ENAM - ACADEMY

1206 Kata
Akhirnya hari yang dinanti-nanti pun tiba. Hari ini aku pergi ke Fairy Academy, aku sudah berpamitan dengan kedua orang tuaku. Sekarang aku sedang menunggu jemputan sambil bermain HP di depan rumah. Sekitar 15 menit kemudian ada sebuah mobil masuk ke pekarangan rumahku dan di mobil itu tertulis FA. Setelah mobil tersebut sampai di depanku, aku langsung memasukkan barang-barang di bagasi dan duduk di kursi belakang. Membutuhkan sekitar satu setengah jam lamanya untuk sampai ke Fairy Academy. Setelah sampai di Fairy Academy ternyata Crystal dan Lyra sudah sampai duluan. Aku langsung keluar dari mobil dan menyapa mereka. "Crystal, Lyra," teriak ku sambil berlari ke arah mereka. "Chloe," sahut mereka sambil menoleh ke arahku. "Akhirnya kamu sampai juga," kata Crystal. "Ya udah yuk kita langsung aja ngumpul ke ruang depan, tadi sudah dijelasin tapi karena katanya kamu masih dalam perjalanan kesini akhirnya informasinya ditunda dan dipindah ke ruang depan sambil snack di sana," jelas Lyra panjang lebar. "Oh oke," sahutku dengan singkat. Lalu kami bertiga berjalan menuju ruang depan. "Akhirnya sampai juga," ucap seseorang. Aku menoleh dan ternyata yang berkata seperti itu adalah Mr. Dahrt. "Silahkan menikmati snack dan duduk di tempat yang tersedia," ucapnya lagi. Aku hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Aku segera mengambil satu potong roti dan segelas teh lalu segera duduk di salah satu kursi kosong. "Baiklah semuanya, sambil menikmati snack saya akan menjelaskan tentang apa saja yang harus dilakukan dan denah sekolah, nanti akan dibagikan buku pedoman. Saya disini hanya menjelaskan secara sekilas," ucap seseorang diatas yang ternyata Mr. Riley. "Ok, pertama-tama akan dijelaskan tentang peraturan bagi semua murid. Yang pertama semua murid harus tinggal di asrama. Yang kedua, semua murid harus mengenakan seragam sesuai kelas sihir mereka. Lalu, semua siswa harus mengikuti semua kegiatan yang diadakan oleh pihak Academy. Itulah ketiga peraturan utama di Academy. Untuk selengkapnya silahkan baca sendiri beserta dengan hukumannya yang sudah dituliskan di buku pedoman yang nanti akan dibagikan. Lalu khusus untuk penerima beasiswa seperti kalian harus bisa menjadi teladan bagi teman-teman di masing-masing bidang dan harus meraih minimal ranking tiga di bidang sihirnya dan tidak boleh remidi di setiap latihan dan ujian. Dan bagi penerima beasiswa kategori VIP harus menjadi aktivis di Academy. Selanjutnya ... asrama dibagi menjadi empat bagian yaitu bagian Putra dan Putri, kategori biasa dan VIP. Ingat! Saat lewat jam malam, laki-laki tidak boleh ke tempat cewek dan cewek tidak boleh ke tempat laki-laki tanpa persetujuan guru atau penjaga. Dan satu lagi ... semua penerima beasiswa harus mengikuti extra minimal dua!" ucap Mr. Riley panjang lebar. Mendengar semua itu semua penerima beasiswa kaget dan membayangkan betapa capeknya melakukan semua tugas itu, terutama aku yang mendapat kategori VIP. "Chloe yang sabar ya," ucap Crystal dan Lyra yang dapat menebak arti ekspresiku yang langsung kusut setelah mendengar pengumuman barusan. Mereka peka ya, sahabat emang beda. "Iya," jawabku. "O iya tambahan," mendengar kata tambahan, anak-anak penerima beasiswa semakin lesu. "Tambahan, kalian semua akan ikut satu kelas sihir, khusus untuk Chloe masuk dua kelas sihir yaitu bertarung dan pengendalian," ucap Mr. Riley yakin, membuat ku semakin lemas dan semua anak melihat ke arahku dengan tatapan iba. Astaga berat sekali cobaan ini, teriakku dalam hati. Sekarang pembagian kamar dan aku terpisah dari Crystal dan Lyra karna aku kategori VIP. Besok aku sudah belajar di Academy. Hm deg-degan banget tauuu Ya kali nggak deg degan. *** Hari ini hari pertamaku masuk Academy sebelum ke kelasku aku ke asrama Crystal dan Lyra, kudengar mereka berdua di kamar yang sama ah enaknya bisa bareng. By the way, aku jalannya jauh banget karena yang kategori VIP itu di bagian selatan sedangkan yang biasa di barat. "Pagi," sapaku sambil membuka pintu kamar Crystal dan Lyra. "Eh Chloe," jawab mereka kaget. Aku tau itu kamar mereka karena di setiap pintu kamar ada tulisan namanya. "Oh iya ini teman sekamar kita namanya Rinz dan Heitz, Rinz di kelas bertarung sedangkan Heitz di kelas pengendalian sama kayak kamu," jelas Lyra panjang lebar. "Hai," sapaku. "Hai juga," balas mereka. "O iya aku Chloe dari kelas bertarung dan pengendalian," jelasku. "Iya, mereka udah cerita banyak kok tentang kamu," jawab mereka. "Oh iya kamu nggak ngajak teman sekamarmu?" tanya Lyra. "Tadi dia berangkat duluan katanya sihir alkemia harus datang empat puluh lima menit sebelum kelas dimulai," jelasku. "Oh begitu ya sudah kita juga jalan ke kelas yuk!" ajak Crystal. "Ya udah berarti kita mencar ya ... soalnya kelasnya kan beda," sahut Rinz. Dijawab dengan anggukan oleh semuanya. "Aku sama Lyra tunggu di kamar ya, sihir memasak dan pengendalian mulainya jam satu," ucap Heitz. "Oke, nanti aku ke sini lagi ya, setelah kelas bertarung," jawabku. "Ok," balas Lyra. *** Di perjalanan menuju kelas BERTARUNG... "Kalian kelihatannya deket banget ya," ucap Rinz membuka pembicaraan. "Iya, deket banget," jawab Crystal. "Yap," jawabku singkat. "Pengen deh punya sahabat kayak kalian udah pinter pake sihir, bisa masuk bareng lewat beasiswa yang sama lagi," ujar Rinz melanjutkan omongannya. "Boleh," jawabku. "Hah!?" jawab Rinz bingung dan kaget. "Maksudnya Chloe kamu boleh kok jadi sahabatnya dia," ucap Crystal memperjelas ucapan Chloe. "Ya, maksudku begitu," jawabku mengiyakan. "Oh kirain apa," kata Rinz. "Ok, udah sampai depan asrama, kita mencar ya," ucap Rinz memberikan komando. "Aye aye kapten," jawab Crystal sambil bergaya pelaut. Aku dan Rinz hanya tertawa melihat kelakuan Crystal. "Chloe," panggil Rinz sambil tetap melihat ke depan. "Iya," sahutku. "Katanya Crystal dan Lyra kamu peri ya?" tanya nya dengan serius sampai membuatku kaget. "Iya," jawabku ragu-ragu. "Aku juga keturunan peri lho," ucap Rinz sambil menunjuk kupingnya. Aku yang baru sadar pun sedikit kaget. "Oh iya, tadi aku nggak memperhatikan," ucap ku sambil membelah rambutku untuk memperlihatkan kupingku yang sama seperti Rinz. Lalu aku menutupnya kembali. "Hmm kenapa kamu tutupi telinganya, kamu ngak kepanasan," tanyanya. "Kepanasan sih tapi aku ngak mau di...," ucapku lalu Rinz memotongnya dengan cepat. "Ngak mau di bully kan," ucapnya. "Iya, mereka berdua juga ngasih tau kamu tentang ini?" tanyaku. "Enggak, karena aku dulu juga pernah masuk sekolah biasa jadi aku sudah pernah dibully sebagai peri buangan atau peri sampah karena nggak belajar di Academy," jawab Rinz panjang lebar. "Oh," jawabku singkat. "Makanya aku bersikeras mau belajar di Academy," lanjutnya. "Kenapa?!" Tanyaku. "Karena Academy adalah tempat yang dianggap pas untuk peri yang mereka anggap berkedudukan tinggi," jelasnya. "Oh begitu, terus kenapa kamu pilih Fairy Academy? Kan banyak Academy lainnya," tanyaku lagi. "Pas aku kasih tau niatku ke ortuku, mereka nyaranin aku masuk Fairy Academy aja biar langsung belajar di tempat yang bagus, ya karna aku cuma mau ke Academy jadinya aku iyain aja," jelas Rinz panjang lebar. "Oh begitu," jawabku. "O iya itu kelas kita," ucap Rinz sambil menunjuk salah satu bangunan yang di atasnya bertuliskan "SIHIR BERTARUNG" "Wihhh buat satu macam sihir aja bangunannya besar banget ya," kataku kagum. "Ya namanya juga Academy terbaik," jawab Rinz. "Ya udah, masuk yuk," ajaknya. "Yuk," jawabku. "Walau bangunannya besar tapi kelasnya cuma ada satu kok, jadi nggak usah bingung cari kelas, ucap Rinz memberitahu. "Ooohhh," jawabku seperti biasa. "Itu kelas kita, katanya dibikin dekat dengan pintu utama biar anak baru gampang carinya," jelas Rinz lagi. "Iya juga sih, kalau agak ke dalam bisa sesat," jawabku. "By the way, siap-siap ngafalin nama anak-anak ya, soalnya walau cuma satu kelas tapi muridnya ada dua ratus enam puluh lima, itu belum ditambah kamu," jelasnya. "Eh buset banyak banget," jawabku kaget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN