Bab 9

1144 Kata
TIWI Mendapati pertanyaanku barusan mata Wilson yang mengarah ke depan, mengedip beberapa kali. "Jadi kamu tidak bahagia?" "Aku kan bertanya, Wil. Kok kamu malah balik bertanya sih?" "Aku beneran tanya lho ini. Kamu beneran tidak bahagia?" "Kalau iya kenapa kalau tidak kenapa?" Ya Tuhan, kenapa aku bisa jadi secerewet ini sih sama dia? Padahal kalau dengan Mas Kevin aku sangat pendiam. Habisnya sikap Wilson memancingku jadi ingin banyak bicara. "Kalau iya memang kamu memang tidak bahagia, berarti selama ini kamu menggantungkan kebahagiaan kamu itu pada orang lain. Makanya kamu tidak bahagia. Karena seperti yang aku katakan tadi, kebahagiaan itu kita sendiri yang ciptakan. Tapi kalau kamu sudah bahagia, selamat. Kamu sudah menjadi manusia yang sesungguhnya." Jawaban yang membuat aku tersenyum simpul. "Berarti kalau tidak bahagia aku manusia jadi-jadian?" "Bisa jadi begitu." "Ngacok!" hardikku. Tapi berbicara dengan Wilson membuat pikiran yang sumpek menjadi lega. Aku mulai menyadari bahwa ternyata di luar rumah Mas Kevin aku bisa merasakan sedikit kesenangan meskipun hanya lewat obrolan dengan Wilson. Atau aku menggugat cerai Mas Kevin saja agar aku bisa bahagia? Satu jam perjalanan, kami beristirahat dulu di sebuah tempat makan. Belum jam makan siang sih. Makanya kami hanya memesan minuman dan makanan kecil. "Selama menikah sudah pernah pulang di antar Kevin belum?" tanya Wilson sembari mereguk kopi hangatnya. Sebagai pengemudi, matanya harus segar terus. Karena itu butuh minum kopi. "Belum," jawabku singkat. "O... berarti ini pulang kampung pertama sejak menikah?" Aku mengangguk. "Hum." "Kamu tidak ingin pulang atau bagaimana?" "Mungkin lebih tepatnya menahan keinginan untuk pulang." "Memang Kevin tidak suka kalau kamu pulang kampung?" "Nggak kok. Dia sih terserah di aku. Mau pulang atau nggak, tidak masalah buat dia." "Berarti Kevin adalah tipe suami yang selalu mendukung ya?" *** KEVIN "Jul, nanti kamu menginap di rumah saja ya?" Kedua alis Julia yang disulam bergerak ke atas. "Kamu mau kita bermesraan terang-terangan di depan istrimu? Iblis juga ternyata kamu ya?" "Yeee... bukan begitu. Aku mengajakmu menginap di rumah karena Tiwi tidak ada." "Memang dia kemana? Kabur? Atau kalian sudah pisah rumah?" "Bukan juga." "Terus?" "Dia pulang kampung tadi pagi. Dan akan kembali dua hari lagi." Mata Julia berbinar. "Wah, akhirnya aku bisa merasakan tinggal di rumah kamu juga. Oke deh. Aku mau banget." Aku tersenyum melihat kegirangan Julia. *** TIWI Setelah empat jam perjalanan, akhirnya kami tiba di kampung halaman rumahku. Tidak langsung ke rumah, aku minta Wilson untuk mengantarku ke makam kakek. "Lho, katamu di jalan tadi ke makam kakeknya besok," tanya Wilson dengan wajah bingung. "Entahlah, mendadak aku ingin segera ke makam kakek sekarang. Jadi begitu sampai di rumah, bisa istirahat. Dengan begitu besok kita bisa pulang. Agak siangan juga tidak apa-apa. Kapan badan kamu fit-nya saja." "Jadi kamu berubah pikiran untuk berada di sini dua hari?" Aku mengangguk. "Hum." "Alasannya?" "Karena aku sudah mendapatkan jawaban akan kebimbanganku selama ini." "Oh, jadi kamu ke sini selain mengunjungi makam kakek juga karena bimbang?" "Iya. Yuk!" Kami berdua pun turun dari mobil. Dan kemudian Wilson mengikuti langkahku menuju makam kakek. Begitu sampai di sana, kami duduk berhadapan dengan di jarak oleh gundukan tanah kakek. "Kek, ini aku Pertiwi. Aku datang ke sini karena beberapa alasan. Yang pertama, karena aku rindu sekali sama kakek. Yang kedua, karena ada yang ingin aku sampaikan pada kakek." Aku melirik Wilson. Pria itu tampak memperhatikanku. Lebih tepatnya seperti menunggu aku ingin bicara apa lagi pada kakek. Sungguh, aku tidak peduli kalau setelah ini Wilson tahu apa yang terjadi denganku. Aku mengalihkan pandang pada nisan kakek. "Ini mengenai keinginan kakek agar aku menikah sekali seumur hidup dan tidak pernah bercerai. Aku juga inginnya seperti itu, kek. Aku berusaha sekuat jiwa dan tenaga untuk mempertahankan rumah tangga ini. Aku bersabar dengan semua sikapnya hingga aku merasa tidak kuat lagi. Karena itu kek, aku minta maaf jika akhirnya keputusan ini yang harus aku ambil." *** "Kamu akan menggugat cerai Kevin?" tanya Wilson ketika kami sedang dalam perjalanan ke rumah. "Mungkin iya." "Kenapa? Masalah anak yang belum pernah hadir dalam pernikahan kalian?" "Bukan." "Terus?" "Aku ingin bercerai dengan Mas Kevin karena... Mas Kevin tidak pernah bisa menerima pernikahan kami. Dia mempunyai wanita pilihan hatinya dan hingga sekarang mereka masih menjalin hubungan spesial. Aku sendiri, tidak pernah disentuh olehnya sama sekali." Wilson menatapku tak percaya sekilas sebelum akhirnya fokus dengan jalanan di depannya. "Serius kamu tidak pernah disentuh olehnya?" "Serius. Jadi aku ini bukan gadis tapi perawan." "Berarti karena inilah kamu dan Kevin tidur di kamar yang berbeda?" "Ya, itu benar. Mas Kevin yang menginginkan hal itu. Dia tidak sudi menyentuhku karena kebutuhan biologisnya sudah terpenuhi oleh Mbak Julia." "Julia? Julia sekretarisnya?" "Hum." Wilson menghela nafas berat. "Aku sudah menduga sih kalau Kevin ada hubungan khusus dengan Julia. Tapi aku tidak menyangka kalau dia sampai belum menyentuh kamu sama sekali. Aku memperhatikan kalau kamu memang tidak bahagia dengan pernikahanmu. Tapi aku pikir perselisihan antara kamu dan Kevin karena soal anak yang belum hadir di pernikahan." Wilson menyeringai. "Ya... bagaimana mau punya anak jika disentuh pun tidak. Iya kan?" "Dan mirisnya aku dipaksa mengaku mandul pada kakek serta meminta Mas Kevin menikah lagi," sahutku. "Bodohnya kamu hampir melakukan itu. Iya kan?" "Iya. Karena kalau tidak mengikuti maunya, dia akan menceraikan aku. Dia sangat tau amanah almarhum kakek yang memintaku untuk tidak bercerai, sehingga itu dijadikan senjata olehnya untuk menekanku. Tapi akhir-akhir ini aku sadar bahwa aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini lagi. Maka dari itu aku datang ke sini. Selain karena rindu, aku juga mau minta maaf dan minta izin untuk bercerai dengan Mas Kevin pada kakek. Bagaimana menurutmu? Apakah keputusanku salah?" Wilson menggeleng. "Tidak ada yang salah dengan keputusan yang dibuat oleh diri sendiri. Karena ini hidup kamu. Kamu yang akan menjalaninya. Jadi kamu juga yang tau mana yang terbaik untuk kamu." Aku tersenyum samar. Jawaban Wilson sangat bijaksana. Aku mengaguminya. Wilson menoleh sekilas padaku ketika aku sedang memperhatikannya dari samping. "Hayo, kenapa menatapku dengan sebegitunya? Jangan-jangan kamu jatuh cinta lagi sama aku." Aku terkekeh dan langsung membuang pandang ke depan. "Apa kamu tidak suka aku jatuh cinta sama kamu?" "Suka dong. Masak ditaksir wanita secantik kamu tidak suka." "Gombal!" Kali ini kubuang pandang ke luar jendela. "Kok gombal sih. Aku serius." Aku merasakan atmosfer di sekeliling tubuhku mengabu. "Kalau aku cantik, tidak mungkin Mas Kevin tidak mau menyentuhku. Artinya aku ini tak menarik sama sekali di matanya." "Kita kan tidak tau alasan Kevin tidak mau menyentuhmu. Mungkin dia sudah perjanjian dengan sekretarisnya yang bernama Julia itu. Tapi kalau aku jadi Kevin, sudah aku terkam kamu dan aku makan sampai habis." Aku melirik Wilson kesal. "Memang aku mangsa?" "Ya. Wanita memang mangsa bagi pria di atas ranjang." "Kalau aku mangsa, berarti kamu singa dong." "O iya. Mau bukti kalau aku singa." Wilson menepikan dan menghentikan mobilnya. Lalu dia dengan posisi serongnya, mencondongkan wajah dan tubuhnya padaku. "Tiwi... hari ini kamu masuk perangkapku. Kamu tidak akan bisa lari. Aku akan memakanmu! Hauum!" "WILSON!" refleks aku menampar wajahnya. "Apa-apaan sih kamu?!" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN