Sore hari, seperti niatanku aku ke taman. Tapi yang ak mendapati bangku yang biasanya itu tetap kosong. Aku merogoh ponselk, waktu telah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh menit. Aku memang sengaja datang terlambat. Berharap sesampainya di taman Panca telah duduk menungguku, tapi harapan tinggal harapan. Sekarang aku malah duduk sendiri. “Mbak, Zahya?” Aku menoleh dan mendapati gadis berseragam SMA berdiri di depanku. Gadis itu mengulurkan sebuah kertas berwarna pink. “Buat saya?” tanyaku sambil mengernyit. “Iya. Dari Mas Panca.” Setelah mendengar penjelasan itu dengan cepat aku mengambil kertas pink itu. Aku berharap bukan permintaan maaf yang tertulis. Usai membaca pesan itu, aku menghela napas. Kertas itu hanya berisi kalimat yang berisi nama kafe beserta alamatnya. Aku memutu

