bc

Hijrah Cinta Istri Sang Mafia

book_age18+
105
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
goodgirl
drama
tragedy
sweet
bxg
mystery
city
crime
polygamy
like
intro-logo
Uraian

“Bapak tega! Kenapa aku harus menikahi pria tua bangka itu?”

Radi memaksa keras Miyuki agar menikahi Chris, pria tua kaya raya dan untuk menjadi istrinya yang kelima. Ia tak peduli akan kehidupan putrinya bersama Chris kelak—yang penting bisa mengumpulkan banyak pundi-pundi uang setiap bulannya dari Chris.

Miyuki berusaha menghindari perjodohan itu dengan jalan bunuh diri. Namun, ia beruntung. Renjiro, seorang lelaki yang sedang melintas dengan mobilnya, melihat Miyuki dan berusaha menyelamatkannya. Setelah mendengar alasan si gadis bunuh diri, Renjiro ingin membantu. Hanya satu hal yang bisa dilakukannya, yaitu dengan cara menikahi Miyuki agar perjodohan Miyuki dan Chris gagal. Namun, usahanya itu ditolak keras oleh Radi.

Beberapa hari berlalu, Miyuki dan Renjiro masih sering bertemu. Saat mengetahui hal itu, Radi pun mempercepat perjodohan putrinya agar mereka makin menjauh dan tentunya ia akan mendapat banyak uang dari Chris tanpa perlu bekerja keras.

Miyuki akhirnya dinikahkan secara rahasia, kemudian ia dibawa pergi untuk menemani Chris dalam berbisnis ke berbagai negara dan meninggalkan Jiro, lelaki yang berhasil memikat hatinya.

Beberapa waktu hidup bersama Chris, ia baru mengetahui bahwa dirinya telah menikahi seorang mafia yang mempunyai bisnis haram. Ia resah dan berniat melarikan diri karena Chris menjadi orang yang paling dicari oleh banyak negara karena kejahatannya. Ketika berusaha kabur, Miyuki tak sengaja bertemu dengan Renjiro. Renjiro pun menyembunyikannya di tempat rahasia dan mengurus kepulangan Miyuki.

Bagaimana akhir dari kehidupan Miyuki? Apakah ia berhasil lepas dari Chris atau akan tertahan selamanya di negeri orang bersama sang suami yang seorang mafia?

chap-preview
Pratinjau gratis
Percobaan Bunuh Diri
“Bapak tega! Kenapa aku harus menikahi pria tua bangka itu?” Miyuki Nameera, gadis sederhana, cantik, berhijab, dan lemah lembut berjalan-jalan di sepanjang jembatan jalur arteri kota Bogor. Jembatan itu selalu ramai karena tepat di atas perlintasan jalan tol. Setiap harinya, ratusan, bahkan ribuan kendaraan hilir mudik dengan kecepatan tinggi. Sore itu langkah pelan Miyuki berayun bersama rintik hujan. Tiap tetesannya menyamarkan air mata yang meluncur deras di pipi. Wajahnya menekuk, mengadu lara pada Pencipta Hidup. “Kamu harus menikah dengan Pak Chris, Yuki!” Kalimat itu terus terngiang-ngiang di benaknya. Radi, sang ayah, memaksa Yuki untuk menjadi istri kelima dari pria berusia kepala lima tersebut. Chris Emilio, salah seorang pengusaha tajir nomor dua puluh satu di seluruh dunia. Namanya sudah dikenal sampai mancanegara karena ia ahlinya berbisnis di berbagai bidang. Jadi, berkeliling dunia baginya sudah biasa—bekerja sekaligus liburan. Bermain-main dengan wanita cantik pun sudah hal lumrah baginya. Chris sendiri adalah kenalan lama Radi. Ia sudah memperhatikan Miyuki sejak usianya masih sepuluh tahun. Yuki yang cantik dengan manik mata kebiru-biruan. Di usia kecilnya saja, paras Miyuki sangat cantik—khas keturunan sang ayah dengan warna mata yang sama. Radi pun mengetahuinya karena Chris pernah meminta Miyuki untuk dijadikan istri. Jelas, ia menolaknya karena tahu bagaimana tabiat Chris. Awalnya, Radi kira Chris hanya membual. Namun, Chris mengatakan kalau ia akan kembali lagi saat Miyuki sudah dewasa. Ternyata, ucapan Chris saat itu bukan gurauan. Terbukti, tiga belas tahun semenjak itu Chris mendatangi rumah Radi. Chris sangat terkejut dengan kondisi Radi yang jauh berbeda. Ia melihat Radi muncul dari dalam rumah dengan posisi duduk. Kedua tangannya mengayuh roda dari kursi yang ditopangnya. Tubuh kurus, janggut panjang ... pokoknya, Radi seperti tak terurus. “Radi? Ada apa denganmu?” “Duduklah dulu, Pak Chris.” “Oh, ya, baik. Sejak kapan keadaanmu begini?” Chris meluruhkan diri di sofa yang busanya sebagian tenggelam dan sebagian lainnya menyembul. “Aku kecelakaan dua tahun lalu, Pak Chris. Kakiku patah dan setelah operasi kakiku malah mengalami kelumpuhan.” “Kenapa tidak berobat ke dokter ahlinya?” “Aku itu bukan kamu, Pak Chris. Aku gak punya biaya untuk pengobatan mahal. Bahkan, sekarang aja aku gak punya pekerjaan.” Dahi Chris mengernyit. Ia berpura-pura peduli. Siapa pun tidak melihat kalau sudut bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Ini kesempatan bagus, pikir Chris. “Aku bisa membantu pengobatanmu, Radi. Dan aku akan memberikan upah bulanan untuk keluargamu ....” Radi tahu maksud dari ucapan Chris yang belum selesai. “Tapi, ...?” “Aku tidak meminta apa pun darimu. Hanya Miyuki, putrimu. Aku sudah mencintainya sejak lama. Kamu juga tahu itu, bukan?” Radi terdiam. Dahulu ia jelas menolak lamarannya karena Miyuki masih terlalu kecil dan ia tahu pula perangai Chris yang suka mengencani banyak wanita. Tapi kini .... “Lima puluh juta untukmu ... setiap bulan,” tuturnya. Begitulah tiga hari sebelumnya Chris menawarkan sedikit kekayaannya untuk bisa menjamah gadis berambut kemerah-merahan yang kini sudah berbalut hijab. Langkah kecil Miyuki terhenti di pertengahan jembatan. Ia menatap sedikit takut lalu-lalang kendaraan di bawah sana. Tangisnya makin pecah. Suara isakkannya pun cukup kencang. Namun, ia tak memedulikan situasi di sekitarnya ada yang melihat atau tidak. ‘Masa bodoh,’ pikirnya. Awan pekat meluncurkan deras air hujan diiringi bunyi petir yang berhasil memendam suara isak tangisnya. Gadis berwajah oval dengan mata sipit itu merintih, memukul-mukul dadanya. Ia berharap pergi ke sana bisa melegakan hatinya. Namun, ternyata tidak sama sekali. Perih terasa di tenggorokan ketika hampir satu jam ia melepaskan tangis. Lelah, dirasakannya dalam hati. “Apa yang harus kuperbuat? Kenapa harus pria tua beristri lima yang Bapak tawarkan? Apa Bapak mau menjualku?” keluhnya. Ada yang sakit di dalam dadanya—sesak. Jawaban pun ia tak punya. Lalu, bagaimana ia harus berhadapan dengan sang ayah? Kedua tangan mencengkeram jembatan besi. Satu persatu kakinya perlahan menaiki susunan jembatan. Angin kencang berserta cipratan air hujan meluncur memukul-mukul wajahnya. Perih, tetapi ia tahan. Pada saat itu ia lebih takut menikahi pria tua dibanding menghadapi kematian. “Maafkan aku, Pak. Aku gak mau menikah dengan lelaki tua bangka itu. Daripada menikahinya, aku lebih baik mati.” Ia berbicara pada angin di atas jembatan. “Ya, Allah. Kalau Engkau sayang, cepat ambil aku sekarang!” Rentetan suara petir menggelegar bersama garis kilatan putih bercahaya. Bersamaan dengan itu, Miyuki terjatuh dan hilang kesadaran seketika. *** Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pukul delapan pagi hari, keluarga Radi sarapan bersama dengan lauk seadanya. “Yuki, Bapak mau bicara.” Di tengah waktu sarapan, Radi membuka percakapan. Di saat yang sama, Miyuki mengambilkan nasi dan lauknya untuk Radi. “Bicara apa, Pak?” Pandangan Radi dan istrinya saling beradu. Tatapan mereka itu seperti sedang berbicara dan hanya mereka yang bisa mengerti. “Kamu harus menikah, Yuki.” “Pasti, Pak. Aku pasti menikah kalau jodohnya udah ada.” “Bapak sudah mencarikan jodoh untuk kamu.” Gerakan tangan Miyuki mengambil nasi terhenti. “Oh, ya? Siapa?” “Pak Chris, teman Bapak.” Ekspresi Miyuki tampak berusaha mengingat seseorang. “Maksudnya, Pak Chris yang punya istri empat itu? Yang gendut, item, dan jelek?” “Kamu masih inget rupanya.” “Pak, aku mau menikah sama orang yang aku mau. Tapi, bukan sama Pak Chris.” “Ini bukan saatnya memilih, Yuki. Kamu tau, kan, gimana kondisi ekonomi keluarga kita? Bapak gak bisa kerja lagi dengan kondisi Bapak sekarang.” Miyuki hanya memandangi ayahnya. “Iya, Miyuki. Ibu udah gak punya tabungan lagi untuk makan kita sehari-hari.” Ibunya melanjutkan. “Aku akan kerja keras, Bu, Pak, supaya keuangan kita stabil lagi. Bapak jangan khawatir.” “Enggak, Yuki. Gak ada waktu. Bapak butuh uang untuk pengobatannya. Belum lagi adik kamu yang mau melanjutkan sekolah ke SMP. Itu butuh biaya yang gak sedikit.” “Kan ada Levy sama aku, Bu. Aku pas— “Yuki! Kamu tau sendiri kerjaan kakak kamu itu bisanya cuma mabuk-mabukkan. Apa yang bisa diharapkan dari dia?!” “Tapi, Pak— “Bapak dan Ibu cuma bisa berharap sama kamu kali ini, Yuki. Bapak yakin kamu gak mau ngecewain kami. Jadi, kamu harus menikah dengan Pak Chris.” Miyuki terhanyut dalam diam. Makanan yang sudah tersaji di piring belum sempat ia lahap. Tubuhnya beranjak dari kursi, pergi meninggalkan ruang tamu yang dijadikan tempat untuk makan bersama keluarga itu. *** Kesadaran Miyuki kembali. Pendar cahaya putih menembus iris matanya. Bayangan wajah seorang pria tahu-tahu muncul tepat di hadapannya. Senyumnya, tatapannya, membuat Miyuki melayang. “Apa aku udah di surga?” gumamnya. “Kamu udah sadar?” tanya lelaki itu. “Iya. Kalau mati itu menyenangkan, kenapa gak dari dulu aja.” Miyuki merasa dirinya sudah lenyap dari kehidupan nyata. Lelaki itu bergeleng-geleng. Terdengar suara langkah sepatunya menjauh. Tak lama, ia kembali bersama seorang lelaki dan seorang lagi perempuan. “Gimana keadaannya, Dok?” tanyanya setelah seorang dokter pria dan perawat wanita memeriksa tanda vital Miyuki. “Dia baik-baik saja. Hanya tekanan darahnya rendah dan tubuhnya lemah. Sepertinya, dia sedang banyak pikiran.” “Apa dia harus dirawat, Dokter?” “Tidak. Dia cuma harus banyak istirahat saja. Setelah infusnya habis, dia sudah boleh pulang.” “Baik, terima kasih, Dokter.” Perawat wanita mengikuti langkah seorang dokter di depannya. Bayangan mereka menghilang seiring perawat wanita itu menutupkan tirai. Miyuki mengerjapkan mata. Pandangannya beredar di satu ruangan kecil yang dikelilingi tirai itu. Ia sadar kalau dirinya ternyata belum mati. Miyuki beranjak dari tempat tidur rumah sakit sambil memegangi kepala. “Kamu mau ke mana?” “Jangan mengaturku! Aku gak kenal denganmu!” Miyuki mencabut selang infus. Buliran darah menetes dari celah-celah kulitnya. “Hey ... kenapa dicabut?” “Diam!” Miyuki mendorong tubuh lelaki itu sampai terjengkang menabrak tiang infus. Lalu, ia berlari ke luar. Si lelaki berupaya menegakkan diri. Ia merapikan selang infus yang berceceran air. Detik kemudian ia terkejut seperti mengkhawatirkan sesuatu. “Gawat,” gumamnya. Lelaki itu segera berlari kencang. Awalnya, ia kehilangan jejak Miyuki. Namun, ia terus berusaha mencari di setiap koridor rumah sakit. Matanya melebar saat mendapati Miyuki menaiki lift. Langkah kakinya makin cepat untuk bisa menyusul Miyuki. Sampai di depan pintu lift, sayangnya ia terpeleset. Pintu lift tertutup. Gadis yang memegang erat ujung kerudungnya yang basah ikut menghilang di balik pintu lift. Ia terus menekan tombol di sebelahnya sambil memperhatikan akhir dari lift yang dinaiki Miyuki. Lantai enam, lantai teratas rumah sakit. Pintu lift di sebelahnya terbuka. Ia masuk dan segera menekan tombol angka yang sama seperti yang dinaiki Miyuki. Sampai di atas, pemandangan langit teduh menyapa. Ia berjalan seiring angin berembus kencang, membuat rambut yang sudah tertata rapi jadi berantakan. Miyuki tak ada di sana. Tak ingin menyesal, lelaki dengan sorot mata tegas itu menuju tembok tebing gedung dan memperhatikan ke bawah kalau-kalau Miyuki bunuh diri. Namun, tak ada tanda-tanda sedikit pun. Kemudian, matanya menangkap gadis berkerudung merah tua berdiri di ujung tebing. Ia sedang menangis—seperti kehilangan harapan hidup. “Hey, jangan lakukan itu!” teriaknya. Miyuki menoleh. “Jangan mendekat ... atau kamu akan masuk dalam masalahku!” Ia menunjukkan tangannya agar lelaki itu berhenti melangkah. “Baiklah. Aku— Dan Miyuki terjatuh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.3K
bc

Kali kedua

read
219.1K
bc

TERNODA

read
200.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook