Keesokan harinya pukul 11.30 WIB Naya sudah rapi dengan mengenakan dres selutut berwarna biru dan bandana berwarna senada di rambutnya. Gadis itu juga memakai make up. Naya terlihat sangat manis sekali. Dia menatap pantulan dirinya di cermin sembari tersenyum riang.
Gadis itu lalu merogoh tas selempang kecil dan paper bag yang ada di ranjang. Hari ini ia janjian berjumpa dengan Kak Adit di Cafe Amora pukul 12 siang. Naya sengaja berangkat lebih cepat agar tidak membuat Kak Adit menunggu.
"Masya Allah. Non Naya cantik sekali, mau ke mana?" tanya Mbok Arum ketika Naya keluar dari kamar. Saat ini hanya ada mereka di rumah. Mamanya sedang di toko bunga, usaha itu sudah dilakukan mamanya sejak Naya kecil. Sedangkan abangnya bekerja di kantor sebagai manager pemasaran. Sementara Inara jika bukan di kampus pasti sedang hangout dengan teman-temannya.
"Mau ketemu teman, Mbok. Naya berangkat dulu."
Setelah berpamitan pada Mbak Arum gadis itu langsung pergi. Saat ini dia sedang berada di halte. Naya berencana berangkat dengan bis agar lebih hemat. Perasaan Naya yang tadinya sedang berbunga-bunga, seketika berubah jadi tidak tenang ketika Nathan meneleponnya.
"Di mana lo? Sherlock sekarang, gue jemput."
"Maaf, tapi gue–"
"Nggak ada alasan. Jika lo ngebantah, gue nggak akan hanya laporin lo ke dekan, tapi ke polisi sekalian biar lo di penjara."
Mendengar hal itu Naya langsung takut dan buru-buru mengirim lokasinya pada Nathan. Setelah itu sambungan telepon lalu terputus.
Naya lalu mengirim pesan pada Kak Adit untuk meminta maaf dan mengabari jam pertemuan mereka diundur pukul dua. Gadis itu menghembuskan napas lega ketika Kak Adit membalas pesannya, cowok itu sama sekali tidak marah. Hal itu membuat Naya tersenyum, rasa sukanya pada Kak Adit semakin bertambah karena selain tampan cowok itu juga sangat baik.
***
Nathan menatap Naya dari spion mobilnya. Pertama kali ia melihat Naya berdandan, gadis itu manis. Namun, tiba-tiba Nathan merutuki dirinya, untuk apa ia memuji Naya. Lagian kenapa juga gadis itu berdandan? Apa untuk menggodanya? Ia tidak akan tertarik sama sekali, gadis yang ia suka bahkan lebih cantik dari Naya.
"Lo sengaja dandan buat bikin gue tertarik? Sorry, usaha lo sia-sia karena gue gak tertarik sama babu."
"Nggak, lo kepedean. Gue dandan karena mau ketemu seseorang, tapi jamnya ditunda karena lo tiba-tiba nelpon gue," jelas Naya. Nathan memegang stirnya kuat. Sial, ia mempermalukan dirinya sendiri. Lihat saja, sebagai pembalasan ia pastikan Naya tidak bisa menemui orang yang dia maksud.
Beberapa menit kemudian kedua insan itu sampai di sebuah apartment elit di Kota Jakarta.
"Kita mau ngapain di sini?" tanya Naya, cemas.
"Gak usah banyak tanya. Turutin aja semua perintah gue," sahut Nathan.
Setelah memarkirkan mobilnya di basement Nathan mengajak Naya ke lantai 58, ke unit apartemennya. Sesampainya di sana Naya mematung di depan pintu, tidak berani masuk.
"Ngapain lo berdiri di situ? Masuk!" gertak Nathan.
"Apa ada orang di dalam?" tanya Naya gugup.
"Apartemen ini kosong."
Mendengar hal itu membuat tubuh Naya gemetar. "Lo mau ngapain ngajak gue ke sini. Jangan macam-macam," peringat Naya.
Nathan mendengus. Apa gadis itu sedang memikirkan yang tidak-tidak tentangnya?
"Otak lo yang kotor. Gue juga gak nafsu sama lo. Kalo gue mau, gue bisa bayar p*****r yang jauh lebih cantik dan sexy dari lo."
"Gue bawa lo ke sini buat bersihin apartemen gue. Percuma gue punya babu pribadi kalau gak gue pakai. Masuk dan bersihin sekarang!"
Sebelum masuk Naya berdoa, semoga saja perkataan Nathan benar dan cowok itu tidak akan melakukan hal m***m padanya.
"Semua alat yang lo butuhin ada di ruangan tak terpakai dekat dapur. Bersihin semua ruangan ini termasuk dapur dan kamar mandi, kamar gue yang di sana nggak usah. Jangan sampai ada debu yang tertinggal," jelas Nathan panjang lebar.
"Iya," jawab Naya. Gadis itu meletakkan paper bag dan tasnya di meja dekat sofa tamu lalu pergi mengambil peralatan. Ia harus buru-buru menyelesaikan tugas tersebut sebelum pukul dua.
Sementara Nathan duduk di sofa sambil bermain handphone. Cowok itu sedang mengirim pesan pada sahabatnya sekaligus cewek yang selama ini ia suka. Cowok itu tidak menyangka jika ia kemakan omongannya sendiri. Dulu ia dengan lantang mengatakan pada teman prianya bahwa ia bisa bersahabatan dengan Sasha tanpa melibatkan perasaan. Namun, nyatanya ia yang menyukai gadis itu lebih dulu, tetapi tidak berani mengungkapkan perasaannya. Nathan tidak ingin membuat persahabatan yang sudah terjalin sejak kecil hancur. Saat ini gadis itu sedang berada di London mengunjungi Tante nya yang baru saja melahirkan anak kedua.
Selesai berbalas pesan pandangan Nathan lalu tertuju pada paper bag di depannya. Cowok itu lalu menoleh ke arah dapur, terlihat Naya yang sedang sibuk berberes.
Nathan mengambil paper bag tersebut lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Ternyata hanya sebuah baju rajut biasa. "Jangan-jangan ini buat orang yang mau dia temui," guman Nathan. Dia tersenyum miring lalu menuju kamarnya sambil membawa baju rajut tersebut.
Di lain sisi Naya yang baru selesai membersihkan dapur lalu berpindah ke ruang tamu. Di saat tengah sibuk mengepel lantai, perhatian Naya tak sengaja tertuju ke meja tempat ia meletakkan tas dan paper bag nya tadi. Mata gadis itu terbelalak melihat paper bagnya tak ada di sana.
Melihat pintu kamar Nathan terbuka perasaan Naya jadi tidak enak. Dia lantas membuang pel lalu berlari ke kamar Nathan. Naya memetang di amvang pintu, air mata Naya langsung menetes ketika melihat baju rajut yang sudah susah payah ia buat untuk diberikan ke Kak Adit, justru malah di gunting oleh Nathan.
"Apa yang lo lakuin? Balikin rajut gue!" teriak Naya nyaring. Dia mendekati Nathan dan berusaha mengambil rajut tersebut. Tetapi Nathan malah mengangkatnya tinggi-tinggi, membuat Naya yang pendek tidak bisa menjangkaunya.
"Gimana kalau gue nggak mau?" tantang Nathan. Naya menarik-narik baju Nathan agar cowok itu mah menurunkan tangannya.
"Balikin!" seru gadis itu. Karena emosi ia semakin kuat menarik kemeja Nathan sehingga dua kancing cowok itu copot dan melihatkan d**a bidangnya. Nathan membelalakkan mata.
"Kemeja gue lebih mahal, gak sebanding sama rajut sampah lo ini!" bentak cowok itu.
PLAK!
Naya menampar Nathan keras. Ia sangat marah karena cowok itu telah menghina rajut yang sudah payah ia buat. Ternyata benar, cinta mampu membuat seseorang melakukan apa saja. Bahkan Naya yang semulanya takut pada Nathan, kini telah berani menampar cowok itu hanya karena hadiah yang akan Naya berikan untukk orang yang dia cinta dirusak.
Rahang Nathan mengeras, giginya bergemeletuk. Cowok itu melempar rajut tersebut lalu mendorong Naya kencang sehingga membuat gadis itu terjatuh ke ranjang yang ada di belakangnya.
Nathan ikut naik, tubuhnya kini ada di atas Naya. Ia menyentuh leher gadis itu, seolah-oleh tengah memberi peringatan ia bisa saja mencekiknya. "Lo jangan remehin gue. Bahkan gue bisa bikin lo mati sekarang tanpa ada yang tahu kalau gue pelakunya."
"Tol—"
Nathan langsung membekap mulut Naya ketika gadis itu hendak berteriak. Wajah Naya kini sudah dibanjiri air mata, ia ketakutan.
"Astagfirullah! Apa yang kalian lakukan!" teriak Mama Naura yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu, wanita itu baru saja datang. Dia terlihat sangat terkejut sampai-sampai plastik belanjaannya jatuh dan buah-buahan serta cemilan yang ia beli berjatuhan di lantai. Wanita itu datang untuk mengisi kulkas Nathan. Ia tidak menyangkan akan melihat perbuatan tidak senonoh di sana. Lebih kagetnya lagi Nathan melakukannya dengan karyawannya.
Mata Nathan melotot sempurna. Ia buru-buru bangkit dari tubuh Naya dan menghampiri mamanya.
"Jadi ini alasan mengapa kamu sering tinggal di apartemen? Supaya kamu bisa bawa perempuan ke sini dan berzina!" bentak Mama Naura, d**a wanita itu kembang kempis karena emosi.
"Mama salah paham. Ini tidak seperti yang mama lihat. Nathan gak ngelaku—"
"Kamu pikir mama buta! Mama lihat sendiri kamu ada di atas Naya!" seru Mama Naura.
"Mama akan telpon papa kamu!" Dengan emosi yang menggebu wanita itu langsung menelepon suaminya.
***
PLAK!
Papa Aril menampar wajah Nathan keras.
"Memalukan! Kelakuan kamu ini sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Jika sampai media tahu, mau ditarok di mana muka papa! Perusahaan kita juga akan kena imbasnya!" bentak Papa Aril.
"Nathan beneran tidak berbuat m***m, Pah. Papa dan mama tanya saja ke dia!" balas Nathan yang mulai kesal. Sudah susah payah ia menjelaskan tetapi orang tuanya tetap tidak percaya. Lebih kesalnya lagi Naya malah diam saja sambil menangis dan tidak membantunya berbicara.
"Kalian mungkin bisa saja bersekongkol untuk berbohong. Lagian mama sudah melihat sendiri dengan mata kepala mama, kalian berduaan di kamar dengan posisi yang intim.
Mama mau mereka berdua dinikahkan. Biar Nathan sadar gimana rasanya berumah tangga dan jadi orang tua, selama ini dia begitu keras kepala dan nggak pernah dengerin nasehat orang tuanya" pungkas ibu dua anak itu yang seketika membuat Nathan dan Naya terkejut.
"Papa setuju dengan mama kamu," sahut Papa Aril.
"Nggak, Mah. Nathan nggak mau."
"Jangan, Bu. Saya dan Nathan tidak berbuat zina. Saya tidak berbohong, tolong percaya sama saya."
"Kali ini saya tidak bisa percaya sama kamu Naya. Keputusan saya dan Papa Nathan sudah bulat. Hari ini juga kami akan ke rumah kamu."
"Dan kamu Nathan, jika kamu menolak pernikahan ini kamu akan papa coret dari ahli waris dan semua fasilitas yang papa beri ke kamu akan papa sita," ancam Papa Aril.