Alian menatap lurus dari balkon kamar apartementnya, namun pikirannya ntah menerawang kemana. Belakangan ini banyak hal yang menggangu pikirannya membuat ia cukup pusing.
“Bro bengong aja. Hati-hati dedemit masuk,” ledek Verrell yang tiba-tiba datang. Alian melirik Verrell sejenak sembari tersenyum kecil kemudian kembali menatap lurus pada pemandangan hiruk pikuknya ibu kota.
“Jadinya kapan lo bakal nikah?” Tanya Verrell. Alian mengangkat bahunya pertanda ia tak tahu.
“Kayaknya dia gak mau deh Rell nikah sama gue,” ucap Alian yang malah membuat Verrell terkekeh.
“Are you kidding me? Siapa cewek yang nekat nolak lo?”
“Ily,” balas Alian.
“Emang bener-bener ya. Kakaknya kabur, dianya malah sok jual mahal. Gak terima banget gue sahabat gue diginiin,” ucap Verell yang terlihat kesal.
Alian dan Verrell sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku SD, bahkan di Bandung, tempat orang tua mereka, rumah mereka bersebelahan. Sekarang Alian dan Verrell bekerja dibidang yang sama dan tinggal di apartement yang sama. Mengingat pekerjaan mereka yang menuntut mereka tak selalu ada di rumah membuat Alian dan Verrell lebih memilih tinggal di apartement yang dekat dengan tempat kerjanya.
Tiba-tiba ponsel Alian berdering membuat Alian beralih menatap ponselnya. Nomor yang tak dikenal. Siapa yang tiba-tiba menelfonnya.
“Assalamualaikum
“Waalaikumsalam”
“Maaf ini siapa ya?”
“Gue Ily.”
“Oh Ily, ada apa?”
“Gue mau ngomong sama lo, besok lo ke rumah gue."
“Besok aku gak bisa, aku harus kerja.”
“Lusa.”
“Aku masih kerja.”
“Hari setelah lusa.”
"Aku masih kerja juga.”
“Sok sibuk banget sih lo. Jadi lo bisanya kapan?”
“Seminggu lagi gimana?”
“Ha? Sumpah ya, lo ngeselin. Terserah lo deh!”
Ily langsung mematikan sambungan telfonnya. Alian tersenyum kecil, bahkan ditelfonpun ia masih terdengar sangat jutek. Alian jadi penasaran. Apa kira-kira yang akan disampaikan gadis itu.
“Siapa Al?”
“Ily.”
“Ily? Dia bilang apa?”
“Kenapa lo jadi kepo banget sih,” ledek Alian sembari terkekeh kemudian berlalu dari hadapan Verrell.
"Woy k*****t! Gue bukannya kepo, tapi peduli," pekik Verrell tak terima ledekan Alian.
***
Alian berjalan memasuki bandara sembari satu tangan memegang topi kebanggannya, sementara tangan lain menyeret kopernya. Sepanjang ia berjalan, perhatian terasa berpusat padanya. Hampir semua wanita menatapnya dengan tatapan memuja. Ini sudah menjadi hal yang biasa bagi Alian, bukannya sombong namun memang seperti itu adanya hingga Alian sudah sangat terbiasa dengan keadaan seperti itu. Sapaan demi sapaan diterimanya. Alian membalasnya dengan senyuman ramah yang mampu membuat siapapun meleleh dan merasa tersanjung mendapat senyuman dari seorang Alian. Bagaimana tidak? Alian adalah Seorang pilot berparas tampan. Seragam pilot melekat sangat pas di badannya membuatnya terlihat semakin mempesona. Jika bukan menjadi pilot, mungkin ia bisa saja menjadi seorang model dengan perawakan dan paras seperti itu.
“Selamat pagi Captain,” sapa seorang pramugari saat berpapasan dengan Alian.
“Selamat pagi,” balas Alian ramah.
“Verrell sudah flight?” Tanya Alian pada pramugari itu. Pasalnya Alian tak tahu kalau hari ini Verrell ada penerbangan, tiba-tiba saja tadi pagi saat ia bangun Verrell sudah tidak ada diapartement.
“Sudah Capt, pesawatnya sudah take off sejak setengah jam yang lalu menuju Samarinda,” jelas pramugari itu yang dibalas Alian dengan anggukan paham.
“Terimakasih. Permisi,” pamit Alian kemudian berlalu dari pramugari itu.
Hari ini adalah jadwal Alian keberangkatan ke Malaka. Alian sudah menjadi pilot sejak 5 tahun yang lalu, namun pangkat sebagai captain baru ia dapat sejak 3 tahun belakangan ini. Alian sekolah penerbangan di Amerika, dan setelah lulus dengan nilai yang sangat baik Alian sempat bekerja beberapa saat di sana sebelum kembali ke Indonesia bekerja untuk negaranya. Alian yang cerdas membuatnya tak memerlukan waktu terlalu lama untuk diangkat menjadi captain.
Menjadi pilot adalah cita-cita Alian sejak kecil. Hidup dikeluarga yang mampu tak membuat Alian kesulitan untuk meraih cita-citanya. Sebenarnya ayahnya menginginkan agar Alian menjadi penerus perusahaannya, namun Alian bersikeras ingin menjadi pilot, karna pada saat kecil menurut Alian menjadi pilot itu sangat keren.
***
Seperti ucapan Alian,setelah seminggu bekerja, malam ini Alian menghampiri Ily ke rumahnya. Jujur Alian sangat ingin tau apa yang akan dikatakan Ily, sebab masih teringat jelas dalam benaknya bagaimana gadis itu mati-matian bersikap ketus setiap kali bertemu dengannya. Ditekannya bel rumah Ily, ternyata yang membukanya adalah bik Minah, pembantu keluarga Ily. Bik Minah langsung mempersilahkan Alian masuk dan mengantarkannya ke ruang tamu karena semuanya sudah menunggu disana. Alian mengerinyitkan dahinya saat melihat sudah ada Ily dan kedua orang tuanya disana. Ada apa ini?
“Malam Om, Tante,” sapa Alian ramah.
“Malam Alian, silahkan duduk,” ucap Indra mempersilakan. Alian mengambil posisi duduk dihadapan Ily. Diliriknya gadis itu yang hanya memasang wajah datarnya.
“Jadi begini Al, om disini mau sampaiin kalau Ily menerima perjodohan kalian," ucap Indra membuat Alian menatapnya tak percaya. Bagaimana bisa? Bukankah gadis ini menolaknya? bahkan saat itu Ily mengatakan dengan tegas bahwa perjodohan ini tidak akan terjadi. apa lagi-lagi ia akan dipermainkan oleh anak dari sahabat ayahnya ini? ntahlah, Alian benar-benar tidak mengerti.
“Kamu serius?” Tanya Alian yang kini sudah beralih menatap Ily. Ily hanya melirik Alian dengan ekor matanya tanpa minat.
“Iya,” balas Ily. Alian tersenyum kecil. Akhirnya sebentar lagi ia bisa mewujudkan keinginan terakhir ayahnya.
“Kalau gitu sekarang kita harus bicarain tentang pernikahan kalian” ucap Ayu antusias. Tentu saja ia ikut senang. Pasalnya Alian memang merupakan menantu idamannya. Rasanya tak ada yang kurang dari diri Alian. Pertunangan? keluarga mereka sepakat untuk langsung saja melangsungkan pernikahan tanpa pertunangan sebagai jaga-jaga agar hal seperti saat itu tidak terulang kembali.
***
“Gue mau pernikahan kita dilaksanakan 2 minggu lagi,” ucap Ily yang membuat Alian menghentikan aksinya saat hendak membuka pintu mobilnya. Sekarang Ily sedang mengantar Alian hingga sampai kemobilnya atas paksaan mamanya.
“Apa gak terlalu cepat?” tanya Alian.
“Lo bisa gak sih ikutin kata gue aja?” tanya Ily kesal.
“Yaudah deh,terserah kamu aja ya,” ucap Alian lembut sembari tersenyum.
“Lo kerja apa?” tanya Ily. Sebenarnya hal ini membuat Ily penasaran. Alian tampak berfikir sejenak.
“Sopir,” balas Alian membuat Ily terbelalak.
“Eh lo pikir gue b**o apa. Mobil lo aja kayak gini. Gak mungkin lo sopir.”
"Emangnya sopir gak boleh pakai mobil kayak gini?" tanya Alian heran menatap mobil audi R8 kesayangannya.
"Mana ada sopir pakai mobil sport gini."
“Ya terserah kamu kalau gak percaya.” Ily menatap Alian geram.
“Whatever about your job! I don't care!” Ucap Ily ketus kemudian berlalu dari Alian. Alian tersenyum kecil menatap kepergian Ily. Kenapa gadis itu sangat mudah kesal kepadanya? Andai saja ia bertanya dengan nada lebih bersahabat, pasti Alian dengan senang hati memberi tahu pekerjaannya yang sesungguhnya. Ah biarlah, nanti ia pasti akan tau dengan sedirinya.
***
"Ribet banget sih beli cincin aja harus berdua, gue tu gak mau sering-seing ketemu lo!" Ily membanting pintu mobil Alian dengan kesal saat memasuki mobil itu. Ily benar-benar dibuat kesal oleh ibunya karena memaksanya untuk pergi hari ini dengan Alian mencari cincin pernikahan mereka. Demi apapun Ily sangat tidak perduli cincin seperti apa yang akan mereka pakai karena Ily yakin saat setelah menikah nantipun ia tidak akan memakainya.
"Kamu nanti kena darah tinggi loh marah-marah muluk," ucap Alian diiringi dengan kekehannya kemudian mulai melajukan mobilnya membuat Ily menatapnya makin kesal.
Sepanjang perjalanan hanya terjadi keheningan. Ily tidak ad aberbicara sepatah katapun dan tetap memasang wajah ketusnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak suka bepergian dengan Alian. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela, sesaat ia menyadari seseuatu yang berdebada.
"Mobil majikan lo yang mana yang lo bawa ni?" tanya Ily melihat sekitar, mobilnya tidak sama dengan yang ia naiki saat itu.
"Ya mobil akulah."
"Bohong muluk, gak takut dosa ya?"
"Kemarin katanya sopir gak cocok pakai audi, makanya aku bawa yang ini. Lagian aku pikir kamu gak suka pakai mobil itu karena kekecilan, makanya aku bawa ini biar kamu nyaman," jelas Alian.Ini memang inisitif Alian untuk membawa mobilnya yang lain yaitu Roll-Royce Phantom karena mengira bahwa Ily mungkin tidak nyaman dengan mobil sportnya yang memang kecil itu.
"Hati-hati nyupirnya, kalau lecetkan repot gantinya," ketus Ily yang malah membuat Alian terkekeh. Ternyata seru juga membuat gadis itu benar-benar berpikir bahwa ia adalah sopir.
Setelah beberapa lama mereka sampai disalah satu pusat perbelanjaan dimana toko perhiasan yang mereka tuju berada. Meskipun Ily tidak suka pergi mencari cincin pernikahan, namun yang namanya perempuan tetap saja saat melihat perhiasaan tampak sangat antusias. Mata Ily tampak berbinar setiap kali disuguhkan jenis-jenis cincin pernikahan yang indah-indah. Terlebih lagi mengingat ia adalah seorang model, tentunya fashion-fashion seperti ini sangat menyoroti perhatiannya.
"Kamu mau yang mana?" tanya Alian.
"Yang ini," Ily memperlihatkan cincin pilihannya. Alian memperhatikan cincin itu, pilihan Ily sama seperti pilihan yang ia suka.
"Yaudah yang ini aja Mbak," ucap Alian pada penjaga toko perhiasan itu. penjaga toko itu mengangguk kemudian berlalu untuk menyiapkan cincin yang mereka pesan.
"Emangnya uang lo cukup?"
"Ya cukuplah."
"Banyak juga gaji lo."
"Paslah buat membahagiakan istri aku nanti," balas Alian membuat Ily langsung mengalihkan pandangannya. Istri? apakah yang Alian maksud adalah dirinya? Ah Ily benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah dengan pria di hadapannya sekarang.