Bab 7

1196 Kata
TIWI "Ternyata susah ya buat kamu untuk mengatakan iya pada keinginanku?" tanya Mas Kevin setelah aku kemukakan alasanku untuk mengunjungi makam kakekku. Aku tak perlu berbohong. Kuanggukkan kepala dengan cepat. "Ya." "Jadi besar kemungkinan kamu akan menolak?" "Bisa jadi." "Berarti kamu tidak takut dengan perceraian?" "Kalau memang akhirnya harus seperti itu, mau bagaimana lagi? Jodoh ada di tangan Tuhan. Meskipun kakek menginginkan aku jadi jodoh mas, kalau Tuhan tidak berkehendak, aku bisa apa?" Rahang Mas Kevin tampak mengencang. Dia lalu berdiri dari duduknya. "Aku tidak selera untuk sarapan. Nanti aku sarapan di kantor saja." Mas Kevin baru akan berbalik badan ketika dia menoleh padaku kembali. "Oya, aku tidak bisa mengantarmu ke desa. Kamu pakai travel saja." "Iya. Mas Kevin jangan khawatir. Aku bisa pergi sendiri." Dengan wajah marah, Mas Kevin pun meninggalkan meja makan. Aku menghela nafas panjang melihat reaksinya. Merenungi sebentar kejadian barusan sebelum akhirnya menikmati sarapan sambil sesekali melamun. Pada saat makanan tinggal separuhnya, aku mengambil ponselku dan menelpon kakeknya Mas Kevin, kakek Mukti. "Halo, kek. Ini aku, Tiwi," ucapku begitu menyadari kalau panggilanku sudah diterima kakek. "Ya, Tiwi. Ada apa?" Suara Kakek Mukti selalu terdengar lembut di telingaku. "Maaf kek, pagi-pagi mengganggu. Mungkin kakek sedang sarapan." "Kakek baru saja selesai sarapan. Sebelum kamu telpon, kakek sedang mengobrol dengan Wilson. Ada apa, nak? Sampaikan saja." "Begini kek. Aku sedang rindu dengan makam kakek. Jadi aku minta izin pada kakek untuk pulang dulu ke desa. Boleh kan kek?" "Kamu sudah bilang pada Kevin akan keinginanmu ini?" "Sudah, kek. Sepertinya Mas Kevin mengizinkan. Tapi Mas Kevin tidak bisa mengantarku karena dia bilang sibuk." "Kakek sih tidak keberatan dia meninggalkan pekerjaannya dua atau tiga hari. Namanya juga mengantar istri. Kakek nanti akan bilang ke dia untuk mengan_" "Tidak usah, kek," selaku cepat. Aku tidak mau dibilang pengadu. "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri." "Apa kata keluarga kakekmu di sana kalau kamu pulang sendiri, Wi? Kakek yang malu. Nanti kakek akan pikirkan siapa yang akan mengantarmu. Kalau pakai supir kakek, tidak apa-apa kan?" "Supir kakek kan tiap hari harus mengantar kakek?" "Kalau hanya dua tiga hari tidak masalah. Kan kakek ada Wilson sekarang." "Oh, iya ya, kek. Ada Wilson. Kalau begitu, boleh deh di antar sama sopir kakek." "Oke, nanti akan kakek sampaikan. Ngomong-ngomong kamu kapan pergi ke desanya? Besok? Lusa? Atau kapan?" "InsyaAllah besok, kek." "Baiklah. Setelah ini kakek akan minta sopir untuk mempersiapkan mobil buat perjalanan agak jauh." "Terima kasih sebelumnya, kek. Maaf aku merepotkan kakek." "Bicara apa kamu? Tentu saja kamu tidak merepotkan kakek. Sopir kakek adalah sopir kamu juga. Belajarlah merasa memiliki apa yang kakek miliki." Aku tersenyum mendengar ucapan Kakek Mukti. Merasa tersanjung dengan perlakuannya. Sampai sekarang aku bingung kenapa beliau begitu sayang kepadaku padahal aku bukan cucunya, melainkan hanya cucu sahabatnya. "Iya, kek. Aku akan belajar menjadi seperti mau kakek." "Selalu saja berkata seperti itu. Tapi kenyataannya zonk. Pakaian saja kalau kakek tidak belikan kamu tidak akan membelinya. Uang Kevin kamu anggurin saja." Aku tertawa kecil mendengar ucapan Kakek Mukti. Memang uang bulanan dari Mas Kevin hanya aku belanjakan untuk membeli bahan makanan dan kebutuhan rumah yang lain. Sedikit aku ambil untuk kosmetik dan parfum. Tapi kalau aku ambil untuk membeli baju, tas, dan lainnya, tidak pernah. Akhirnya yang membelikan berang-barang itu adalah kakek dan Mas Kevin. *** WILSON "Jadi besok pagi, ya? Oke." Kakek menyudahi obrolannya dengan seseorang yang sepertinya adalah Rima, istri dari kakakku Kevin, saudara kandung se-ayah tapi tidak se-ibu. Papa dan mama Kevin mendapatkannya dari pernikahan sah, sedangkan papa dan mamaku mendapatkanku dari pernikahan siri. Tapi tetap saja kan kami adik dan kakak sedarah? Dan kami sama-sama cucu Kakek Mukti. Meskipun kakek cenderung lebih sayang pada Kevin. Tak apa. Aku juga tidak pernah merasa iri. Kakek sudah mau mengakuiku sebagai cucunya saja aku sudah sangat bersyukur, berhubung kakek tidak menyukai mamaku. "Siapa, kek?" tanyaku ingin tahu. "Pertiwi?" Kakek mengangguk. "Iya." Lalu meletakkan ponselnya ke atas meja. "Dia rindu dengan makam kakeknya. Jadi mau healing dua di desa kelahirannya." "O...," jawabku dengan anggukan tanda mengerti. "Lalu kenapa kakek menyebutkan sopir kakek? Tiwi pergi ke sana tidak bersama Kevin?" Kakek menghela nafas berat. "Itulah yang membuat kakek bingung. Kenapa Kevin tidak mau mengantar Tiwi ke desa hanya dengan alasan sibuk. Kalau hanya dua hari tidak akan terlalu mengganggu pekerjaannya." "Iya, sih," gumamku. Jujur aku mengendus ada yang tidak beres dengan hubungan Kevin dan Pertiwi. Aku perhatikan mereka tidak seromantis pasangan suami istri yang lain pada umumnya. Terkesan agak kaku. Itu kecurigaanku yang pertama. Kecurigaanku yang kedua adalah saat mendapati barang-barang Kevin dan Pertiwi tidak berada di dalam kamar yang sama. Ya, okelah Tiwi bilang kalau mereka nyaman seperti itu. Tapi kan setidaknya ada satu saja barang Tiwi -bedak misalnya- yang nyasar ke kamar Kevin atau barang Kevin -jam tangan misalnya- yang nyasar ke kamar Tiwi. Yang aku dapati justru tidak ada barang mereka yang nyasar satu pun seolah keduanya berusaha keras agar barang mereka tidak salah kamar. Aneh kan? Karena yang namanya sudah campur badan pasti tidak akan seteliti itu. Justru romantis saat menemukan -maaf- bra Tiwi di kamar Kevin. Terus kecurigaan yang ketiga, Kevin menolak keras untuk cek kesuburan, tapi bersikukuh menuduh Tiwi mandul. Ini benar-benar aneh bin tidak masuk logika. Kevin jadi terkesan suami yang dzalim pada istri karena hal ini. "E... kek, bagaimana kalau aku saja yang menemani Tiwi ke desa? Sekalian aku ingin tahu tempat di mana Tiwi menghabiskan masa kecilnya bersama kakeknya." Tiba-tiba aku mengajukan diri. Asli ini spontan, tapi aku tidak menyesalinya. Sepertinya aku juga butuh healing di tempat yang asing. Mata kakek melebar. "Wah, bagus itu. Dengan begitu kakek tidak khawatir karena Tiwi dijaga oleh kamu." Lihat betapa sayangnya kakek pada Tiwi seolah wanita itu adalah cucu bungsunya. Mungkin melebihi sayangnya pada kami berdua yang memang cucunya. "Iya, kek. Aku akan menjaga Tiwi. Tapi apakah Kevin mengizinkan aku yang menemani Tiwi ke desa? Khawatirnya dia marah." "Marah juga bodoh amat. Kenapa juga dia tidak mau menghantar istrinya." "Coba kakek tanya langsung pada Kevin. Biar tidak jadi kesalahpahaman." Kakek terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Sepertinya memang harus seperti itu." Kakek mengambil ponselnya kembali. Dia lalu menelpon Kevin. Aku terus memperhatikannya. *** KEVIN Aku tidak habis pikir kenapa Pertiwi sangat susah untuk menyetujui keinginanku. Ya, aku tahu tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang mau diduakan, tapi kan daripada bercerai sementara kakeknya menginginkannya tidak bercerai, bukankah lebih baik 'menerima' saja. Toh, tetap menjadi istriku adalah sebuah anugerah karena uang bulanan yang aku berikan padanya lancar dan lumayan banyak. Setidaknya kalau mau, dia bisa berfoya-foya dengan uang itu, daripada hidup berkekurangan di desa. Lalu tadi dia bilang mau ke desa untuk merenungi permintaanku? Ya, Tuhan. Dia rumit sekali sih jadi orang? Jujur aku takut kalau dia memilih menyerah karena kalau aku yang menggugat cerai, aku tidak akan mewarisi kepemimpinan perusahaan. Ah, kalau itu yang menjadi keputusannya, mampuslah aku. Ponsel yang bergetar membuat tangan kiriku berpindah tempat dari kemudi ke saku celana untuk mengeluarkan benda segiempat pipih dari sana. Lalu membawa benda pipih itu ke hadapan. Mataku melebar saat tahu yang menelpon adalah kakek. Tentu panggilan itu aku terima. "Ya, kek?" "Kev, tadi Tiwi menelpon kakek. Katanya dia mau mengunjungi makam kakeknya dan untuk dua hari menginap di desa. Kenapa kamu tidak mau mengantarnya?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN