SEMBILAN - DAY ONE (PART 3)

1109 Kata
Di perjalanan menuju kelas sihir. Setelah beberapa lama berjalan, mereka sampai di sebuah bangunan bertuliskan SIHIR PENGENDALIAN. "Aku ke sana ya," ucap Lyra sambil menunjuk ke sebuah bangunan yang tidak jauh dari situ bertuliskan SIHIR MEMASAK. "Ok," jawab Heitz. "Heitz, kok bangunan SIHIR PENGENDALIAN lebih besar dari yang lain?" tanyaku setelah Lyra pergi. "Soalnya tempat yang di butuhkan banyak, dan di tengahnya ada lapangan luas biasanya di pake buat latihan dan penilaian yang membutuhkan ruang yang besar serta Ulangan pertengahan dan Ulangan akhir," jawab Heitz. "Oh begitu," jawabku. *** "Itu kelas kita, sama kayak bangunan sihir yang lain, kelasnya dekat dengan pintu masuk," ujar Heitz saat mulai memasuki pintu masuk. "O begitu, oh iya kok tau kalau sama? Pernah jalan-jalan ke sana?" tanyaku bingung. "Iya, saat awal ajaran baru pasti ada tour keliling sekolahan satu hari full baru selesai, gede banget," jawab Heitz. "Wow lama amat, ngak pegel?" tanyaku. "Ngak, soalnya kadang-kadang stop trus boleh foto enak banget kan, kalau hari biasa udah dipenuhi tugas, pas mau foto udah keburu kumus duluan," jawabnya. "Iya sih," balasku. "Kelas pengendalian muridnya lebih dikit tapi tempatnya lebih luas karna susah dan membutuhkan tempat besar kalau ini aku di ceritain Rinz," ucap Heitz. "Oh memangnya muridnya berapa?" tanyaku. "Seratus lima puluh termasuk kamu," jawabnya. "Wih," balasku. *** "Pagi semuanya," sapa Mr.Riley. "Pagi," jawab para murid. "Kalau tadi saya dengar di kelas bertarung ada test dadakan, kelas musik ada tugas buat mengisi acara pada study tour bulan depan, dan sihur alkemia membuat formula baru," ucap Mr. Riley panjang lebar "Sekarang disini saya akan memberikan latihan serentak lalu penilaian level untuk memisah level kalian lagi," lanjutnya. "Yeyy," "Yes," "Yuhu," sorak semua murid mendengar bahwa akan diadakan penilaian level. "Oke saya berikan waktu lima menit untuk bersiap-siap," ucap Mr. Riley. "Maksudnya apa?" tanyaku pada Heitz setelah mendengar omongan Mr. Riley. "Latihan serentak itu buat menyiapkan diri untuk penilaian level sihir agar keluar dengan sempurna atau full, sedangkan penilaian level sihir itu untuk mengetahui apakah level sihir bertambah setelah latihan sekitar satu hingga dua Bulan," jawab Heitz panjang lebar. "Oh begitu," balasku. *** Beberapa menit kemudian. "Baik anak-anak ayo atur posisi kalian, kita akan mulai latihan serentak," ucap Mr. Riley. "Baik," jawab mereka. "Di sana aja yuk, biar lebih leluasa," ucap Heitz sambil menunjuk tempat agak pinggir. "Boleh," jawabku. Lalu kami segera berlari ke sana agar tidak ditempati orang lain. "O iya sebelum saya lupa, itu di sebelah sana yang mengenakan jepit warna oren, itu adalah anak baru penerima beasiswa, saya harap kalian bisa berteman baik dengan dia," ucap Mr. Riley sambil menunjuk ke arahku.  "Baik," jawab mereka. Kayak ngak ada jawaban lain aja, jawabnya baik terus, saya tau kok kalau kalian baik-baik saja. *** Latihan serentak. "Susah juga ya," ujarku pada Heitz. "Iyalah," jawabnya. "Cuek amat Neng," ucapku. "Konsen Neng," jawabnya. "Siap," jawabku. *** "Baik anak-anak saya akan mulai  penilaian level sihir," ucap Mr. Riley. "Baik," jawab anak-anak sambil duduk di pinggir ruangan. *** "Hm saya acak seperti biasa ya," ucap Mr. Riley sambil mengambil sebuah tempat yang berisi angka, angka tsb adalah nomor absen dari setiap murid, Mr. Riley memilih cara seperti itu agar tidak ada yang bisa menduga siapa yang maju selanjutnya dan tidak ada pilih kasih dalam memilih. "Oh iya, Chloe kamu nomor 150 ya," ucap Mr. Riley sambil mengambil sepotong kertas kecil dan menulis angka 150 lalu memasukkannya ke dalam tempat tadi. "Iya," jawabku. *** Cara penilaiannya itu adalah menyerang suatu benda yang bernama penilai sihir, jadi kita memfokuskan diri, mengumpulkan tenaga dan menyerang benda tersebut untuk mengetahui berada di level berapa kita. Karna sihir pengendalian menggunakan barang alam kayak pasir, air dan kawan kawannya jadi untuk memfokuskan diri, mengangkat/membuat dan menyerang menggunakan barang barang tersebut itu sangat susah. *** "Ok selanjutnya ... Hm nomor 54, siapa murid yang bernomor absen 54!?" tanya Mr. Riley sambil berteriak karna ruangan yang terlalu besar. "Aku," ucap seseorang di sebelah ku girang, ternyata Heitz. "Doain biar levelku naik ya," ucap Heitz sambil berdiri. Heitz maju dengan senang sambil diperhatikan oleh semua orang di ruangan itu karna penasaran. "Baik Heitz, hmmm kamu mau memakai apa?" tanya Mr. Riley. "Saya ingin memakai air dan petir," ucapnya sambil mulai memfokuskan diri. "Baik, silahkan," ucap Mr. Riley. Heitz memfokuskan diri selama sekitar satu menit lalu setelah dirinya fokus, dia mulai mengumpulkan sihirnya pada 1 titik. Lalu setelah semuanya sudah dia menyerang "Penilai Sihir" dengan satu serangan dannnn set dengan cepat benda tersebut menunjukkan angka 8. "Yey levelku naik," ucap Heitz girang lalu berloncat, dan dengan secepat kilat dia menyerbuku dan memelukku. "Yey levelku naik," sambilnya tetap berteriak. "Iya iya, aku denger ngak usah teriak teriak di telingaku," ucapku kesal. "Eh iya iya," jawabnya masih tetap dengan nada senang lalu mulai melepaskan pelukannya. *** Beberapa belas anak kemudian... "Ok selanjutnya...," ucap Mr. Riley sambil mengaduk tempat angka tadi. "Hm," gumam Mr. Riley sambil mengambil satu gulungan dari dalam tempat tsb dan membukanya. "Wow ini yang saya tunggu no. 150," ucap Mr. Riley sambil melayangkan pandangannya ke arahku hingga mata kami bertemu. "Baik," ucapku sambil segera mengalihkan pandangan itu. "Semangat," bisik Heitz saat aku mulai beranjak. "Sip," jawabku. Lalu aku segera berjalan ke tengah ruangan. "Baik Chloe, ini kan pertama kalinya kamu saya nilai level sihirnya, saya ingin tau sebelumnya apakah kamu pernah mengukur kekuatan sihirmu dan jika sudah berapa?" tanya Mr. Riley. "Saya baru pernah sekali menilai level sihir," jawabku. "Kapan? Dan berapa?" tanya Mr. Riley penasaran. "Hm waktu umur 5 tahun, kalau ngak salah sekitar dua, aku juga agak lupa," jawabku. "Hah!? Serius!?" ucap Mr. Riley kaget. "Whaat!? Gila umur segitu udah jago aja," "Masa sih!?" "Itu boong kan," "What!??" "Aku denger dia keturunan Renza lho," "Hah!?  Masa!?  Jelas kuat," "Pantes masuk beasiswa peringkat satu lagi," "Iya," "Peringkat satu kan susah banget apalagi dalam beasiswa, tepar aku," "Sama," Seisi kelas langsung bising mendengar jawabanku. "Semuanya harap tenang," ucap Mr. Riley dengan nada tegas sambil berteriak. Seisi kelas langsung diam jika Mr. Riley sudah angkat bicara. "Kamu tidak bohong kan, saya umur segitu saya belum kenal apa yang namanya sihir," ucap Mr. Riley. "Saya serius walaupun tidak masuk akademi tapi di keluarga saya saat umur tiga tahun sudah mulai di ajari sihir dan sihir utama yang paling harus kami kuasai adalah sihir pengendalian," jawabku agak kesal karena dianggap boong. "Baiklah, saya tidak tau peraturan keluargamu, kita langsung penilaian saja, silahkan," ucap Mr. Riley mempersilahkan. "Baik," ucapku mulai berkonsentrasi. Pertama-tama aku mulai mengeluarkan api, air, angin dan petir dari tanganku. Semua orang di ruangan tersebut memperhatikan dengan seksama. Lalu setelah beberapa detik aku menambahkan pasir pada sihirku. Lalu kusatukan semuanya hingga menjadi sebuat tornado kecil yang amat kuat. Setelah semua telah siap aku langsung menembakkan sihirku pada 'Penilai Sihir' Dan hasilnya...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN