Ingat Kembali

1317 Kata
Dalam ruangan luas itu, beberapa dokter terus saja bekerja dengan keras untuk merawat pemuda yang tengah terbaring diatas ranjang besarnya. Sesekali mereka kembali memasukan obat ke dalam mulut pucat si pemuda, menunggu dengan harap-harap cemas sebelum pangerannya datang lagi dan memarahi mereka. Di luar sebenarnya suasana terasa jauh lebih tegang. Kembalinya Sang Ratu yang seharusnya dirayakan dengan perayaan, kini malah terasa mencekam ditengah aura dingin yang dikeluarkan oleh sang putra mahkota. Siapapun yang kini tengah menghadiri rapat meneguk ludah mereka dengan kasar, tidak terhindar dari kemurkaan Gale yang sedang marah saat ini. "Temukan semua pengkhianat yang terdapat dalam istana ini. Hukum mereka sesuai tingkat kejahatan dan eksekusi publik mereka dengan kejahatan yang besar. Biarkan rakyat tahu, apa yang akan mereka dapat jika mereka berani menentangku." Inilah sifat pangeran mereka jika dia sudah marah. Berani menentang, bersiap lah untuk kehilangan kepala mereka didepan publik. Namun, sekalipun sifatnya terkenal dengan kekejaman dan diktator, dengan otaknya yang jenius dan pembawaannya yang sebenarnya baik, ditangannyalah negara akhirnya berubah makmur dan nyaman untuk ditinggali. Rakyat mengagumi pemikiran Pangeran Gale, sehingga tidak masalah jika ia menggantung para pengkhianat itu didepan publik. Hukuman gantung telah dilaksanakan sejak kemarin, seiring dengan ditangkapnya para penyebar informasi penting ke negara tetangga. Gale baru bebas saat hari sudah malam. Langkahnya terburu-buru menuju kamar Fie, diikuti oleh Ratu Ernest yang anggun dibelakangnya. Gale menatap sedih Fie yang ternyata belum terbangun dari 'tidurnya'. Luka dikepalanya telah dirawat, namun belum kering karena lukanya menyebannya salah satu pembuluh darah di kepalanya pecah. Luka kecil saja mampu membahayakan nyawanya. Dan sekarang, satu pembuluh darah yang pecah menyebabkan kekhawatiran Gale semakin bertambah setiap detiknya. Karena kondisi Fie, tim dokter lagi-lagi dibentuk untuk merawat Fie, memberinya perawatan terbaik agar segera sadar dari 'tidurnya'. "Jangan panik Gale. Ibu yakin Fie akan segera bangun dan menenangkan hatimu. Kau harus percaya pada kekuatannya, Dokter juga telah berusaha sebaik yang mereka bisa." Ernest berusaha menenangkan putranya yang semakin murung. Sebenarnya dia juga merasa sedih melihat harapannya untuk mengobrol dengan Fie harus tertunda karena insiden ini, namum demi putranya, ia harus lebih tegar dan meyakinkan Gale bahwa Fie akan segera sadar. Gale baru saja keluar dari kamar Fie, sebelum seruan kembali membangkitkan semangatnya. Gale kembali masuk, melihat Dokter berkumpul di sekeliling ranjang sebelum akhirnya menghindar. Di ranjang, sosok lemah itu mulai membuka matanya, melihat Gale dan Ibunya dengan tatapan rumit. " ......Gale?" Gale membeku di tempat. Fie biasanya akan dengan canggung memanggilnya Yang Mulia jika banyak orang disekitarnya. Namun sekarang, tanpa ragu Fie memanggilnya Gale seperti dulu. Ya, seperti dulu...... Saat mereka masih berumur 11 tahun saat itu. Gale segera mendekat, memegang tangan Fie dengan erat penuh dengan harapan. "Fie? Kau ingat aku Fie? Kau ingat siapa kamu sebenarnya?" Fie merenggut kecil, agak bingung dengan pertanyaan temannya ini. "Tentu saja aku ingat Gale. Kau, Gale Vial Demore adalah tunanganku, Fielona Donnes Hayden. Kau pikir aku akan melupakannya?" balas Fie bingung. Gale bersorak senang dalam hati mendengar jawaban itu. Dia baru saja akan memeluk Fie sebelum Ernest menghentikannya. "Luka itu." Ernest mengingatkan Gale agar berhati-hati. Fie menoleh pelan pada Ernest, menunjukan senyuman indahnya yang sangat menawan. "Yang Mulia, senang bisa melihatmu baik-baik saja," sapanya sopan. Fie baru saja akan mencoba duduk sebelum rasa sakit yang teramat sangat menyerang bagian belakang kepalanya. Membuat Fie tanpa sadar meringgis sambil menangis pelan. "Hati-hati Fie. Kepalamu baru terbentur tidak lama ini," ucap Gale panik. Untung lukanya tidak bertambah parah, dan Fie juga segera berbaring lagi setelah itu. "Apa yang sebenarnya terjadi Gale? Kenapa kamu tampaknya sudah sangat dewasa? Dimana Ayahku?" tanya Fie terburu-buru. Keduanya segera terdiam, bingung dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan Fie. "Fie..... Usiamu berapa tahun ini?" tanya Gale ragu. Dia hanya bisa berharap bahwa tebakannya tidak benar, setidaknya tidak untuk yang ini. Fie merenggut kesal. "Aku akan berumur 12 tahun tahun ini. Kenapa kamu melupakannya Gale?" omel Fie pelan. Kepalanya masih sangat sakit, dan kini ia harus menjawab pertanyaan konyol dari Gale dan Ayahnya juga belum muncul sampai sekarang. Gale dilain sisi, shock berat. Matanya melirik Dokter penuh dengan pertanyaan. Bagaimana bisa ingatan Fie kembali saat usianya masih 11 tahun? "Fie..... Usiaku sekarang 22 tahun, dan usiamu 19 tahun. Kamu...... Tidak mengingat apapun sebelum itu?" tanya Gale hati-hati. Fie terdiam. Di lihat-lihat, suara dan tubuhnya juga memang bertambah berat, walaupun tidak seberapa. Ratu Ernest juga sudah terlihat lebih berumur dibandingkan sebelumnya, apalagi Gale yang berubah menjadi pria tinggi yang sangat tampan. "Aku....... Apa yang terjadi padaku selama ini? Ayah? Aku harus bertemu ayahku Gale!" panik Fie. Gale bahkan harus menahan tubuhnya agar tidak terlalu banyak bergerak, lukanya bisa bertambah parah jika begitu. "Fie, Ayahmu...... Dia telah tiada.... Ayahmu meninggal bersama suamiku di medan perang, saat dimana kau juga diculik Fie." Kali ini giliran Ratu Ernest yang berbicara. Gerakan Fie langsung terhenti, memandang Gale dengam tatapan seseorang yang tidak ingin percaya. "Ga-hah,hah,hah...." Nafas Fie berubah menjadi putus-putus dan sedikit tertahan. Asmanya kambuh, dan dokter segera mengobatinya. Fie sempat berontak untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tertidur melalui efek obat yang begitu kuat. **** " Fie, makan lah sesuatu kumohon....." "......." Masih tidak ada balasan dari Fie. Pemuda itu malah asik menatap jendela tanpa mau membuka mulutnya barang sedikit pun. Dokter telah menyerah untuk memaksanya, apalagi saat Fie berteriak pada mereka yang bisa saja membuat keadaannya menjadi lebih buruk lagi. "Fie...." Gale mencoba membujuk Fie sekali lagi. Masih belum ada respon walaupun Gale dengan lembut telah membelai pipinya. Fie akhirnya merespon, ia sedikit menoleh saat Gale mengusap pelan pipi pucat tersebut. "Dulu Ayah juga sering mengusapku begitu jika aku marah padanya. Kau selalu begini, senang meniru ayahku untuk mendapatkan perhatianku," lirih Fie pelan. Setiap ucapannya bernada kehancuran, membuat hati Gale juga seakan terbelah saat mendengar suaranya. Fie tiba-tiba menangis, menangis seperti bayi di dalam pelukan Gale. "Aku..... Hiks.... Tidak bisa mengingat apapun Gale...... Aku..... Aku bahkan tidak ada saat hari menguburan ayahku...Hiks, Aku tidak bisa mengingat apapun sesudah ayahku pergi. Aku tidak bisa mengingat saat kau bilang aku diculik, hiks, atau aku menjadi b***k lalu diselamatkan olehmu..... Hiks, aku tidak ingat itu semua Gale." Akhirnya pertahanan Fie hancur juga. Ia tidak pernah menyangka, bahwa ketika ia membuka matanya di pagi hari, delapan tahun telah berlalu dan Ayahnya telah pergi untuk selama-lamanya. Ia tidak ingat itu semua, dan bangun layaknya bayi kecil yang baru lahir. Gale menepuk pundak tunangannya yang kebingungan. Wajar ia merasa takut dan bersalah, apalagi setelah mengalami kejadian seperti Fie. Gale terus menciumi puncak kepala yang bergetar itu, membiarkan baju kebesarannya basah oleh air mata Fie. "Jangan menangis lagi Fie. Kamu baru sedikit lebih baik dan aku tidak ingin kesehatanmu berubah kembali menjadi buruk. Ayahmu telah menitipkanmu padaku, sekarang kamu adalah tanggung jawabku, hidup dalam lindunganku, calon suamimu Fie," ujar Gale sungguh-sungguh. Fie berhenti menangis tidak lama kemudian. Wajahnya memerah setelah mendengar kata 'calon suami' yang keluar dari mulut Gale. Jika dulu mereka mengatakan itu, Fie tidak merasakan debaran yang sama seperti sekarang. Gale mengucapkan kata-kata itu dengan serius, tidak lagi dapat dianggap bercanda seperti dulu. "Aku yang akan melindungimu mulai sekarang. Jadi, jangan menangis lagi Fie." Melihat tangis Fie yang mereda, Gale akhirnya tenang. Dia membaringkan lagi tubuh Fie ke kasurnya yang empuk, lalu memanggil pelayan untuk membawakannya handuk dengan air hangat. Sambil menunggu, Gale kembali menawari Fie makan yang kali ini ia terima walaupun hanya beberapa suap. Fie juga meminum semua obatnya, karena sejak kecil ia memang sudah terbiasa meminum semua itu. Selesai makan, Gale mengambil tempat yang telah diisi air hangat dan handuk yang diperas setelah dimasukan kedalam air. Gale mengusap wajah Fie perlahan, memberikan rasa nyaman pada wajah sedih itu. "Tidurlah Fie. Aku akan ada disini untuk menemanimu," ujar Gale lembut. Fie menurut. Matanya mendadak lelah setelah dipakai menangis dan melamun seharian. Sentuhan handuk itu juga terasa nyaman, membuat tubuhnya rileks dan perlahan jatuh ke dalam tidur yang nyaman. Fie tidur dengan tangan yang memegang erat tangan Gale. Tidak mau melepasnya sampai Gale tidak punya pilihan lain selain ikut tidur dalam pegangan Fie yang begitu erat. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN