Bab 8

1017 Kata
KEVIN Seketika jemariku menggenggam erat kemudi. 'Sial! Pengadu juga dia! Padahal kalau mau pergi ya pergi saja! Tidak perlu melapor pada kakek apalagi bilang aku tidak ingin mengantar! Dasar mulut ember!' "Aku sibuk, kek," jawabku kemudian. "Sibuk apa kamu? Kalau hanya meninggalkan kantor dua hari, tidak akan jadi masalah. Toh kamu punya sekretaris. Lagian kamu bekerja di perusahaan kakek. Kakek tidak akan memecat kamu hanya karena mengantar Pertiwi. Malah kakek senang kamu bisa menjadi suami yang baik." "Tapi kek, ada beberapa laporan yang belum aku selesaikan. Lagian, sepertinya tidak masalah kalau Pertiwi pulang sendiri ke kampungnya. Punya suami bukan berarti harus manja kan?" "Gampang sekali ya kamu melepaskan istri kamu. Baiklah, jika kamu tidak mau mengantar. Maka Wilson yang akan mengantarnya!" Panggilan diputus dari seberang. Apakah aku keberatan Pertiwi diantar Wilson ke kampungnya? Tentu saja tidak. Aku justru senang bebas tugas dan merasa aman karena dengan adanya Wilson, kakek tidak akan takut kehilangan menantu kesayangannya. Aku yakin Wilson akan jadi bodyguard yang baik bagi Pertiwi. *** TIWI 'Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu. Apakah kamu sudah siap, Wi?' Sebuah pesan dari Wilson. Aku pun langsung mengetik balasan. 'Sudah. Yang belum hanya kedatanganmu saja.' Wilson membalas lagi. 'Bisa juga kamu bercanda.' Aku tersenyum membaca balasan pesan ini. "Wah, ternyata ada seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum juga ya?" Aku terhenyak dan menoleh. Kudapati Mas Kevin sedang berdiri di tangga dengan senyum mengejek. Senyumku pun seketika memudar. Tak ada niat untuk membalas ucapannya yang jujur terasa menyakitkan. Hening. Ini membuatku jengah karena Mas Kevin tidak juga pergi ke kantor. Eh, malah duduk di sofa yang sama denganku. Apa dia sedang menungguku sampai berangkat? Mungkin memang begitu. Padahal aku lebih suka dia segera pergi. Keadaan yang jengah langsung lenyap begitu sebuah mobil memasuki halaman. Aku tahu itu mobilnya Wilson. Maka, aku pun langsung berdiri dan menarik koperku keluar. "Kita langsung berangkat nih?" tanya Wilson begitu melihatku menarik koper ke arahnya yang baru keluar mobil. "Iya, memang kapan?" jawabku sembari melangkah menuju bagasi mobil. "Aku tidak disuruh masuk dulu untuk minum begitu?" tanyanya sembari membantuku membuka pintu bagasi mobil. "Nanti aku traktir minuman dan makanan di jalan. Aku sudah tidak sabar ingin berangkat soalnya." Kedua alis tebal Wilson bergerak ke atas. "O... begitu? Oke. Tak masalah. Denganku gampang. Apalagi kalau ditraktir, aku semangat." Aku tersenyum mendengar jawaban Wilson yang penuh dengan candaan. Sepertinya kalau hidup dengan pria seperti dia bakal awet muda. Wilson suka bercanda, periang, baik hati, tidak sombong, dan mungkin suka menabung. Aku baru akan membuka pintu mobil saat kulihat Wilson mengarah pandang ke arah Mas Kevin. "Sorry, aku bawa istrimu, bung. Perintah Tuan Besar!" Lihat, sempat-sempatnya dia meminta persetujuan Mas Kevin padahal beberapa hari yang lalu, kakaknya itu mencengkeramnya dan menatapnya penuh kebencian. Mas Kevin menyeringai dengan tangan bersedekap. "Tidak masalah. Aku yakin kamu bisa menjaganya dengan baik." "Jangan cemburu ya?!" Wilson berteriak lagi. Bikin aku gemes ingin membungkam mulutnya. Kenapa tidak langsung berangkat saja sih? Pakai bicara dulu dengan suamiku yang angkuh itu. "Oh, jangan khawatir. Aku tidak akan cemburu. Kamu bisa bebas mengantarnya ke manapun." "Aseeeek!" Wilson menoleh padaku. "Kapan kamu akan pergi ke Korea? Aku dibebaskan suamimu untuk mengantarmu. Soalnya di korea banyak tempat romantis. Sangat bagus untuk memadu kasih." Kedua pipiku menghangat mendengar ucapan Wilson barusan. Bukan apa, dia mengatakannya dengan suara normal yang bisa dipastikan Mas Kevin dapat mendengar. Tidak langsung menjawab, aku menoleh pada Mas Kevin. Wajahnya sedikit berubah. Tidak seangkuh tadi. Mungkinkah dia marah dengan ucapan Wilson barusan? Entahlah. "Kita berangkat sekarang, Wil. Berhentilah berbicara." Wilson mengangguk. "Mmnhh." Keningku mengerut. "Ngomong apa sih? Yang jelas dikit kek." "Katanya tidak boleh bicara? Jadi aku aku hm hm aja." Aku menepuk keningku, lalu menggeleng tanpa kata. Sebab kalau aku berbicara lagi, khawatir Wilson tidak akan berhenti bercanda. Bisa-bisa berangkatnya lama. Kemudian aku masuk ke dalam mobil, lalu memakai seatbelt. Dengan wajah bingung, Wilson pun ikut masuk. "Kamu tidak pamit sama Kevin dulu?" tanyanya sembari memakai seatbeltnya. "Sudah tadi di rumah. Masak harus pamit berulang kali?" "Oh sudah. Kirain kamu lagi musuhan sama Kevin sehingga gengsi untuk pamitan." Aku tak menjawab. Memilih diam. Karena yang dikira Wilson mungkin benar adanya. Kami bermusuhan. Soalnya selama ini Mas Kevin selalu menatapku dengan penuh kebencian. Mobil perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah. Sebelum mencapai pagar, aku menoleh ke belakang dan mendapati Mas Kevin sudah masuk ke dalam rumah. Terlihat sekali dia tidak peduli dengan kepergianku. Aku mengembalikan pandang ke depan. Lalu menghela nafas berat. Sebenarnya aku sudah tidak tahan dengan pernikahan yang sedingin ini, tapi bagaimana dengan keinginan kakek? "Jujurlah saja. Ceritakan padaku kalau kau tidak bahagia. Aku akan memelukmu untuk memberikan ketenangan." Aku terhenyak mendengar suara Wilson yang berirama tidak jelas itu. Lalu menoleh. "Apa sih?" Wilson melirikku sekilas. "Nyanyi, non." "Memang ada lagu dengan lirik seperti itu? Kok aku tidak pernah dengar?" "Kamu saja yang kurang gaul. Ada kok lagu itu." "Kok iramanya tidak jelas?" "Itu sih karena aku tidak bisa menyanyi. Coba kalau kamu yang menyanyikannya, pasti bagus." "Sembarangan. Aku juga tidak bisa bernyanyi." "Tidak percaya kalau belum dikasih bukti." "Bilang saja kamu mau mendengar aku bernyanyi." "Memang." "Huh!" Ucapku kesal. Langsung kubuang ke luar jendela. Kudapati kemacetan yang tidak aneh. Maklumlah ini jam berangkat kerja, kuliah, dan sekolah. "Kamu tahu, kebahagiaan itu adalah tanggung jawab kita sendiri." Aku terhenyak mendengar ucapan Wilson barusan. Begitu mengena di hati. Meskipun begitu, aku memilih untuk tidak menoleh. Hanya saja hati bertanya, kenapa Wilson mengatakan hal demikian? Apa dia tahu aku tidak bahagia? "Kalau kita menggantungkan kebahagiaan pada orang lain, maka yang akan kita dapatkan adalah kekecewaan bukan kebahagiaan." Lagi-lagi ucapan Wilson mengenai hatiku. Malah kini terasa lebih menusuk. Aku merasa Wilson mengatakan ini bukan karena tidak disengaja, tapi memang tahu apa yang sedang aku rasakan. "Untuk bahagia itu mudah kok. Dimulai dari bersyukur dengan apa yang dipunya dan menikmati momen saat ini." Untuk yang ketiga kalinya, ucapan Wilson menyentil hatiku. Tapi kalimat barusan membuat aku tersadar akan sesuatu yang aku lupakan. Yaitu bersyukur dan bahagia. "Jadi, ayo kita menikmati momen perjalanan ini dengan hati yang riang gembira!" Aku tersenyum mendengar suara penuh semangat Wilson. Lalu menoleh. "Kamu berkata seperti ini, Apa karena tahu aku tidak bahagia?" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN