Ini benar-benar cukup memusingkan bagi Alian, bundanya dan kedua orang tua Ily. Bagaimana tidak? Ily bersikeras agar pernikahan itu tetap dilaksanakan secepatnya dan tinggal tersisa 9 hari lagi. Hal itu makin dipersulit dengan Alian yang masih ada jadwal perbangan. Tapi bersyukur orang tua mereka banyak turut andil, bahkan gedung tempat akad dan resepsi sudah didapat, undangan dan makanan juga sudah didapat, 2 hari yang lalu mereka juga sudah melaksanakan fitting baju pengantin. Sekarang tinggal mereka melaksanakan foto prewedding walaupun sebenarnya sudah ada beberapa foto prewed mereka, namun ini foto terakhir. Tentu saja semua atas dasar permintaan Ily. Dipernikahan ini Ily yang sangat dominan bahkan bisa dibilang ini semua atas idenya, keluarganya dan Alian hanya mempersiapkan segala yang ia mau. Seperti sekarang, Ily meminta agar foto prewed mereka dilaksanakan ditepi pantai.
Alian kini sedang berdiri dipinggir pantai, Ily masih melakukan beberapa persiapan sedangkan Alian sudah siap dengan jas biru dan baju kaos putih polos di dalamnya dilengkapi dengan celana biru sebatas lutut. Kombinasi antara formal dan nonformal. Alian menatap lurus kearah laut, suara desiran ombak terdengar sahut- sahutan. Sebenarnya Alian sudah lama mempunyai pernikahan impian. Sebagai seorang pilot tentu saja Alian ingin konsep pernikahannya tak jauh-jauh dari profesinya. Namun ia bisa apa? Menuangkan sedikit idenya saja sepertinya tak bisa. Alian menyunggingkan senyumnya, ia harus bahagia, bukankah kebahagian itu harus diciptakan dan bukan dicari? Tuhan sudah sangat baik mengirimkannya jodoh lebih cepat dari yang ia kira. Alian hanya berharap kalau Tuhan tak salah mengirim jodoh padanya. Lagi pula Alian percaya dengan keputusan almarhum ayahnya. Tak mungkin ayahnya merencanakan perjodohan ini sejak lama jika ini bukanlah yang terbaik untuknya.
“Kamu jangan kaku gitu dong sayang,” omel Ily sembari menggelengkan kepalanya menatap tingkah kaku suaminya saat lampu kamera mulai menerpa mereka.
“Mau gimana lagi, ini bukan bidang aku sayang. Aku gak biasa difoto-foto gini,” balas Alian.
“Kamu itu calon suaminya seorang model, jadi kamu juga harus kelihatan keren juga, ini foto prewed kita loh.”
“Oke oke, kamu ajarin aku dong,” ucap Alian.
“Yaudah sini dulu aku rapiin bajunya,” Ily mengarahkan Alian agar menghadap padanya. Dirapikan kerah kemeja Alian. Alian tersenyum melihat perlakuanlembut istrinya. Setelah dirasa rapi, Ily tersenyum pada Alian.
“Nih gini nih. Tangan kamu melingkar pinggang aku,” ucap Ily memberi arahan agar tangan Alian melingkar dipinggangnya. Alian melingkarkan tangannya dipinggang Ily kemudian membawa Ily agar makin dekat dengannya hingga hampir tak ada jarak diatara mereka. Ily mendongakkan wajahnya kemudian tersipu malu mendapati wajah Alian yang begitu dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas Alian. Tangan Ily dengan sendirinya melingkari tengkuk Alian.
Cekret!
1 foto berhasil diabadikan.
“Bro mulai yuk,” tepukan dibahunya menyadarkan Alian dari lamunannya. Alian menoleh kebelakang mendapati Rian, teman lamanya yang kini meringkup sebagai fotografer foto preweednya sudah berada dibelakangnya.
“Oh oke,” balas Alian sembari tersenyum. Saat Rian sudah pergi Alian terkekeh sendiri sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana bisa ia berhayal seperti itu. Heiii Alian! Yang akan kau nikahi itu gadis jutek, bukan seorang gadis yang lemah lembut.
Alian langsung bergegas menuju set tempat mereka akan melakukan pemotretan. Ternyata Ily sudah ada disana. Alian tak menyangkal kalau Ily adalah gadis yang cantik. Lilahtlah bagaimana cantiknya Ily dengan gaun sebatas lutut berwarna biru dan putih itu. Belum lagi rambut yang ia gulung keatas dan jepitan bunga- bunga mawar itu yang menambah kecantikannya. Alian berdiri disamping Ily mendengar arahan fotografer. Ily tampak sangat mengerti, wajar saja, ia kan model. Sementara Alian harus mendengar dengan seksama karna ini bukan bidangnya.
Difoto yang pertama Alian dan Ily berpose sedang bermain sepeda dipinggir pantai. Alian duduk dikemudi sepedanya sementara Ily duduk menyamping didepannya.
Ily tampak mengalungkan tangannya dileher Alian kemudian dahi dan hidung mereka menyatu. Senyum mereka sama-sama mengembang membuat siapa saja yang melihatnya akan berdecak kagum. Pasti semua orang disini berfikir kalau mereka sama-sama sedang menyalurkan cintanya sehingga mendapatkan chemistry yang begitu kuat. Mereka memasuki foto kedua, difoto ini Alian dan Ily berpose sedang berlarian sembari bergandengan tangan dengan 1 tangan sama- sama memegang ikatan balon berwarna warni. Terlihat tawa mereka sangat natural difoto itu. Mama Ily yang ikut menemani mereka melakukan foto saat itu berdecak kagum. Dari awal ia sudah yakin, kalau perjodohan ini adalah keputusan yang terbaik. Memasuki foto ketiga yang merupakan foto terakhir. foto ketiga ini sengaja diambil saat matahari tenggelam. Alian dan Ily sudah siap di set, kini Alian dan Ily harus berpose sesuai arahan yang mana Alian harus memeluk Ily dari belakang sehingga siluet merekalah yang akan diambil saat ini. Alian awalnya tanpak ragu, karna berarti ini adalah untuk pertama kalinya Alian memeluk Ily.
"Maaf," ucap Alian sebelum ia memeluk Ily dari belakang.
"Santai aja," balas Ily datar. Alian baru sadar, tentu saja tak ada masalah bagi Ily. Dia model, berpose seperti ini pasti sudah sangat biasa, berbeda dengan Alian. Tiba- tiba saja ada yang menjanggal diperasaan Alian saat membayangkan Ily berpose seperti ini dengan pria lain. Sang fotografer bersiap-siap mengambil foto mereka. Alian sudah memeluk Ily, Ily mengelus tangan Alian yang ada dipinggangnya membuat Alian terpejam. Andai saja ditengah-tengah mereka ada cinta, pasti moment ini akan terasa lebih indah.
Cekret!
1 foto sudah diambil. Cekret
Cekret
Cekret
Sepertinya fotografer itu ketagihan mengambil foto mereka.
"Oke selesai," ucap sang fotografer yang membuat Alian langsung melepaskan pelukannya pada Ily. Fotografer itu mendekat pada mereka untuk memperlihatkan hasil fotonya. Ily tampak antusias melihatnya. Walaupun sebenarnya pernikahan ini bukan yang ia ingikan karna Alian bukan suami masa depan impiannya tapi Ily sebagai wanita tetap ingin pernikahannya bisa membuat siapa saja iri dan berdecak kagum.
"Udah oke kan? Gue mau beresin set dulu ya bro," pamit Rian.
"Thanks ya bro," balas Alian yang mendapat anggukan dari Rian. Alian melirik Ily yang kini berada disampingnya yang sedang melepaskan beberapa aksesoris ditubuhnya.
"Kamu capek?" Tanya Alian lembut. Alian bisa melihat raut wajah lelah dari Ily. Ily hanya melirik Alian sejenak tampa menjawab. Ily menggapai-gapai pengait kalungnya untuk melepaskannya. Namun karna susah Ily memutar kalungnya agar bisa dibuka dari depan, namun Alian dengan cepat menahan tangan Ily.
"Biar aku bantuin," ucap Alian sembari tersenyum. Tanpa mendengar jawaban dari Ily, Alian langsung berdiri dibelakang Ily, membuka pengait kalung Ily membuat Ily terdiam mematung. Kenapa pria ini selalu memperlakukannya sangat lembut? Alian memberikan kalung Ily kepadanya. Tanpa mengucapkan apapun Ily segera pergi berlalu dari Alian setelah mengambil kembalikalungnya.
"Sama-sama," ucap Alian sembari terkekeh. Gadis itu bener-benar jutek.
***
"Semuanya udah siapkan?" tanya Alian mulai memecahkan keheningan saat dirinya dan Ily berada di dalam mobil perjalanan mengantarkan Ily ke rumahnya. Jujur Alian sangat merasa canggung dengan suasana seperti ini karena ia lebih suka bersosialisasi dengan banyak orang dan berbincang soal apapun yang menarik.
"Mungkin," balas Ily singkat.
"Atau ada yang kamu mau lagi? kamu bisa bilang."
"Lo kan supir, jadi gak usah sok-sok banyak nawarin deh, nanti bayar hutangnya susah," nada Ily terdengar mengejek diiringi dengan senyum miringnya. Alian hanya tersenyum mendengar ucapan ketus itu. Gadis ini benar-benar bisa menjadi ujian kesabaran terbaik sepanjang hidup Alian nantinya.
Tiba-tiba ponsel Ily berdering. Dahinya mengernyit saat mendapati nomor tidak dikenal sedang melakukan panggilan video dengannya. Nomornya bukanlah nomor Indonesia, melainkan luar negri. Karena merasa penasaran, Ily pun memutuskan untuk mengangkatnya. Mata Ily terbelalak saat melihat siapa orang yang sedang melakukan panggilan video dengannya saat ini.
"Liyana!" pekik Ily tak percaya.
"Hai," orang disebrang telfon tampak menjawab dengan nada ragu tak menyangka bahwa respon Ily akan seperti itu.
"Lo kemana aja?"
"Hmmm, gue ada disuatu tempat, lo gak usah khawatir, gue baik-baik aja. Sampaikan ke mama sama papa kalau gue baik-baik aja."
"Gila ya lo! gue gak peduli keadaan lo gimana. Gara-gara lo, gue harus nikah sama cowok gak jelas itu," ucap Ily kesal seolah-olah tidak ada Alian disana. Alian yang tahu bahwa pria yang dimaksud adalah dirinya hanya memilih diam dan fokus mengemudi.
"Sorry, gue benar-benar minta maaf. Tapi gue emang belum siap buat nikah. Tolong sampaikan juga permintaan maaf gue sama Alian ya."
"Lo minta maaf aja sediri." Ily memberikan ponselnya pada Alian. Alian yang awalnya terkejut langsung mengambil alih ponsel Ily dan mengarahkan ponsel itu ke wajahnya.
"Hai," sapa Alian sembari tersenyum. Sesekali Alian melihat wajah Liyana namun masih fokus menatap jalan.
'Haa.. Hai.." Liyana tampak sedikit kikuk. untuk beberapa saat ia terdiam dan fokus melihat wajah Alian yang tersenyum tulus padanya. Hei! Dia ini adalah wanita yang membuat Alian malu kepada ratusan orang, namun kenapa respon pria itu seperti itu? ia kira Alian akan marah padanya.
"Maaf ya," ucap Liyana sedikit ragu. Diam-diam Ily tampak melirik penuh keingin tahuan percakapan kedua orang itu.
"Gak papa, mungkin emang gak jodohkan," balas Alian santai diiringi tawa kecilnya. Sesaat Liyana kembali tertegun, dewa Yunani mana yang saat ini sedang melakukan panggilan video dengannya? Ternyata mantan calon tunangannya itu sangat tampan.
"Ngomongnya sama Ily lagi ya, aku lagi nyetir, bye!" Alian memberikan kembali ponsel Ily padanya.
"Udahkan?" tanya Ily pada Liyana.
"Iya, gue lega udah minta maaf. Gue cuma mau bilang itu aja kok. Gue bakalan pulang kalau gue siap nanti, thanks Ly, Bye!." Sambungan panggilan video pun langsung tertutup. Ily yang merasa belum puas berbicara dengan Liyana langsung menghubunginya kembali, namun sayang nomornya sudah tidak aktif. Ah Liyana memang selalu seenaknya mengambil keputusan.
***
Ily mengaduk-ngaduk hot chocolate sembari menerawang ke depan, kalau hot chocolate itu bernyawa pasti ia akan minta ampun pada Ily karna merasa pusing.
“Lo kenapa sih bengong aja?” Tanya Caca. Saat ini Ily dan Caca sedang ada disalah satu cafe. Caca adalah teman terdekat Ily yang selalu menjadi tempat terbaik ia bercerita. Ily memang memiliki banyak teman, namun Caca adalah teman yang bukan hanya sekedar ada saat senangnya namun juga sedihnya.
“Ly!” Sentak Caca membuat Ily tersadar dari lamunannya.
“Apaan sih Ca,” balas Ily terdengar malas.
“Lo kenapa sih? Lagi mikiran apa?”
“Ca, kayaknya gue salah ambil keputusan deh,” lirih Ily membuat Caca mengerinyitkan dahinya heran.
“Keputusan apa?” Ily memijit pelipisnya pelan. Bingung harus bagaimana cara menjelaskannya pada Caca. Tiba-tiba Ily tertunduk. Air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya
“Gue udah ngambil keputusan yang salah Ca, harusnya gue gak terima pernikahan ini cuma karena mau dapat pengakuan dari Leo kalau gue udah move on dari dia,” ucap Ily lirih. Caca menatap sahabatnya itu tak percaya.
“Oh no Ily! Apa yang lo lakuin?” Tanya Caca tak percaya. Ini benar-benar hal bodoh. Sangat bodoh!
“Gue gak bisa mikir jernih saat itu Ca, gue bener-bener sakit hati sama Leo, gue cuma mau dia tau kalau gue bisa dapatin pasangan baru,” balas Ily dalam isakannya.
“Tapi gak gini caranya Ly! Lo udah nyeret pihak lain yang gak bersalah masuk ke dalam masalah lo dan Leo,” ucap Caca frustasi. Jujur ia sangat kecewa dengan tindakan Ily.
“Gue harus apa sekarang Ca? Gue gak mau nikah sama Alian”
“Ly lo dengerin gue ya, Tuhan udah menyiapkan segala macam takdir untuk manusia, dan lo harus menjalankan takdir lo saat ini. Percaya, Tuhan tau mana yang terbaik buat lo. Alian pasti orang yang tepat,” ucap Caca. Caca kemudian memeluk Ily mencoba menenangkan sahabatnya itu. Caca mengerti bahwa ini akan menjadi sangat berat bagi Ily, menikah bukanlah hal yang mudah. Namun Caca juga tidak ingin Ily mempermainkan orang lain.