Singgah

1378 Kata
Yura berjalan keluar dari Damitry, disana ia tidak menemukan keberadaan Rhea dan ditelpon pun gadis itu tak mengangkatnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Yura menghela napas berat lalu berdecak kesal. Damitry sudah sepi begitu ia keluar dari Gedung dua. Hingga Ketika ia keluar dari gerbang sebuah motor melaju di depannya, untung seseorang menarik tangannya sehingga ia terlempar ke sisi jalan. “Yura jalan hati-hati dong, hampir saja saya tabrak” “baik-baik saja kan? Tumben pulang menjelang sore” Ada beberapa hal dari kecelakaan itu yang membuat ku kebingungan, itu adalah suara-suara yang kudengar. Terdengar familiar. Namun Ketika kuangkat kepalaku menatap seorang lelaki diatas motor itu. Beda. Dia seorang anak Smp yang tak kalah terkejutnya denganku. Melihatku yang baik-baik saja lelaki itu segera berlalu dengan ngebut. “Benar-benar yaa anak zaman sekarang, seakan tidak memiliki etika” kata seseorang disamping Yura, dia duduk dihadapannya “ kau baik-baik saja?” tanyanya. Yura membulatkan matanya begitu menatap seseorang di depannya. Dan anehnya jantungnya berdebar kencang. Ada hal yang kubingungkan hari itu, sebagaimana hari cerah tiba-tiba mendung. Dan hujan yang seakan tiba-tiba datang. “Akan hujan, apa kamu bisa berdiri?” Yura mencoba berdiri namun tiba-tiba sakit di pergelangan kakinya membuat gadis itu langsung jatuh terduduk dan meringis. “Saya antar kamu pulang?” tanyanya masih berada di depannya, menawarkan hal yang membuat Yura terdiam. “Kenapa tiba-tiba diam? Kamu tidak mau di bantu?” Yura mengangkat kepalanya dan menatap tepat kedalam manik di depannya, “Kamu sadar ga sih kak, bilang hal aneh di dalam perpustakaan tadi lalu sekarang bersikap seolah- olah tak pernah terjadi apapun” Lelaki itu menatap Yura dalam sebelum berdiri, “Akan hujan, haruskah saya meninggalkan mu disini seorang diri?” tanyanya membuat Yura menunduk. “aku bahkan ga bisa menghubungi sahabatku kak” “Kamu akan segera mendapatkan kabar darinya, jadi putuskan sekarang. Ikut saya atau tidak?” Yura mengangkat kepalanya menatap lelaki itu penuh binar, “benarkah?” “Saya akan pergi” katanya dan berdiri, sebelum Yura dengan cepat menahan tangan lelaki itu. “Aku ikut!” “Baiklah” jawabnya dan duduk Kembali di depan Yura serta memapah tubuh kecil gadis itu menuju motornya. Hari itu aku merasa ingin menangis, familiar dan tanpa sadar air mataku tumpah. “Aku kenapa tiba-tiba cengeng begini sih?” Akan tetapi Akseyna seakan enggan menjawabnya, lelaki itu menaruhnya di atas jok motornya, lalu ia juga menaiki motornya. “Pegangan, tak per-“ Lelaki itu menghela napas kala Yura dengan cepat memeluk pinggangnya erat. Entah kenapa Yura tersenyum tipis, begitu dapat merasakan betapa berototnya perut lelaki ini, “Setelah badai ini berlalu, kak Sena mau gak jadi pacar Yura?” Namun sampai beberapa menit menunggu lelaki ini tidak ada tanda-tanda menjawab pertanyaannya. “Kak” Dan tiba-tiba hujan turun begitu deras. “Kak Hujan” “Iya saya tahu” “Kakak tidak mau berenti gitu? Nanti basah loh” “Tapi kita sudah terlanjur basah Yura?” katanya, Akseyna memelankan laju motornya. “Oh iya sih” kata Yura lalu tersenyum cerah. “Kak Sena bisa singgah di rumahku. Maksudku kakak bisa meminjam baju ayahku” Tidak ada balasan, seolah Yura hanya berbicara dengan angin. “Kak Rumahku di depan sana” kata Yura membuat Sena melajukan motornya kearah Yura tuju, hingga sampai di pagar rumah Yura. “Hari ini hari Sabtu kak, jadi wajar pagar ga yang ada bukain.” Kata Yura turun dari motor dan membuka pagar. “Kak Rumah kakak dimana sih?” “Di Lepsia,” *lepsia sebuah kompleks orang kaya di ibu kota dan jauh dari tempat Yura sekarang. “Kakak bisa singgah di rumahku, minjem baju ayahku. Sembari menunggu hujan reda kan?” “Baiklah” katanya setelah beberapa lama diam. Yura menutup Kembali pagar Ketika motor Akseyna sudah masuk kedalam pekarangannya. “Kak Sena bukankah terlalu banyak berpikir, maksudnya lama sekali memutuskan sesuatu. Kalua Yura ga tanya kak Sena pasti ga akan singgah di rumah deh” “Ta..” “Kakak Takut ya sama Yura” katanya lalu terkekeh, “ Gausah takut kak, Yura itu ga akan apa-apain kak Sena kok tenang saja” “Ayah kamu dimana?” “Jam segini ayah pasti masih kerja, tapi pasti pulang malam ini kok” Lelaki itu mengangguk, “Kamu tidak punya pembantu?” Senyum Yura mengembang, “Kalau hari Sabtu biasanya cuman aku sama bi inem kak, cuman bi Inem kemarin ijin mau pulang kampung, anaknya lagi sakit. Dan sopir saya setiap hari sabtu pulang kampung.” “Jadi sekarang hanya kita berdua?” Entah kenapa Yura senang sekali tapi dengan cepat menenangkan lelaki itu. “Aku gapapako kak. Aku tahu kak Sena itu baik.” “saya lebih takut sama kamu," katanya membuat Yura terkekeh dengan semburat merah di pipinya. "ada-ada aja kak Sena" "lalu dimana pakaian saya?” tanyanya menatap sekitar. “Oh tunggu” Yura segera berlari naik ke kamar ayahnya. Masuk kedalam kamar ayahnya dan keluar membawa kaos dan celana selutut. Yura senang sekali melihat kebaradaan Akseyna di kediamannya, “ini kak kaosnya, kakak bisa menggunakan kamar mandiku diatas, ayo kak ke kamarku” ajak Yura menggenggam tangan lelaki itu lalu segera melepasnya. “Kak” kata Yura pasi. Lelaki itu menatap Yura, “Kenapa?” “Tangan kakak kok dingin banget?” “Kehujanan, memang kamu tidak dingin?” Yura menggigit bibirnya, “iya juga sih kak, kak sensitive banget ya kulitnya” Kata YUra lalu Kembali menarik tangan Akseyna menuju kamarnya. “Ini handuk kak jangan lupa” kata YUra memberikan handuk itu. Kakak bisa menggunakan kamar mandiku, aku mandi di kamar milik ayahku” jawab Yura lalu berlari ke lemarinya mengambil pakaian ganti. Melihat lelaki itu sudah berada di kamar mandinya Yura dengan senyum di bibirnya berlalu ke arah kamar ayahnya. “pokoknya hari ini Rhea harus mendengar berita ini.” Kata Yura dengan senyum yang mengembang. ??? Pukul delapan malam mereka masih bersama di rumah Yura, keduanya duduk tenang di ruang keluarga dengan televisi didepannya yang menyala. Keduanya juga sudah memesan makanan yang sayangnya Akseyna tak begitu berselera. Ingin memesan lagi Akseyna malah menggeleng, dan ikut makan meskipun hanya sedikit. Tak hanya itu Yura melihat Akseyna sangat suka menonton televisi terlihat bagaimana dari tadi fokusnya hanya pada kearah televisi padahal ia sudah menggunakan baju terbaiknya dan tentunya jika lelaki normal yang melihatnya mereka sudah berakhir di dalam kamar. Namun apa yang di lakukan oleh lelaki ini, melihatnya saja tidak, apa ia tidak seseksi pikirannya. astaga. Dan selama itu Yura hanya menatap ketampanan lelaki di depannya dengan duduk bersilangkan kaki di sofa dan menopang kepalanya di tangan sofa dengan perhatian sepenuhnya pada Akseyna. "Di lihat bagaimana pun kamu tanpa celah ya kak, sempurna" decak Yura penuh kekaguman "tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Yura, kau harus tahu itu" komentarnya membuat Yura tersenyum tipis. "Kakak sadar ga sih, kalau kamu itu tampan?" dan lelaki itu tidak membalasnya membuat Yura berdecak. "Jika kakak ga mirip dengan tokoh utama kisah hantu di Damitry kakak pastilah yang terkeren di Damitry. bukan Dimas atau Kenzo." "Kalau di pikir-pikir, kamu itu termasuk beruntung ga sih, udah ganteng, pintar dan kaya" lirih Yura lalu dijatuhkan kepalanya ke tangan sofa. "ahh nyamannya" "Saya tidak seberuntung itu" "Karena kakak merasa terbebani dengan masalalu yang ada. terlepas pada itu kamu menjadi orang paling beruntung di muka bumi ini" "Tidak Yura, saya tak seberuntung itu. jika kau mau tahu, saya juga memimpikan sesuatu yang normal." Yura bangun dan duduk mendekat, "Berarti kakak ga suka dengan ketentuan Tuhan? bagaimana pun Tuhan menciptakan kakak dengan sangat baik loh" Dan Akseyna mengalihkan tatapannya pada Yura, dalam dan intens Yura seolah merasakan sesuatu yang dark dari tatapan Akseyna saat ini. Tatapan itu membuat jantung Yura berdebar dengan sangat kencang dan sakit lalu Akseyna berkata dengan lirih"Tetapi saya tidak pernah meminta ini semua Yura" katanya lalu memalingkan wajahnya. Dan menatap kearah televisi dengan pandangan kosong "Apa kak Sena begitu tersiksa di Damitry? tapi kenapa kakak memilih Damitry?" tanya Yura. "Takdir Yura, saya hanya tak menyukai itu"katanya dalam. Yura tidak tahu maksud Akseyna apa. Apa masalah di Damitry semengerikan itu? Dan pada akhirnya Yura tak berbicara lagi ia hanya menatap lelaki itu, dan berpikir. sebenarnya takdir seperti apa itu? Sampai kau sesedih ini mengatakan itu? apa takdir itu mengerikan? sampai kau sangat membencinya? sebenarnya apa yang kamu tutupi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN