Sore ini aku kembali mendengarkan musik di taman. Duduk di bangku membuatku ingat dengan dua lelaki yang meninggalkanku, Ahmar dan Panca. Dua lelaki yang begitu berarti untukky, tapi tidak bisa bersama karena terpisah waktu. Tidak ada harapan untukku kembali bersama Ahmar. Sedangkan bersama Panca, ada harapan walau hanya sedikit. “Huh!” Memikirkan hal itu membuatku lelah sendiri. Aku mendongak, menatap cahaya kemerahan yang mulai terbentuk. Aku memejamkan mata, bayangan saat Panca duduk di sebelahku seketika menyeruak. Saat dia menggodaku dengan gombalan khasnya. Saat kami tertawa bersama, dan saat kami berbagi keluh kesah. Mengingat hal itu membuat air mataku dengan nakalnya turun. Aku menarik napas panjang agar air mataku tidak mentes. Tapi percuma, menahan tangis malah membuat sesak.

