Antara Mimpi atau kenyataan 2

886 Kata
"Save.. me Yura" lirihnya dan.. Lampu tiba-tiba menyala. Yura menatap kesekitarnya dimana ia sudah kembali ke kamar Ayahnya. Yura mengusap pelu yang mengalir di dahinya. Ia berkeringat dingin. Deruan napas terdengar tersengal-sengal. Sebenarnya apa yang ku lakukan tadi, kenapa random sekali. aneh dan mengerikan. Aku sudah gila, bahkan jika aku mengadu pada Akseyna pasti lelaki itu akan mencapku gila dan aneh. Yura turun dari ranjang ayahnya, berlama-lama disini juga bisa membuat Yura gila. Entah ia yang aneh malam ini, atau ia memang ga cocok dengan kamar ayahnya. Harus bagaimana lagi, Yura akan tidur di kamarnya. Bahkan meskipun ia harus satu kamar dengan lelaki itu. Ia hanya perlu mengontrol diri supaya tak membuat lelaki itu lari ketakutan. Yura menenangkan deru napasnya di depan kamarnya sendiri. lalu mengetok pintu itu. Tok..tokk... Yura menatap ke sekitarnya dan ini sudah betul kamarnya.. aura rumahnya menjadi sedikit menyeramkan. Yura segera menatap ponselnya dan memang waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam. padahal ia yakin sekali bahwa ia tidak pernah tidur. Kenapa bisa waktu berjalan dengan sangat cepat. Yura mendesah ketika Akseyna sama sekai ga membuka pintu kamarnya, apa dia sudah tidur? Yura melirik ke kamar ayahnya? haruskah ia kembali lagi kesana dan tidur? tak peduli apa yang akan terjadi, ingatan aneh yang datang kala ia menutup mata. gapapa kah? Hanya saja tiba-tiba saja lampu dari depan kamar ayah mati berjalan kearahnya membuat Yura tak tahan lagi. benar-benar ada hantu di rumahnya.. Sebelum kegelapan sampai padanya, dengan cepat Yura menggenggam kenop pintu dan membukanya. Ketika Yura akan masuk ia terantuk di d**a seseorang. "Kak Akseyna, untung kakak masih terja..ga" Yura menatap lelaki itu mengamati. Wajahnya pucat pasi, tatapan yang kosong dan bau asap. "Ka..kau dari mana sih kak" suara Yura bergetar hebat, sejujurnya ia ketakutan. Apakah ini Akseyna? ataukah Narendra? "..." "Bukankah takdir tidak sebaik yang kau pikirkan Yura?" tanyanya dan menatapnya dengan sorot mata terluka, Yura menangis entah kenapa. Ia sangat ketakutan. Lagi-lagi kau masih sangat rapuh, air matamu adalah kelemahanku. setidaknya itu yang familiar diingatkan ku "Apa yang kau lakukan disitu?" tanya seseorang dari arah tangga, Yura sekeja membuka matanya dan memgangkat kepalanya menemukan seseorang itu tangga. dia disana dengan gelas ditangannya menatapnya kebingungan. Melihat raut wajah Akseyna yang normal, Yura jatuh terduduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sesegukan... "Kamu menangis? kenapa?" tanyanya lagi, Yura lelah serius, ia lemas bukan main. Entah kenapa melihat nya yang nyata didepan nya membuatnya merasakan kelegaan luar biasa. Lelaki itu berjalan menghampirinya, dan duduk memandangnya. "Kau seperti mendapatkan kabar buruk Yura" suara itu membuat Yura menatap lelaki itu tajam, "apa yang membuatmu seperti ini?" tanyanya lembut duduk di depannya setelah menaruh gelas di sisinya. "Aku mimpi aneh! Dan kau berada disana!" kata Yura terbuka, matanya menatap wajah tampan itu mencari reaksi yang begitu diinginkannya. "Kau memimpikan aku?" Yura tambah menangis, Ini pertama kalinya aku menangis untuk seorang lelaki, dia berada di depanku namun entah kenapa aku merasa dia berada jauh sekali. Aku merasa takut kehilangannya... "Kau membuatku takut Yura" kata lelaki itu lalu memberikan gelasnya. "Minumlah, saya terbangun dini hari dan kehausan. Jadi saya ke dapur mencari minuman." kata Akseyna mencoba menenangkan lelaki itu. "Terima kasih" Yura meneguk habis air didalam gelas itu. "Sekarang tidur lah, kau akan baik-baik saja setelah ini" katanya membantu Yura berdiri. "Aku akan membawamu ke kamar ayahmu" katanya dan memapah Yura, namun Yura seakan enggang melangkahkan kakinya. Grepp.. Yura memeluk lengan dingin pria itu erat. "Apa yang-" "Aku tidak akan melakukan apapun. Hanya tolonglah aku ingin kamu sekamar denganku!" minta Yura menatap lelaki itu dalam. Aku merasa nyaman denganmu!! Tolong sekali ini saja... "Aku tidak akan macam-macam" janjinya belum melepaskan lelaki itu, dan.. "Tidak Yura.." "Apa kau takut sekamar dengan ku? Karena kau tak bisa mengontrol dirimu?" tanya Yura menatap Akseyna. "Omong kosong macam apa itu?" "Kamar ayahku hawanya tidak enak! Mengerikan" kata Yura membuat lelaki itu menghela napas lelah. Melihat Akseyna diam Yura segera berlari kearah nakas dekat ranjangnya dan mengambil sesuatu. Berlari ke arah pintu dan menutupnya rapat tidak lupa Yura mengunci pintu kamarnya dan menaruh kuncinya di dalam kanton celananya, Akseyna berdecak dengan hal yang dilakukan oleh gadis itu. "Kau baru saja memimpikan ku, bukankah seharusnya kau jauh- jauh dariku? ataukah mimpimu aneh aneh tentang ku" tanya Akseyna menatapnya, ia terkikik geli, dan Yura merasa hangat melihatnya. "Tidak mimpiku horor, dan aku ga suka. Aku butuh seseorang yang menjagaku Kak Sena, aku butuh kakak menemaniku." Jungkook duduk di ranjang, "Aku tahu kau pemberani" katanya berusaha meyakinkan ku. "Jika tidak ada kamu mungkin aku sudah menangis sampai pagi, aku ketakutan setiap kali sendirian. Jadi malam ini aku tidur sama kak Sena ya, kau boleh sentuh aku dimana saja aku tak keberatan" kata Yura tak jadi sedih Yura sembari duduk di sisi lelaki itu, seakan baru saja memberi tawaran yang luar biasa, Yura bangga dengan tawarannya. Namun dengan cepat lelaki itu menjitak dahi gadis itu. "Pikiranmu... Apa tak pernah sekali saja normal?" Yura tertawa, lalu menangkap tangan Akseyna. .....jeda.... Yura menatap lelaki itu, "Apa kak Sena selalu sedingin ini?" tanya Yura dalam. "Aku memang seperti ini." "Apa ga kedinginan" "Aku baik-baik saja." katanya membuat Yura menghela napas lega. "Syukur lah kak, jangan sampai sakit ya" Terkadang aku berpikir kalau kau bukan manusia, bahwa kau bukan sosok Akseyna Alexander anak kelas 2 IPA-1. Namun sekali saja yakinkan aku bahwa kau benar-benar ada. Bahwa kau benar-benar hidup. ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN