bc

Istri Gendutku Ternyata Miliarder

book_age18+
162
IKUTI
4.1K
BACA
billionaire
HE
fated
independent
blue collar
drama
bxg
campus
like
intro-logo
Uraian

Almira Putri Zalea, gadis manis dengan tubuh gempal yang tinggal di panti asuhan, selalu bermimpi menemukan cinta sejatinya. Ketika dia menikah dengan pria yang diyakininya sebagai cinta pertama masa kecilnya, Mira yakin hidupnya akan penuh kebahagiaan. Namun, takdir berkata lain. Pria yang dia nikahi ternyata bukanlah pria yang dia cintai. Di tengah kebingungan dan misteri yang belum terpecahkan, Mira mengungkap rahasia mengejutkan tentang dirinya: dia adalah putri bungsu dari keluarga miliarder. Ikuti perjalanan emosional Mira saat dia menghadapi kenyataan yang mengubah hidupnya dan mencari arti cinta yang sejati dalam cerita ini.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Bank Darah Eve
"Mira!" Suara keras itu menggema di dalam kamar apartemen yang tidak terlalu luas itu, membuat Mira menoleh dengan cepat. Seorang pria berdiri di sana, wajahnya serius, penuh urgensi. "Ya, Kak?" Mira bergegas mendekat, matanya memancarkan kekhawatiran. Almira Putri Zalea, gadis cantik dengan tubuh berisi, berusia dua puluh tahun, telah tinggal di panti asuhan sejak bayi dan dia tidak pernah mengenal keluarganya. "Ayo ikut ke rumah sakit, Eve butuh donor darah segera," ujar pria itu dengan nada mendesak. "Tapi, baru dua minggu yang lalu aku mendonorkan darah untuk Eve!" Mira menjawab dengan suara bergetar. "Dengar, Mira. Aku berhutang nyawa pada Eve. Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus membantuku membalas budi," balasnya tanpa perasaan. Mira memutar matanya, muak mendengar pernyataan yang sudah terlalu sering diucapkan oleh suaminya itu. Arvan Rafisya Kusuma, pria berusia dua puluh tujuh tahun, CEO perusahaan besar milik keluarganya. Sudah hampir setahun mereka menikah, namun Arvan tak pernah menyentuh Mira layaknya suami istri. Alasannya selalu sama, dia tidak berselera dengan tubuh Mira yang gemuk. "Kakak tahu kan, dokter bilang mendonorkan darah tidak boleh dilakukan terlalu sering..." Mira mencoba menjelaskan. "Omong kosong! Badan kamu gemuk, gak mungkin kamu kekurangan darah. Cepat ikut sekarang!" Dengan kasar, Arvan menarik Mira menuju mobilnya. Setibanya di rumah sakit, Arvan segera memberi perintah kepada perawat. "Suster, ambil darahnya sekarang!" "Maaf, Pak. Kami tidak bisa mengambil darah Mbak Mira lagi karena baru dua minggu yang lalu dia mendonorkan darahnya untuk Mbak Eve," jawab perawat itu tegas. "Aku tidak peduli! Ambil saja darahnya! Kita tidak punya banyak waktu. Lagi pula, satu kantong darah tidak akan membuat dia mati," bentak Arvan sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Mira menatap kepergian Arvan dengan hati yang terluka. Apakah ini pria yang dulu dia kagumi? Dulu, Arvan adalah remaja yang datang ke panti asuhan dengan senyum hangat, membawa kebahagiaan. Dia selalu membela Mira saat dia di-bully, menjadi pelindungnya. Tapi kini, dia berubah menjadi seseorang yang Mira hampir tidak kenali. "Mbak Mira!" suara perawat bernama Alin mengagetkan Mira dari lamunannya. "Mbak tidak perlu mendonorkan darah lagi untuk, Mbak Eve," ujar Alin dengan suara lembut namun tegas. "Tapi, Sus..." "Mbak tenang saja. Sebelum Mbak datang, saya sudah mencari pengganti. Ada orang lain yang siap mendonorkan darahnya," kata Alin, menenangkan Mira. "Tapi kalau Kak Arvan tahu, dia pasti marah padaku, Sus." Mira berkata dengan suara gemetar. "Tenang saja, Mbak. Pak Arvan tidak akan tahu. Lagi pula, mendonorkan darah lagi bisa membahayakan kesehatan Mbak," jelas Alin dengan tegas. Mira akhirnya setuju, mengucapkan terima kasih pada Alin. Dia mengikuti perawat itu ke ruangan tempat seorang pria sedang mendonorkan darahnya. "Terima kasih banyak, Mas," ucap Mira dengan tulus. "Sama-sama, Mbak. Saya memang rutin mendonorkan darah, jadi tidak masalah," jawab pria itu dengan senyum ramah. Mira duduk sambil memeriksa pesan di ponselnya. Sahabatnya, Amanda, yang selalu setia di sisinya, mengirim banyak pesan yang mencoba menghiburnya. Meski Amanda berasal dari keluarga kaya, dia tidak pernah malu berteman dengan Mira yang hanya seorang anak panti. "Donornya sudah selesai, Mbak!" suara Alin membuyarkan lamunan Mira. "Bagaimana keadaan Eve, Sus?" tanya Mira dengan khawatir. "Baik kok, Mbak. Tapi wajahnya memang pucat sekali," jawab Alin. "Apakah dia akan selalu membutuhkan donor darah seperti ini, Sus?" tanya Mira lagi, matanya mulai berair. "Ya, penderita Thalassemia memang membutuhkan transfusi darah seumur hidup," jawab Alin. Mira termenung, 'Apakah selamanya aku harus menjadi bank darah untuk Eve?' pikirnya. "Sus, apa saya boleh menjenguk Eve?" tanya Mira. "Tentu!" Mira melangkah perlahan memasuki ruang rumah sakit, udara dingin yang dihasilkan pendingin ruangan terasa menusuk kulit. Cahaya redup lampu di atas tempat tidur Eve menyorot sosoknya yang terlihat lemah, sementara suara mesin transfusi darah mengalun lembut di latar belakang. Di samping Eve, Arvan duduk tak beranjak, matanya terus tertuju pada wajah Eve dengan tatapan yang sarat dengan cinta dan kekhawatiran. Tangannya menggenggam erat tangan Eve yang pucat, seolah ingin menyalurkan kekuatan dan keberanian melalui sentuhan tersebut. Setiap kali Eve mengerjapkan mata, Arvan tersenyum lembut, berusaha menyembunyikan ketakutannya di balik senyuman itu. Mira terdiam sejenak, merasakan hatinya yang sakit. Dia bisa merasakan betapa Arvan mencintai gadis yang nampak terbaring lemah itu. Hancur, hatinya benar-benar hancur melihat sang suami begitu mengkhawatirkan wanita lain sedangkan dia tidak peduli kepada Mira sama sekali. "Mira!" bisik Eve, suaranya hampir tenggelam dalam kepanikan yang membekap hatinya. Tatapan Mira berpindah antara Eve dan Arvan, seakan sedang menimbang-nimbang sesuatu yang tak terucap. "Semoga cepat sembuh," ucap Mira, namun ada nada kaku di balik kata-katanya. "Ini tak mungkin, aku harus..." Eve berusaha bicara, tetapi Mira memotong dengan nada dingin. "Ya, aku tahu. Aku harus menjadi bank darahmu seumur hidup, bukan?" Mata Mira menyipit, sinar sinis terpancar dari balik retakan senyumannya. "Kalau begitu, hentikan saja pengobatanku," Eve menantang. "Jika aku mati, kamu akan berhenti menjadi pendonor untukku dan kamu bisa bahagia bersama Arvan!" Kata-katanya penuh kepahitan, dan senyum sinis Mira semakin mengembang mendengarnya. "Hei, apa yang kamu katakan!" Arvan berusaha meredam ketegangan. "Mira akan terus mendonorkan darahnya untukmu dan kamu akan tetap hidup!" "Tidak, Kak!" seru Mira, suaranya gemetar oleh emosi yang meluap. "Apa maksudmu, huh?" maki Arvan, tatapannya berubah murka, seolah kilat petir menghantam malam yang pekat. "Hampir satu tahun ini aku mendonorkan darah untuk Eve dalam jeda yang terlalu singkat. Apa Kakak tidak khawatir dengan keadaanku?" Mira menantang, suaranya getir. "Kamu terlihat sehat, apa yang harus aku khawatirkan!" kata Arvan dengan ketidakpedulian yang dingin. Mira tersenyum getir, menyadari betapa tipisnya kepedulian pria itu. "Kakak lupa bahwa kita hanya bisa mendonorkan darah setiap tiga bulan. Tapi kalian memintaku untuk mendonorkan setiap bulan. Apa kalian tak berpikir untuk mencari pendonor lain? Apa keluarganya Eve tidak ada yang bisa..." "Mira!" Arvan memotong tajam, wajahnya marah dan tegang. Mira terdiam, tetapi dalam keheningan itu, sebuah ketegangan tak terucap membangun dinding di antara mereka, yang mungkin tak pernah bisa runtuh lagi. "Pergi dari sini sekarang juga! Jangan perburuk kondisi Eve!" bentak Arvan dengan suara bergetar. Mata Mira memandang pria itu sejenak, penuh kepedihan, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah keluar. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk hatinya. Mira bersandar pada dinding koridor rumah sakit yang dingin, tangannya gemetar saat memikirkan beban yang harus ditanggungnya. Setiap detak jantungnya terasa seperti lonceng kematian, menghantarkan realitas pahit bahwa hidupnya kini tak lebih dari sekadar sumber kehidupan bagi Eve. Bayangan Arvan dengan tatapan dinginnya terus menghantui benaknya, menambah berat beban yang sudah terlalu sulit untuk dipikul. Mira menahan air mata yang mengancam jatuh. "Aku benar-benar rindu Kak Arvan yang dulu. Kak Arvan yang lembut, yang selalu membela aku. Kenapa Kakak berubah? Kenapa aku yang dihukum untuk kesalahan yang tidak aku lakukan?" Mira menghirup napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. "Aku berharap Kakak kembali seperti dulu dan aku akan berusaha untuk meluluhkan hati Kakak," gumamnya pelan, berjanji pada dirinya sendiri.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.5K
bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook