16-Buket Bunga

1584 Kata

Pandanganku menyapu ke penjuru taman. Bangku yang sering aku duduki bersama Panca terlihat kosong. Aku menoleh ke belakang saat mobil yang aku tumpangi semakin menjauh dari taman yang baru saja dilewati. “Ada apa, Za?” Rafif melirikku dengan satu alis terangkat. Aku kembali duduk menghadap lantas menggeleng pelan. “Bukan apa-apa kok.” “Kamu mau ke taman dulu?” Aku menatap Rafif dengan senyuman, sangat tertarik dengan tawarannya. Sedetik kemudian senyumku pudar. Baru saja aku melewati taman tapi Panca tak ada di sana. Percuma juga jika aku ke sana. “Nggak usah, Fif. Langsung ke rumah aja. Kak Scarla pasti udah nungguin.” Sore ini dokter telah mengizinkanku pulang. Hal itu tentu membuatku senang. Aku tidak betah berlama-lama di rumah sakit, mengingatkanku dengan kejadian empat tahun la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN