"Ini!" Sebuah suara dingin memecah keheningan koridor rumah sakit. Mira, yang sedang duduk dengan tatapan kosong, terkejut ketika Arvan melemparkan selembar uang seratus ribu ke arahnya.
"Kenapa, Kak?" tanya Mira dengan suara bergetar.
"Uang buat ongkos kamu pulang. Naik taksi sendiri," jawab Arvan dengan nada ketus, matanya tajam menatap Mira.
"Kakak nggak ikut pulang?" tanya Mira lagi, mencoba menahan rasa kecewanya.
"Kamu nggak bodoh, 'kan! Aku harus temenin Eve di sini!" Arvan berujar sinis, matanya kembali menatap ke arah pintu kamar rawat Eve. Mira menghela napas panjang, merasa lagi-lagi diabaikan oleh suaminya.
"Gak usah banyak drama, kamu bisa pulang sendiri!" Arvan bergegas masuk ke kamar Eve, meninggalkan Mira yang terdiam.
"Kalau Kakak nggak peduli sama aku, kenapa Kakak nikahin aku?" gumam Mira lirih, suaranya nyaris tak terdengar. Dengan tangan gemetar, ia mengambil uang seratus ribu yang tergeletak di lantai dan memasukkannya ke dalam dompet khusus. Langkahnya terasa berat saat ia meninggalkan koridor rumah sakit.
Di parkiran, Mira melihat mobil yang amat dikenalnya. Amanda, sahabatnya, menurunkan kaca mobil dan tersenyum.
"Kok ke sini?" tanya Mira heran.
"Iya lah, tadi kamu balas chat aku lagi di sini. Jadi, aku samperin biar menghemat waktu," jawab Amanda ringan.
Mira tersenyum tipis dan masuk ke mobil Amanda, memasang sabuk pengaman dengan perlahan. "Abis ngasih makan si vampire?" tanya Amanda dengan senyum mengejek.
"Masa Eve disamain sama vampire sih, Manda!" jawab Mira, setengah tertawa.
"Ya terus apalagi, yang nyedot darah manusia itu vampire. Kalau nyamuk, kekecilan!" Mira tersenyum tipis mendengar ejekan sahabatnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Mira, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Antar aku jemput kakak aku di bandara," jawab Amanda.
"Tumben kamu yang jemput, supir keluarga kamu ke mana?" tanya Mira.
"Yang satu nganterin papi ke luar kota, yang satu lagi nganterin mami. Biasalah, emak-emak kalau arisan suka rempong!" jawab Amanda dengan nada ceria.
Mira hanya bisa tersenyum. Amanda memang berasal dari keluarga kaya raya, berbeda jauh dengan dirinya yang besar di panti asuhan dan tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Amanda membuka cafe dengan modal dari papinya dan meminta Mira membantunya. Itu membuat Mira merasa punya pegangan hidup dan bisa membantu ibu panti.
"Nanti turunin aku di panti aja ya, udah seminggu lebih aku nggak ketemu sama Bu Rima," ujar Mira.
"Ya udah sekalian aja sih," sahut Amanda.
"Gak usah, kamu kan harus anterin kakak kamu pulang," tolak Mira.
"Bawel deh!" Mira tidak ingin membantah lagi keinginan sahabatnya.
Saat sampai di bandara, Amanda menghentikan mobilnya dan memanggil Mira, "Ayo ikut."
"Aku di sini aja," tolak Mira.
"Terus aku celingak-celinguk sendirian di sana gitu!" sungut Amanda.
"Iya ayo!" Akhirnya, Mira pun mengikuti Amanda yang berjalan menuju area kedatangan. Setelah beberapa langkah, Mira memutuskan untuk pergi ke toilet.
Amanda berjalan perlahan sambil mengetik pesan di ponselnya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia menabrak seorang pria hingga hampir terjatuh. Pria itu dengan sigap menangkapnya.
"Ngapain lo peluk-peluk gue!" maki Amanda, mendorong pria itu.
"Anda yang nabrak saya, kenapa malah marah-marah?" jawab pria itu dengan tenang. Amanda memelototinya dari atas ke bawah.
"Tumben lo nggak nemenin pacar vampire lo di rumah sakit!" sindir Amanda.
"Pacar vampire? Apa maksud Anda?" tanya pria itu kebingungan.
"Gak usah pura-pura bego. Lo cuma manfaatin sahabat gue buat jadi bank darah pacar vampire lo itu kan. Jadi, lo harus cerai sama sahabat gue sebelum gue cakar muka pacar vampire lo itu!" maki Amanda lagi.
"Jaman udah modern, masih aja percaya sama vampire," ejek pria itu.
"Iya vampire itu pacar lo, makanya ...."
"Manda!" seruan sang kakak menghentikan Amanda yang tampak geram. Amanda lalu meninggalkan pria itu dengan kesal.
"Aneh!" gumam pria itu sambil berlalu.
"Ngobrol sama siapa kamu?" tanya Keanu, kakak Amanda.
"Sama suaminya Mira!" jawab Amanda.
"Mira udah nikah?" tanya Keanu kaget.
"Ssstt... rahasia, Bang Ke! Jangan bilang ke orang-orang!" Keanu langsung menjitak kening adiknya.
"Cangkemmu minta dijahit ya!" sungut Keanu.
"Lah emangnya kenapa, kan tadi Abang tanya ya aku jawab," sahut Amanda tanpa rasa bersalah.
"Jangan panggil Abang kayak gitu lagi!" seru Keanu.
"Oohh, Bang Ke!" balas Amanda dengan nada mengejek.
"Manda!" sungut Keanu semakin kesal, tetapi Amanda malah tertawa.
"Hai, Mir!" sapa Keanu ketika melihat Mira menghampiri mereka.
"Hai Kak Kean, apa kabar?" tanya Mira.
"Alhamdulillah baik!" Keanu mengulurkan tangan untuk bersalaman, tetapi Amanda langsung menepiskannya.
"Ayok pulang!" Amanda menarik Mira menjauh dari kakaknya.
"Tuh anak rese banget, titisan siapa sih!" gerutu Keanu sambil menyeret kopernya.
"Abang pulang sendiri ya, aku mau antar Mira ke panti," ujar Amanda setelah duduk nyaman di mobil.
"Sekalian aja!" sahut Keanu.
"Oh iya, Mir. Itu si Arvan habis dari mana?" tanya Amanda.
"Abis dari mana gimana?" Mira bingung dengan pertanyaan Amanda.
"Tadi aku lihat Arvan di bandara kayak yang baru balik dari mana gitu. Tumben aja dia nggak nemenin pacar vampirenya di rumah sakit!" jelas Amanda.
"Kak Arvan di bandara?" gumam Mira, hatinya terasa semakin gelisah. Bukankah Arvan ada di rumah sakit bersama Eve? Tidak mungkin satu orang berada di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama. Atau mungkin, Arvan punya kembaran?
Mira menyandarkan kepalanya yang terasa sakit di jok mobil, dengan mata yang terpejam dia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bahkan dia tidak mempedulikan Amanda dan Kean yang bisik-bisik membicarakannya.
Kean memandang gelisah wajah pucat Mira tidur di jok belakang mobilnya, "Mira sakit?" bisiknya dengan nada khawatir, matanya mencari kepastian di wajah Amanda yang tegang.
"Iya, sakit gara-gara si Arvan sialan itu!" gerutu Amanda, sepasang mata gelap Kean menatap Amanda dengan tajam, meminta penjelasan.
Amanda menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Si Arvan itu suaminya Mira, Bang. Tapi mereka cuma nikah siri dan gak ada keluarga yang tau termasuk Bu Rima!" Suaranya bergetar, mencerminkan kebimbangan yang dalam.
"Nikah siri sama cowok kayak gitu, gimana kalau dia cuma manfaatin Mira!" desis Kean dengan nada keras, kekesalannya terasa jelas.
Amanda memandang Kean dengan tajam, "Jangan kenceng-kenceng, Bang. Nanti Mira bangun, kasihan dia capek!" pintanya, berusaha meredakan amarah kakaknya.
"Daripada dia nikah sama cowok kayak gitu, mending dia nikah sama Abang!" usul Kean, tiba-tiba tatapan Amanda beralih menusuk ke arah Kean.
Amanda terbelalak, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Abang suka sama, Mira?" tanya Amanda dengan nada penasaran, menggali lebih dalam.
"Dekk!" seru Kean, matanya meluncur cepat menuju Mira yang masih memejamkan matanya, mungkin gadis itu benar-benar tertidur.
"Kalau emang suka bilang, jangan cemen kayak gini," goda Amanda dengan senyum meremehkan.
"Waktunya belum pas," sangkal Kean, mencoba mempertahankan dirinya.
"Halah alasan, bilang aja gak berani," ejek Amanda dengan nada tajam, mencibir kakaknya.
"Tapi, aku kasian kalau Mira nikah sama Abang," ujar Amanda dengan nada rendah, kekhawatiran menyelinap di dalam suaranya.
"Kenapa?" tanya Kean, mencoba memahami alasan di balik kata-kata adiknya.
"Soalnya Abang nyebelin, udah gitu suka tebar pesona ke cewek lain!" goda Amanda dengan nada mengejek, senyumnya mengembang penuh kepercayaan diri. Kean hanya bisa menatap adiknya dengan tatapan campuran antara kekesalan dan keheranan.