“Fif. Cepetan.” “Bentar, Za. Nyari pakir dulu.” Aku duduk dengan gelisah. Sekarang aku dan Rafif di bandara. Berkali-kali aku mengecek ponsel hanya untuk melihat jam. Sekarang waktu telah menunjukkan pukul setelah sebelas. Tinggal tiga puluh menit lagi. “Ayo, Za.” Mobil berhenti dan aku buru-buru turun. Aku harus mencari Panca di mana. Bandara begitu besar, dan aku tidak tahu gerbang keberangkatan Panca di mana. “Sini, Za!” Rafif menarik tanganku dan aku mengikutinya. Tatapanku menjelajah ke penjuru bandara, mencari postur tubuh lelaki yang mirip dengan Panca. Tak lama terdengar informasi yang memberi tahukan keberangkatan menuju ke Jepang dua puluh menit lagi. Firasatku mengatakan Panca akan pergi ke sana. Aku menyentak tangan Rafif karena kami hanya berjalan, padahal waktu terus b

