Bab 05

1186 Kata
Sore hari mobil Keluarga Cristian berhenti di depan rumah Naya. Gadis dengan rambut sepundak itu duduk di kursi belakang di sebelah Nathan. Air matanya tidak berhenti luruh. Jantungnya kini berdebar sangat kencang, ia takut. Seluruh anggota keluarganya pasti sudah di rumah saat ini. Naya tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi mama dan abangnya nanti. Mungkin ia bisa saja dibunuh. Rasanya ia tidak berani keluar dari mobil. "Ini beneran rumah kamu Naya?" tanya Bu Naura. Naya hanya mengangguk. Nathan tahu apa yang ada di pikiran mamanya saat ini. Rasanya ia sungguh tidak percaya. Dilihat dari rumah Naya sepertinya keluarga gadis itu adalah orang yang lumayan berkecukupan, lalu untuk apa Naya bekerja di cafe. "Mari turun!" ajak Papa Aril. Sesampainya di teras Papa Aril memencet bel. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Mbok Arum menatap orang di depannya bergantian, pandangannya lalu tertuju pada Naya. "Non Naya," lirih wanita paruh baya itu. "Saya ingin bertemu dengan orang tua Naya," ucap Papa Aril. Mbok Arum mengajak mereka untuk masuk dan menyuruh mereka duduk di sofa. Ia lalu pamit untuk memanggil majikannya. "Anda mencari saya? Ada apa ini?" Mama Monika langsung melontarkan pertanyaan ketika melihat tamu tidak dikenal datang ke rumahnya. Tidak lama kemudian datang Bang Gilang bersama Inara yang menggendong seekor kucing anggora berbulu putih. Nathan dan kedua orang tuanya terlihat kaget ketika melihat Inara. Tidak menyangka Naya punya kembaran. "Lo cowok yang hampir nabrak kucing gue, 'kan?" seru Inara sambil menunjuk ke arah Nathan. Cowok itu masih belum merubah ekspresinya, ia tampak kebingungan menatap Naya dan Inara bergantian. Jadi, gadis itu kembar dan orang yang menyiramnya adalah Inara, bukan Naya. Berarti ia telah salah paham mengira Naya adalah gadis yang cek-cok dengannya di jalan Naya. "Anda Pak Aril Crishtian Deo, 'kan? Pemilik PT. Deo Tanujaya," tutur Bang Gilang. "Anda benar," balas Papa Aril. Ia lalu meminta keluarga Naya untuk duduk agar mereka bisa berbicara serius. "Ada perlu apa sehingga anda ingin menemui saya?" tanya Mama Monika, matanya lalu tertuju pada Naya yang duduk di sofa tunggal sambil menunduk dan meneteskan air mata. Dari raut wajahnya, ia merasa pasti gadis itu sudah membuat kesalahan. Entah kesalahan apa lagi yang dia buat kali ini. Papa Aril lalu menjelaskan semuanya tentang apa yang dilihat istrinya di apartemen. Ia juga meminta maaf atas perbuatan putranya. Naya memperhatikan tangan mamanya yang tiba-tiba mengepal selama papanya Nathan berbicara. Hal tersebut membuat badannya gemetar ketakutan. "Jadi maksud kedatangan kamu ke sini ingin melamar Naya untuk menjadi istri dari putra saya Nathan," ucap Papa Aril. Naya tiba-tiba menyela. Ia tidak akan membiarkan dirinya menikah dengan Nathan. "Tolong percaya sama Naya, Mah. Naya tidak mungkin melakukan hal itu. Naya berani bersum—" "Saya juga minta maaf atas perbuatan yang dilakukan putri saya. Saya setuju untuk menikahkan putri saya dengan putra anda," ucap Mama Monika, memotong perkataan Naya. Dia sama sekali tidak mau memberikan Naya kesempatan untuk menjelaskan. Naya bergeming. Ia merasa kecewa karena mamanya menerima lamaran dari keluarga Nathan begitu saja, hatinya sakit. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk berbicara sedikit pun. Andai mamanya tahu Nathan bukanlah pria baik. Naya tidak ingin menikah dengan cowok itu. Namun, sekarang Naya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Lamaran itu sudah terlanjur diterima dan sebentar lagi ia akan menjadi istri Nathan. Bahkan membayangkan serumah dengan Nathan sudah membuat Naya takut. "Lebih cepat lebih baik, jadi saya memutuskan pernikahan Nathan dan Naya dilakukan dua hari lagi," ucap Papa Aril. "Saya setuju," jawab Mama Monika. Dapat dibayangkan bagaimana tertekannya Naya saat ini. Setelah menentukan tanggal pernikahan Keluarga Cristhian lalu pamit pulang. Begitu mereka telah pergi Bang Gilang tiba-tiba menampar Naya. "Gadis murahan. Kamu sudah membuat keluarga ini malu. Apa kamu tidak punya harga diri? Apa karena uang lalu kamu menjual diri ke laki-laki kaya itu?" bentak Bang Gilang. Naya hanya bisa diam mendengar makian dari abangnya, ia terlalu takut untuk menjawab. Mama Monika yang ikut emosi lalu menarik Naya dan mendorongnya sehingga membuat Naya terjatuh ke lantai. Wanita itu memukul punggung Naya berulang kali sambil meneriakinya p*****r. "Ampun, Mah. Sakit...," cicit Naya menahan kesakitan. Dari belakang Mbok Arum memperhatikan Naya yang tengah disiksa sambil berurai air mata, ia kasihan melihat gadis malang itu. Selama ini Naya sudah banyak menderita. "Belum cukupkah kamu membuat saya dan anak-anak saya kehilangan orang yang kami sayang. Sekarang kamu ingin membuat malu keluarga ini! Kenapa kamu selalu membawa petaka bagi keluarga ini! teriak Mama Monika emosi. "Naya berani bersumpah tidak berzina dengan Nathan. Tolong percaya sama Naya, Mah. Naya nggak mau nikah sama pria itu." "Berhenti panggil saya mamah. Anak saya cuma dua, Gilang dan Nara. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah memaafkan kamu. Lebih bagus jika kamu menikah, biarkan keluarga lelaki itu mengambil kamu dan jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Saya tidak menginginkan anak pembawa sial seperti kamu. Kamu harus mau menikah dengan anak pria kaya itu. Jangan berani kabur dan membatalkan pernikahan. Saya akan membenci kamu seumur hidup jika kamu sampai melakukan itu," peringat Mama Monika. Naya menangis tersedu sambil memegang dadanya. Hatinya bagai tertusuk ribuan belati mendengar kata-kata mamanya yang sangat menyakitkan. Apakah ia tidak memiliki kesempatan untuk dianggap sebagai anak lagi? Naya sungguh rindu pelukan mamanya yang sudah sepuluh tahun tidak pernah ia rasakan, ia bahkan telah lupa bagaimana hangatnya pelukan mama. Ia rindu mendengar sang mama memanggil namanya. Ia rindu mengobrol dan makan bersama keluarga di meja makan. Selama ini Naya bertahan di rumah itu menunggu keajaiban tiba yang membuat keluarganya peduli lagi padanya. Namun, sekarang semua itu hanya akan menjadi sebuah mimpi yang takkan pernah terwujud bagi Naya. Rasa benci keluarganya sangat besar padanya. Naya merasa hidup sebatang kara selama ini. Ia merasa tidak punya keluarga karena kehadirannya selalu diabaikan. Tidak ada yang mendengar ceritanya. Setiap malam ia hanya bisa menangis sendiri di kamar. Rasanya Naya sudah tidak sanggup lagi bertahan dalam kehidupan yang menyedihkan ini. Dunianya terlalu kejam. *** "Saya terima nikah dan kawinnya Putri Inaya Devanka binta Alfa Surya Devanka dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Bagaimana para saksi, sah?" "Sah!" Kini Naya dan Nathan telah sah menjadi pasangan suami istri. Pernikahan mereka dilakukan secara tertutup dan sederhana di kediaman Naya. Nathan tidak ingin ada resepsi, bahkan teman-teman dekatnya saja tidak diberi tahu bahwa ia menikah hari ini. Nathan bahkan juga membujuk orang tuanya agar tidak menyebarkan berita pernikahannya ini ke media sosial atau pun orang-orang. Katanya cowok itu tidak mau orang-orang mengetahui dirinya menikah muda dengan gadis 19 tahun, hal itu bisa membuat publik berasumsi yang tidak-tidak dan membuat citra keluarga dipandang buruk. Dia beralasan pada orang tuanya dan keluarga Naya agar dirinya sendiri yang mengumumkan pernikahannya ke orang-orang jika waktunya sudah tepat. Awalnya Mama Naura menolak karena menurutnya usulan Nathan itu cukup aneh, ia seolah paham betul bagaimana sifat putra pertamanya itu. Namun, karena pihak dari keluarga Naya setuju ia pun terpaksa harus menyetujuinya. Selesai memasangkan cincin Nathan disuruh untuk mencium Naya. Cowok itu terpaksa harus melakukannya karena semua orang menatap ke arahnya. Ketika hendak melakukannya, bayangan ketika Naya menamparnya di apartemen seketika muncul dan membangkitkan amarahnya. Selesai mengecup kening Naya, Nathan mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Bersiaplah, karena setelah ini mimpi buruk akan menyambutmu, Istriku," bisik Nathan penuh penekanan sehingga membuat tubuh Naya menegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN