Memutuskan Menetap

895 Kata
Hujan seakan betah berlama-lama, membuat Akseyna terjebak di rumah Yura. Mereka masih berada di ruang tamu, duduk bersama menatap televisi yang sama. Sedikit letih Yura menatap jam yang sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam. "Kak Sena ga ad sesuatu kah yang mau kakak obrolin? aku free loh ini daripada diam-diam beginikan, ga enak banget sumpah deh" Tak ada jawaban pria itu malah sedang asik menatap televisi didepannya seolah tak ada yang paling penting dari yang ada disana. Yura menghembuskan nafasnya berat, "padahal gaada yang seru loh di televisi itu, filmnya juga membosankan" Akseyna sedang menikmati film bergenre Fantasi horor, dengan sedikit bumbu romantis. itu bisa dikatakan film lambat, ceritanya unik dan bermakna namun karena Yura tipe orang yang suka bosan, Gadis itu kini telah letih mengantuk ia kemudian mencari cara untuk mendapatkan perhatian lelaki di sampingnya itu. "Mauku beritahu film yang bagus Kak Sena?" "Komedi Romantis deh, atau kalau enggak series fifty shades. Mau nonton bersama kak?" Lelaki itu menatap kearah Yura, wajahnya nampak sangat pucat dan hal itu menambah kekaguman Yura. Wajah Akseyna yang seperti itu tampak sangat menggoda. dia tidak sakit, sudah beberapa kali Yura khawatir dan bertanya mengenai Akseyna. tapi lelaki itu memang seperti itu. katanya kulitnya memang Putih pucat tidak ada yang perlu di khawatirkan. "Dari beberapa film yang saya nonton, film ini yang paling bagus Yura." katanya. Yura balas menatap lelaki di hadapannya itu, meneliti apa gerangan dari raut kesedihan di wajahnya yang rupawan. Yura tidak tahu itu, "Itu Film A Ghost Story film lama kalau ga salah film tahun 2017, kenapa suka film begini?" "karena punya makna yang dalam Yura" "iyasih" kata Yura dengan senyum di bibirnya, sejujurnya ini kali pertama ia menonton film itu. dan hasilnya ia mengantuk di sepanjang filmnya. Mungkin karena ia kurang suka dengan genre film seperti itu, tapi memang setiap ia melihat ke layar televisi pasti ada saja Quote yang makna yang berusaha disampaikan kepada penonton. Namun terlepas daripada itu, perpisahan atau semacamnya belum pernah ia rasakan. seberapa sakitnya itu? Yura tak pernah tahu itu. Sosok ibunya tiada saat ia kecil, saat ia dewasa dan mengerti bahwa ia tak memiliki ibu. Rasa kehilangan tak sesakit itu, karena memang ia tak pernah merasakan bagaimana rasanya punya ibu. sebahagia apa saat mempunyai ibu, dan sesakit apa jika tidak pernah memilikinya. Sampai hari ini ayahnya berhasil membuatnya nyaman dan bahagia meskipun ibunya tidak ada. bahkan ayahnya tidak mau mencari pengganti ibu. "Yura kehilangan itu sangat menyakitkan" "secara harfiah memang begitu kan kak?" "Kehilangan seseorang dalam hidup ini bukan berarti akhir Yura. Oleh karena itu jangan menyakiti diri sendiri karena kematian seseorang. Terlalu terlibat bukan hal yang bagus Yura." "Actually aku ga tau loh kak tujuan kakak ngomon begini. tapi aku bukan seperti itu kok" Lelaki itu tersenyum sinis, "betulkah begitu Yura?" Yura mengangguk. "Aku melibatkan diri pada hal yang misterius di Damitry. Hal-hal yang ga masuk akal yang di percayai oleh semua orang. bukan kah itu ga masuk akal, mana ada hantu di Damitry? bahkan bisa bunuh orang. Itu yang ingin aku tahu kak. dan Kak Sena, apa kakak juga percaya rumor itu?" "Seperti larangan di setiap daerah Yura, meskipun namanya tahayyul tetap saja kau harus menuruti. bukan membangkan." "Tapi..." "Ada hal yang tidak kamu pahami di dunia ini, bahkan tak ada dalam undang-undang apapun. tak ada di mesin pencaharian. Karena itu ada dalam keyakinan masing-masing orang. meskipun begitu Tuhan menciptakan dunia bukan hanya untuk manusia namun untuk makhluk yang tak akan kamu percayai ada di dunia ini." Yura terkekeh, "Kakak udah kayak teman aku namanya Rheaa, dia ratunya hal hal misterius, serba tahu sama dunia dunia kayak begitu. bahkan ya kak dia punya akun ke Dark Web dan punya akses khusus ke Deepweb." dan Akseyna tampak tidak mau tahu hal itu. ketika Yura akan membuka mulutnya lagi, ponselnya tiba-tiba berbunyi, melihat kelayar ponselnya di mana nama "Daddy tersayang" terpampang disana, dengan cepat Yura mengangkatnya. "Kenapa Ayah?" "Ayah kenapa ga bilang-bilang dulu sama Yura?" "Baiklah, hati-hati. Jangan sampai sakit" Yura mengakhiri telponnya lalu menatap hal yang sama dengan lelaki itu amati. Yura sedikit cemberut karena ayahnya tak pulang, berarti malam Minggu ini ia akan sendirian. biasanya jika ia sendirian di rumah, ia akan menginap di apartemen Dimas. Namun Dimas sampai hari ini masih di kampung neneknya. Tiba-tiba Akseyna berdiri. "Hujan tidak mau berhenti, adakah kamar tamu di sini?" Yura seketika tersentak. lalu ikut berdiri "Ini aku ga salah dengarkan kak? kakak mau menginap di rumahku?" "kenapa? apa tidak boleh?" tanyanya, melihat raut wajah itu Yura seolah familiar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Kenapa Yura?" "gapapa, hanya mengingat hal yang ga jelas" kata Yura lalu menatap wajah rupawan lelaki di depannya, "tapi kak, sama sekali gapapa kok kalau kakak nginep disini. lagipula kakak bisa tidur di kamarku" Hal yang perlu di ketahui adalah Yura takut sendirian di rumah besarnya. Sejak kecil Yura seakan di pantau dan ia tidak tahu siapa itu, mungkin saja itu hanya halusinasinya? Makanya hingga hari ini, Yura tak pernah betah sendirian. "Dan kamu tidur dimana?" "Aku bisa kok satu kamar sama kamu" kata Yura dengan wajah yang menggoda. "Saya merasa dalam bahaya" kata lelaki itu. Yura terkekeh, dan pipinya memerah. "Baiklah tidurlah dikamarku aku akan tidur dikamar Ayahku saja." "Ayahmu dimana?" "Dia masih di Kalimantan, penerbangannya di hentikan karena cuaca buruk. Memang lebih baik begitu. aku ga mau ayahku kenapa-kenapa" kata Yura, gadis itu menghela napas lemah. Akseyna mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. ??? bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN