Bab 06

1557 Kata
Naya menyusul Nathan turun dari mobil. Gadis itu lalu berdiri melamun menatap rumah yang berdiri kokoh dan megah di hadapannya. Rumah itu terdiri dari dua lantai dan merupakan kado pernikahan dari orang tua Nathan. 'Mama ingin kamu tinggal berdua sama Nathan supaya kalian makin saling mengenal dan belajar hidup berumah tangga.' Kira-kira begitu pesan Mama Naura kepada Naya. "Malah bengong di situ, koper lo nih bawa sendiri!" bentak Nathan yang baru saja menurunkan koper dari bagasi, membuat Naya yang sedang melamun terlonjak kaget. Naya mengangguk dan bergegas mengambil kopernya karena tidak ingin membuat Nathan tambah marah. Cowok itu berjalan memasuki rumah lebih dahulu sambil membawa koper miliknya sendiri. "Walau kita udah nikah, jangan harap bakal ada malam pertama. Gue juga nggak sudi seranjang sama lo," pungkas Nathan yang berhenti di ruang tengah. "Kamar gue di lantai atas. Lo terserah mau tidur mana. Dan jangan bilang ke orang tua gue kalau kita pisah kamar. Awas aja kalau lo sampai ngadu. Jika bukan terpaksa, gue nggak mau nikahin lo. Jadi, tetaplah bersikap seolah-olah kita bukan suami istri karena cepat atau lambat gue akan menceraikan lo. Jangan pernah ikut campur urusan pribadi gue, termasuk dengan siapa gue bergaul. Lo juga nggak berhak marah jika gue menjalin hubungan sama cewek lain. Gue juga nggak akan ikut campur urusan pribadi lo. Satu lagi, jangan pernah cerita ke siapa pun tentang pernikahan ini. Pernikahan ini cuma status. Gue tetap masih anggap lo babu gue, jadi lo masih punya tanggung jawab untuk turutin semua perintah gue," sambung Nathan. Naya hanya diam dan tidak berani menjawab, walau sebenarnya perkataan Nathan cukup menyayat hati. Setelah mengatakan itu Nathan lalu meninggalkan Naya, menuju ke kamarnya di lantai atas. Sedangkan Naya, dia lebih memilih untuk tidur di kamar lantai bawah. Sesampainya di kamar gadis itu langsung menyusun semua pakaiannya ke dalam lemari. Naya mematung ketika mendapati foto keluarganya yang ia masukan ke dalam koper sebelum pergi dari rumah. Naya duduk di ranjang sambil memandangi foto tersebut. Air matanya tiba-tiba luruh. Hatinya kembali merasa pilu. "Mama, Naya pengen pulang," cicit gadis itu. Ia bahkan tidak sanggup membayangkan tinggal di rumah ini untuk waktu yang lama, rasanya ingin cepat pergi dari sana dan bercerai dari Nathan. Ia lebih baik tinggal dirumahnya walau diabaikan keluarga, daripada harus tinggal berdua di rumah tersebut dengan Nathan. Sekarang hanya foto itu yang Naya punya sebagai kenang-kenangan. Foto keluarga itu diambil ketika dirinya masih kecil. Saat dewasa dirinya tidak pernah sekalipun diajak untuk foto keluarga. Bahkan di dinding rumah keluarganya hampir tidak ada fotonya saat dewasa yang terpajang. Kini Naya benar-benar hidup sebatang kara. Ia tidak tahu lagi ke mana dirinya harus pergi jika telah bercerai dari Nathan. Dirinya sudah tidak punya rumah. Jangankan kembali ke rumah keluarganya, ia datang untuk berkunjung saja sudah tidak diperbolehkan. Keluarganya benar-benar ingin putus hubungan dengannya. Naya tidak mengerti kenapa takdir begitu kejam padanya. Sudah lama ia memendam semua lukanya sendiri, tanpa berani bercerita ke siapapun. Bahkan tubuhnya jadi kurus karena memikirkan masalahnya yang banyak. Tiba-tiba saja Naya teringat dengan Kak Adit. Bagaimana kabar cowok itu sekarang? Apa dia membenci Naya karena mengingkari janji tanpa memberi tahu Kak Adit bahwa dirinya tidak jadi datang ke Cafe? Kak Adit pasti menunggu Naya sangat lama di sana pada hari itu. Naya merasa tidak sanggup lagi berjumpa dengan cinta pertamanya itu. Ia bahkan juga tidak sanggup membalas pesan Kak Adit. Harapan Naya yang selama ini memimpikan menikah dengan Kak Adit sudah pupus. Kini yang tersisa adalah usaha untuk belajar melupakan cowok itu. Kak Adit pantas mendapat perempuan yang lebih baik dan belum pernah menikah karena cowok itu juga masih single . *** Pagi hari Naya sudah pergi berbelanja membeli kebutuhan dapur. Sesampainya di rumah ia langsung berkutat di dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan Nathan. Kerena hari ini adalah hari minggu jadi dirinya tidak pergi ke kampus. Naya tidak tahu peran apa yang dijalankannya saat ini, entah sebagai seorang istri atau masih babu Nathan? Karena sebelum menikah pun setiap pagi dirinya sudah bertugas menmbelikan sarapan untuk Nathan. Naya selesai menghidangkan sarapan itu di meja bersamaan dengan Nathan yang baru saja keluar dari kamar. Cowok itu masih mengenakan baju tidurnya. Dia ke dapur untuk mengambil minum. "Kebetulan lo udah turun, masakannya baru aja matang. Lo mau mandi dulu atau sarapan, Kak?" tanya Naya. Brak! Nathan memukul meja makan sehingga menimbulkan bunyi yang keras dan membuat Naya terlonjak kaget. Gadis itu sepertinya telah lupa perkataan Nathan kemarin. "Udah gue bilang gak usah berlagak seperti seorang istri. Jalani aja hidup lo sendiri, gak usah peduliin gue di rumah ini. Gue nggak akan pernah mau makan masakan lo," ketus Nathan. "Bukannya sebelum menikah gue sering beliin lo sarapan. Anggap aja gue lagi melakukan peran itu sekarang," balas Naya dengan raut wajah sedikit murung. Padahal ia sudah susah payah bangun pagi-pagi untuk memasak semua makanan itu. "Lo nggak boleh melakukan apa pun sesuka lo. Lo masih gue anggap babu, gue yang menentukan mau makan apa dan pastinya itu adalah makanan yang dibeli, bukan masakan lo. Tugas lo sebagai babu adalah lakuin dengan benar perintah gue. Lo gak perlu repot-repot masak karena gue sama sekali nggak nyuruh lo buat lakuin itu. Gue nggak akan pernah mau mencicipi masakan lo. Jadi, sekarang buang semua makanan ini!" perintah Nathan dengan suara menggelegar. Cowok itu lalu kembali lagi ke kamarnya. Naya termenung memandangi makanan di meja makan dengan tatapan sendu. Dari pada makanan itu dibuang dan mubazir, lebih baik ia sendiri yang memakannya. Makan sendirian sudah jadi hal yang biasa baginya, karena semenjak sepuluh tahun yang lalu keluarganya tidak pernah lagi makan di meja yang sama dengannya. Membayangkan hal itu tiba-tiba saja membuat air mata Naya luruh. Ia teringat keluarga yang selama ini tidak pernah menganggap keberadaannya, tetapi bodohnya Naya masih merindukan mereka. Rasanya ia ingin pulang. Ia tak sanggup tinggal berjauhan dengan sang mama. *** Semua mata yang ada di kantin tertuju pada seorang gadis cantik berambut panjang yang kini tengah berlari menghampiri Nathan. "Hai, Bro!" seru gadis itu sembari menepuk keras pundak Nathan, Alex, dan Devan bergantian. Percayalah, di kampus tersebut hanya gadis itu yang berani melakukan hal tersebut. Karena hanya dia yang tidak akan dibenci oleh Nathan. Dia adalah Sasha—sahabat sekaligus tetangga Nathan dulu. Semenjak neneknya meninggal Sasha dan keluarganya sudah pindah ke rumah sang kakek, tinggal bersama pria tua itu agar dia tidak kesepian. "Buset, makin bening aja lo setelah balik dari London. Bikin hati Abang Alex makin terpana." Penyakit Alex si cowok playboy kambuh lagi. Bahkan sahabat Nathan sendiri pun dia goda. "Diem lo, buaya! Gombalan lo nggak mempan buat gue," ketus Sasha. Dia lalu mendudukkan dirinya di kursi sebelah Nathan. "Lo kapan balik dari London? Kenapa gak kasih tahu gue dulu?" tanya Nathan yang tampaknya masih terkejut melihat Sasha ada di sebelahnya. "Semalam. Sengaja nggak ngasih tahu biar lo terkejut. Eh, btw Kenzo mana? Di kelas tadi dia juga nggak masuk." "Kenapa tanya kita, 'kan lo yang sekelas sama dia," sahut Devan. "Karena gue nggak tahu makanya gue tanya kalian. Kalian, 'kan juga temannya," balas Sasha. Mahasiswi jurusan hukum itu tiba-tiba murung, seperti ada hal yang mengganggu hatinya. "Kita juga nggak tahu Kenzo di mana," balas Devan. "Eh, ada Naya tuh. Tumben banget lo gak nyuruh-nyuruh dia hari ini." Alex mengedikkan daguunya ke arah Naya yang baru saja tiba di kantin bersama Maudy. Nathan sungguh tidak tertarik untuk menoleh pada gadis itu. Semenjak gadis itu menjadi istrinya rasanya Nathan sudah malas melihat wajahnya. Sasha mengikuti arah pandangan Alex. Dia lalu menoleh pada Nathan sambil melototkan mata. "Lo jadiin anak orang babu lagi? Jahat banget lo," berang Sasha yang tidak habis pikir dengan Nathan. Entah kapan sahabatnya itu akan berubah. Nathan hanya diam saja, seperti tidak menghiraukan perkataan Sasha. "Mau ke mana lo?" tanya Nathan ketika Sasha bangkit dari duduknya. Gadis itu tidak menjawab. Dia menghampiri Naya. "Hai, gue boleh duduk di sini?" tanya Sasha. Naya dan Maudy saling tatap, sedikit terkejut ada seorang gadis yang ingin bergabung dengan mereka. "Boleh," jawab Naya seraya tersenyum sungkan. Sedangkan dari kejauhan Nathan menatap tidak suka sahabatnya dekat dengan Naya. "Kenalin gue Sasha, sahabatnya Nathan." Sasha mengulurkan tangannya. Naya langsung terkesiap, tidak menyangka yang menghampirinya adalah gadis yang sering dibicarakan orang-orang di kelasnya. Ternyata Sasha memang sangat cantik seperti apa yang orang-orang bilang. "Gue Maudy," sahut Maudy sambil menjabat tangan Sasha. "Berarti lo yang namanya Naya?" Naya terlihat tidak terkejut kenapa Sasha bisa tahu namanya. Semenjak dirinya menjadi babu Nathan ia mendadak viral di kampus, beberapa teman kelasnya bahkan ada yang menjauhinya. "Iya, Kak." Naya membalas uluran tangan Sasha. "Lo pasti tersiksa ya karena Nathan jadiin lo babu. Sebagai sahabatnya, gue minta maaf atas sikap Nathan," tutur Sasha. Sejatinya gadis itu adalah perempuan yang baik dan berhati lembut, dia juga sangat ceria. "Ayo pergi!" Nathan tiba-tiba datang dan menarik Sasha, menyuruh gadis itu berdiri. "Lo gak perlu minta maaf sama dia. Dia pantas mendapatkan itu semua. Dan lo—" Nathan menunjuk Naya dan menatapnya tajam. "Jangan lupa nanti bersihin markas gue, sampai bersih. Awas kalau sampai nggak bersih lo gue hukum!" bentak Nathan lalu mengajak Sasha pergi. Naya terdiam menunduk dengan wajah sendu. 'Dia pantas mendapatkan itu semua' kalimat itu terngiang-ngiang di ruang kepala Naya saat ini dan melukai hatinya. Kenapa kebencian Nathan padanya begitu besar? Padahal kesalahan yang dilakukan Naya hanya kecil. Dia hanya tidak sengaja menjatuhkan makanan yang dibeli Bobby untuk Nathan, tetapi Nathan membalasnya terlalu kejam dan membuat Naya sangat tersiksa. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN