Bab 6

1115 Kata
KEVIN "Licik bagaimana? Pertiwi tidak seperti itu juga kali, Jul." Aku protes. Bukan karena ingin membela Pertiwi tapi merasa tuduhan Julia berlebihan. Meskipun aku dan Pertiwi tidak pernah tidur bersama, bukankah kami satu rumah? Walaupun tidak begitu mendalam, aku mengenali sifatnya. Pertiwi tidak licik seperti yang dituduhkan Julia. Mata Julia melebar seolah tak percaya dengan perkataanku barusan. "Oh, kamu mulai membelanya?" "Aku tidak membelanya. Hanya mengatakan apa adanya. Lagian kemarahan kamu sama Tiwi berlebihan. Bagaimana bisa kamu bilang seperti ingin mencekiknya. Ucapan itu kadang berasal dari niat yang tersembunyi di dalam hati. Kamu pasti tahu apa itu mencekik? Berarti kamu punya niat untuk membunuhnya." "Salah kalau aku sampai punya niat seperti itu?" "Ya, salah. Membunuh itu perbuatan keji. Merusak masa depan dan hidupmu sendiri. Jangan sampai kamu punya niat seperti itu. Aku tidak mau dan tidak suka." "Ya terus aku harus bagaimana? Aku sudah capek dengan hubungan ini? Coba kalau kamu berada di posisi aku." "Aku mengerti. Tapi mencobalah untuk bersabar lagi." "Sabar itu ada batasnya. Aku ingin kamu membuat ketegasan padanya, Kev. Buat dia tidak berkutik untuk melakukan maumu." Aku diam. Tidak tahu mau merespon apa pada saran Julia barusan. "Kalau kamu terus menerus lemah seperti ini, maka impian kita tidak akan terwujud. Dan... aku sudah mulai habis kesabaran. Kalau memang kita tidak bisa bersama dalam waktu dekat, lebih baik hubungan ini kita akhiri saja sampai di sini." "Jangan berkata seperti itu, Jul! Ak_" Aku tidak jadi meneruskan ucapanku karena Julia sudah keluar ruangan. Aku menghela nafas berat. Hubungan yang sudah terjalin sangat lama ini kenapa tidak juga lepas dari masalah? *** PERTIWI Menikmati makan malam sendirian adalah hal yang biasa bagiku. Meskipun begitu aku tetap melebihkan makanan atau tidak menghabiskannya. Karena dikhawatirkan tengah malam Mas Kevin mencari makanan. Nyatanya, paginya aku sering membuang makanan makan malam karena tidak dimakan oleh Mas Kevin. Soalnya dia sering makan di luar atau di tempat tinggal Mbak Julia. Aku menoleh ke arah pintu masuk ketika mendengar suara pintu dibuka dari sana. Rumah yang aku tempati ini berkonsep minimalis modern. Jadi tidak ada dinding antara ruang makan dan ruang tamu sehingga aku bisa langsung melihat sosok yang baru saja masuk. Mas Kevin. "Sudah pulang?" tanyaku. Sesakit apa pun dia menorehkan luka, aku tidak pernah merajuk atau ngambek seperti para istri kebanyakan sebagai bentuk protes atas kesalahan suami. "Hum," jawab Mas Kevin sembari menoleh sekilas. Lalu melangkah menuju tangga yang menandakan dia tidak tertarik pada makan malam yang sedang terhidang di meja ini. Atau mungkin selera makannya hilang karena melihat aku. Entahlah. Yang pasti aku merasa begitu rendah jika berhadapan dengannya. Bagaimana tidak punya perasaan seperti itu, karena belum pernah aku mendengar suami di luaran sana tidak tertarik melihat tubuh istrinya. Pria yang sering berselingkuh pun pasti memiliki hasrat pada istrinya. Langkah Mas Kevin terhenti tiba-tiba dan mundur kembali. Pria itu mendekatiku dan menarik kursi yang ada di hadapanku sebelum akhirnya mengambil duduk di sana. Aku cukup terhenyak. "Mas mau makan? Sebentar aku akan mengambilkan piring." Aku baru akan beranjak ketika Mas Kevin berkata. "Tidak perlu mengambil piring karena aku ke sini bukan untuk makan." Aku duduk kembali. "Terus untuk apa?" "Membicarakan sesuatu denganmu." Aku meneguk air minumku. Perasaanku mulai tidak enak. Apakah dia hendak memaksaku lagi? Mas Kevin menatapku tajam. "Langsung saja tanpa basa-basi. Aku ingin kamu bilang kepada kakek bahwa kamu ingin aku menikah lagi." Betul kan tebakanku? Aku membalas tatapan Mas Kevin. "Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau lagi ikut campur dalam urusan mas dan Mbak Julia lagi. Mas bilang saja sendiri sama kakek kalau mas mau menikah lagi dengan Mbak Julia." "Kamu sudah tau kan kalau itu tidak akan berhasil?" Mas Kevin tampak tidak terima dengan jawabanku. "Ya terus?" "Hanya kamu yang bisa melakukan itu. Kakek akan mengabulkan keinginan kamu." Aku diam. Bingung memikirkan cara menjelaskan pada orang yang sedang dimabuk cinta sampai tidak peduli ada hati yang dilukai tanpa merasa melukai siapa pun. "Aku... tidak mau." Rahang Mas Kevin mengencang. Lalu menghela mendengkus kuat. "Berarti... Berarti kamu lebih memilih perpisahan?" Aku menelan saliva. Lagi-lagi Mas Kevin menjadikan kelemahanku yang sangat tidak ingin perceraian sebagai senjata agar dia bisa memperoleh keinginannya. Kamu benar-benar sangat licik, mas! Tapi apalah dayaku. Amanah kakek agar aku tidak bercerai menbuat aku tidak bisa berkata 'tidak', namun juga tidak bisa berkata 'iya'. Aku memilih untuk membisu saja. "Kali ini aku tidak main-main. Kalau kamu memang tidak mau mengikuti mauku, maka aku akan segera mengurus perceraian kita." Mas Kevin memajukan wajahnya ke arahku. "Kamu mengerti kan apa yang aku katakan tadi?" Aku mengangguk samar. Mas Kevin beranjak dari duduknya. "Oke, kalau begitu aku memberimu waktu satu Minggu untuk mempersiapkan diri bertemu dengan kakek dan mengatakan kalau kamu ingin aku menikah lagi." Tanpa menunggu jawabanku, Mas Kevin berbalik dan kemudian meninggalkan aku sendirian di sini. Untuk beberapa saat aku tetap dalam posisiku tanpa berubah sama sekali. Sampai akhirnya aku tersadar kenapa aku harus terus berada di sini? Aku beranjak dari dudukku. Membereskan meja yang dilanjutkan dengan mencuci piring bekas makan dan masak. Setelah itu semua selesai, aku meninggalkan dapur menuju kamar, tempatku selama ini menenggelamkan kesedihan. Setelah menutup pintu, aku mengambil duduk di tepi tempat tidur. Kemudian, aku termenung memikirkan apa yang disampaikan Mas Kevin. Yaitu sebuah ancaman perceraian. Aku mendengkus kuat untuk menghilangkan sesak di dalam d**a. Lalu menengadahkan wajah ke langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Aku melihat wajah kakek di sana. "Kek, apa yang harus aku lakukan sekarang? Hati Mas Kevin begitu keras. Aku gagal mengambil hatinya. Tapi sungguh aku tidak sanggup diduakan. Lalu bagaimana dengan amanah kakek untuk mempertahankan pernikahan? Jika akhirnya aku mengikuti kata hatiku, apakah kakek akan marah?" Aku menghela nafas panjang karena tiba-tiba hatiku diserang rasa rindu yang luar biasa pada sebuah rumah mungil tempat aku bertumbuh dan gundukan tanah yang telah lama tidak aku kunjungi. *** "Ini tehnya." Aku menaruh segelas teh di samping piring Mas Kevin yang baru mulai menikmati sarapannya sebelum akhirnya aku duduk di kursiku. Aku menatap wajah Mas Kevin yang fokus dengan makanannya. "Mas ada yang mau aku sampaikan." Mas Kevin mengalihkan pandang dari piring ke wajahku. "Kamu mau menyampaikan apa? Apa ini ada hubungannya dengan permintaanku semalam?" Aku mengangguk ragu. "Mungkin iya tapi mungkin juga tidak." "Katakan dengan jelas. Jangan memakai bahasa yang absurb." Aku mengangguk kembali. "Aku mau izin untuk mengunjungi makam kakek." Alis Mas Kevin bergerak ke atas. "Mengunjungi makam kakek? Berarti kamu tidak bisa pulang hari dong?" "Ya. Aku akan menginap beberapa hari di sana. Sekalian mau merenungi permintaan kamu, mas. Jujur, aku belum memiliki jawaban dan... aku tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan yang nantinya akan merugikan diri sendiri. Jadi, harus aku pikirkan masak-masak agar tidak ada penyesalan diakhirnya." Riuh wajah Mas Kevin seketika berubah. Ada ketegangan yang tiba-tiba tercipta di sana. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN