22-Tamu

1704 Kata

“Pegang buble nya, Ken.” Aku meniup buih sabun hingga menggelembung itu. Hari Minggu aku bermain dengan Kenzio di teras depan. Aku berinisitif membuat gelembung dari sampo, dan meniupnya dengan kail yang terbuat dari plastik. “Ante.” Panggilan Kenzio membuatku menoleh. Bocah menggemaskan ini menunjuk ke arah gerbang. Aku pun menoleh ke arah yang dia tunjuk dan melihat siapa yang berdiri di sana. Seketika aku berdiri, menggandeng Kenzio dan mendekat ke lelaki itu. “Masuk yuk, Fif.” Rafif menunduk dan tersenyum ke Kenzio. Aku mengikuti arah pandangnya, melihat Kenzio yang menatap Rafif dengan tampang polosnya itu. “Itu, Om. Panggil, Om, Ken,” pintaku ke Kenzio sambil menggerakkan tangan mungilnya. Kenzio mendongak lalu menggeleng. Dia melepas genggaman tanganku lalu kembali ke posisi s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN