Hari itu Yura berpisah dengan Rhea dengan baik-baik, setelah menceritakan apa yang terjadi kepada Yura mereka masuk kedalam kelas dan masih mengikuti kelas seperti biasanya, dan Ketika kelas terakhir selesai, keduanya berpisah. Yura masih berani ingin menemui Akseyna di Perpustkaan, sedangkan Rhea dengan perasaan yang disembunyikannya ia melangkah yakin meninggalkan Damitry. Perpustakaan utama terletak di Gedung depan di lantai atas. Karena di lantai bawah di huni oleh beberapa ruangan milik guru, kantor dan ruang kesiswaan.
Yura menghela napas sebelum masuk kedalam Perpustakaan yang sepi, setaunya perpustkaan akan di tutup lima menit setelah kelas usai. Makanya ia dengan cepat menuju Perpustakaan yang ternyata masih sangat sepi. Ini di luar ekspektasinya yang seharusnya akan ada banyak perwakilan kelas yang akan mengembalikan buku, atau memang hari ini hanya kelasnya yang meminjam buku di perpustakaan?
Namun tetap saja guru yang menjaga perpustakaan tidak ada di kursinya. Oleh karenanya Yura menaruh bukunya di meja jaga itu dan melangkah ketempat yang mereka janjikan.
“aku tunggu kamu di bangku paling sudut dekat jendela di perpustakaan setelah kelasmu”
Daerah ini menjadi yang tersepi di Perpustakaan, buku-bukunya yang disediakan pula merupakan buku-buku sastra klasik yang sangat tebal dan tentunya siapa yang akan membaca buku seperti itu di tahun ini?
Terkadang Aku kebingungan dengan diriku sendiri. Yura Rosetta tak biasanya seperti ini, tapi mengapa setelah mendengar peringatan dari orang yang paling dikenalnya. Tetap saja aku tak mampu menutup mata, menganggap tak perna terjadi apa-apa atau kembali ke masa dimana aku sama sekali tak mengenali sosoknya. Sosok Akseyna yang tertampan namun tersembunyikan di Damitry.
Aku tidak tahu dengan reaksi tubuhku.
Yura dengan pikirannya larut dalam suasana yang mendukung, Daerah di perpustakaan yang sepi dan mempunyai aura yang mistik, namun entah kenapa seolah familiar, apa sebelumnya aku pernah kemari?
Sebuah buku menarik perhatiannya, namun terletak agak jauh dari jangkauannya. Ketika Yura akan mengambilnya seseorang dari belakangnya lebih dahulu meraihnya, Yura dengan refleks berbalik dan terkejut mendapati seseorang dewa berjarak sekitar tiga centimeter darinya. Sangat dekat dan tinggi, ia hanya sebatas dadanya.
Yura menatap orang itu dengan kagum, dan Akseyna berseru. “Apa buku ini yang kamu maksud?” tanya menunjukkan buku yang lumayan tebal dengan cover perkotaan yang di d******i warna jingga, Itu adalah buku Angels & Demons milik Dan Brown.
Yura mengangguk, membuat lelaki bernama Akseyna itu memberikan buku itu pada Yura. “Kau tahu ini buku tentang apa?”
Yura diam, sejujurnya ia bukan seorang yang gemar membaca buku. Jangankan untuk membaca buku sastra semacam ini, melihatnya saja sudah bikin sakit kepala. Kenapa pula ia mengangguk. Namun itu buku Dan Brown, salah satu penulis yang digemari oleh Rhea, ia juga pernah melihat Rhea membaca buku ini beberapa kali di kelas.
Dan muncul beberapa ingatan tentangnya. “aku pernah melihat temanku membaca buku ini, dan kalau tidak salah ini terkait dengan iluminatikan?”
Senyum di bibir lelaki itu mampu menarik perhatian Yura, “terkait namun bukan itu tepatnya buku ini di buat Yura”
“Ah masa sih? Memang kakak sudah baca buku ini?”
Lelaki itu mengangguk, “Kamu juga bisa membaca buku itu. Ada banyak hal yang bisa di petik disana” katanya dan berlalu dari hadapannya. Duduk di sebuah bangku yang seolah ditakdirkan disana.
“Aku akan membacanya kak” katanya sebelum berjalan kearah Akseyna, namun terdiam begitu melihat keluar jendela.
Rumor yang beredar.
“Tahu gak, di perpustakaan tepatnya di daerah bacaan klasik? Disitu ada bangku dan meja letaknya dekat banget dengan jendela. Jika kamu berdiri di koridor lantai Tiga depan kelas Satu A maka kamu bisa melihat ke arah perpustakaan itu. konon beberapa kali di pagi hari anak-anak kelas satu melihat ada seseorang duduk disana. Katanya dia anak osis karena menggunakan jas almamater. Tapi… Ketika seseorang mengeceknya Perpustakaan itu ternyata masih tutup, dan seorang itu tiba-tiba saja hilang. Itu hantu Damitry, makanya sampai sekarang banyak siswa yang gamau dekat-dekat dengan Perpustkaan karena angker, terlepas dari itu, dari perpustakaan itu sendiri, Daerah di Bacaan klasik lah yang paling angker. Jadi jangan pernah kesana.”
“Kak bagaimana kalau kita pindah ke depan? Kakak ga pernah dengar rumor di perpustakaan?”
“Oh kisah hantu itu?”
Yura lantas mengangguk membuat Akseyna terkekeh. “Kamu percaya?”
“Bukankah memang ada hantu di Damitry kak?” tanya Yura menatap kearah Akseyna yang asik membaca buku di depannya. Namun karena pertanyaan Yura membuat lelaki itu menaruh bukunya dan menatap hanya pada Yura. “Ada, dia hantu yang penasaran, dan di takuti” katanya dengan nada yang luar biasa tenang, seakan tidak takut apapun.
“Katanya tempatnya selalu di situ kak, makanya cari tempat yang ramai supaya kakak ga selalu di kaitkan dengan hantu Damitry hanya karena kakak mirip dengannya” Kata Yura membuat lelaki itu membuang muka ke arah jendela. “Dengan informasi yang kamu dapatkan bukankah berarti kamu dalam bahaya Yura?” tanya lelaki itu tampa menatap kearahnya, wajahnya sedih Yura jelas memahami itu. “Bukan kah kau sudah terlalu ikut campur Yura?” katanya lagi, Yura duduk di hadapan lelaki itu dan menatap kearahnya bingung.
“Aku juga tidak tahu kak, tapi kedatanganku kemari ingin bertanya-“
“Kau bahkan terlalu tahu banyak hal Yura, apa yang ingin kamu ketahui beberapa saat lalu sudah dijawab oleh seseorang.”sela Akseyna memotong.
“Kamu menguping?”
Lelaki itu menatap kedalam mata Yura, “Tapi satu yang tidak kamu ketahui Yura”katanya serius. “Dia tidak memberitahu kamu konsekuensinya”
“Konsekuensi?”
“Alasan kenapa tidak ada satupun orang yang berani membahasnya, alasan kenapa kamu seorang diri di biarkan dengan rasa penasaranmu. Sesungguhnya itu hanya merugikanmu jika kamu tahu lebih dalam, namun kamu diselamatkan. Seseorang itu mengorbankan diri dengan berani melanggar peraturan” katanya dengan nada yang tenang. “Sekarang orang itu menanggung dua kali lipat beban dan apakah dia sekuat itu Yura?”tanyanya menatap Yura lembut.
Yura berdiri, “sebenarnya kakak lagi bicara apa sih? Kamu sadar ga sih sedang bicara aneh!”
“Teman kamu dalam bahaya, satu hal yang teman kamu langgar hanya untuk menyelamatkanmu” katanya. Yura segera berdiri dan buru-buru menghubungi Rhea, pergi meninggalkan lelaki itu tanpa kata.
“Yura kamu dari belakang?” tanya bu Desika begitu melihat Yura berjalan dengan buru-buru dan wajahnya yang Nampak pucat pasi.
“Ibu itu buku anak kelas satu A” kata Yura dan segera berlalu tanpa melihat kearah gurunya lagi.
Akseyna yang ditemuinya hari ini berbeda dengan seorang yang ditemuinya di atap, sebenarnya siapakah yang benar?
Akseyna siapa yang benar.
Yura berlari turun dari tangga menuju lantai dasar.
Ada satu hal yang ku ketahui mengenai sosok Akseyna yang kutemui hari ini.. Itu berbeda. Debaranku saat pertama kali menemuinya dengan hari ini seakan-akan aku menemui dua orang berbeda. Rasanya aneh.
Padahal hari itu aku begitu jatuh cinta padanya, menatapnya membuatku angin seolah menerbangkan kesedihan.
Hari ini aku tak merasakan apa-apa terhadapnya, dia cerewet berbeda dengannya yang irit berbicara saat di atap.
Ataukah sifat bisa berubah secepat itu?