Rintik hujan mengenai telapak tanganku. Udara dingin membuat kulit lenganku meremang. Sesekali membuat tubuhku bergidik, tapi aku sama sekali tak beranjak dari posisiku. Masih setia berdiri di balkon dengan kedua tangan terulur ke depan. “Nggak masuk, Za?” Suara Mama Verny membuatku menoleh. Aku melihat Mama Verny berdiri di belakangku dengan jaket tebal berwarna pink. Aku menarik kedua tangan, mengusapnya di ujung kaus setelah itu memegang lengan Mama Verny. “Mama kok di sini? Di sini kan dingin, Ma.” Seulas senyum terbit di bibir Mama Verny. “Kamu sendiri juga ngapain di sini? Kan kamu tahu kalau di sini dingin.” Aku menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Saat sedang menunduk, ibu jari Mama Verny menarik daguku ke atas. Mama Verny menatapku dengan pandangan menyelidik. “Kamu kenapa

