"Akhirnya selesai juga!" Amanda menghirup oksigen dalam-dalam sambil meregangkan otot-otot yang terasa sangat kaku. Matanya yang lelah melirik ke arah Mira yang masih duduk di sampingnya.
"Aku ngantuk banget, matkul hari ini benar-benar membosankan!" Amanda mengeluh, Mira hanya menggelengkan kepala perlahan. Ia memandangi Amanda dengan pandangan yang sulit ditebak. Sahabatnya itu selalu setengah hati dalam urusan kuliah. Mereka pun segera meninggalkan kelas yang hampir kosong.
"Eh, itu bukannya mobil Kak Kean?" tanya Mira tiba-tiba, menunjuk ke arah mobil sport mewah berwarna merah yang terparkir tak jauh dari mereka.
"Bang Ke pasti lagi tebar pesona. Ngapain dia mejeng di sini!" Amanda bersungut-sungut, matanya menyipit memandang mobil itu.
"Kamu nih, masa manggil kakakmu kayak gitu!" tegur Mira, menatap Amanda dengan tajam.
"Lah, emangnya aku ngomong apa? Kan emang Bang Ke kayak gitu," sahut Amanda tanpa rasa bersalah.
"Yuk, kita samperin Bang Ke!" Amanda langsung menarik lengan sahabatnya, setengah menyeretnya menuju mobil tersebut.
"Pelan-pelan, Manda!" Mira berusaha mengimbangi langkah Amanda yang terburu-buru.
"Bang Ke!" Kean menoleh dan mendengkus sebal ketika mendengar suara Amanda. Ia selalu merasa adiknya itu merepotkan.
"Hai, Mir!" sapa Kean dengan senyuman hangat, mengabaikan Amanda dan fokus kepada Mira.
"Hai Kak Kean!" balas Mira, suaranya sedikit gugup.
"Ayo pulang!" ajak Kean, membuka pintu mobilnya.
"Tumben Abang jemput aku?" Amanda menatap kakaknya dengan curiga.
"Abang bukan jemput kamu, tapi jemput Mira!" jawab Kean tegas, matanya tertuju pada Mira yang tampak terkejut.
"Jemput aku?" Mira menunjuk dirinya sendiri, matanya membesar karena kaget.
"Iya, biar kamu gak kepanasan lagi naik ojek online. Mulai hari ini, aku yang antar jemput kamu!" ucap Kean penuh keyakinan. Mira menatap Amanda, mencari pembenaran dari ucapan Kean.
"Ka-Kak Kean...."
"Modus banget sih, Bang!" sela Amanda, matanya melotot menatap Kean.
"Usaha, bukan modus," sangkal Kean, melirik Mira yang masih bingung.
"Silahkan masuk, Mir!" Kean masih memegang pintu mobil, mengisyaratkan Mira untuk masuk. Mira dan Amanda mengerjapkan mata, masih terkejut dengan perlakuan Kean.
"Kalian kenapa bengong?" tanya Kean, menatap mereka dengan alis terangkat.
"A-aku duduk di jok belakang aja, Kak," Mira berusaha menolak dengan halus, tapi Kean menggeleng.
"Biar Amanda yang di belakang, kamu temenin aku!" ujar Kean tegas, menatap Amanda dengan tatapan yang tak bisa dibantah.
"Ya udah, Mir. Kamu di depan aja," Amanda akhirnya menyerah dan masuk ke mobil terlebih dahulu, diikuti oleh Mira yang masih sedikit ragu.
Setelah mereka duduk dengan nyaman, Kean melajukan mobilnya keluar dari parkiran kampus. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan, mengambil foto ketika Mira masuk ke mobil Kean.
"Kamu tinggal di panti, atau di mana?" tanya Kean saat mereka melaju di jalan.
"Ke kafe aja, Kak. Aku langsung kerja kok!" jawab Mira, suaranya terdengar lelah.
"Langsung kerja? Kamu gak istirahat dulu?" Kean melirik gadis di sampingnya, merasa khawatir.
"Aku bisa istirahat di kafe," Mira mencoba tersenyum untuk menenangkan Kean, meski wajahnya tampak pucat.
"Jangan terlalu diforsir, wajah kamu udah pucat kayak gitu. Nanti kamu makin sakit," ujar Kean, suaranya penuh kekhawatiran.
"Aku gak apa-apa kok, Kak," Mira berusaha meyakinkan, tapi Kean hanya bisa menghela napas panjang, rasa khawatir menyergap hatinya untuk gadis itu.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di kafe milik Amanda. Kean turun lebih dulu, lalu berjalan cepat ke sisi lain mobil untuk membukakan pintu bagi Mira.
"Heleh, sok manis banget tuh, Bang Ke!" Amanda menggerutu dengan nada sinis sambil melangkah keluar mobil.
Mira, yang masih bingung dengan perubahan sikap Kean, hanya bisa tersenyum canggung. Ia menatap Kean yang tetap menunggunya dengan sabar. 'Kak Kean aneh banget!' gumamnya dalam hati.
"Bang Ke, ngapain masih di sini?" Amanda menyela dengan tatapan tajam.
"Abang mau kerja di sini aja bantuin Mira!" celetukan Kean membuat Mira terkejut, sementara Amanda memberikan tatapan horor kepada kakaknya.
"Gak usah aneh-aneh deh, Bang. Nanti aku aduin ke Papi!" ancam Amanda dengan nada tinggi.
"Aduin aja sana!" balas Kean tanpa ragu.
Amanda meraih ponselnya dan mulai mencari nomor sang ayah. Namun, sebelum sempat tersambung, Kean langsung merebut ponsel itu dari tangan Amanda.
"Takut kan!" Amanda tersenyum mengejek, namun matanya memancarkan kemarahan.
"Ngapain ngadu ke Papi segala!" gerutu Kean sambil memutar bola matanya.
"Makanya, jangan macam-macam. Udah sana pergi!" usir Amanda tegas.
Kean menoleh ke Mira dengan senyum semanis mungkin. "Nanti sore aku jemput lagi ya, Mir!"
"Eh, gak usah, Kak. Aku bisa pesan ojol kok!" Mira menolak dengan sopan, merasa sungkan.
"Gak apa-apa, pokoknya nanti sore tungguin aku jemput kamu, jangan pulang duluan, oke!" titah Kean dengan nada tak terbantahkan, sebelum pergi dari kafe tanpa berpamitan kepada Amanda.
"Ngeselin banget sih!" Amanda menggerutu sambil menatap punggung kakaknya yang semakin menjauh.
"Walaupun ngeselin, kamu tetap sayang kan? Kak Kean kan satu-satunya kakak kamu," goda Mira dengan senyum jahil.
"Dibilang sayang ya gak terlalu sayang, dibilang gak sayang tapi sayang juga," Amanda tertawa kecil, berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Dasar!" Mira tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi lucu sahabatnya. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kafe dan memulai pekerjaan mereka setelah menikmati makan siang.
"Apa mau bikin menu baru, Mir?" tanya Amanda, memandang sahabatnya yang tenggelam dalam lautan bahan makanan di dapur kafenya.
"Kayaknya iya," gumam Mira, masih sibuk memilih bahan dengan teliti.
"Ya udah bikin, nanti aku yang pertama cobain!" seru Amanda dengan semangat membara.
"Gak takut keracunan?" canda Mira, seulas senyum jahil mengembang di wajahnya.
"Emangnya aku pernah keracunan gara-gara makanan kamu?" tanya Amanda, alisnya terangkat penuh canda.
"Mungkin!" balas Mira sambil tertawa kecil.
"Mau bikin apa?" tanya Amanda lagi, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
"Gimana kalau dari bahan dasar coklat!" Amanda memutar mata, menahan tawa. Sahabatnya itu memang maniak coklat.
"Mir, kamu nyadar gak kalau hampir semua menu makanan di kafe kita berbahan dasar coklat," ujar Amanda sambil menghela napas.
"Iya juga," Mira termenung sejenak, lalu menatap Amanda penuh arti.
"Yang lain gitu, di depan kafe kita kan ada rumah sakit. Kenapa gak kita coba adakan makanan berat, kayak nasi goreng, bakmi, ayam geprek atau yang lainnya lah," usul Amanda, suaranya penuh harap.
"Hmm... boleh juga!" sahut Mira, matanya berbinar penuh semangat. Ia segera meraih beberapa potong daging ayam.
"Kita mulai dari ayam geprek dengan banyak pilihan sambal, gimana?" tanya Mira lagi, matanya menantang Amanda.
"Setuju!" seru Amanda, matanya berbinar.
"Oke!" Mira mulai meracik bumbu, tangannya cekatan menyiapkan bahan lain untuk membuat ayam geprek dengan berbagai macam sambal.
Amanda memperhatikan sahabatnya yang terampil menggunakan peralatan dapur, sangat berbeda dengannya yang bahkan menggoreng telur ceplok pun teriak-teriak karena terciprat minyak.
"Nih coba!" Mira menyodorkan sepiring ayam geprek komplit di hadapan Amanda.
"Wangi banget sambelnya!" Amanda mengambil garpu dan mencoba hasil masakan sahabatnya. "Sumpah ini enak banget, Mir. Ayam sama sambalnya gak terlalu berminyak, tapi kalau buat aku kurang pedes."
"Kan level pedasnya bisa disesuaikan sama lidah pelanggan!" jelas Mira, tersenyum penuh percaya diri.
"Oke, aku setuju. Jadi, kapan kita launching menu baru ini?" tanya Amanda, penuh antusias.
"Minggu depan?" usul Mira.
"Oke, deal!" jawab Amanda, mata mereka saling beradu penuh semangat.
"Mbak Manda, ada kakaknya di depan. Kayaknya mau jemput Mbak Manda!" Amanda memutar mata malas ketika Jihan, salah satu karyawan kafe, memberitahu bahwa Kean datang.
"Suruh tunggu aja, Ji!" sahut Amanda kepada Jihan.
"Oke, Mbak!" Jihan pun kembali keluar dari dapur kafe.
"Manusia itu bener-bener cari perhatian sama kamu, Mir!" Mira tersenyum tipis menanggapi gerutuan sahabatnya, namun terlihat lelah dan pusing, tubuhnya gemetar halus.
"Are you okay, Mir?" tanya Amanda ketika melihat Mira memijat keningnya perlahan.
"Iya, aku gak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya, bersih-bersih!" Mira melangkah ke toilet perlahan, diiringi tatapan khawatir Amanda.
"Gak beres nih anak!" gumam Amanda, mengikuti Mira dengan langkah tergesa. Namun, betapa terkejutnya Amanda ketika melihat Mira jatuh tak sadarkan diri di depan toilet.
"Miraaaa!" Teriakan Amanda menggelegar, menarik perhatian Kean dan beberapa karyawan yang segera berlari menghampiri.
"Ya ampun, Mira!" seru Kean panik, lalu meminta bantuan beberapa karyawan untuk membawa Mira ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Amanda berteriak memanggil perawat dan dokter agar segera menangani Mira.
"Siapa nama pasien, Mbak?" tanya salah satu perawat.
"Almira Putri Zalea!" Jawaban Amanda membuat salah satu dokter di sana menatapnya penuh arti, pandangannya beralih ke Mira yang masih tak sadarkan diri di atas brankar.