Ametta duduk dengan kaki bersilang nan elegan mengahadap ke arah Dimana James juga duduk tepat di depannya, sejak sepuluh menit berlalu mereka hanya duduk diam tanpa sepatah katapun dan hanya saling pandang seakan mereka bisa berbicara melalui telepati dan yang menjadi korbanya adalah Carlos karena dirinya sampai saat ini masih diam mematung tepat di sebelah James tanpa ada perintah untuk dirinya boleh keluar, Carlos rasa akan lebih mudah bagi dirinya jika James atau salah satu dari mereka mengusir dirinya saja.
"Miss.Sanders mungkin anda memerlukan sesuatu?" tanya Carlos mencoba memecah keheningan di antara mereka, ya keheningan yang hampir mencekik leher Carlos.
"wine burgundy 1945" jawab Ametta sambil sedikit menaikkan dagunya dan menatap kearah Carlos, dan Carlos hanya menatap Ametta dalam diam dan tidak tahu harus menjawab apa, karena minuman yang diminta oleh Ametta adalah minuman favorit tuannya juga yang merupakan wine termahal didunia yang harganya mencapai $558 dan hanya tersedia 30 botol saja, sejenak Carlos melirik ke arah James yang masih menatap Ametta tanpa eksfresi
"siapkan Carlos.!!" ucap James mengetahui jika kaki tangannya itu tengah menatapnya, dan saat itu Carlos bisa bernafas lega, akhirnya dirinya bisa keluar dari perang mata antara mereka.
Setelah sepeninggalan Carlos, James sedikit membungkukkan tubuhnya dan meletakan kedua tangannya pada lutut untuk bertumpu sehingga membuat dirinya bisa melihat Ametta dengn lebih dekat dan tentunya lebih mengintimidasi.
"Jadi apa yang membuatmu datang dan mengacaukan rapatku.?" tanya James membuat Ametta membalas tatapannya namun masih dengan sikap santai dan angkuhnya.
"aku mengacaukan rapatmu.? Ck yang benar saja, aku hanya membantu bawahanmu agar mereka lebih relaks dengan adanya diriku, kau terlalu mengintimidasi bawahnmu mr.Walker, apa kau memang seperti itu pada siapun.?"
Tidak
"Iya, itulah diriku." jawab James
"Ah pantas saja, mereka hampir saja mati di ruang rapat karena tegang jika aku tidak segera datang"
"hentikan omong kosongmu, kita bicarakan yang ingin kau katakan." potong james membuat Ametta menurunkan kakinya dan kini melipat tangannya
"aku ingin membicarakan tentang kita."ucap Ametta membuat James menaikkan sebelah halisnya.
"Kita." gumamnya
"ya kita, aku tidak ingin menikah denganmu." ucap Ametta sambil menatap dan memperhatikan raut wajah James yang tanpa eksfresi.
"jadi kau akan menikah dengan pianis itu.?" tebak James membuat Ametta semakin yakin bahwa lelaki di hadapannya ini pasti sudah tahu semuanya.
"Ya tentu saja, aku mencintainya pasti aku akan menikahinya kelak" jawab Ametta membuat James mengerutkan keningnya.
"tapi kali ini aku membutuhkan pernikahan ini" lanjut Ametta membuat James tersenyum meremehkan.
"Lalu.?"
"Kita akan membuat perjanjian pra nikah"
"Kau fikir aku setuju" jawab James meremehkan
"Kau harus setuju, Mau tidak mau kita akan membuat Perjanjian pranikah" lanjut Ametta membuat James mengeluarkan Smirknya.
"Ametta Sanders kau terlalu percaya diri sekali, kau fikir aku setuju dengan pernikahan ini, aku Bahkan menolaknya" jawab James membuat Ametta menatapnya tajam.
"Kita tidak akan melakukan perjanjian pra nikah karena kita memang tidak akan pernah menikah." lanjut James membuat tangan Ametta mengepal seakan dirinya yang kini telah di tolak oleh Lelaki di depannya ini, bagaimana bisa seorang Ametta Sanders mendapatkan penolakan dan Ametta tidak bisa membiarkan itu terjadi.
"Hahahahah." Ametta memaksakan tawanya ya semoga terlihat seperti tawa mengejek oleh James meskipun rasanya sekarang Ametta ingin memukul kepala james dengan sepatu Heelsnya.
"Lalu untuk apa Grandpa mu itu memaksa kakekku untuk membujukku agar bersedia menerima pernikahan ini hah."ucap Ametta dengan sisa tawa masih dia selipkan disetiap katanya.
"Are you seriously.? Tanya James dengan tampang mengejek
"Apakah kau tidak bertanya pada kakekmu siapa yang akan menikah denganmu, apa kau tidak curiga, siapa tau yang kakekmu maksud adalah grandpa ku sendiri yang hendak dia jodohkan denganmu"
What the....
Batin Ametta rasanya benar -benar ingin melemparkan sesuatu kedalam mulut James, tapi tunggu dirinya harus mengingat ngingat saat dimana kakekknya memaskanya agar menikah, argghhh sial Ametta meringis saat dirinya tidak mengingat ucapan kakeknya dengan siapa dia akan dijodohkan bukankah kakeknya berkata akan menjodohkannya dengan cucu temannnya, ya itu benar cucu dari temannya bukan kakek dari temannya bukan .fikir Ametta menenangkan dirinya sendiri.
"kau lucu sekali mr.Walker, jika bukan kau yang akan menikah denganku lalu untuk apa kau datang di acara makan malam itu, bukankah pada malam itu kau berkata dengan mesra padaku mengatakan bahwa diriku ini calon istrimu" jawab Ametta tidak ingin kalah dengan seorang James
"Kau kira untuk apa aku datang, tentu saja untuk melihat pertunjukan antara sepasang kekasih yang akan berpisah pada malam itu, bukankah itu pertunjukan yang menyenangkan, aku takut jika Grandpa sendiri yang datang dia tidak akan tega melihat kalian menangis sambil berpelukan,kau tahu bukan grandpaku itu orang yang berhati lembut, untuk itu aku lebih memilih menggantikannya pada malam itu"ucap James membuat Ametta kali ini benar -benar kesal
"Hentikan omong kosongmu itu" sentak Ametta membuat James malah menyunggingkan senyumnya, akhirnya James bisa membangkitkan seorang Ametta Sanders yang sulit mengendalikan emosinya.
Ametta berdiri dari duduknya dan menatap James dengan perasaan marah semakin marah saat James menampilkan wajah mengejeknya yang menyebalkan.
"Kau fikir aku ini mainan huh, baik kita lupakan masalah rencana pernikahan ini, dan jangan harap aku mau menyetujui nya untuk yang kedua kali sebelum kau dan grandpamu sendiri yang memohon padaku."ancam Ametta setelah itu menghentakan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan James dan juga pemiliknya yang masih menatapnya dengan tatapan mengejek,
Brak
Bahkan Ametta menutup pintu ruang kerja James dengan sekuat tenaga, dirinya benar -benar merasa dipermalukan, baru kali ini ada lelaki yang dengan lancangnya mempermainkan dirinya jika saja bukan karena keluarganya dan juga Sean,
Argghhhh benar mungkin karena ancaman kakeknya saja Ametta mau dan setuju dengan perjodohan konyol ini, jika saja kakeknya itu tidak mengancamnya akan menghancurkan masa depan Sean, Ametta benar -benar tidak akan mau mengikuti rencana bodohnya ini.
Ametta terus berjalan dengan perasaan kesal sebelum seseorng menghentikkan langkahnya.
"Miss anda sudah selesai.?" tanya Carlos saat berpapasan dengan dirinya di ikuti seorang pelayan Hotel yang membawa sebuah nampan dan sebotol wine beserta dua gelas kristal di atasnya.
"Ya dan katakan pada tuanmu untuk bersiap -siap berlutut di hadapanku nanti" kesal Ametta dengan tatapan murka kepada Carlos, Ametta kemudian melanjutkan kembali langkahnya namun baru dua langkah dia kembali berbalik dan berjalan kehadapan pelayan Hotel dan mengambil satu botol wine dan membukanya tepat di hadapan Carlos lalu meneguknya langsung dari botol, Carlos mengerutkan keningnya sambil terus menatap Ametta yang seperti orang kehausan meneguk wine,
Setelah dirasa cukup, Ametta menurunkan botol wine tersebut dan kembali menatap Carlos
"Aku harap kau juga tidak lupa dengan pemotongan gajih wanita lancang tadi" lanjut Ametta kemudian kembali melanjutkan langkahnya sambil membawa sebotol wine pergi bersama dirinya.
Carlos menggelengkan kepalanya sambil menatap kepergian Ametta perasaannya kali ini sedang tidak baik, pasti sesuatu terjadi di antara mereka pikir Carlos.
Carlospun melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja James, dia hanya perlu mengetuk pintu James satu kali dan akan langsung masuk, itu sudah mejadi kebiasaan dan juga peraturan bagi Carlos, berbeda dengan karyawan yang lainnya yang harus menunggu di panggil atau di persilahkan untuk masuk keruangan James.
"Tuan." ucap Carlos sambil membungkuk hormat, Carlos memperhatikan tuannya yang sedang membelakanginya
"apa dia sudah pergi.?"tanya James
"Ya dengan minumannya juga" jawab Carlos, James memutar kursi kebesarannya dan Carlos bisa melihat ujung bibir James yang berkedut seperti menahan tawa. Diluar dugaan, dirinya kira akan menemukan tuannya dengan kondisi hati yang buruk tapi Carlos hafal betul bagaimna sifat tuannya itu, dan yang bisa dia lihat sepertinya James sedang mengalami hal baik, Apa karena Seorang Ametta fikir ,Carlos.
"Ah bagus lah, hanya dengan membawa minumannya, aku kira dia akan menghancurkan salah satu guci didepan atau memaki maki salah satu karyawan kita"tebak James
"Tidak, Hanya saja dia mengingatkan untuk memotong Gajih Lidya"
"siapa dia.?"tanya James, satu yang harus kalian tahu, mungkin dari beribu karyawannya James hanya akan mengingat nama Carlos saja, dan itu cukup baginya. Sisanya biar orang kepercayaannya itu yang menghafal semua nama yang harus dia tahu.
"Dia sekertaris kita yang menghalangi jalan Miss.Sanders untuk menemui anda"
"Kakau begitu lakukan" ucap James membuat Carlos menaikkan sebelah halisnya
"Potong saja gajihnya" lanjut James memperjelas perintahnya dan Carlos hanya mengangguk patuh, dia tidak ingin mempertanyakan keputusan tuannya itu, dan Carlos cukup mengerti.
Sedangkan di tempat lain
Ametta berjalan keluar dari Hotel Walker dengan Wine di tangannya, sesekali bahkan dia dengan acuhnya meneguk botol wine itu dan mengabaikan tatapan orang orang.
Ametta langsung berjalan mendekat ke arah mobilnya dan langsung melajukan mobilnya secepat mungkin.
Dirinya benar benar kesal. Kali ini dia butuh hiburan untuk menghilangkan kekesalannya.
Ametta kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo b***h what are you doing.?" tanya Ametta saat telponnya tersambung.
"..."
"aku memerlukan bantuanmu, kau selalu tahu bukan bagaimana menghilangkan rasa kesal yang selalu aku alami."
"..."
"ya of course, see you aku harap kau tidak memanggil para gigolo itu lagi, cukup kita dan beberapa botol minuman saja"setelahnya Ametta memutuskan sambungan telponnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju salah satu club ternama di Los Angeles.
Angel Brewery
Ametta menghentikan mobilnya setelah tiba di salah satu club malam paling terkenal di pusat kota Los Angeles.
Dia segera memberikan kunci mobilnya pada petugas di sana, dan langsung masuk.
Sebelum masuk tentunya Ametta mengeluarkan kartu anggota club, karena tidak sembarangan orang bisa masuk kedalam club malam dengan gaya mewah yang merupakan tempat para kalangan atas untuk menikmati malamnya, ya memang tempat seperti ini yang mau untuk Ametta datangi.
Ametta mengedarkan pandangannya mencari sessorang yang tadi sudah membuat janji dengannya.
"Metta here.!" teriak seseorang sambil melambaykan tangannya menatap kearah Ametta.
Ametta pun berjalan menghampirinya
Di sana sudah ada Rene, elena dan Taylor. ya mereka adalah ketiga sahabat, oh mungkin belum sedekat itu, karena bagi Ametta tidak ada yang pantas untuk menyandang sebagai seorang Sahabat untuk Ametta sanders, dirinya terlalu jauh untuk di jangkau, jadi mereka lebih pantas disebut sebagai teman saja, ya just friend.
Kecuali Alicia dan Andara tentunya.
Di depan mereka sudah berjajar beberapa minuman ber alkohon dan tentunya tanpa teman pria seperti yang Ametta pesankan sebelumnya.
Ametta duduk tepat di sebelah Taylor dan langsung menuangkan minuman beralkohol berwarna sedikit kuning ke emasan itu pada sebuah gelas cantik yang kemudian langung dia minum dengan sekali tegukan.
"Well kali ini apa yang membuat Ametta kita kesal"tanya Taylor sambil menatap Ametta yang entah sudah keberapa kali menuangkan minuman pada gelasnya
"biar aku yang tebak, pasti karena Alicia mengatur jadwal yang tidak sesuai dengan ke inginanmu"ucap rene
"No no tidak, aku yakin pasti karena Pacarnya lebih memilih tidur semalaman dengan piano ketimbang dirinya" tebak Elena dengan kekehan di selipkan di akhir kalimatnya dan kali ini mendapatkan respon dari Ametta, Ametta meletakkan gelasnya dengan kasar membuat ke tiga temannya saling pandang
Brakkk
"stop guessing my f*****g self" kesal Ametta, ketiga temannya benar benar membuat kepalanya semakin pusing,
"Jadi benar tentang Sean hem" kali ini Taylor sendiri yang bersuara, Taylor mengambil gelas minuman yang hendak Ametta teguk dan langsung meminumnya dengan satu tegukan
"ya aku yakin seperti iu, jadi apa grandpamu kembali mengancam Sean" tanya Taylor sambil tersenyum miris dan itu membuat Ametta semakin terbakar, pasalnya sedari dulu seorang taylor meskipun bisa di bilang teman tapi dirinya seperti bahagia jika melihat Ametta dan Sean dalam keadaan tidak baik baik saja, bahkan Ametta curiga jika taylor memang menaruh hati pada mantan kekasihnya itu.
"Jika memang iya, apa itu akan membuat dirimu senang slut" tanya sinis Ametta membuat Taylor terbahak bahak dan malah membuat Amtta semakin geram.
"Tentu saja dear, sudah berulang kali aku memberikan saran untuk melepaskan Sean, apa kau tidak kasiha padanya yang selalu mendapatkan ancaman dari kakekmu"ucal Taylor sambil mengelus lengan Ametta dan langsung mendapatkan tepisan, sedangan rene dan elena sudah merasakan aura perdebatan di antara mereka
"Ah Ametta bagaimana kalau kita ke lantai dansa, kurasa kita butuh pemanasan" ucap Elena mencoba kembali menenangkan suasana, karena dirinya melihat aura Ametta yang seperti hendak memangsa Taylor kali ini juga.
"Tapi kau masih bersikap keras kepala miss.Sanders"bukannya berhenti Taylor seakan sengaja memancing kemarah seorang Ametta.
"Stop your f*****g mouth. Taylor"Desis Elena saat melihat Ametta mengepalkan tangannya, namun ancaman elena seperti sebuah seruan untuk melanjutkan kebodohannya Taylor malah semakin mendekat kearah Ametta dan berbisik
"Aku bahkan tidak kuat melihat wajah tersakiti Sean saat kami menghabiskan malam____"
Plaaakkkkk
Bahkan Taylor tidak bisa melanjutkan perkataannya saat sebuah tamparan keras Ametta layangkan pada pipinya.
Seakan tidak memberikan jeda pada Taylor untuk membalas, Ametta langsung mendorong tubuh taylor dan naik keatasnya, dengan ganasnya Ametta mencakar wajah Taylor yang sangat menyebalkan di matanya, bukan hanya itu Ametta menjambak rambut pirang Taylor yang membuatnya terlihat seperti seorang b***h di mata Ametta.
Perkelahian Ametta dan Taylor menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung club, elena dan rene bahkan tidak bisa menghentikan kegilaan Ametta, mereka selalu kewalahan jika Ametta sudah hilang kendali seperti ini.
Dan elena merutuki dirinya karena membawa serta Taylor untuk bertemu Ametta, ya tadinya saat Ametta menghubunginya, elena berencana hanya akan membawa rene saja tapi siapa sangka Taylor bertemu dengan mereka. Mungkin sudah menajadi takdir Taylor yang menjadi amukan seorang Ametta.
Satu satunya cara untuk menghentikan kekacauan ini adalah dengan memanggil salah seorang penjaga club dan mereka gesit untuk melerai ametta dan Taylor.
Ametta meronta ronta saat salah seorang penjaga bertubuh kekar memeganginya, sedangkan Taylor terlihat lemah dengan penampilan yang sudah berantakan akibat ulah Ametta, bahkan untuk berdiri saja kaki taylor seakan bergetar lemas.
"Get off your damn hands, let me kill that b***h" pekik Ametta pada penjaga yang terus memegangnya dan tentu mengabaikannya.
"rene kau urus Taylor aku akan mengamankan macan itu" ucap Elena dan mendapatkan anggukan dari rene, rene langsung menarik tangan taylor sebelum ametta kembali lepas kendali sedangkan Ametta dengan sangat terpaksa harus di bopong seperti karung beras oleh penjaga dan membawanya ke salah satu ruang vvip club bersama elena.