Jendral Kerajaan Demore

1774 Kata
"Viscount Fie, Anda akan pergi kemana pagi-pagi begini?" Para pengawal yang bertugas menjaga Fie merasa bingung saat pemuda yang kini bergelar Viscount itu tiba-tiba saja ingin berjalan-jalan di pagi hari. Fie biasanya bangun ketika matahari telah masuk ke kamarnya, namun kini telah bangun saat diluar masih gelap dan suhu udara relatif rendah. Para pelayan sampai sibuk menyiapkan mantel yang tebal untuk Fie, memastikannya tetap hangat walaupun berada di luar ruangan. Gale biasanya akan datang saat matahari terbit, berbincang atau sekedar menghibur Fie sebelum dia berangkat bekerja. Fie juga mulai membaik, menerima kenyataan yang ada dan tidak lagi terlarut dalam kesedihan. Fie mungkin masih beberapa kali terlihat murung, namun setidaknya kadang ia tersenyum sekarang. Fie berhenti di lapangan tempat prajurit biasa berlatih, yang memang dimulai sebelum matahari terbit. Banyak dari mereka sedang berlari, mengecek peralatan mereka atau sedang melakukan peregangan. Mereka biasanya berhenti ketika tahu Fie sedang memerhatikan mereka. Membungkuk hormat dan berlutut untuk memberi salam. "Salam Viscount Fie. Apa yang Anda lakukan di lapangan prajurit yang kotor ini?" tanya salah satu dari mereka heran. Pertanyaan ini juga diajukan beberapa penjaga Fie sejak tadi, ketika ia memutuskan untuk keluar pagi-pagi sekali. "Aku mencari Jendral Kegs, apa dia ada?" tanya Fie sopan. Pembawaannya memang sangat lembut, membuat beberapa orang menaruh kepercayaan penting pada calon ratu ini. Prajurit itu segera mencari keberadaan Jendral Kegs, yang seharusnya tengah mengawasi langsung jalannya latihan di bagian fisik. Fie menunggu disana, duduk setelah prajurit yang lain datang dan membawakannya kursi yang nyaman. Fie memang tidak kuat terlalu lama berdiri, apalagi udaranya dingin sekali pagi ini. Tidak lama kemudian sosok pria gagah tampan yang masih muda datang dan berlutut didepan Fie. Dia adalah Jenderal Kegs, salah satu bawahan ayahnya yang masih hidup sampai sekarang. "Salam, Viscount Fie. Adakah sesuatu yang ingin Anda sampaikan pada saya sampai bertemu di lapangan dingin ini?" tanya Kegs khawatir. Semua orang tahu kondisi kesehatan Fie, apalagi musuh alaminya yang berupa udara dingin. Fie menggeleng lemah. "Panggil aku Fie saja, Jenderal. Kamu adalah salah satu pengawal Ayah yang masih hidup sampai sekarang. Aku hanya ingin berbincang denganmu." "Di cuaca dingin begini? Maaf..... Fie, tapi Yang Mulia bisa memarahi kami jika membiarkanmu disini dan jatuh sakit." Akhirnya Kegs mulai bicara santai, tidak bisa menahan rasa takutnya jika Viscount muda ini sampai jatuh sakit karena ingin menemuinya. "Aku baik-baik saja Jenderal. Aku tahu kamu mulai akan bertugas diluar saat matahari mulai terbit. Aku ingin berbincang denganmu sekarang, dan kamu tidak boleh protes." Sifat keras kepala Fie kembali keluar. Mau tidak mau Kegs akhirnya mengalah, menghadapi Fie yang tengah keras kepala tidak akan membuatnya menang sampai kapanpun, sama saja seperti dulu saat Viscount Bruce masih hidup di dunia ini. **** Di bagian lain istana, Gale sedang panik saat menemukan kasur dingin Fie di pagi hari. Cuaca diluar masihlah sangat dingin, menambah kekhawatiran Gale naik menjadi dua kali lipat. Para penjaga yang tadi melihat Fie lewat segera memberitahu Raja yang sedang mengamuk itu. Sehingga dengan langkah cepat Gale segera berlari dengan satu tujuan, lapangan tempat para prajurit biasa berlatih. Semua prajurit segera berlutut begitu menyadari kedatangan Gale, yang kini telah resmi menjadi Raja sejak kembali bersama Ratu Ernest beberapa minggu yang lalu. Kegs yang juga menyadari kedatangan Rajanya segera berlutut ditanah, menghentikan percakapan riangnya dengan Fie yang berdiri begitu sadar Gale kini hanya memandang kearahnya. Grep Gale memeluk Fie didepan semua orang tanpa ragu. Menyalurkan rasa panik yang selama ini dia tahan. "Aku pikir........ Kau menghilang lagi Fie." Suara itu terdengar bergetar dan begitu pelan di telinga Fie. Pelukannya menjadi semakin erat, tidak peduli jika bawahannya semua menonton sekarang. Fie tahu benar apa yang dimaksud Gale, tidak bisa menahan diri untuk menepuk pelan punggung tersebut untuk meyakinkannya bahwa ia masih disini. Fie juga tahu rumah terdahulunya telah hancur akibat perang, dan tidak diperbaiki karena seluruh keluarga telah dinyatakan hilang. Gale tidak mengatakan apapun lagi. Dia menarik Fie pergi dari tempat itu lalu menggiringnya ke meja makan. Sudah beberapa hari ini mereka makan di ruang makan istana, menemani Ratu Ernest dan beberapa kerabatnya makan dalam keheningan. Melihat Gale yang masuk bersama Fie, semua orang yang berada disana segera berdiri untuk memberi penghormatan. Gale adalah seorang Raja sekarang, posisinya bahkan jauh lebih tinggi dari Ratu Ernest yang merupakan ibunya sendiri. "Fie? Kudengar kamu tidak ada dikamarmu saat Gale mencarimu pagi ini. Apa yang kau lakukan pada cuaca dingin ini?" tanya Ratu Ernest prihatin. Semua orang juga menatap Fie dengan pandangan yang sama, setelah ia dengan sukses membuat gempar seluruh istana hanya karena tidak ada di kamarnya. Fie menunduk sopan. "Aku berjalan-jalan sebentar untuk menghirup udara pagi, tidak menyangka jika Gale akan mencariku sampai seperti itu. Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi" ucap Fie penuh penyesalan. Ratu Ernest mengangguk tenang, namun tidak dengan Gale yang hanya diam dan mulai memakan sarapannya. Melihat suasana hati yang buruk pada Raja mereka, semuanya hanya bisa terdiam dan mulai makan dengan suasana yang sanggat canggung. Gale marah pada Fie karena hal ini. Ia yakin benar akan hal itu. Perhatiannya pada Fie memang belum berubah, tetap memperhatikan menu sarapannya dan berinisiatif untuk melepas mantelnya saat tahu Fie masih kedinginan walau telah memakai mantel yang begitu tebal. Fie tidak menolak, sebaliknya dia malah semakin menempelkan mantel itu ditubuhnya agar merasa hangat. Pandangan Gale sedikit melunak melihat kepatuhan Fie, mereka makan seperti biasa lalu pergi ke ruangan Gale untuk bekerja. Fie tidak lagi menjabat sebagai pelayan pribadi Gale disini. Sebaliknya, sekarang ia memiliki meja tersendiri di kantor itu dan menjabat sebagai tuan tanah daerah selatan Kerajaan Demore. Segala keperluan wilayah kini menjadi tanggung jawab Fie, karena sebelumnya juha daerah itu memang merupakan hadiah Raja sebelumnya kepada Ayah Fie. Fie hanya perlu mengatur keadaan kota itu dari balik layar, sementara urusan lapangan semua dikerjakan oleh orang kepercayaan Gale. Fie tidak marah karena itu. Ia tahu batasan tubuhnya sendiri, dan tidak mau terlalu banyak menimbulkan masalah sekarang. "Gale?" panggil Fie pelan. Raja itu kini tengah asik dengan pekerjaannya sendiri, sementara Jade akhirnya sadar situasi dan meminta ijin untuk keluar mengantarkan berkas. Suasana hening. Gale masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri. "Kamu marah?" tanya Fie lagi. Kali ini Gale menoleh, menatap Fie dengan pandangan biasanya. Dia menghela nafas panjang, sebelum tersenyum kecil dan berjalan mendekati Fie yang serba salah. "Tidak Fie. Aku hanya begitu ketakutan saat melihatmu menghilang dan menyembunyikan sesuatu dariku. Jangan ulangi lagi hmm?" bisik Gale lembut. Fie mengangguk, memeluk Gale erat walaupun ada perasaan sedikit mengganjal di hatinya. Gale tidak sepenuhnya jujur, ia bisa merasakan hal itu. Gale kembali ke kursinya tanpa mengatakan apapun, dan Fie juga mulai melihat tumpukan berkasnya sendiri dalam diam. Fie mengingat sesuatu yang penting, namun ragu apakah ini memang waktu yang tepat untuk mengatakannya. "Gale..." Meletakan penanya, Fie mulai bicara. Gale menoleh, sudah siap untuk mendengarkan. "Bisakah kamu mengatur agar Jendral Kegs bisa menemaniku mengobrol besok pagi? Jadwalnya selalu padat, aku tidak bisa mengobrol lama dengannya jika begini. Kurasa, dengan kuasamu seharusnya kau bisa-" "Membiarkan Ratuku mengobrol dengan Jendral murahan? Tidak Fie. Kamu tidak akan bertemu dengannya lagi," balas Gale dingin. "Maaf, tapi aku bahkan belum menjadi Ratumu Gale. Kau tidak pantas menyebut Kegs murahan setelah apa yang ia lakukan untuk negaramu!" ucap Fie kesal. Ia sebenarnya terkejut melihat Gale yang tiba-tiba berbicara dingin kepadanya. Gale bahkan tidak mengerti apa maksud keinginannya. Gale menatap Fie kesal, meletakan penanya sambil memandang lurus pada Fie yang tak kalah kesal dengannya. "Kamu sekarang membelanya? Kau milikku sekarang Fie! Aku yang membelimu dari pedagang b***k, aku yang merupakan tunanganmu, dan aku adalah Raja penguasa negeri ini! Kau, bahkan kau sekalipun tidak pantas menentang ucapanku Fielona Donnes Hayden, tidak peduli siapa kau di hatiku!" bentak Gale kasar. Melihat Fie jelas-jelas membela pria lain di depannya, sudah cukup menghapus semua kontrol diri yang biasa ia pertahankan. Gale sangat mengkhawatirkannya tadi pagi. Dan apa yang dia dapat pada akhirnya? Fie yang tertawa asik dengan Jendral kerajaannya? Gale berusaha memaafkan Fie, jika saja dia tidak mengangkat topik ini lagi. Fie bangun dari tempatnya duduk. Dulu bahkan Ayahnya sendiri tidak pernah membentaknya, ini adalah pertama kalinya Fie dibentak dalam ingatannya yang 'ini'. "Mau kemana kau Fie? Aku tidak pernah mengijinkanmu keluar dari ruangan ini!" Fie berhenti, bahunya bergetar saat ia berucap lirih. "Tentu saja. Kau 'Master'ku bukan? Aku sekarang hanyalah b***k rendahan di matamu." Gale tersentak. Apa yang baru saja ia lakukan? Mengatakan Fie hanyalah seorang b***k? Itu adalah hal paling bodoh yang telah ia lakukan! Gale mendekat, memeluk tubuh bergetar Fie yang ternyata sedang menangis. "Aku seharusnya sadar..... Aku hanya lah b***k yang kau beli sekarang.... Gelar Viscountku, itu hanya gelar yang diturunkan padaku dari Ayah.... Aku tidak mengerti Gale." isak Fie keras. Gale seharusnya tahu, Fie bahkan masih bingung dengan identitasnya sekarang. Bagaimana bisa dia hanya memperburuk keadaan? Dia memang calon suami yang buruk. "Aku mengundang Kegs.... Untuk mengetahui apa yang terjadi selama aku hilang ingatan.... Dia pengawal Ayahku dulu, dan kau juga terlalu sibuk dengam tugas barumu sebagai Raja. Aku hanya ingin mengundangnya makan bersama kita Gale..." jelas Fie lagi. Tentu saja begitu. Bagaimana bisa Gale malah berpikir Fie begitu tidak adil terhadapnya? Dia lah di sini yang bersikap. tidak adil terhadap Fie. "Aku hanya mencintaimu Gale..... Sejak dulu sampai sekarang. Namun seharusnya aku sadar, aku hanya-" "Sssttt Fie. Kumohon berhentilah menangis. Maafkan kebodohanku Fie," pinta Gale memelas. Tangannya memeluk erat tubuh kecil Fie, tubuh yang bahkan belum sembuh dari keterkejutan mental yang ia terima. "Aku juga mencintaimu Fie, sangat. Jangan ucapkan sesuatu seperti kau hanyalah b***k lagi didepanku. Hatiku sakit saat mendengarnya keluar dari mulutmu," ujar Gale jujur. "Apa ini juga merupakan perintah untukku?" Fie yang mulai berhenti menangis kini memandang Gale sendu, walau tangannya tidak lepas dari pelukan tersebut. Gale mencium kening Fie sayang, sementara tangannya menghapus pelan buliran bening di pipi Fie. "Bukan perintah Fie, permintaan dari calon suamimu yang bodoh. Jangan membuatku merasa semakin bersalah Fie," pinta Gale dengan muka memelas, membuat tangis Fie segera tergantikan dengan senyuman indah dari pemiliknya. "Kamu baru saja menyebut dirimu sendiri bodoh Gale," peringat Fie lembut. Gale mengangguk. "Aku memang bodoh saat bersamamu Fie," ucapnya dengan ekspresi bodoh. Gale menarik Fie untuk digendong dalam dekapan dadanya yang hangat. Begitu mudah karena Fie memang lah sangat ringan. Fie sempat menjerit kaget, terkejut saat melihat Gale kini menggendongnya dengan gagah. "Kamu lelah bukan? Aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu dam menemanimu tidur, jangan sakit karenaku atau aku mungkin akan merasa bersalah Fie," ucap Gale yang berhenti saat dia melihat Jade dan pengawal yang bertugas menjaganya kini terdiam di depan pintu luar. "Urus hal yang perlu kau urus Jade, aku akan mengantar Fie ke kamarnya," perintah Gale yakin. Jade mengangguk cepat, sementara pengawalnya hanya bisa membisu membuntuti Gale dan Fie di belakangnya. Cinta rajanya, siapa yang bisa melarang mereka berdua bermanjaan bahkan diwaktu kerja? To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN