aril. Diusianya yang sudah menginjak 48 tahun, tetapi wajahnya masih terlihat seperti usia 30-an. Ternyata benar, uang mampu membuat seseorang terlihat lebih awet muda. *** Pagi ini wajah Naya terlihat kusut. Gadis itu seperti tidak semangat datang ke kampus. Langkah gadis itu tiba-tiba terhenti di saat seseorang menghalangi jalannya. Orang yang Naya doakan tidak ia lihat hari ini, justru kini malah muncul di hadapannya. Perasaan Naya mulai tidak enak. Jika berjumpa dengan Nathan sudah dapat dipastikan kalau hal buruk akan terjadi padanya. Cowok itu memasang senyum sinis dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Dia menatap Naya dengan tatapan seperti merendahkan. "Masih punya nyali lo datang ke kampus ini?" hardik Nathan. Dia lalu menatap pada Bianca yang diam-diam berdiri di belakang Naya. "Gue nggak akan tinggalin kuliah gue." "Gue harap lo gak nyesel sama perkataan lo," tekan Nathan. Bianca mengacungkan tiga jari tangannya ke arah Nathan, pertanda ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal itu membuat Nathan tersenyum puas. “Guys!” Nathan bertepuk tangan, mengajak semua orang-orang disekitarnya untuk berkumpul. “Gue pengen kasih tahu kalian semua kalau cewek di hadapan gue ini adalah pelayan di cafe nyokap gue. Harusnya sih dia sadar kalau miskin nggak usah kuliah di sini. Emang dasar cewek kampung ini aja yang nggak sadar diri!” maki Nathan. Sedangkan Naya kini memilih diam dan tidak melawan, mengingat Nathan adalah anak bosnya. Awalnya Naya tidak pernah malu dengan pekerjaannya, tetapi setelah dirinya dihina begini Naya jadi kehilangan sedikit rasa percaya diri. “Oh jadi dia pelayan, pantas aja penampilannya kampungan gitu,” ucap Bianca yang tiba-tiba sudah berdiri di sebalah Naya. Naya lalu menatap ke sekeliling, semua orang kini tengah mentertawakannya. Seketika Naya berpikir apakah menjadi pelayan cafe begitu hina? Padahal pekerjaannya itu tidak haram. “Pokoknya kalian semua harus hati-hati sama cewek ini. Perasaan gue nggak enak ketika ngelihat dia,” ujar Nathan. Naya menunduk dan memejamkan matanya sejenak. Gadis itu berusaha untuk tegar. Ia berusaha untuk tidak mengambil hati terkait perlakuan Nathan padanya. Masalahnya sudah banyak, ia tidak ingin memikirkan masalah yang lain lagi. *** “Jadi lo kerja di cafe nyokapnya Nathan?” tanya Maudy. Dia dan Naya kini berada di taman fakultas ekonomi. Naya mengangguk lesu lalu menghembuskan napas gusar. Padahal ia sudah senang bekerja di cafe itu, tetapi seketika semangatnya jadi hilang saat tahu Nathan adalah anak Bu Naura. Naya dan Maudy tiba-tiba saja kaget ketika melihat Nathan datang bersama temannya yaitu Devan dan Alex. Tanpa basa-basi Nathan langsung merampas tas Naya. “Lo mau ngapain?” Naya berdiri dan hendak merebut tasnya, tetapi Alex menahannya. Nathan menggoyang-goyangkan tas Naya sehingga isi tasnya itu berserakan di bawah. Mata Naya membulat ketika melihat dompet jatuh dari dalam tasnya. Dompet siapa itu? “Ternyata benar dia yang nyuri dompet lo!” teriak Devan dengan raut wajah terlihat kaget. Nathan membuang tas Naya. Ia lalu memungut dompet bewarna coklat itu. “Dugaan gue benar. Lo yang udah maling dompet gue.” Mata Naya terbelalak mendapat tuduhan seperti itu. Walau sedang kekurangan uang pun, ia tidak akan berani mencuri barang orang lain. “Nggak! Gue nggak nyuri! Justru gue gak tahu kenapa dompet lo ada di tas gue.” Taman yang tadinya sepi itu, kini mendadak ramai. Beberapa mahasiswa berkumpul di sana. “Alahh, nggak usah ngeles lo. Buktinya dompet gue ada di dalam tas lo. Dan pagi ini lo orang yang gue temui.” “Nggak nyangka ternyata di kampus ini ada maling!” “Padahal masih mahasiswa baru tapi udah berani maling di kampus.” “Laporin aja ke dekan, biar dia dikeluarin dari kampus.” Berbagai ucapan keluar dari mulut orang-orang yang ada di sana. Hal itu membuat Naya takut jika dirinya benar-benar dikeluarkan dari kampus ini. “Gue benaran nggak tahu kenapa dompet lo ada di tas gue. Gue berani bersumpah bukan gue yang nyuri.” “Lalu ini apa?" Nathan mengangkat dompetnya. "Dompet gue ada di dalam tas lo, ini udah cukup membuktikan kalau lo itu maling. Gue bakal aduin ini langsung ke dekan biar lo dikeluarin dari kampus,” tegas Nathan lalu menarik tangan Naya kasar. “Jangan, gue mohon,” Naya tiba-tiba terisak dan memaksa Nathan untuk berhenti. “Gue bersumpah nggak ngambil dompet lo. Gue akan lakuin semua yang lo suruh asal jangan laporin gue,” tutur Naya yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi. Nathan tersenyum smirk lalu menghentikan langkah. “Oke, kalau gitu jadi babu gue!” Perkataan Nathan sontak membuat Naya terdiam beberapa saat. Naya memejamkan mata, berharap keputusan yang akan ia ambil ini tidak akan menjatuhkannya ke jurang paling dalam. Karena tidak ada pilihan lain gadis itu terpaksa mengangguk setuju. Dia tidak mungkin mempertaruhkan kuliahnya gara-gara tuduhan yang sama sekali tidak ia lakukan. *** Di ruangan dengan cat dinding berwarna hitam dan dipenuhi furniture mewah itu kini terdapat dua insan berbeda jenis. Sang pria duduk di sofa dengan kaki kiri berada di atas kaki kanannya. Sedangkan sang gadis kini berdiri sambil menundukkan kepala. Ini pertama kalinya Naya datang ke markas Nathan, letaknya ada di belakang fakultas ekonomi. Tempat itu terdiri dari beberapa ruangan dengan dengan bermacam-macam lukisan di dinding. Nathan menatap Naya intens. Sorot matanya seakan menyiratkan kebencian. Kini ia senang gadis itu telah menjadi babunya dan dengan begitu ia akan mudah untuk balas dendam pada gadis itu. Nathan bersumpah akan membuat Naya tersiksa selama kuliah di kampus itu. "Ada beberapa tugas wajib yang harus lo lakuin selama jadi babu gue. Lo denger baik-baik gue nggak akan ngomong dua kali. Pertama, setiap hari lo harus bersihin tempat ini. Yang kedua, karena gue jarang sarapan di rumah, jadi setiap pagi lo harus beliin gue sarapan yang gue mau, sebelum kelas dimulau gue selalu di sini jadi lo antar makanannya ke sini." "Maaf." Naya menyela ucapan Nathan. "Tapi gue nggak setiap pagi ke kampus." "Itu artinya setiap pagi lo harus ke kampus bawain gue sarapan. Pokoknya semua perintah gue harus lo lakuin." Nathan lalu lanjut menyebutkan tugas-tugas wajib lainnya. Gadis itu berusaha mengingatnya dengan baik. "Peraturan yang harus lo ingat adalah handphone lo harus aktif terus. Supaya setiap gue butuh sesuatu, gue bisa nelpon dan lo harus datang tepat waktu." "Bagaimana jika saat lo butuh sesuatu, tapi gue lagi kerja?" tanya Naya, ia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya. "Lo tinggal bilang ke maneger lo kalau gue yang nelpon lo. Dia pasti akan langsung izinin lo pergi," bentak Nathan yang mulai kesal karena sejak tadi Naya terus bertanya. "Selama jadi babu gue lo harus turutin semua perintah yang gue suruh, lakukan dengan baik. Kalau sampai ada kesalahan, siap-siap terima hukuman dari gue. Ngerti nggak?!" teriak Nathan yang membuat Naya terlonjak kaget. "Ngerti," jawab Naya. Nathan meminta Naya untuk menyebutkan nomor teleponnya. Ia lalu menghubungi nomor tersebut, setelah ponsel Naya berdering Nathan langsung mematikan panggilan. "Simpan nomor gue, biar lo gak bingung kalau ada yang nelpon." Naya mengangguk dan melakukan apa yang Nathan suruh. "Sekarang tugas pertama lo adalah pel lantai ruangan utama ini sampai bersih. Pelnya ada di belakang. Tiga puluh menit lagi setelah gue kembali lantai ini udah harus bersih dan kering," peringat Nathan setelah itu keluar dari markas tersebut. *** Naya berjalan dari halte bus menuju rumahnya, jaraknya tidak terlalu jauh. Gadis itu baru saja kembali dari kampus. Badannya terasa sangat lelah karena membersihkan markas Nathan. Gadis itu menghembuskan napas gusar, rasanya ia sudah tidak punya tenaga untuk pergi bekerja nanti sore. Tapi mau bagaimana lagi, takdir memaksanya untuk tetap bekerja. Lelah yang tadi terasa seketika sirna ketika Naya lewat di depan rumah cowok yang selama ini diam-diam ia suka. Rumah itu hanya berjarak 100 meter dari rumah Naya. Biasanya Naya memanggil cowok itu dengan panggilan Kak Adit, usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Naya. Kak Adit adalah mahasiswa jurusan kedokteran di universitas negeri. Dia satu kampus dan jurusan dengan Inara. Naya pertama kali berkenalan dengan Kak Adit di sebuah rumah pohon waktu kecil. Senyum gadis itu tiba-tiba merekah teringat besok adalah hari ulang tahun Kak Adit. Naya berlari menuju rumah, ketika sampai ia langsung pergi ke kamarnya. Gadis itu terlihat sangat bersemangat. Untuk kado ulang tahun Kak Adit, Naya sudah menyiapkan baju rajut yang ia buat sendiri. Namun, sayangnya baju itu belum selesai. Naya berencana akan menyelesaikannya hari ini juga. "Kak Adit pasti suka sama hasil rajutan aku," ucap Naya dengan raut wajah ceria. Ia dapat merasakan bahwa Kak Adit diam-diam selama ini juga menyukai dirinya. Cowok itu sangat baik pada Naya. Dua jam kemudian akhirnya baju rajut tersebut selesai. Dengan hati yang sedang berbunga-bunga Naya mengirim pesan pada Kak Adit, mengajak cowok itu untuk ketemuan besok siang. Naya ingin menyerahkan kado itu secara langsung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN