DELAPAN - DAY ONE (PART 2)

836 Kata
Chloe berjalan maju ke depan. Mempersiapkan diri untuk mengikuti test. "Baik saya akan mulai ... karena saat seleksi beasiswa kamu bilang bahwa kamu menguasai sihir bertarung tingkat dua maka saya akan berikan lawan tingkat lima," ucap Mr. Dahrt masih dengan senyumnya. "Apa?!" tanyaku pelan masih kaget dengan perkataan Mr. Dahrt karna lawan tingkat tiga saja bagi mereka yang berdua sudah susah dikalahkan ini malah tingkat lima (Ps : gunanya tingkatan lawan lebih tinggi adalah untuk menaikkan tingkat sihir mereka secara perlahan tapi pasti) "Kamu akan melawan lawan level lima," jawab Mr. Dahrt menegaskan perkataannya. "WHAT!?" teriakku kaget. Semua murid juga kaget karna jarang-jarang Mr. Dahrt memberikan sesuatu yang di luar batas, mereka juga kaget karna kekuatan sihirku level 2. (Sebenarnya Chloe nggak tau tingkatan sihirnya tapi ortu nya yang bilang gitu) "Oke saya mulai," ucap Mr. Dahrt membuatku langsung berkonsentrasi dan menutup mataku. Saat konsentrasi dan sihirku memuncak aku langsung membuka mata dan mulai menyerang lawan yang sudah dibuat oleh Mr. Dahrt. Srtt Tak kusangka dalam satu serangan lawan tersebut langsung kalah dan angin hasil seranganku langsung menyerang pinggir ruangan. Wush. "Wow, apa itu? Itu tingkat sepuluh bukan dua," ucap Mr. Dahrt sambil membetulkan rambutnya yang rusak karna angin tadi. "HAH!? APA!? Bapak bercanda kan," ucapku kaget. "Ya mana saya tau, saya saja kaget sama kamu yang dilatih di rumah saja dan lagi tidak secara intensif," ucap Mr. Dahrt dengan nada kaget tapi dengan ekspresi santai. "Bapak nggak usah boong deh, nggak usah bercanda saya serius pak," ucapku masih tidak percaya. "Serius, dua rius malah," jawabnya. "Serius Pak," ucap ku mulai kesal. "Udah serius banget ini," jawabnya. "Hmmm ya udah deh Pak ntar aku tanya kebenarannya sama ortu ku aja," jawabku pasrah dan tidak mau berdebat karna sudah capek memakai banyak sihir. "Ok, selanjutnya," ucap Mr. Dahrt masih dengan wajah santainya. Dingin sih kalo lama-lama diliat, tapi karna ganteng jadi pas awal awal liat di liat nya kayak orang santai gitu. *** "Halo Ma," "Iya ada apa Chloe? Udah kangen suara Mama ya baru satu hari lho," "Ih geer," "Lah trus?" "Ma, serius dong," "Iya ini serius, ada apa ?" "Mama sama Papa selama ini boong ya bilang ke aku kalo misalnya sihir bertarung ku tingkat dua," "Yah ketahuan padahal baru hari pertama," "Sebenarnya aku tingkat sepuluh kan?" "Gurumu bilang gitu?" "Iya," "Berarti kalo ngak gurumu salah nilai ya kamu belum ngeluarin seluruh kekuatan yang Mama sama Papa ajarin," "Aku udah serius kok tadi," "Pake perasaan ngak?" "Enggak," "Kan udah dibilangin mau kuat harus pake perasaan," "Ya maaf aku lupa," "Lebih baik kamu lupa dari pada besok ada berita di koran tulisannya 'seorang anak beasiswa VIP menghancurkan gedung Fairy Academy di hari pertamanya' ya kan Mama malu," "Huft, jadi aku sebenarnya diajarin sampe level berapa sih??" "Tiga puluhan paling... Emang kenapa," "WHAT!?" "Bagus kan anak Mama pinter pake sihir," "Mama mau minta aku ngancurin Academy?" "Ya nggak lah" "Trus?" "Ntar kalau umur kamu udah dua puluh tahun sebenarnya kamu harus bisa nguasai sihir level seratus, itu hukum di keluarga Clarenza," "What, oh iya memangnya sihir sampai level berapa Ma?" "Level junior sampai lima ratus, kalau senior cuma sampe dua puluh tapi susah, kalau master itu sampe sepuluh aja tapi susah banget satu level bisa ngabisin aatu tahun ... Itu paling cepat dalam sejarah," "What!?" "Ya udah Mama masih banyak kerjaan, Mama matiin ya," "Bentar Ma aku mau nanya itu yang harus sampai level seratus itu salah satu aja kan ngak semua kan," ucapku agak takut. "Salah satu boleh, semuanya juga boleh, yang penting bisa dasar lima sihir utama, udah Mama matiin sekarang," "Ok deh," jawabku masih dengan perasaan kaget dan lega karna perkataan Mamaku. *** "Hai Heitz, Crystal, Lyra," sapaku saat sampai di asrama Lyra dan Crystal, dan mendapati ternyata Crystal udah sampai di asramanya duluan. "Hai, gimana kelas pertama?" tanya Lyra. "Ya begitu," jawabku biasa. "Masa sih? Tadi yang...," ucap Rinz. "Yang grogi," potongku cepat. "Iya aku tadi grogi banget," lanjutku. "Kalau mau kasih tau, kasih tau ke Heitz aja jangan sama mereka berdua ntar mereka jadi keran bocor lagi, aku lagi males denger ocehan mereka, udah kaget setengah mati, masa harus dengerin ocehan mereka lagi," bisikku pada Rinz ketika semua sudah kembali ke aktivitasnya masing-masing. "Oke," jawabnya dengan mantap. "Hm udh jam setengah dua belas. nih aku masak buat siang ya sekalian latihan," ucap Lyra. "Oke," jawabku, Crystal, Rinz dan Heitz bersamaan. "Heitz, kelas bertarung mulainya jam berapa?" tanyaku setelah Lyra pergi ke dapur. "Jam satu, nanti barengan sama Lyra, jalannya sama, sebelahan soalnya jadi ntar pas kita mau praktek ada kemungkinan bau wangi masakan masuk ke dalam ruangan, makanya anak-anak kelas PENGENDALIAN selalu makan banyak sebelum kelas, nggak cuma buat ngisi tenaga tapi juga buat penahan supaya tidak tergoda," ucap Heitz panjang lebar. "Nambah lagi keran bocornya," ujarku. "Sabar aja, dari pada aku tiga tahun tinggal sama tiga keran bocor," timpal Rinz. "Iya juga sih ... Rasanya kamu kesiksa banget," ucap Crystal. *** 30 menit kemudian. "Gaes udah jadi nih, ke ruang makan yuk," ucap Lyra dari dapur. "Woke siap," jawab kami berempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN