Rafif Calling Ponselku menampilkan nama Rafif. Tangan kananku menggapai ponsel di atas meja lantas mengangkat panggilan itu. “Halo, Fif.” “Za. Kok ramai banget kamu di mana?” Tanganku yang bebas menutup satu telinga, agar aku bisa mendengar apa yang diucapkan Rafif. “Aku lagi di cafe, Fif. Kenapa?” Suara Rafif tidak lagi aku dengar. Aku menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat panggilan itu masih tersambung. “Fif.” “Kafe mana? Aku boleh ketemu kamu?” “Tentu. Aku chat alamatnya, ya.” “Oke. Tunggu aku, Za.” Setelah mengucapkan itu Rafif memutuskan sambungan. Kedua tanganku dengan cepat aku mengirimkan alamat kafe di mana posisiku berada. Setelah chat itu terkirim, aku meletakkan ponsel ke atas meja. Perhatianku kembali ke arah panggung. Menatap Panca yang sedang bernyanyi dengan

