"Ruby, apakah kamu tahu untuk apa semua keramaian ini? Aku tidak tahu bahwa ini merupakan hari yang spesial," ujar Fie pada Ruby, teman yang khusus diperkenalkan Gale pada Fie saat tahu kadang Fie bosan berada di istana saat Ratu Ernest tidak bisa menemaninya. Ibu dari Gale itu memang terbiasa pergi sendiri ke negara-negara lain membawa urusan politik, sehingga jarang baginya untuk berada di istana dalam waktu yang lama.
Ruby merupakan adik kandung dari Jade, sama-sama bermuka datar dan profesional dalam bertugas. Dia masuk istana sebagai salah satu prajurit kerajaan elit, cerdas dan berdedikasi dalam tugasnya.
Dengan latar belakang seperti itu, Gale tidak perlu khawatir Fie akan jatuh pada orang lain.
"Dengan naik tahtanya Yang Mulia Raja Gale, banyak negara tetangga yang datang dengan tujuan diplomasi dan mengucapkan selamat secara pribadi ke negara ini. Yang Mulia juga mengadakan pesta untuk penyambutan ini," jelas Ruby sopan.
Fie mengangguk. Sejak kecil ia tidak terlalu tertarik mengenai hubunga antar negara, dan tidak ada satu orangpun yang pernah memaksanya untuk mengerti.
Fie berjalan lurus ke tempat favoritnya, taman kerajaan yang sepi dan indah.
Fie biasa menghabiskan waktu luangnya disana. Melihat interaksi antar binatang sambil memakan camilan yang dibuat beberapa pelayan.
Fie sedang asik memandangi tupai yang meloncat diantara pohon apel, sebelum tangan besar memeluk tubuhnya dari belakang.
Bau lavender yang sangat ia kenal masuk melalui indra penciumannya, membuat Fie berbalik dan mencium sekilas pipi Gale yang tersenyum kecil dibelakangnya.
"Kenapa kau hanya mengenakan mantel tipis Fie? Lagipula dimana sarung tanganmu? Kau akan mudah terluka tanpa mereka," omel Gale sambil meminta beberapa pelayan membawakannya mantel hangat dan sarung tangan milik Fie. Fie sudaa terlalu terbiasa dengan kekhawatiran Gale, hanya bisa menyenderkan kepalanya pada bahu Gale.
"Kamu lelah? Haruskah aku membawamu kembali ke kamar?" tanya Gale khawatir.
Fie menggeleng pelan, terlalu asik memandangi taman dan tidak sadar mulai merasa mengantuk.
Gale tertawa kecil. " Sudah kubilang, kamu pasti lelah Fie" canda Gale sambil menarik Fie untuk duduk di pangkuannya.
Fie merenggut kesal, merasa terganggu saat matanya telah begitu berat dan tubuhnya mulai rileks.
Lagi-lagi Gale membelai rambut Fie lembut, berniat membawa Fie kembali ke kamarnya untuk istirahat ditempat yang lebih baik.
Tubuh Gale yang kuat mampu menggendong Fie dengan mulus sampai ke kamarnya, melepaskan sepatu dan mantel agar Fie dapat tidur dengan nyaman di gulungan selimut.
"Fie, malam ini akan ada pesta untuk menyambut berbagai perwakilan negara atas naiknya aku sebagai Raja. Kau akan hadir disana, sebagai calon istri dan calon ratu kerajaan Demore. Aku akan membangunkanku nanti sore, lalu bersiap untuk pergi ke pesta bersama. Jadi untuk siang ini, tidurlah dengan nyenyak," jelas Gale panjang.
Fie yang sudah sangat mengantuk dan nyaman dengan posisinya hanya bisa mengerang pelan, sebelum jatuh ke tidur yang lebih dalam.
Gale juga tidak berniat menganggunya, hanya pergi setelah memberikam kecupan di kening seperti biasa.
Pintu tertutup, dijaga oleh dua pengawal dan Ruby yang duduk di pojok ruangan untuk menjaga Fie dari segala bahaya.
****
"Tuan, Yang Mulia meminta Saya untuk membangunkan Tuan untuk segera bersiap untuk pesta. Yang Mulia akan datang satu jam lagi untuk menjemput Anda."
Ruby menyentuh Fie dengan lembut, membuat lelaki itu terusik dan mulai bangkit dari tidurnya. Rambut silver indahnya berantakan namun terlihat lucu, dengan bibir sedikit mengerucut setelah dibangunkan dari mimpinya.
Ruby menelan ludah. Jika Yang Mulia Raja Gale ada disini sekarang, mungkin...... Fie tidak akan siap dengan cepat.
"Pesta? Umm.... Tunggu sebentar, aku akan mandi dan segera bersiap." Suara Fie terdengar serak namun lembut, dengan malas bangun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Fie selalu mandi sendiri sekarang, malu setelah sadar bahwa pada bagian punggungnya terdapat tato kepemilikan b***k yang ia dapat entah kapan pastinya. Fie sempat tertekan karenanya, namun sedikit tenang saat Gale dengan tegas mengatakan itu bukanlah apa-apa baginya, dia masih mencintai Fie dengan segala kekurangan yang dia punya.
Fie menghela nafas panjang, memandang sendu tubuhnya sebelum mulai mandi dengan perlahan. Di kamar mandi seperti yang diharapkan, telah tersedia air panas dan segala macam keperluan Fie untuk mandi yang telah dipersiapkan oleh para pelayan. Fie hanya tinggal mandi dengan tenang, tidak boleh terlalu lama atau dia akan sakit.
Saat Fie keluar, ia telah memakai pakaian tipis dalaman dan mulai didandani oleh pelayan untuk memakai pakaian rumit ala kerajaan Demore. Pakaiannya berwarna hitam gothic, tidak jauh berbeda dengan pakaian yang Fie pakai saat pertama kali ia datang jika saja Fie mengingatnya.
Saat para pelayan sedang merapihkan rambut Fie, Gale datang dengan pakaian hitam kebesarannya yang tampak megah saat Gale yang memakainya.
Di kepalanya, terpasang mahkota berlian yang penuh dengan ukiran rumit, dengan tongkat emas yang dipegang oleh asisten kepercayaannya.
Gale tersenyum saat melihat Fie terlihat sangat menawan dengan pakaian hitamnya. Rambut silvernya kini dikepang kecil dan diikat pada bagian tengah rambut. Sisanya dibiarkan tergerai, tidak terlalu feminim namun cocok untuk rambut sebahu Fie.
Gale memandangnya lembut, mendekati Fie yang sedang tersenyum manis padanya dan diam-diam memasangkan cincin yang telah Fie jatuhkan pada dasar kolam.
"Cincin kita, kau menjatuhkannya waktu itu," jelas Gale singkat. Fie tersenyum senang, tidak menyangka jika cincinnya yang sekarang akan begitu indah dan nyaman dijarinya yang ramping.
Gale menyadari senyuman itu, tidak dapat menahan diri untuk memeluk tubuh kecil Fie dari belakang dengan tangan besarnya.
"Mengapa kamu terlihat begitu senang Fie?"
Fie menoleh, mata merahnya memandang lucu Gale dengan senyuman lebarnya yang sangat manis.
"Aku hanya teringat, dulu kamu juga memberikanku cincin pertunangan yang dengan sombong kau pesan sendiri tanpa menunggu pilihan dari Yang Mulia Raja dan Ratu. Kamu berakhir dengan mempermalukam dirimu sendiri, memberiku cincin yang begitu besar baik dijarimu maupun dijariku."
Gale merenggut kesal, lagi-lagi tidak menyangka jika Fie masih mengingat saat-saat memalukannya.
"Waktu itu umurku hanya 9 tahun Fie, aku hanya ingin tampil dewasa dan keren di depanmu," kilah Gale sambil tetap memeluk Fie.
Suara tawa pecah diruangan yang kini hanya diisi oleh mereka berdua. Gale mencubit pelan pipi Fie, takut jika cubitannya akan membuat kulit tipis Fie terluka karenannya.
Waktu hangat mereka diganggu dengan ketukan pintu. Mungkin mereka sudah telat untuk menghadiri pesta sebagai tuan rumah.
"Sudah cukup dengan ejekanmu Fie. Di pesta nanti, kamu akan duduk berdampingan dengan ibuku sebagai keluarga kerajaan dan aku akan memperkenalkanmu sebagai tunanganku. Jika kau lelah, segera beritahu Ruby yang kutugaskan untuk menjagamu dan segera kembalilah ke kamar. Bukan kewajibanmu untuk menyambut para tamu, kesehatanmu adalah prioritasku Fie."
Fie mengangguk paham, berjalan berdampingan dengan Gale yang tidak mau melepaskan ikatan tangan mereka.
Tidak sebelum mereka bertemu Ratu Ernest dan harus berpisah untuk penyambutan.
Saat Gale memasuki ruang tahta yang disulap menjadi tempat pesta, semua hadirin segera berdiri dan membungkuk hormat. Gale berjalan diikuti oleh Ratu Ernest, Fie, dan anggota keluarga kerjaan yang lain. Hampir semua pandangan tertuju pada Fie, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Berjalan berdampingan dengan ratu. Itu tandanya Fie merupakan calon ratu pilihan kerjaan bukan?
Banyak perempuan maupun lelaki bangsawan mendesah kecewa, tidak menyangka bahwa sasaran mereka telah terambil oleh orang lain.
Mungkin dia lelaki, namun wajahnya yang indah membuat beberapa orang lebih memilih mundur karena merasa tidak pantas disandingkan dengan keindahan seperti itu.
Hampir semua, namun tidak untuk sepasang mata yang memandang Fie benci, dan segera keluar saat Gale mengangkat tangannya agar semua hadirin diam.
Suasana mendadak hening, dan masing-masing dari mereka mulai kembali duduk tenang menunggu ucapan selanjutnya.
"Aku ucapkan terima kasih atas kedatangan saudara sekalian ke pesta sederhana ini."
Ucapan Gale bergema di ruangan istana yang besar dan megah itu. Umurnya baru menginjak 22 tahun, namun tampak dewasa dan penuh dengan kharisma saat mulutnya mulai berbicara.
"Pesta ini diadakan sehubungan dengan penobatanku sebagai Raja, saat Ibunda Ratu memutuskan bahwa aku sudah cukup dewasa untuk mengurus kerajaan setelah Ayahanda Raja meninggal akibat perang yang terjadi 8 tahun yang lalu."
Fie memandangi wajah Gale yang terlihat serius saat ia mulai berbicara. Fie tidak pernah menyangka, lelaki yang dulunya selalu menempel padanya dan bersikap kekanak-kanakan akan bersikap sekeren ini saat ia telah menjadi Raja, tidak seperti dirinya yang tidak banyak berubah.
Baiklah, ia bahkan tidak ingat perilakunya di periode umur 12 sampai 19, jangan salahkan dia.
Namun sekeras apapun Fie berusaha tersenyum, dadanya masih terasa sesak saat mendengar Gale mulai membicarakan masa lalu.
Rasanya seperti...... Ia memang tertinggal jauh dibelakang daripada semua orang yang kini hadir di istana.
" ..... Dan sebagai tunanganku, pria berani yang telah menyelamatkan nyawaku, cinta dari segala kasih sayangku, Viscount Fielona Donnes Hayden, pewaris keluarga konglomerat Hayden seorang pahlawan perang yang sangat kuhormati."
Fie mengerejap pelan. Ruby yang duduk di belakangnya berbisik memberi isyarat, agar Fie maju dan berdiri berdampingan dengan Gale yang mengulurkan tangan ke arahnya.
Dengan ragu, Fie bangkit dan menerima uluran tangan tersebut. Matanya kini mampu melihat seluruh hadirin yang kini memandangnya dengan berbagai pandangan.
Tidak lama kemudian, suara riuh tepukan tangan memenuhi aula besar tersebut. Bibir Fie berubah semakin pucat. Rasanya sudah lama sekali sejak ia menghadapi situasi semacam ini.
Gale segera menyadarinya. Dengan sopan, Gale meminta mereka semua untuk menikmati pestanya sebelum beranjak untuk membawa Fie ke balkon untuk menenangkan diri.
Ruby datang sambil membawa segelas air dan obat rutin Fie untuk segera diminum sebelum dibawa kembali.
Fie meminum obatnya dengan patuh, lalu duduk di kursi balkon yang disediakan pelayan khusus untuk mereka yang ingin menikmati pemandangan dari luar istana.
Gale mengusap rambut Fie perlahan, mengecup kening pucat itu untuk menyalurkan rasa khawatirnya.
"Maaf aku tadi memaksamu Fie. Aku menyesal, sungguh. Aku hanya ingin mereka segera menghentikan tatapan curiga mereka untukmu selama pesta. Sekarang, biar kutemani kau kembali istirahat ya?" tawar Gale lembut sambil memakaikan Fie mantel yang lebih hangat.
Fie menggeleng pelan. " Kamu harus membantu Yang Mulia Ratu Ernest untuk menghadapi semua tamu yang hendak bertemu denganmu. Aku masih ingin menghadiri pesta ini, tidak perlu takut, Ruby ada disini untuk menemaniku," ucap Fie lembut. Akan menjadi tanda tanya besar jika Fie menghilang dari pesta sekarang. Negara lain masih belum boleh sadar bahwa calon ratu kerajaan Demore memiliki kesehatan yang buruk, atau masalah mungkin saja muncul akibat berita itu.
Gale menyerah pada kekeras kepalaan Fie, meminta Ruby untuk menjaga Fie yang berjanji tidak akan kemanapun dan memakan makanannya dengan damai di balkon.
Dua pelayan datang setelah Gale pergi, membawakan Fie beberapa makanan sehat dan s**u hangat untuk ia minum.
Perhatian semacam ini, Fie tahu Gale ingin ia segera beristirahat dan tidak memaksakan tubuhnya.
Balkon terhitung tempat yang sepi, karena para bangsawan lebih senang bergaul dengan bangsawan lain daripada duduk menyendiri di balkon seperti dirinya.
Itu yang Fie pikirkan, sebelum seorang gadis manis yang cantik datang untuk menyapanya dengan sopan.
"Salam, Viscount Fielona. Saya Putri Victoria dari Kerajaan Obeich, umm.... Boleh saya duduk disini?" tanya gadis itu lembut. Fie berdiri dengan sopan, menundukan sedikit kepalanya untuk menghormati sang putri.
"Kehormatan bagiku untuk duduk bersama putri cantik seperti Yang Mulia," balas Fie lembut. Keduanya kembali duduk, diikuti dengan beberapa pelayan yang kembali datang untuk membawakan Putri tersebut makanan untuk disantap.
" Ummm.... Fie, ah bolehkah aku memanggilmu begitu? Kau bisa memanggilku Victoria dengan begitu. Umur kita sepertinya sama, aku hanya ingin teman berbincang ditengah pesta yang bukan peganganku ini."
Tangan lentik itu mengambil pelan gelas berisi wine yang dibawakan oleh pelayan. Fie masih diam ditempatnya, tidak berani meminum wine seperti yang dikatakan dokter.
"Maafkan Saya, Tuan Putri. Tapi Saya tidak bisa meminum wine dengan alasan apapun. Um... Bisakah saya menggantinya dengan air biasa?" tawar Fie sopan. Victoria nampak terkejut untuk sesaat, sebelum mengusap pipinya malu sambil tersenyum cantik.
"Tidak apa-apa Fie, sepertinya aku lebih terganggu dengan cara berbicaramu itu. Aku ingin kau memanggilku Victoria, Fie," canda Victoria sambil memainkan gelasnya. Fie mengangguk patuh, ia telah belajar bagaimana cara menghadapi Putri manja seperti ini sejak unurnya masih kanak-kanak.
"Baiklah, Victoria. Kita bisa mengobrol dengan santai sekarang ini."
Victoria tersenyum puas, sedikit mendekatkan kepalanya pada Fie untuk berbisik.
"Tapi aku tidak nyaman mengobrol santai dengan jejeran pengawal ini disekitar kita. Bisakah.... Kau tahu, meminta mereka sedikit menjauh? Aku cukup tidak nyaman diperhatikan secara insten oleh orang asing," jelasnya pelan.
Fie mengerti kondisi. Dengan tenang ia meminta Ruby dan yang lainnya menunggu didalam selagi mereka akan bicara.
Ruby awalnya menolak, namun diancam oleh Fie sehingga akhirnya dia mengalah.
"Oh ya, selamat atas pertunanganmu Fie. Bisakah kau juga menyampaikan ucapan selamatku pada Raja Gale? Dia menolak untuk bertemu denganku setelah semuanya," ucap Victoria sedih.
"Kenapa dia menolak untuk bertemu denganmu? Maksudku..... Gale bukanlah orang yang akan berlaku kasar pada perempuan selama aku mengenalnya," tanya Fie bingung.
Victoria menatapnya penuh arti, membuat rasa penasaran semakin membuncah dihati Fie.
Setelah sedikit memaksa, gadis itu akhirnya mau berbicara walaupun d**a Fie rasanya sesak setelah mendengarnya.
Langkahnya mendadak gontai, segera pergi dari balkon tanpa mengatakan apapun tidak peduli Ruby dan pengawal lainnya mulai mengejar dari belakang.
Bruk
Langkah Fie baru terhenti ketika ia bertabrakan dengan seseorang, seseorang yang terkejut saat melihat lelaki menawan itu kini menangis kecil begitu bertatapan dengannya.
Pria itu adalah Deen, yang bingung harus melakukan apa ketika tunangan sahabatnya kini menangis tanpa dia tahu apa penyebabnya.
"Viscount Fie!"
Tidak butuh waktu lama sampai Ruby berhasil mengejarnya. Dia segera waspada, saat melihat Fie tengah menangis dihadapan Deen yang dia tahu merupakan teman dekat dari Raja mereka.
"Um.... Viscount, apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Kau tahu, kau akan membuatku berada dalam masalah jika terus menangis seperti itu," ujar Deen cangung. Fie mendongkak, mata merahnya cukup ampuh untuk membuat Deen terkejut untuk sesaat. Wajahnya terlalu murni, namun kini terlihat sakit entah karena apa.
"Ma-maafkan aku....... Aku, ugh-"
Kedua tangan Fie secara refleks menutupi mulutnya yang begetar hebat. Pandangannya mendadak buram, sebelum tubuhnya jatuh kedalam pelukan Deen.
Ruby yang melihat segera panik, menarik Fie dari pelukan Deen dan meminta beberapa pengawal menangkap lelaki tersebut.
Gale menghilang dari pesta tidak lama kemudian, digantikan oleh Ratu Ernest untuk menghadapi para tamu undangan.
To be continued