bc

Pewaris Gelap: Istri Kedua Sang Miliarder

book_age18+
32
IKUTI
1K
BACA
HE
heir/heiress
drama
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Dia menikahinya hanya karena dendam. Tapi malam pertama mereka, justru membakar dendam itu menjadi hasrat yang mematikan.Kirana adalah gadis sederhana yang dijual oleh ayahnya sendiri demi melunasi utang. Tanpa diduga, pria yang membelinya adalah Ares Mahendra, miliarder tampan dan pewaris tunggal perusahaan raksasa Mahendra Corp.Ares dikenal kejam, tidak berperasaan, dan baru saja kehilangan istri pertamanya dalam kecelakaan misterius. Kirana dijadikan istri kedua, hanya sebagai pion dalam permainan balas dendam Ares terhadap keluarga istrinya yang lalu.Namun Kirana bukan pion yang mudah dihancurkan. Semakin Ares menyakitinya, semakin kuat Kirana bertahan. Hingga satu malam, Ares menemukan dirinya mulai jatuh cinta… pada wanita yang awalnya hanya alat permainan.Tapi cinta mereka tidak semudah itu. Di balik kematian istri pertama Ares, tersembunyi rahasia yang bisa membunuh Kirana juga…

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 – Lelaki yang Membeli Masa Depanku
"Perempuan tidak punya banyak pilihan dalam keluarga ini. Kau harus berguna, atau disingkirkan." Kalimat itu terdengar jelas di kepala Kirana saat ia duduk bersimpuh di lantai dingin rumah kecilnya. Malam itu, langit begitu gelap. Petir sesekali menyambar, seolah alam semesta ikut menertawakan nasibnya. Ayahnya berdiri di ambang pintu, wajahnya datar, tanpa sedikit pun raut bersalah. Lelaki itu baru saja menjualnya. Ya, menjual, seperti barang lelangan tua. Kepada seorang pria asing yang katanya kaya raya dan sangat berkuasa. “Kirana,” suara Pak Aryasatya terdengar berat, seolah masih berusaha terlihat sebagai ayah yang bertanggung jawab. “Anggap saja ini takdirmu. Hidup dengan laki-laki kaya lebih baik daripada tinggal bersamaku dan kelaparan.” Kirana tak menjawab. Ia sudah berhenti berharap pada kasih sayang seorang ayah sejak sang ibu meninggal. Sejak lelaki itu mulai berjudi, meminjam uang dari rentenir, dan menjadikannya jaminan. “Besok pagi, mobilnya akan menjemputmu. Bersiaplah.” --- Pukul 07.00 pagi Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan rumah reyot keluarga Kirana. Kaca jendelanya gelap, nyaris tak terlihat siapa pun di dalamnya. Kirana berdiri kaku di teras, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda, satu-satunya gaun yang ia punya. Wajahnya polos tanpa riasan. Hanya rambut panjangnya yang dikuncir rendah, menambah kesan tenang meski jantungnya berdetak kencang. Pintu mobil terbuka, dan dari dalamnya keluar seorang pria berpakaian rapi, mengenakan setelan jas hitam dengan dasi merah gelap. Tingginya hampir dua meter, wajahnya seperti patung—kaku dan tajam. Pria itu tak memperkenalkan diri, hanya mengangguk kecil. “Kirana Aryasatya?” tanyanya singkat. “Iya,” jawab Kirana pelan. “Masuklah. Tuan Mahendra sedang menunggu di vila." Tak ada ruang untuk menolak. Ia melangkah masuk ke mobil. Dunia lamanya tertinggal di belakang—kemiskinan, luka batin, dan kenangan pahit. Ia kini menuju kehidupan baru, namun tanpa cinta, tanpa harapan. Hanya misteri dan pria yang membeli masa depannya. --- Vila Mahendra, Puncak, 11.15 WIB Begitu turun dari mobil, Kirana terdiam. Vila itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi taman mawar putih yang terawat sempurna. Udara dingin menyapu kulitnya, membawa aroma mawar yang lembut namun menusuk seperti kenangan pahit yang disembunyikan. Ia dibawa masuk oleh pria pengawal tadi. Ruangan dalam vila begitu mewah—marmer putih, lampu kristal, lukisan-lukisan klasik, dan aroma ruangan yang mahal. Tapi suasana hati Kirana tetap kosong. Hingga akhirnya, ia melihatnya. Ares Mahendra. Pria itu duduk di kursi besar seperti raja dalam benteng pribadinya. Setelan jas abu gelap membalut tubuh atletisnya. Rambut hitamnya disisir rapi, rahangnya tegas, dan matanya... dingin. Tatapan itu menelanjanginya dari ujung kepala hingga kaki. Bukan dengan nafsu, tapi dengan sesuatu yang lebih tajam: penilaian. “Duduk,” perintah Ares tanpa basa-basi. Kirana duduk, tangan di pangkuan, mencoba terlihat tenang. “Namamu Kirana. Usia 21. Mahasiswa dropout. Anak dari penjudi bangkrut yang menjual anaknya demi lepas dari utang,” katanya datar. Kirana menatapnya lurus. “Kau membeli orang seperti aku... untuk apa?” Senyuman dingin muncul di bibir Ares. “Untuk mengisi posisi kosong. Istri.” Kirana terdiam, jantungnya berdetak tak beraturan. Tapi ia tetap bertanya, “Kenapa aku?” “Kau tidak penting. Yang penting adalah statusmu sebagai istri kedua. Yang pertama sudah mati.” Kirana menggigil. Bukan karena suhu ruang, tapi karena kalimat itu. “Mati?” bisiknya. “Ya. Tiga bulan lalu. Mobilnya meledak. Tapi itu cerita lama. Yang kuperlukan sekarang adalah pendamping untuk menghadiri acara keluarga, menjaga reputasi, dan… menutup mulut.” “Aku bukan p*****r,” bisik Kirana tajam. Ares tertawa kecil, suara yang dingin dan merendahkan. “Kau dijual oleh ayahmu. Jadi apa perbedaan istilahnya?” Air mata Kirana menggenang, tapi ia tak ingin memberikannya pada pria itu. Ia mengangkat dagunya. “Kalau begitu, buat perjanjiannya. Aku akan menandatangani apa pun. Tapi jangan pernah mengira kau bisa mempermainkanku tanpa konsekuensi.” Ares terdiam sejenak. Tatapannya berubah—dari meremehkan menjadi penasaran. “Kau berani juga, ya?” “Aku mungkin miskin, tapi aku bukan boneka.” --- Malam itu... Kirana dipindahkan ke kamar yang terletak di lantai dua vila. Kamarnya luas, dengan balkon menghadap danau kecil dan lampu kota dari kejauhan. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin tidur dan berharap bangun dari mimpi buruk ini. Namun ketika tengah malam tiba, pintu kamarnya diketuk. Tok tok tok. Pelan. Penuh tekanan. Kirana membuka pintu dan mendapati Ares berdiri di sana, mengenakan kemeja putih dengan beberapa kancing terbuka. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap tajam. “Aku tahu ini terlalu cepat,” katanya tanpa basa-basi, “tapi kita harus menikah secara hukum besok pagi. Keluarga Mahendra akan datang, dan kita harus pura-pura sudah lama bersama.” Kirana menatapnya tajam. “Apa itu termasuk... berbagi ranjang juga?” Ares mendekat, mengurung tubuh Kirana ke dinding. Nafasnya hangat, tapi ucapannya dingin. “Jika aku menginginkannya, kau tak akan bisa menolak. Tapi aku bukan pria yang menyentuh barang yang belum kubersihkan.” “Barang?” desis Kirana. Ares menunduk, bisikannya mengandung racun. “Ingat posisimu. Kau hanya alat. Jangan bermimpi lebih.” Kirana mendorongnya. Mata mereka bertemu, menyala dalam peperangan diam. Untuk sesaat, Ares terdiam, lalu berbalik dan pergi. Tapi di balik ketegasan Ares, ada sesuatu yang ia sembunyikan. --- Keesokan harinya... Kirana berdiri di depan altar pribadi di dalam vila, mengenakan gaun putih sederhana. Di sekelilingnya hanya ada notaris, pengacara, dan beberapa saksi dari staf rumah. Pernikahan berlangsung singkat. Tanpa cinta. Tanpa harapan. Namun setelah cincin melingkar di jari manisnya, Kirana tahu satu hal. Hidupnya tidak lagi miliknya sendiri. Ia kini adalah milik seorang pria penuh rahasia. Dan malam pertama mereka—yang seharusnya hanya formalitas—berubah menjadi awal dari kobaran api yang tak bisa dipadamkan. --- Malam pertama. Tidak ada lilin. Tidak ada bunga. Tidak ada anggur manis atau rayuan manja seperti yang sering ditampilkan dalam drama romantis. Hanya keheningan yang menggantung di kamar pengantin yang terlalu luas untuk dua orang asing. Kirana duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun tidur putih yang disiapkan oleh pelayan rumah. Gaun itu jatuh indah di tubuhnya, memperlihatkan lekuk pinggang dan pundak yang jenjang. Tapi tidak satu pun dari itu membuatnya merasa cantik—ia merasa seperti persembahan. Ares masuk dengan langkah tenang, membuka kancing kemejanya satu per satu. Ia menghampiri meja kecil di sudut, menuang dua gelas wine. “Minum,” ucapnya, menyodorkan segelas ke arah Kirana. Ia ragu, tapi menerimanya. “Untuk apa?” tanya Kirana lirih. Ares menatapnya, tatapannya tajam namun kosong. “Untuk menenangkanmu. Atau untuk menipumu agar tidak takut.” Kirana menenggak seteguk. Panasnya membakar tenggorokannya, membuat detak jantungnya melambat setengah detik. Ares duduk di hadapannya, dan untuk pertama kalinya, tak ada sindiran dari mulutnya. “Kenapa istrimu yang pertama bisa mati?” tanya Kirana tiba-tiba, terlalu jujur. Ares tersenyum miring. “Langsung ke pertanyaan maut?” “Aku tidak ingin jadi mayat berikutnya.” Ares menatap dalam ke matanya. “Kau tidak akan mati. Kecuali kau mencoba menyelidik terlalu jauh.” Ancaman itu tipis, tapi nyata. “Aku hanya ingin tahu... apakah kau mencintainya?” bisik Kirana. Hening. Waktu seakan berhenti. Ares mengembuskan napas panjang. “Aku tak percaya cinta.” --- Hari-hari berikutnya... Pernikahan Kirana dan Ares menjadi berita panas di media. Semua mata tertuju pada mereka. Kirana disebut sebagai “istri misterius”, karena tak seorang pun mengenalnya. Tak ada latar belakang mewah, tak ada silsilah keluarga bergengsi. Ia hanya muncul... dan menikah. Di balik layar, Kirana mulai mengenali dunia Ares. Dunia yang penuh dengan intrik bisnis, permainan saham, konferensi pers, dan musuh yang berseragam jas. Namun, yang lebih membingungkan adalah rumah itu sendiri. Ia sering mendengar suara langkah kaki di lorong saat malam. Melihat bayangan perempuan bergaun putih di taman. Mendengar suara musik klasik dari ruang dansa yang katanya telah dikunci sejak kematian istri Ares. “Jangan pernah masuk ke ruang dansa,” ucap pelayan tua suatu malam. “Kenapa?” “Karena itu satu-satunya tempat Tuan Ares tak bisa melupakan istrinya.” --- Suatu malam... Kirana tak tahan. Rasa ingin tahunya membuncah. Ia menyelinap ke ruang dansa, membawa lilin dan membuka pintunya perlahan. Ruangan itu gelap. Bau parfum mawar samar tercium. Di tengah ruangan, ada piano putih. Di atasnya, terdapat foto perempuan cantik dalam gaun pesta—istri pertama Ares. Tiba-tiba, suara langkah terdengar. Pintu dibanting terbuka. “Kirana!” bentak Ares dari ambang pintu. Wajahnya penuh amarah. “Aku hanya ingin tahu siapa dia…” “Kau tidak berhak tahu!” raung Ares, matanya memerah. Ia melangkah cepat ke arah Kirana, mencengkeram lengannya. “Kalau kau sentuh lagi ruangan ini, aku pastikan kau menghilang lebih cepat dari pendahulumu!” Kirana menatapnya dengan mata berkaca. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan, Ares? Kau bilang aku istri. Tapi kau memperlakukanku seperti bayangan masa lalu yang kau benci.” Ares menatapnya dalam-dalam. Nafasnya memburu. Tapi tiba-tiba, ia mendorong Kirana ke dinding, mendekat hingga wajah mereka nyaris bertemu. “Aku tidak membencimu, Kirana…” Tangannya terangkat, menyentuh pipi Kirana perlahan. Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya, bibir mereka bersentuhan. Ciuman itu bukan ciuman lembut. Itu adalah ledakan—dendam, luka, dan ketertarikan yang selama ini ditekan. Kirana membalas, tubuhnya bergetar. Mereka tak tahu siapa yang lebih lemah saat itu. Yang pasti, sejak malam itu... garis antara benci dan cinta mulai kabur. --- Beberapa minggu kemudian... Kirana mulai belajar menjadi istri publik Ares. Menghadiri rapat keluarga besar Mahendra. Dikelilingi wanita-wanita licik yang mencibirnya di balik senyum manis. Termasuk Sasha Mahendra—adik tiri Ares yang terang-terangan memandang Kirana seperti sampah. “Kau tahu, kau tak akan bertahan lama di sini,” bisik Sasha saat pesta keluarga. “Ares hanya menunggu waktu untuk membuangmu seperti sampah. Seperti yang dia lakukan pada kakakku.” Kirana menoleh tajam. “Aku bukan perempuan lemah. Dan jika kau pikir aku akan mundur hanya karena ancaman murahanmu, kau salah besar.” Sasha tersenyum, manis namun mematikan. “Kita lihat saja nanti, Kirana. Tapi kau lupa satu hal—di keluarga ini, yang pertama selalu menang. Dan aku adalah pewaris yang sesungguhnya.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook