hari ini aku kekosnya untuk menepati janjinya yaitu makan bersama menikmati masakan nya
sampai didepan gerbang kos putri
"motornya kemana mas, kok gak keliatan, dan jalannya kenapa" (satpam)
"dirumah Pak, ini habis kena musibah sedikit jadi sedikit pincang untuk jalan, habis jatoh kemaren" (fariel)
"ohhh, pasti mau jumpain si Astria iyakan" (satpam)
"iya Pak, tadi sudah kutelpon katanya di kamar kosnya" (fariel)
"kalau gitu tunggu aja disini mas, duduk dulu disini, nanti juga datang" (satpam)
"iya Pak" (fariel) akupun langsung menuju tempat duduk dan menelpon canisku
"Hallo Assalamu'alaikum" (fariel)
"Waalaikumsalam camiku, bentar ya camiku sayang" (Tia)
"iya, jangan cantik-cantik, nanti direbut orang, akukan gak mau diambil orang lain" (fariel)
"iya cami, gombalin nya nanti aja ya, bentar ya, atau cami masuk aja, gak papa kok, canis lagi masak nih" (Tia)
"gak ah takut kena fatonah sama yang lain, kan cowok gak boleh masuk, masa mau dilanggar" (fariel)
"gak papa kok camiku sayang, nanti canis yang ngomong sama pak satpam sama pemilik kos juga, alnya ini baru mulai masaknya nih, masa iya mau ditinggal" (Tia)
"kalau gitu canis ngomong dulu sama pemilik kosnya, baru cami mau masuk" (fariel)
"iya, canis keluar nih mau ngomong sama pemilik kos" (Tia)
"ok, kutunggu, Assalamu'alaikum" (fariel)
"Waalaikumsalam" (Tia)
setelah menunggu beberapa menit yang ditungguin pun datang juga
"hey camiku" (Tia) sambil berjalan kearahku lalu memeluk
"jangan macem-macem yank, gak enak sama yang lain tau" (fariel)
"iya camiku sayang" (tia)
"gimana boleh gak sama pemilik kosnya" (fariel)
"boleh dong, tapi harus ada pengawasan dari pak satpam, juga pintunya harus dibuka" (tia)
"itu lebih bagus" (fariel)
tia langsung berjalan menuju pakai satpam
"pak, tadi saya sudah izin sama ibu kos katanya boleh bawa camiku masuk, asal bapak mau ngawasin kami dari depan dan pintunya juga harus dibukak, bapak mau kan ngawasinnya biar cami bisa masuk, alnya aku lagi mau masak nih" (tia)
"oh iya boleh dek, mari biar saya awasin dari depan pintu kos" (satpam)
tia pun langsung mengangguk dan berjalan kearahku
"yuk camiku" (tia)
akupun langsung berdiri dan berjalan secara perlahan
"cami belum sembuh ya, kok jalannya aneh banget sih, mana sih yang sakit" (tia)
"bukan kemarin cami bilang hanya kena hujan saja, tapi kok sekarang pincang"
"udah gak papa kok, hanya masih proses pemulihan saja, abis cami kan kangen pengen ketemu bidadariku yang sudah beberapa hari gak lihat langsung mukanya, senyumnya, dan ngobrol bareng canisku tersayang" (fariel)
"hanya masalah kecil kok ini, jadi canis tenang aja, dah diurut juga, dah bisa kerja juga kok"
"iya, aku juga kangen sama camiku yang suka gombalin aku" (tia)
"yuk canis bantuin jalannya biar sakitnya hilang"
"jalan kemana" (fariel)
"masuk kedalam lah, emang mau kemana" (tia)
"ya kirain jalan menuju pelaminan untuk meraih masa depan hidup bersama" (fariel)
"ini nih yang bikin canis kangen dari kamu, gombalnya bikin gak bisa tidur terbayang-bayang terus" (tia) sambil tersenyum
"yuk ah jalan"
"iya ayuk, pelan-pelan ya canisku" (fariel)
"ok camiku sayang" (tia)
sedangkan pak satpam yang melihat kita hanya menggelengkan kepalanya, dan kamipun masuk kedalam rumah kos
"cami duduk dulu disini ya, canis mau ganti dulu, masa masak pakai ini" (tia)
"iya, canisku sayang" (fariel)
sedangkan pak satpam hanya mengawasi dari pintu depan
"bentar ya camiku, cami mau minum apa nih, biar kubuatin sekalian buat pak satpamnya juga didepan" (tia)
"biasa kopi pahit tanpa gula, itu aja, yang manis cukup kamu aja, kopinya jangan ikutan manis" (fariel)
"tuh kan mulai lagi gombalnya, jadi gak sabar" (tia) sambil membuat kopi
"apanya yang gak sabar" (fariel)
"dihalalinnya" (tia)
"ya udah ayo kita ke KUA" (fariel)